
"Selamat pagi Presdir" sapa Jenny memasuki ruan kerja Leon yang tengah sibuk berkutik dengan laptop dan tumbukan berkas yang ada di atas meja.
"Hmm..." balas Leon singkat dan tatapan yang masih lekat dengan apa yang sedang ia kerjakan saat ini.
Jenny mendekat ke arah Leon dan menyodorkan sebuah surat undangan.
"Maaf jika mengganggu Presdir. Tapi ini ada undangan perjamuan makan dari perusahaan LS untuk nanti malam dan ini juga daftar tamu yang akan hadir," meletakan undangan dan daftar hadir tamu di atas meja.
Leon memeriksa daftar tamu yang hadir. Tentu saja nama yang pertama kali dia temukan adalah nama Kun karena bagaimanapun juga ia merupakan salah satu investor yang paling di incar oleh perusahaan manapun. Jadi sah sah saja jika acara segede apapun akan di hadiri oleh Kun.
"Melihat namanya saja sudah membuat diriku sangat muak. Apalagi jika harus bertemu dengan dia nanti malam" gerutu Leon ketika mengingat kejadian kemarin ketika Kun memukulinya di depan Aurora.
Sontak Leon menghempaskan daftar para tamu tersebut di atas meja yang membuat Jenny seketika membulatkan mata bertanya-tanya.
"Apakah ada yang salah Presdir?" tanya Jenny heran.
Leon memijat dahinya pusing dan tidak menghiraukan pertanyaan Jenny barusan. Namun karena masih penasaran dengan tamu-tamu yang akan hadir malam ini dia melirik daftar tersebut lalu matanya membulat ketika tertulis nama Aurora di daftar tersebut.
"Aurora" ucapnya pelan.
"Presdir...Presdir" panggil Jenny lagi, ketika Leon sama sekali tidak menanggapi pertanyaannya barusan.
"Hmm..." balasnya lagi dengan singkat, berhubung suasana hati Leon tidak cukup baik hari ini karena sampai sekarang tidak dapat menghubungi Aurora.
"Jadi...apakah Presdir akan hadir? Jika Iya, secepatnya saya akan menyiapkan segala kebutuhan yang Presdir butuhkan malam ini" menatap lekat pria yang menurutnya sangat aneh hari ini.
"Ya, saya akan hadir nanti malam. Tolong persiapkan semuanya" tegas Leon berubah pikiran, ketika mengetahui Aurora juga akan hadir malam ini.
"Akhirnya aku akan bertemu dengan Aurora. Semoga keadaanya baik-baik saja setelah kejadian kemarin dan awas saja jika Kun kembali menyakitinya" janji Leon dalam hati.
Setelah mengiyakan permintaan bosnya, Jenny pamit kembali untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Tunggu sebentar, pulanglah lebih awal hari ini dan temani aku nanti malam" pinta Leon tiba-tiba menghentikan langkah Jenny.
Mendengar ucapan Leon dengan sigap Jenny membalikkan diri dan langsung membungkukkan diri memberikan penghormatakan kepada Leon.
__ADS_1
"Terima kasih Presdir atas ajakan dan dengan senang hati saya akan menemani," ucap jenny tersenyum manis kearah Leon yang membuat pandangan mereka bertemu dan dengan kik kuk. Segera Jenny menundukkan pandangannya dan kembali pamit untuk kembali ke meja kerjanya.
π€π€π€
Disebuah butik terkenal di kota paris, Terlihat Aurora yang sedang sibuk memilih beberapa pakaian untuk dia coba dan yang akan ia kenakan untuk menghadiri udangan malam nanti dengan ditemani oleh sang suami tentunya.
"Ini Nona, beberapa rekomendasi gaun dari kami. Rancangan desainer terkenal yang baru keluar musim ini dan termasuk gaun yang limited edition" tawar seorang pelayan yang bekerja di butik tersebut.
Aurora membelai gaun indah tersebut, setiap jahitan sangat rapi dan aksesoris yang di tempelkan juga tidak terlalu berlebihan. Namun kesan mewah dan elegan tetap masih terpancar dari gaun tersebut.
"Saya menyukai tiga gaun ini, tolong letekkan di ruang ganti. Nanti saya akan mencobanya" pinta Aurora menunjuk tiga gaun yang menurutnya sangat indah.
Biarpun Aurora telah mendapatkan tiga gaun untuk dicoba. Namun dia masih memilih beberapa pakaian untuk dia beli nantinya karena bagaimana pun insting wanita dalam berbelanja memang tidak pernah habis.
Mata Aurora lagi-lagi terpukau takjub ketika menemukan dress selutut berwarna putih. Ingin sekali ia memilikinya. Namun ketika meraih dress tersebut, gerakan tangan Aurora kalah cepat dengan saingan yang ikut turut takjub dengan gaun tersebut.
"Jenny?" panggil Aurora ketika menyadari orang tersebut adalah sekretaris pribadi Leon yang ia temui beberapa hari lalu.
"Kamu Aurora kan?" tanya Jenny balik yang dibalas dengan anggukan oleh Aurora.
"Ya, seperti yang dilihat" balas Aurora singkat melirik dress yang ada di tangan Jenny.
"Aurora bolehkah aku minta tolong kali ini saja," dengan memegang erat lengan Aurora.
"Dengan senang hati" balas Aurora yang membuat Jenny semangkin bersemangat.
"Jadi gini, kamukan udah kenal lama nih sama Presdir Leon. Jadi aku mau tau warna kesukaan Presdir dan dress yang cocok buat aku karena bagaimanapun kamu seorang artis jadi lebih paham dengan dress yang dapat menarik perhatian pria kita yang sukai" jelas Jenny panjang lebar saking bersemangat.
"Apakah mereka akan berkencan?" tanya Aurora dalam hati dengan sedikit kegundahan.
"Aurora,,,Aurora kamu dengerin akukan?" memegang bahu untuk menyadarkan Aurora yang terlihat ngelamun.
"Hmm...Kak Leon menyukai warna putih dan juga dress yang ada ditangan mu sangatlah indah. Menurutku itu cukup cocok untuk dipakai olehmu nantinya" menunjuk dress yang ada di tangan Jenny yang ingin ia miliki tadinya.
"Wah, aku juga sangat menyukai dress ini. Warna putih yang tidak terlalu mencolok dengan mutiara sebagai aksesorisnya. Terima kasih yah," ucap Jenny kepada Aurora.
__ADS_1
Aurora membalas ucapan terima kasih Jenny dengan senyum manisnya. Biarpun di dalam fikirannya sangat penuh dengan tanda tanya.
Walaupun kemarin ia menyetujui hubungan Jenny dan Leon. Namun tiba-tiba hatinya sedikit sesak ketika Jenny menanyakan hal tentang Leon di depannya.
Mungkin ini akan sedikit sulit menurut Aurora untuk mengikhlaskan Leon bersama Jenny karena bagaimana pun juga Leon adalah cinta pertamanya.
"Ehem" tegur seorang pria yang ada dibelakang Aurora yang membuatnya langsung menoleh kebelakang.
"Kun," ucap Aurora ketika menyadari pemilik suara tersebut.
Dengan posesif Kun langsung melingkarkan lengannya kepinggang ramping Aurora sehingga membuat pipi Aurora memerah karena ada Jenny di hadapannya dan dia tidak terbiasa diperlakukan seperti ini di depan orang ramai.
"Dia bukankan wanita yang waktu itu berada di rumah Leon. Ngapain dia disini," ucap Kun dalam hati sedikit curiga.
"Pelayan!" panggil Kun sambil memberikan isyarat.
"Ya Tuan, ada yang bisa kami bantu" tanya pelayan tersebut menghampiri.
"Siapakan ruang ganti yang lebih besar dan yang ada ruang tunggu didalamnya" perintah Kun yang membuat Aurora membulatkan mata.
"Lebay banget sih, biarin aja aku gunaiin ruang ganti yang biasa," ucap Aurora kepada suaminya.
"Tidak, itu sudah keputusanku" menarik lengan Aurora dengan paksa tanpa menyapa Jenny sedikitpun.
Jenny hanya terdiam melihat pasangan suami istri yang kini mulai meninggalkannya sendirian.
"Pasangan yang sangat unik," ucap Jenny menatap punggung Aurora dan Kun yang kini sudah mulai menghilang dari hadapannya.
Bersambung...
π£π£π£π£π£
Bantu like, rate, vote, dan juga sarannya ya readerππΉ
Author : WinaAtlyn
__ADS_1
iq. : married_to_ceo03