
Erik menurunkan Aurora di depan kediamannya. Sepanjang perjalanan, Erik sama sekali tidak membuka bicara. Dia yang sekarang sama sekali seperti bukanlah dirinya dirinya yang biasa selalu memulai untuk mengajak Aurora berbicara.
Ya, biarpun terkadang apa yang Erik bicarakan kebanyakan adalah hal yang tidak masuk akal dan tidak penting untuk dibicarakan menurut Aurora, tapi sedikit asik dibandingkan dia yang sekarang.
Tapi sejak kejadian tadi, membuat Erik yang seakan trauma dan bukannya Aurora. Dapat dilihat dari segala kecemasan yang ada di raut wajah Erik tersebut, apalagi ketika Erik memaharahi Aurora dengan tidak sadarnya.
Tak lupa Aurora mengucapkan terima kasih kepada Erik yang sudah tidak terhitung beberapa kali ia mencoba menyelamatkan Aurora dari segala bahaya. Biarpun Aurora sampai sekarang tidak tau bagaimana cara membalas semua kebaikan Erik itu.
Setelah mobil Erik telah lenyap dan melaju dari hadapan sehingga menyisakan Aurora sendiri. Aurora pun langsung melangkah menuju pintu rumah.
Namun, langkah Aurora terhenti ketika hampir meraih ganggang pintu. Ia merasakan ada orang yang yang bersembunyi dan memperhatikan gerak geriknya secara diam-diam.
Merasa mulai tidak aman dengan langkah yang mulai tergopoh-gopoh. Aurora membuka pintu rumah dan masuk kedalam.
Aurora menutup rapat-rapat pintu rumah. Sambil bersandar lemas di balik pintu dia mengantur nafasnya yang sudah sedari tadi terengah-engah.
Selesai menormalkan nafas yang memburu, membuat Aurora berniat untuk melangkah pergi kekamarnya untuk sekedar merebahkan diri.
Tapi dia dikejutkan lagi dengan dering ponsel yang tiba-tiba berbunyi.
"Haduh, siapa sih yang nelpon. Ngagetin aku aja" gerutu Aurora tidak terima sambil meraih ponsel yang ada didalam tasnya dengan malas.
Terlihat nickname Leon yang terpampang di layar ponsel Aurora. Dia berdecak heran kenapa nomor Leon ada diponselnya. Mungkinkah Leon diam-diam menyimpan nomornya di ponsel Aurora ketika dia berada di kediaman Leon beberapa hari lalu.
"Tidak-tidak, aku tidak boleh menerima panggilan Kak Leon. Aku telah berjanji dengan Kun untuk tidak dekat-dekat dengannya lagi dan ini semua juga demi kehidupan Kak Leon. Aku gak ingin hidup Kak Leon hancur hanya karena aku," ucap Aurora menyadarkan dirinya yang hampir menerima panggilan Leon dan akhirnya memutuskan untuk menolak panggilan tersebut sambil melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Setelah membersihkan diri, Aurora turun ke dapur untuk makan malam sendirian berhubung dia sudah sangat lapar.
Dia dilayani dengan sangat baik oleh pelayan rumah, segala masakan yang di hidangkan untuk Aurora memang tidak main-main dan dapat di katakan sebanding dengan hidangan yang ada direstoran terkenal.
__ADS_1
Selesai menyantap makanan dengan lahap, Aurora melangkah menuju ruang keluarga untuk sekedar menonton film dari negara lain karena jarang jarang bagi Aurora untuk dirinya meluangkan waktu hanya untuk menonton film. Biarpun memang dia sendiri adalah bintang film.
Aurora lalu memilih film yang bergendre romantis korea, entah apa yang membuat Aurora sangat menyukai film dari korea tersebut sejak dia menginjak remaja.
Dengan cemilan yang sangat berserakan di meja, menambah keseruan Aurora yang sangat fokus memperhatikan setiap adegannya. Sehingga membuat dirinya tidak tersadar bahwa sang suami sedari tadi berdiri dibelakang memperhatikan.
Karena gemas melihat tingkah sang istri yang berbaring miring sambil melahap cemilan yang ada ditangannya, Kun mendekati sang istri lalu tiba-tiba mencium gemas pipinya.
"Ah...sejak kapan kamh pulang?" tanya Aurora terkejut.
"Sejak tadi dan istriku sama sekali tidak menyambut kedatanganku" sindir Kun menatap Aurora yang menunduk merasa bersalah.
Kun melangkah dan duduk disebelah Aurora, sesekali melirik film yang di tonton istrinya, seketika Kun tersenyum ketika mendapati adegan panas dalam film tersebut. Niat ingin menggoda sang istri pun terlintas di pikirannya.
"Hmm...haruskan kita mempraktekkannya" goda Kun sambil mendekatkan wajahnya dan tak lupa tanganya yang mulai mengelus paha mulus Aurora hendak memberikan titik ransangan.
Bagimana pun juga dia sangat menyukai ketika Aurora mendesah memanggil namanya. Baginya itu sangat seksi dan membuat dirinya bergairah.
"Sebaiknya mandi terlebih dahulu. Setelah itu pergi makan, gak capek apa habis pulang kerja," ucap Aurora menghindari suaminya berbuat hal intim.
"Aku akan mandi, tapi nanti. Ketika sudah selesai menyantap makanan utama malam ini" balas Kun kembali membungkam jarak antara keduanya.
dan lagi-lagi Aurora kembali mendorongnya dengan pelan.
"Sayang, tidak baik bagi kesehatan jika keseringan mandi ketika sudah malam," ucap Aurora lagi berharap dapat menghentikan kegilaan nafsu yang membara dari diri Kun.
Melihat sang istri yang terus-terusan mencoba menolak keinginannya dengan wajah dingin Kun meraih ponsel dan beranjak pergi menuju kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Aurora merasa bersalah ketika Kun meninggalkannya seperti ini. Namun bagaimana pun juga dia harus menolak karena kalau tidak pasti mereka sudah melakukannya disini.
__ADS_1
Mengingat Kun yang sangat brutal dan terkadang tidak memberi Aurora ampun ketika memangsanya. Sekalipun jika Aurora meminta berpindah tempat, pasti tidak dihiraukan oleh Kun.
"Sepertinya aku melakukan sedikit kesalahan sekarang," ucap Aurora menyesal sambil menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal.
-
-
-
Kun keluar dari kamar mandi sambil membawa handuk putih untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Setelah itu dia memilih untuk duduk di tepi ranjang seraya menghela nafas malas atas perlakuan Aurora yang telah menolak keinginannya. Biarpun niat awal Kun hanya ingin menggoda Aurora.
"Senjata makan Tuan" umpat Kun kesal melempar handuknya kelantai dan memilih untuk langsung tidur meredakan kekesalan yang ada.
Tak lama kemudian, Aurora menghampiri Kun di dalam kamar. Setelah membuka pintu, dia mendapati sang suami yang telah tidur dengan bertelanjang dada dengan handuk yang masih melingkar di pinggang.
"Dasar ceroboh. Bisa-bisanya selesai mandi langsung ketiduran" gerutu Aurora mendekat lalu menyelimuti Kun dengan penuh kelembutan.
Aurora pun merangkak naik ke atas ranjang, merebahkan diri menyusul Kun yang mungkin telah bermimpi dengan indah.
Sesekali Aurora menatap wajah Kun mengagumi setiap inci yang terlukis pada wajahnya. Bibir yang tipis, hidung yang mancung, rahang yang tegas dan mata yang selalu memukau siapapun yang menatapnya.
"Mungkinkah memang, aku telah benar-benar mencintainya" terka Aurora menjauhkan tangannya dari wajah Kun dan berbaring membelakangi dengan tatapan yang sedikit kosong. Entah apa yang sedang terlintas dalam pikirannya, sehingga membuat dia merasa sedikit sedih ketika hendak mengakui perasaan yang sebenarnya...
Bersambung...
π£π£π£π£π£
Bantu vote, like, rate, dan juga sarannya yahπ
__ADS_1
Author : WinaAtlyn
Iq. : married_to_ceo03