Married To Ceo

Married To Ceo
Khawatir


__ADS_3

Keresahan melanda jiwa Clara di ruang ganti saat ini. Hatinya tak tenang ketika mendengar pembicaraan Kun dengan sutradaranya beberapa menit yang lalu, karena bagaimana pun Kun merupakan pengusaha yang sangat berpengaruh di kota tersebut. Tidak ada satupun orang yang bisa menentang keinginannya jika sudah dia perintahkan.


Cibiran dari orang-orang sekitar area, menggema di ruang telinga Clara, atas apa yang telah dia lakukan kepada Aurora. Rasa marah yang menggebu dihatinya sekuat tenaga dia pendam agar sesuatu yang lebih buruk akan terjadi lagi jika dia harus meiyakan amarahnya.


"Aurora pantas mendapatkan ini semua,karena dia telah menghalangi semua apa yang ku inginkan,"gumam Clara kesal tanpa sedikitpun merasa bersalah.


Tiba-tiba Elina yaitu asisten pribadi Clara berlari sempoyongan menghampiri Clara yang masih menggerutu kesal dalam hatinya. Wajah Elina terlihat sangat panik yang membuat Clara berdecak keheranan.


"Ada apa sih Elina,kok kamu panik banget,"tanya Clara keheranan.


"Maaf kak,tapi sutradara menyuruh pergi ke ruangannya sekarang juga,"jawab Elina dengan wajah panik.


Mendengar ucapan sang asisten,tanpa bertanya lebih banyak lagi Clara dengan cepat pergi menghampiri sutradaranya.


Sesampainya Clara ditempat,sepasang mata terlihat tidak senang dengan kedatangan Clara.


"Maaf,kenapa tiba-tiba saya dipanggil untuk datang kesini,"dengan senyum yang pura-pura ramah.


"Apa yang telah kamu lakukan hari ini sungguh telah membuat saya kecewa sebab,syuting hari ini terpaksa harus ditunda padahal jadwal tayang sudah ditentukan,"ucap sutradara tersebut dengan nada menekan


"Maaf,saya sungguh tidak sengaja. Tapi ini juga pasti bagian dari rencana Aurora untuk menyingkirkan saya,"ucap Clara membela diri.


"Cukup,saya tidak mau mendengar penjelasan busuk mu kali ini karena mulai detik ini kamu bukan lagi bagian dari pemeran di film saya",tegasnya lalu pergi meninggalkan Clara.


Clara mengepalkan tangannya tidak terima atas keputusan yang telah diambil sutradara tersebut.


Driing....(Sebuah panggilan masuk)


"Hallo,"Clara mengangkat panggilan.


Dan tidak lama kemudian mata Clara membulat mendengar ucapan dibalik panggilannya yang dimana setiap kontrak syuting yang akan diperankannya diputus dengan cara sepihak sehingga membuat kerugian besar bagi managernya sendiri dan yang lebih buruknya lagi sang manager memutuskan tidak ingin lagi mengrekrut Clara sebagai artis di perusahaannya lagi.


Clara terduduk lemas atas segala yang telah menimpa dirinya. Hanya dengan sekejap mata Aurora membuat hidupnya menjadi hancur berkeping-keping.


"Aurora,akan kupastikan hidupmu akan lebih hancur dan menderita dari apa yang telah kau lakukan kepadaku"sumpah Clara mendendam.


🖤🖤🖤


Kun mengusap pelan wajah Aurora berusaha untuk mengembalikan kesadaran sang empu yang masih pingsan. Namun,apa yang Kun lakukan tidak memberikan kemajuan apapun untuk menyadarkan Aurora malahan hanya semangkin membuat kekhawatian menyelimuti dirinya.


"Thomas,cepat panggil dokter Han untuk segera datang kesini,"perintah Kun dengan wajah yang sangat cemas karena mendapati sang istri yang tak kunjung sadar.

__ADS_1


Tak memakan cukup banyak waktu dokter Han sudah tiba dikediaman Kun dan Aurora. Dengan penuh ketelitian dia memeriksa Aurora yang diawasi oleh Kun ketat. Sesekali Kun memandang tajam dokter Han merasa cemburu istrinya disentuh orang lain tapi Han yang menyadari hal tersebut hanya mencoba menahan tawanya.


Selesai memeriksa Aurora. Kun dengan cepat menghampari dokter Han untuk menjawab segala keresahannya.


"Apakah istriku baik-baik saja,"tanya Kun dengan nada posesif.


"Nona,hanya sedikit capek dan banyak pikiran Tuan. Selebihnya baik-baik saja,"jawab dokter Han dengan senyum kecil disudut bibirnya.


Kun mengehela nafas lega mendengar penjelan dari dokter Han.


"Tuan muda,istrimu sangat cantik,"goda Han melirik Aurora yang masih terbaring lemah.


"Hei jangan coba-coba menatap istriku seperti itu. Apakah kau ingin kehilangan pekerjanmu hah,"bentak Kun dengan wajah cemburunya.


"Tidak Tuan,mana berani saya menatap kesayangan Tuan muda,"ucap Han dengan seringainya.


Kun terlihat cemburut dan kesal menatap Han yaitu seorang dokter pribadi keluarganya yang terus menerus menggodanya.


"Thomas,"panggil Kun dengan teriakannya.


"Maaf Tuan ada yang bisa saya bantu,"tanya Thomas yang datang secepat mungkin mendengar teriakan Kun.


"Cepat bawa dokter Han pulang. Dia sangat tidak berguna,"perintah Kun menunjuk wajah Han.


"Baik Tuan,"Thomas mengiyakan.


"Permisi,"Han pergi mengikuti langkah Thomas.


Kun mengintip ke arah pintu memastikan bahwa Han memang benar-benar telah diantar pulang oleh Thomas.


melihat keadaan yang sudah sangat aman dengan segera dia melangkah mendekati Aurora.


Kun menekan pelan pipi Aurora dengan telunjuk jarinya dengan wajah yang sedikit muram,menyesali apa yang sudah terjadi kepada Aurora saat ini karena sudah mengizinkannya pergi tanpa di kawal.


"Sejak kapan aku menjadi kekanak-kanakan seperti ini,"ucap Kun membelai pipi Aurora sehingga membuat sang empu mulai tersadar.


Wajah penuh harap menguasai jiwa Kun mendapati sang istri yang mulai sedikit sadar.


"Hei sadarlah...,"pinta Kun memelas.


Aurora tersadar melihat-lihat keadaan disekitar yang seperti bukan ditempat terakhir dia kehilangan keseimbangannya.

__ADS_1


"Um dimana aku,?"tanya Aurora heran.


"Apakah masih sakit,bagian mana yang sakit. Cepat beritahu aku?,"tanya Kun tiba tiba dengan segala kekhawatirannya.


Mendengar pertanyaan Kun yang begitu berbelit-belit wajah Aurora terlihat kesal.


"Sepertinya aku lebih baik tidak sadar dari pada harus melihat wajahnya,"batin Aurora.


"Cepat katakan,"bentak Kun lagi.


"Kepala ku sakit mendengar ocehanmu tau,"balas Aurora menyunggingkn bibirnya.


"Cihh...,"wajah Kun kesal mendengar balasan yang tidak mengenakan dari sang istrinya.


Tok...tok...


"Masuklah,"perintah Kun yang masih dengan wajah kesalnya.


"Maaf Tuan,ini bubur yang tadi Tuan pinta,"ucap seorang pelayan.


Kun mengisyaratkan kepada pelayan tersebut untuk memberikan bubur kepadanya lalu menyuruhnya segera beranjak pergi dari kamar.


"Makanlah sedikit,lalu minum obat,"perintah Kun dengan nada lembut sambil membangkitkan Aurora menyandar disudut ranjang.


Melihat sikap Kun yang sangat lembut,banyak sekali tanda tanya dibenak Aurora yaitu apakah Kun memang benar-benar bersikap lembut ataupun ini bagian dari rencananya.


"Hei kenapa bengong.Cepat makan,"tegas Kun yang membuat Aurora kembali tersadar dari lamunannya.


"Biar aku makan sendiri,"Aurora menolak Kun yang hendak menyuapinya.


"Jangan menolakku,"dengan tatapan dinginnya


Tak berani menolak,Aurora hanya mampu meniyakan apa yang dikatakan suaminya.


Beberapa suapan kini telah lolos masuk kedalama mulut Aurora. Kun sangat intens dan penuh kasing sayang melakukannya. Wajah Aurora seketika merona melihat keseriusan Kun.


"Apakah dia mengkhawatirkanku,"batin Aurora bertanya.


Bersambung...


💣💣💣💣💣

__ADS_1


**Hai reader😘maaf kalau ceritanya hanya sampai sini kali ini😋berhubung Author sangat sibuk banget,tapi demi reader tercinta Author pasti usahain update teratur😗.


Jangan lupa juga ya buat like,rate,vote,dan kasih sarannya😍ditunggu💕**


__ADS_2