Married To Ceo

Married To Ceo
Pria brengsek


__ADS_3

"Ternyata wanita ini yang telah berhasil membuat Presdir jatuh hati. Aku memang jauh terkalahkan kalau harus dibandingkan dengannya. Dia cantik, terkenal, dan dari keluarga yang terpantang sedangkan aku...ahh sudahlah jangan terus-terusan membandingkan diri dengan orang lain" umpan batin Jenny memandangi Aurora yang sekarang sedang terbaring tak sadarkan diri.


Jenny tak henti-hentinya memandangi Aurora dengan tatapan kagum. Hal ini, semangkin membuat dia merasa tidak percaya diri untuk mendekati Leon.


Tapi, jenny tau betul dengan Aurora berhubung Aurora adalah seorang artis yang terkenal. Apalagi kabar Aurora yang telah menikah dengan seorang pria kaya yang juga seorang kolongmerat.


"Tapi kenapa Presdir masih mengejarnya?" tanya Jenny dalam hati kebingungan.


"Kun...kun...hiks dasar pria brengsek" sumpah Aurora mengigau dengan keringat yang membasahi tubuhnya.


Dengan raut wajah yang cemas tersirat kebingungan pada jiwa Jenny, siapa yang harus dia panggil saat ini. Sedangkan, dokter yang tadi datang menangani Aurora telah pulang dan Leon pun sekarang sedang keluar karena ada keperluan mendesak.


Namun tiba-tiba...


Aurora tersadar, perlahan demi perlahan ia membuka matanya dan melihat asing langit-langit kamar yang sekarang sedang ia tempati.


"Dimana aku? Kenapa aku bisa berada disini?" tanya Aurora sambil mencoba untuk bangkit. Namun, Jenny berusaha menenangkan Aurora.


"Tenanglah, sekarang kamu berada dirumah Presdir Leon. Jangan jangan banyak gerak karena tubuhmu masih lemah" pinta Jenny membantu kembali Aurora untuk berbaring.


"Dirumah Leon...tapi kenapa aku bisa berada disini?" tanya Aurora kembali melihat kearah Jenny.


"Tadi, Presdir Leon menemukan kamu kehujanan di taman, lalu ketika Presdir mencoba membawa kamu ke dalam mobil tiba-tiba sudah tidak sadarkan diri" jelas Jenny mencoba memberikan pengertian kepada Auroea.


"Ngomong-ngomong, sekarang sudah pukul berapa?" tanya Aurora ingin tau.


"Sekarang pukul 22.25" jawab Jenny setelah melihat jam tangan yang melingkar manis di lengannya.


Aurora terdiam lalu menatap kosong langit-langit kamar saat ini, termenung memikirkan Kun yang seperti tidak sama sekali cemas atau mencari keberadaannya saat ini.


"Sudahlah Aurora, jangan terlalu banyak berfikir. Lupakan pria brengsek itu, dia tidak berhak untuk mendapatkan cintamu" gerutu Aurora dalam hati.


"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Jenny khawatir melihat Aurora yang termenung.


"Ya, aku baik-baik saja" jawab Aurora gagap.


"Syukurlah kalau begitu. Sekarang kamu makan yah, aku suapin" Jenny meraih makanan yang barusan pelayan hantarkan.


Jenny menyuapi Aurora dengan penuh ketulusan. Aura yang jenny pancarkan juga terlihat sangat baik, sepertinya Jenny merupakan gadis yang baik menurut Aurora, tidak seperti Arini yang jika dilihat dari cara dia berpakaiannya saja sudah dengan mudah untuk ditebak.

__ADS_1


"Kamu pacar Kak Leon?" tanya Aurora disela-sela senggang Jenny berhenti sejenak untuk menyuapinya.


"Tiiidaakkk...aku bukan pacarnya. Jangan salah paham ya!" jelas Jenny tidak ingin membuat Aurora salah paham.


"Kenapa aku harus salah paham. Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Kak Leon" ujar Aurora dengan tatapan meyakinkan.


"Tapi...," ucapan Jenny terpotong.


"Kamu jangan berfikir terlalu jauh, lagi pula aku dan Kak Leon tidak pernah ada hubungan spesial. Kami dari SMA memang sudah dekat namun, hanya sebatas sahabat," ucap Aurora.


"Tapi, Presdir sepertinya menyukaimu dan tidak menyukaiku" balas Jenny dengan nada tidak percaya diri.


"Mencintai dan saling menyukai itu hanyalah masalah waktu. Jika kamu memang tulus, percayalah suatu saat Kak Leon akan melihat kearahmu dan mulai untuk mencintaimu," ucap Aurora memegang tangan Jenny untuk memberikannya rasa percaya diri.


"Baiklah aku akan berusaha" Jenny tersenyum kearah Aurora dan mulai kembali membangun rasa percaya dirinya untuk mengejar pria yang bisa dikatakan cinta pertamanya.


πŸ–€πŸ–€πŸ–€


Sesampainya Leon di kediamannya, bisa dikatakan memang sudah larut karena ada beberapa hal bersangkutan dengan perusahaan yang harus diatasi.


Bukannya berniat untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Namun,Leon langsung bergegas melangkah untuk menemui dan mengetahui keadaan Aurora saat ini.


Leon pun menggerakkan tubuh Jenny dengan pelan, yang ikut tertidur di kursi yang bersebelahan dengan Aurora karena dia ingin mengetahui kondisi Aurora langsung dari Jenny.


Jenny mengeliat, berusaha untuk membuka matanya dan ketika melihat Leon yang sekarang berada di dekatnya dengan sigap Jenny langsung berdiri.


"Maaf Presdir, jika saya lancang dan sampai tertidur," ucap Jenny merasa bersalah.


"Tidak masalah jika kamu tertidur karena hal tersebut adalah hal wajar. Saya disini hanya ingin bertanya, apakah Aurora telah tersadar tadi dan apakah dia telah makan?" tanya Leon dengan nada penuh perhatian.


"Sudah presdir, Aurora juga terlihat sedikit membaik dan suhu tubuhnya tidak terlalu panas lagi" jelas Jenny yang sedikit membuat Leon merasa lega.


"Syukurlah..." Leon merasa tenang.


Melangkah mendekati Aurora yang sudah terlelap sedari tadi. Dibelainya lembut pipi Aurora penuh rasa cinta dan sayang.


Jenny yang melihat adegan tersebut hanya terdiam walaupun sedikit merasa cemburu. Tapi hal yang lebih menyedihkan baginya adalah dia hanya mampu menyembunyikan rasa itu karena dia bukan siapa-siapa dimata Leon.


"Bagaimana aku bisa membuatnya jatuh cinta denganku, sedangkan dia masih mencintai wanita lain" lirih Jenny dalam hati.

__ADS_1


"Jenny..." panggil Leon yang membuat Jenny terkejut.


"Aaa...iya Presdir ada yang bisa saya bantu?" tanya jenny dengan kalimat yang sedikit gagap.


"Tidak ada kok, cuman lebih baik sekarang kamu beristirahat dikamar tamu yang sudah selesai dibersihkan para pelayan dan satu lagi saya mau ngucapin terima kasih karena sudah menjaga Aurora dengan baik," ucap Leon tulus sambil melemparkan senyuman kepada Jenny.


"Tapi, siapa yang akan menjaganya Presdir?" tanya Jenny keheranan.


"Aurora juga sudah tertidur. Jadi tidak perlu dijaga terlalu intensif" jelas Leon.


Mendengar penjelasan Leon, akhirnya Jenny menyetujui untuk pergi beristirahat.


Setelah Jenny pergi, Leon kembali memandangi wajah Aurora dengan segala penyeselan karena telah membiarkan wanita yang ia cinta terluka.


"Awas kau brengsek, tidak akan ku biarkan kembali kau menyakiti Aurora" Leon berjanji dengan dirinya sendiri.


-


-


-


Sedangkan Kun masih pusing kepala memikirkan dimana keberadaan Aurora saat ini.


Aurora sudah tidak bisa lagi untuk dilacak keberadaannya. Seharian penuh Kun mencari Aurora setelah dia kembali dari apertemen Arini.


Dia takut jika Aurora harus kembali salah paham atas kejadian yang membuat dia harus bermalam di rumah Arini karena sungguh Kun tidak melakukan apa-apa dengan Arini.


Tapi Kun teringat atas suatu hal...


"Kenapa aku tidak mencari Aurora di rumah Leon. Siapa tau Leon yang telah menghangsut Aurora untuk pergi," ucap Kun dalam hati.


Karena memang, semua tempat telah Kun datangi kecuali rumah Leon. Hal tersebut semangkin menambah keyakinannya bahwa Aurora memang berada di dikediaman Leon.


"Akan ku hancurkan hidupmu, jika kau berani menyentuh sehelai rambut Aurora," ucap Kun dengan nada kebencian...


Bersambung...


πŸ’£πŸ’£πŸ’£πŸ’£πŸ’£

__ADS_1


Hai reader 😚 jangan lupa dukungannya yaπŸ˜‰ dengan ngasih like, rate, vote, dan juga sarannya. Terima kasihβœπŸ»πŸ’•


__ADS_2