Married To Ceo

Married To Ceo
Menjemput istriku


__ADS_3

Pagi ini, Leon tengah mempersiapkan diri untuk bergegas pergi kekantor karena akan diadakannya rapat penting dengan para dewan direksi. Tapi, tidak dengan Jenny yang masih sibuk merawat Aurora karena Leon memerintahkan Jenny untuk tidak bekerja hari ini dan fokus kepada Aurora.


"Aurora, bagaimana kondisimu? Apakah sudah enakan?" tanya Leon dengan lembut sambil duduk di tepi ranjang dan tidak lupa juga, ada Jenny disitu.


"Udah kok Kak Leon, Aurora udah sehat" balas Aurora yang tidak ingin membuat Leon merasa khawatir.


"Syukurlah kalau begitu. Tapi, apakah Kak leon boleh bertanya sesuatu?" tanya Leon lagi yang kini merupakah tatapan menjadi lebih sedikit serius.


"Memangnya apa yang ingin Kak Leon tanyakan?" Aurora balik bertanya, seperti ada hal yang memamg serius untuk Leon ketahui.


"Kemana Kun? Kenapa bisa-bisanya dia membuatmu sendirian apalagi sampai kehujanan? Apakah dia menyakitimu?" Leon melayangkan pertanyaan bertubi-tubi kepada Aurora.


Aurora tak mungkin memberitahu kejadian yang sebenarnya kepada Leon. Bagaimana pun ini merupakan masalah pribadi dan dia tidak mau siapa pun merasa kasihan kepada dirinya.


"Kak Leon kok bertanya seperti itu sih. Hubungan kami baik-baik aja kok Kak, jangan khawatir" jawab Aurora bohong yang berusaha berbicara setenang mungkin.


"Aurora...jangan berbohong. Berbicaralah yang jujur, jika dia berani menyakitimu aku akan memberikan dia sedikit pelajaran," ucap Leon bersungguh-sungguh.


"Bbeennarr...Kak, Aurora sudah jujur kok,"


ucap Aurora terbata-bata


Belum sempat Leon mendesak Aurora kembali untuk berkata yang sebenarnya. Dari luar kamar terdengar seorang pelayan yang memohon untuk masuk ke dalam kamar dengan nada suara penuh kepanikan.


"Maaf Tuan, jika saya telah lancang. Tapi, diluar sedang terjadi keributan...Ada seorang pria yang memberontak ingin masuk bersamaan dengan para pengawalnya," ucap Pelayan tersebut ketakutan.


"Jangan-jangan itu Kun" umpat Aurora gelisah.


Dan memang benar, pria yang dimaksud para pelayan tersebut adalah Kun.


Kun kini telah berhasil menerobos masuk dikediaman Leon dan dia juga telah mengetahui dikamar mana sekarang istrinya berada.

__ADS_1


Berhubung jumlah pengawal Leon yang tidak sebanding dengan jumlah pengawal yang dibawa oleh Kun. Jadi mau tidak mau pengawal Leon harus membiarkan Kun untuk menerobos masuk.


Biarpun jauh, setelah kedatangan Aurora. Leon telah memerintahkan para pengawalnya untuk berjaga agar tidak membiarkan Kun dengan mudahnya masuk.


"Ehem...sudah kuduga dan ternyata memang benar. Tuan muda Leon lah yang telah menghansut istriku untuk pergi dari rumah" sindir Kun menyunggingkan seringai licik.


Melihat Kun yang tiba-tiba datang, sontak semua mata tertuju kearah Kun dan Aurora mematung tidak percaya jika Kun datang mencarinya sampai-sampai membuat kegaduhan seperti itu.


"Cihh..." umpat Leon tersenyum, melangkah mendekati Kun.


"Tak kusangka, orang yang dipuja dan dihormati seperti anda dengan rendahnya membuat kegaduhan seperti ini" sindir Leon balik.


Kun dan Leon saling melemparkan tatapan mematikan mereka, sedangkan Leon tangannya sedari tadi mengepal dan sudah sangat gatal untuk memukul wajah Kun yang tega-teganya menyakiti wanita yang sangat ia cintai.


Mendengar ucapan Leon, Kun malahan tersenyum ngeledek. Segala unek-unek yang ada di kepalanya ingin sekali ia lontarkan kepada Leon.


"Hah...aku disini hanya ingin menjemput istriku yang dibawa kabur oleh pria yang tidak tau malu," ucap Kun sambil melewati Leon namun Leon berusaha untuk menghadangnya.


Aurora dan Jenny yang melihat kejadian tersebut sangat terkejut. Mereka mencoba untuk melerai perkelahian antara Kun dan Leon. Namun, hal tersebut di hadang oleh pengawal yang diutus oleh Kun.


"Dengan kondisimu yang seperti ini kau masih berani berurusan dengan ku hah. Dengarkan aku! Perusahaanmu sekarang berada ditanganku. Jika sedikit saja kau berani mendekati milikku, akan kupastikan dalam sekejap hidupmu akan hancur," ancam Kun berjongkok mendekati Leon sambil memegangi kepalanya dan dengan kasar Kun mengibaskan kepala Leon.


Aurora memberontak, mencoba melepaskan diri dari pengawal Kun yang menghadangnya. Dengan sekuat tenaga akhirnya Aurora lolos, dia berlari ke arah Leon dan tidak percaya bahwa Kun telah berbuat jahat seperti ini.


"Kun, apa yang telah kamu


lakukan hah?" tanya Aurora dengan mata yang berkaca-kaca ketika melihat wajah Leon lebam akibat pukulan keras yang di hantamkan Kun.


"Aku hanya memberi dia peringatan sayang, agar tidak berani untuk menjauhkan dirimu dariku lagi" balas Kun santai dan sedikitpun tidak merasa bersalah.


Ketika mengetahui Aurora yang terlihat peduli dengan kondisi Leon saat ini. Membuat Kun terasa terbakar api cemburu, Kun menarik lengan Aurora untuk menjauh dari Leon.

__ADS_1


"Hei, lepasin!" bentak Aurora ketika Leon mencengkram lengannya.


Tidak tahan dengan Aurora yang semangkin memberontak. Kun langsung menggendong Aurora dan membawanya pergi dari tempat tersebut.


"Awwww" ringis Aurora ketika Kun mendorongnya masuk ke dalam mobil.


"Kenapa kau pergi dari rumah dan kenapa bisa berada di rumah si brengsek itu?" tanya Kun menatap Aurora dengan dingin.


"Cihh...sebenarnya aku yang bertanya seperti itu. Kenapa malam itu kamu tidak menepati janji, malah enak-enakan bermalam dirumah macan tutul" gerutu Aurora benci.


"Aku bisa menjelaskan itu semua," ucap Kun mencoba menjelaskan. Namun...


"STOP...aku tidak ingin mendengar penjelasan busukmu" tegas Aurora membalas tatapan Kun.


"Kenapa kau sama sekali tidak mempercayaiku, aku sangat mencintaimu. Aku tidak mungkin berbuat hal kotor bersama wanita lain" jelas Kun berharap Aurora dapat mempercayainya.


"Maaf, karena aku tidak pernah mencintaimu. Jadi aku tidak butuh penjelasan apapun darimu" berbicara penuh penekanan.


Kun mematung dan terdiam mendengar ucapan Aurora yang sangat melukai hatinya. Tidak ada satupun kata yang memang bisa ia katakan.


Sakit...,ini sangat sakit jauh dari sakit, yang pernah Arini torehkan kepada dirinya.


Dengan raut wajah yang sudah sangat berkecamuk, Kun memerintahkan Thomas untuk segera melaju kembali ke kediamannya.


"Kenapa perasaanku ikut-ikutan sakit setelah berbicara seperti itu. Seolah, ada sedikit ketidak-terimaan hatiku berbicara yang memang tidak sesuai dengan isi hatiku saat ini" umpat Aurora dalam hati, diiriingi dengan sedikit penyesalan...


Bersambung...


💣💣💣💣💣


Hai reader😋😋jangan lupa buat ngasih like, rate, vote, dan juga sarannya ya. Ditunggu loh Terima kasih✍🏻💕

__ADS_1


__ADS_2