
Sesampainya dirumah, Kun langsung menarik lengan Aurora dan membawanya masuk dengan paksa ke dalam kamar.
"Pertimbangkan baik-baik jika kau memang tidak ingin mencintaiku atau aku akan membuat hidup Leon hancur. Kau pasti taukan apa yang ku maksud," ucap Kun melemparkan Aurora kasar ke ranjang.
Aurora pun meringis ketika dirinya terhempas di atas ranjang. Padahal yang seharusnya marah adalah dia dan bukannya Kun.
Setelah memberika peringatan kepada Aurora, Kun langsung pergi meninggalkan Aurora dan membanting pintu dengan kasar sehingga membuat Aurora sangat terkejut.
"Dasar pria brengsek, sebenarnya yang marah itu aku. Kenapa malahan dia yang balik marah" gerutu Aurora kesal.
"Tapi bukankah tadi dia bilang sangat mencintaiku. Apakah ucapannya itu memang benar ?" tanya Aurora dalam hati, sedikit tersenyum berbunga-bunga.
π€π€π€
Aurora berjalan menuju meja makan. Seperti biasanya, sekarang udah waktunya untuk makan malam. Namun, Aurora tidak menemukan Kun dan dia juga tidak bertemu dengan Kun setelah kejadian tadi pagi.
"Kemana dia? Apakah pergi lagi dirumah macan tutul itu?" Aurora berprasangka buruk.
Tidak nyaman dengan segala tanda tanya yang mengganjal di pikirannya. Aurora pun memanggil seorang pelayan berniat untuk bertanya.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu Non?" tanya pelayan tersebut.
"Saya ingin bertanya, apakah Kun keluar rumah?" Aurora balik bertanya dengan gaya berbisik-bisik.
"Tuan ada di ruang kerja Non. Tadi barusan saya diperintahkannya untuk membawa makanan kesana, sepertinya Tuan sedang sibuk," ucap pelayan tersebut mencoba menjelaskan kepada Aurora.
"Oh..." balas Aurora singkat lalu mempersilakan pelayan tersebut pergi.
Tidak ingin terlalu banyak berfikir, Aurora pun melanjutkan makan malamnya yang sempat tertunda. Dia sungguh sudah sangat tergiur dengan makanan yang dimasak oleh koki bintang 5 dirumah tersebut.
__ADS_1
Dengan penuh semangat ia melahap makanan yang ada di atas meje sampai tidak tersadar bahwa sedari tadi Kun melihat tingkah konyolnya ketika makan sendirian.
"Udah gede, masih aja makan belepotan. Dasar...wanita sama sekali tidak takut gendut," ucap Kun yang memperhatikan Aurora dari kejauhan. Setelah puas melihat tingkah lucu Aurora, ketika tidak makan bersamanya, Kun pun kembali masuk ke dalam ruang kerjanya.
Setelah selesai makan, Aurora bangkit dari tempat duduknya lalu melangkah untuk pergi kekamar.Tapi, langkahnya terhenti mendengar suara wanita yang sangat tidak asing memanggilnya dan ternyata benar wanita itu adalah Arini.
"Ngapain dia kesini?" tanya Aurora dalam hati ketika Arini berjalan mendekatinya.
"Aurora maaf banget, udah gangguin jam istrirahat kamu," ucap Arini dengan wajah kebohongan.
"Memannya ada urusan apa?" tanya Aurora malas.
"Karena aku takut kamu salah paham. Jadi, aku dateng kesini hanya ingin memberikan penjelasan, kenapa malam itu aku bisa mengangkat panggilan telepon darimu," ucap Arini memohon agar Aurora bersedia mendengarnya.
"Sudahlah, aku ingin tidur. Aku tidak ingin mendengar penjelasan apapun" balas Aurora berbalik hendak meninggalkan segala drama yang Arini perankan.
"Aurora...Aurora, mohon dengarkan aku kali ini saja" Arini mencoba menghentingkan langkah Aurora dengan memegang lengannya
Mendengar suara keributan dari luar ruangan. Kun berniat untuk keluar memantau apa yang sebenarnya terjadi dan ternyata memang sedang benar terjadi keributan antara Aurora dan Arini.
Melihat kondisi Arini, membuat Kun berlari mendekat untuk melerai mereka berdua. Begitu juga dengan Arini, ketika melihat Kun dengan begitu liciknya dia berpura-pura seakan kakinya terkilir.
"Kakimu terkilir?" tanya Kun memapah Arini untuk bangkit yang dibalas dengan aunggukan Arini.
Selain itu, Kun pun melemparkan tatapan tajam kearah Aurora dan tidak percaya bahwa Aurora melampiaskan segala kemarahannya bukan hanya kepada dirinya melainkan kepada Arini juga.
"Kun, aku hanya ingin menjelaskan segala kesalahpahaman yang ada tapi Aurora malah mendorongku" Arini berusaha membuat keadaan semangkin kacau.
"Hei...aku tidak mendorongmu. Aku tidak sengaja tau" Aurora mencoba membela diri.
__ADS_1
Sehingga terjadi lah adu mulut antara Aurora dan Arini mereka saling menuduh dan membela diri. Kun yang sudah tidak tahan mendengar mereka berdua pun langsung angkat bicara.
"Sudahlah cukup, jangan ada lagi yang bicara" Kun mencoba menengahi yang masih dalam keadaan memapah Arini sehingga membuat keduanya langsung terdiam.
"Ya benar, seseorang yang tidak mencintai pasangannya memang tidak perlu sebuah penjelasan" sindir Kun terhadap Aurora lalu membawa Arini untuk membantu mengobati kakinya yang terkilir.
Mendengar ucapan yang dilontarkan Kun barusan membuat Aurora terdiam dan menghela nafas kesal.
"Wah, ternyata dia memang masih marah dengan ucapan ku tadi" gerutu Aurora sambil melihat ke arah Kun yang sedang membantu Arini untuk duduk di sofa dengan tatapan sedikit cemburu.
Sedangkan Kun memanggil seorang pelayan untuk mengambil minyak urut mengobati kaki Arini yang katanya terkilir.
Dalam fikiran Arini awalnya adalah Kun yang akan memijat kakinya yang terkilir namun dia salah dan ternyata Kun mengutus pelayan yang tadinya mengambil minyak urut untuk juga memijat kaki Arini.
"Kun, kok dia yang mijatin kaki aku sih. Nanti malahan semangkin bengkak loh, kalau enggak hati-hati mijatnya" rengek Aurora.
"Terus siapa hah?" tanya Kun yang masih berdiri.
"Siapa lagi kalau bukan kamu" pinta Arini memohon.
"Aku gak pernah mijat mijat seperti itu. Sudahlah biarkan dia saja yang melakukannya" tolak Kun sambil menunjuk kearah pelayan.
Aurora tertawa geli ketika melihat Kun yang menolak Arini untuk memijatnya.
"Uuuuu....syukurin. Siapa suruh ganjen banget sih" ledek Aurora setelah itu kembali ke kamarnya.
Bersambung...
π£π£π£π£π£
__ADS_1
Hai reader enggak bosan-bosannya nih Author buat ngingetin selalu untuk dukung karya autdor ini dengan ngasih like, rate, vote, dan juga sarannya selalu yahπ Terima kasihπβπ»