
Arini terlihat sedang menunggu makanan yang ia pesan disebuh restoran. Sesekali ia menghela nafas bosan karena telah membuang banyak waktunya hanya untuk membawakan Aurora makanan. Hal ini ia lakukan, hanya untuk mencari simpati Kun karena jika bukan untuk Kun dia tidak mungkin untuk melakukan hal bodoh seperti ini.
Tak lama kemudian, datang seorang pelayan yang merupakan perkerja dari restoran tersebut menghampiri Arini untuk memberikan makanan yang telah ia pesan.
Setelah Arini selesai membayar makanan itu, ia langsung melaju menuju kediaman Kun dan tak memakan waktu lama ia telah tiba di tempat yang ia tuju.
Ia sekarang telah berada di dalam kediaman Kun, duduk di salah satu sofa mewah rumah tersebut. Sambil menunggu seorang pelayan memberitahukan kedatangannya kepada Tuan besar mereka
"Ada urusan apa pagi-pagi datang kesini?" tanya Kun yang tiba-tiba datang, tanpa Arini ketahui sehingga memecahkan lamunan Arini tadinya.
"Kun, maaf jika mengganggu. Tapi aku datang kesini hanya ingin menjenguk Aurora karena aku dengar ia telah sadar beberapa hari yang lalu" balas Arini dengan senyum yang dibuat bahwa dia ikut berbahagia dengan kesembuhan Aurora.
"Apakah aku boleh menemuinya" pinta Arini mencoba meyakinkan Kun.
"Baiklah, ikuti aku" ujar Kun yang mulai melangkahkan kaki di ikuti oleh Arini di belakangnya.
Sesampainya di kamar, Kun mendekati Aurora yang masih terlihat terlelap dari tidurnya.
Mencoba untuk membangunkan sang istri dengan lembut Kun mengusap pipi mulus Aurora sambil memanggil nama Aurora dengan lembut.
Melihat Kun yang memperlakukan Aurora dengan lembut dan penuh kasih sayang. Terbesit rasa iri muncul dari hati Arini karena menurut Arini yang pantas mendapatkan perlakukan seperti itu adalah dia dan bukan Aurora.
Rasa kesal dan cemburu sekuat tenaga Arini tahan. Dia tidak ingin rencananya menjadi berantakan hanya karena menuruti ego dan rasa iri dengki pada dirinya.
"Hmm..." Aurora mengeliat imut karena merasa risih dengan belaian lembut yang Kun lakukan untuk membangunkan dirinya.
Mendapati tingkah sang istri yang sangat menggemaskan. Ingin sekali Kun melahap bibir mungil istrinya tapi jika seandainya Arini tidak ada di belakangnya saat ini.
"Ada apa sih, aku masih mengantuk tau," ucap Aurora mengomel dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka.
__ADS_1
"Sayang, ada yang ingin bertemu dengan mu" balas Kun yang masih sibuk mengelus pipi Aurora karena gemas.
"Mama dan papa ya?" tanya Aurora bersemangat, karena jujur Aurora sangat merindukan kedua orang tuanya saat ini yang sama sekali belum menyempatkan diri untuk menjenguk Aurora karena ada urusan bisnis keluar negeri.
"Bukan, tapi dia Arini" jelas Kun menunjuk kearah Arini yang sekarang telah memasang wajah lembutnya kepada Aurora.
Raut tidak sedang tergambar di wajah Aurora. Mendapati Arini lah ternyata orang yang ingin bertemu dengan dirinya.
"Shitt...aku sebenarnya sangat malas melihat wajah wanita ini. Biarpun difikir-fikir tidak ada masalah diantara kami berdua tapi pertemuan pertama kali dengannya di rumah sakit cukup berhasil membuat ku memandang dia rendah. Apalagi ketika melihat caranya berpakaian saat ini seperti ingin ingin menggoda saja memerkan belahan dadanya, cih..." batin Aurora yang melirik wajah Arini dengan tatapan malas.
"Oh, wanita yang kemarin bertemu di rumah sakit. Memangnya kenapa sampai ingin bertemu denganku," ucap Aurora dengan angkuhnya.
"Aku hanya ingin menjengukmu. Tidak apa-apakan mengganggu waktu rehat mu sebentar, lagi pula aku sudah membawakan beberapa makanan yang baik untuk kesehatan mu" ujar Arini berbicara dengan lemah lembut.
"Ingin menyogok dengan makanan ya supaya bisa mendekati suami ku. Cih memang tipuan yang murahan" umpat Aurora dalam hati.
"Sayang, aku ingin keluar sebentar membereskan beberapa berkas di ruang kerja. Aku akan memerintahkan pelayan untuk menyiapkan makanan yang telah ia bawa,yang akur ya" ucap Kun menciumi dahi Aurora dengan lembut dan segera beranjak menuju ruang kerjanya serta mempersilakan Arini untuk mengobrol bersama Aurora supaya sang istri tidak terlalu bosan berada dirumah.
Setelah Kun tiada di ruangan tersebut, angin kecanggungan berdesir diantara kedua belah pihak. Kecanggungan tersebut berakhir ketika datang seorang pelayan mengantarkan makanan yang tadinya Arini bawa.
"Apakah ingin ku suapi?" tanya Arini meraih makanan yang ia bawa dan duduk disamping ranjang.
"Tindak perlu,aku bisa melakukannya sendiri. Lagi pula tanganku baik-baik saja" balas Aurora dengan nada tegas.
"Baiklah kalau begitu" Arini meletakan makanan yang tadinya ia raih ke meja.
Tidak ada obrolan hangat antara keduanya, setiap kali Arini mencoba memulai untuk bicara Aurora terus mengujani Arini dengan kalimat-kalimat yang dingin dan ketus.
Hal tersebut membuat Arini terus menerus menggerutu dalam hati. Kepalanya sudah sangat memanas, tangannya mengepal geram.
__ADS_1
"Dasar wanita tidak tau diri, lihatlah lambat laun Kun akan segera menjadi milikku" umpat Arini penuh dengan rasa geram.
"Kau belum ingin pulang ya? atau kau memang tidak ada kerjaan dirumah" tanya Aurora yang terlihat mengejek Arini saat ini.
"Banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan. Tapi waktuku yang berharga sebisa mungkin aku relekan untuk menemanimu mengingat Kun sudah sangat baik dan perhatian kepadaku" balas Arini menatap lekat wajah Aurora.
"Oh syukurlah kalau begitu dan terima kasih atas waktu mu yang berharga" Aurora membalas tatapan Arini dengan tajam.
Sehingga mereka berdua terlihat saling melempar tatapan tajam saling menyumpah dalam hati.
"Perut ku tiba-tiba sakit setelah memakan makanan ini. Sepertinya aku harus pergi ke toilet" sindir Aurora menunjuk makanan yang Arini bawa.
"Cih..." umpan Arini dalam hati.
"Apakah ingin ku bantu ke toilet?" tanya Arini mempersilakan dirinya.
"Tidak-tidak, aku bisa sendiri" balas Aurora yang kini telah pergi menuju toilet.
Melihat Aurora sudah tidak ada lagi di hadapannya, Arini langsung melepas topeng wajahnya yang sedari tadi ia rangkai sedemikian rupa agar tidak menampakkan dirinya bahwa ia sangat kesal mendengar segala ucapan Aurora.
"Lebih baik aku segera pergi. Jika harus menahan hati terus menerus" gerutu Arini yang mulai beranjak. Namun langkahnya terhenti ketika melihat ponsel Aurora di atas meja.
"Sepertinya kali ini aku membutuhkan sesuatu untuk melancarkan segala rencana ku," ucap Arini yang langsung menyeringai jahat ketika melihat ponsel Aurora. Entah apa yang sekarang sedang ia fikirkan dan rencana busuk apa lagi yang akan ia lakukan...
Bersambung...
๐ฃ๐ฃ๐ฃ๐ฃ๐ฃ
Hai reader๐sampai sini dulu yah. Author sibuk banget nih๐๐. Jangan lupa buat selalu ngasih like,rate,votenya ya supaya author semangkin semangat buat lanjutin nya๐๐๐โ๐ป
__ADS_1