
Aurora mengerjap, badannya terasa remuk dan hancur. Ia melirik ke sebelahnya, mencari sosok pria yang telah membuat dia tak henti-henti mengerang kenikmatan.
"Dimana Kun" tanya Aurora dalam hati mencoba bangkit dari rebahnya.
Tak lama kemudian, keluarlah Kun dari kamar mandi dengan bertelanjang dada sehingga memperlihatkan dada bidangnya yang sedikit berotot.
Aurora yang sedari tadi melihat Kun hanya melongo. Memuji segala keindahan yang dilihatnya itu.
"Kenapa bengong? Aku tampan ya," goda Kun duduk di tepi ranjang mendekati Aurora.
"Hmm, enggak kok. Siapa bilang?" hindar Aurora terbata-bata.
"Ohh...." balas Kun dengan nada yang cukup panjang dan dengan tiba-tiba menggendong Aurora melangkah menuju kamar mandi.
"Hei mau ngapain?" tanya Aurora heran.
"Mandiin anak kecil" ejek Kun terkekeh.
"Ih..." wajah Aurora cemberut mendengar perkataaan suaminya.
Didalam kamar mandi, Kun menurunkan Aurora ke dalam bathub yang telah berisikan air dengan kepingan kelopak bunga mawar yang membuat Aurora merasa canggung.
Aurora kira, Kun hanya membantu dirinya untuk pergi ke kamar mandi. Namun dirinya salah, malahan Kun ikut masuk berendam di dalam bathub yang membuat mereka sekarang saling berhadapan.
Aurora mengalihkan pandangannya dari Kun karena sudah tidak tahan dengan tatapan mesum suaminya itu.
Sedangkan Kun, berusaha menggoda Aurora dengan di elusnya paha Aurora yang mulus menggunakan kakinya.
Aurora membulatkan mata, lalu mencoba membelakangi Kun dengan bertumpu di ujung bathub.
"Sayang, aku ingin melakukannya lagi" rengek Kun dengan manja.
Aurora sama sekali tidak ingin menghiraukan permintaan gila suaminya ini. Tidak ada tanggapan Aurora hanya memilih untuk diam.
"Hmm..." mendekati dan memeluk Aurora dari belakang menyesap bau harum yang melekat di tubuh Aurora dan membuatnya semangkin bergerak gelisah tak karuan.
"Kun, nanti kita akan telat jika begini terus" rengek Aurora mencoba melepaskan tubuhnya dari pelukan si predator.
"Aku janji akan tidak lama dan melakukannya dengan pelan sayang," ucap Kun berbisik sedangkan tangannya sudah memainkan sebelah gudukan kenyal dan bibirnya sibuk menjilat leher jenjang Aurora.
"Kun...hmm...hentikan" dengan nafas yang memburu dan dengan darah mendesir sekuat tenaga Aurora menahan desahannya namun tetap saja lolos dari mulut manisnya yang membuat Kun semangkin bersemangat menjelajahi tubuh istrinya ini.
Setelah itu, terjadilah pergulatan panas antara Kun dan Aurora didalam bathub. Suara desahan dan lenguhan keduanya memenuhi setiap celah ruangan.
Entah sudah beberapa kali Kun mencapai puncak kenikmatan yang membuat dirinya sangat puas menjamahi tubuh istrinya sedangkan Aurora mengerucutkan bibirnya karena hanya satu kali merasakan klimaks dan tidak setimpal dengan rasa lelah yang ia dapatkan.
-
-
-
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa syuting dengan baik. Jika gaya berjalan ku saja seperti ini" gerutu Aurora sambil membetulkan cara berjalannya
Karena menggunakan high heels yang cukup tinggi, Aurora hampir saja terjatuh dan terpental ke lantai ketika hendak menaiki tangga, untung saja dengan sigap Erik langsung memapah tubuh Aurora.
"Kamu gak apa-apa kan? Hati-hati dong Ra nanti kamu bisa jatuh," ucap Erik menceramahii Aurora dengan wajah yang sangat khawatir apalagi mengingat kejadian yang menimpa Aurora waktu itu.
"Hmm,,,terima kasih Rik" Aurora melepaskan dirinya dari pelukan Erik yang tadinya memapah Aurora
"Gimana kabar kamu Ra udah baikkan?" dengan nada sedikit cemas.
"Udah kok Rik. Nih liat, aku udah sehat banget" Aurora dengan wajah yang ceria.
"Umm...baguslah kalau begitu" balas Erik melirik leher Aurora yang terlihat jejak tanda kepemilikian yang tadi Kun buat.
Sadar akan lirikan Erik terhadap dirinya dengan cepat Aurora menutupi bekas ****** tersebut dengan rambut.
"Bekas ******? Apakah Kun memaksa Aurora untuk melakukannya" pikir Erik yang tidak-tidak, apalagi ketika melihat Aurora yang sangat panik dan dengan cepat untuk menutupinya.
"Rik, sepertinya syuting akan segera dimulai. Lebih baik kita segera bergegas untuk mempersiapkan diri" Aurora melanjutkan langkahnya yang tadi sempat tertunda akibat ketidak hati-hatiannya dan juga meninggalkan Erik yang masih berfikir yang tidak-tidak terhadap Kun.
Cut...
"Baiklah syuting untuk hari ini selesai,!" ucap seorang sutradara menggunakan sound system mengakhiri peran yang dilakukan oleh setiap artis yang ikut serta dalam film tersebut.
Aurora mengirimkan pesan singkat kepada Kun untuk tidak menjemputnya pulang sore ini karena dia tau betul beberapa hari ini suaminya sangat sibuk mengurusi proyek baru mereka, oleh karena itu Aurora tidak ingin merepotkan Kun.
"Sebaiknya aku menghubungi orang rumah untuk menjemputku pulang," ucap Aurora pelan mencoba menghubungi telepon rumah.
Jika tadi pagi dia bisa membantah untuk membawa mobil sendiri, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.
"Haruskah aku mencari taksi? Bagaimana jika mereka mengenaliku? Sudahlah Aurora yang terpenting kamu bisa pulang, masalah identitas bisa dipikirkan" umpat Aurora mengambil masker di dalam tas untuk menutupi setengah wajahnya agar tidak ketahuan.
Setelah mendapatkan masker di dalam tasnya, Aurora melangkah menyebrangi jalan sambil mengenakan masker. Sampai-sampai Aurora tidak sadar ada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi kearahnya.
"Aurora..." teriak pria dari pinggir jalan yang tidak lain adalah Erik.
Mendengar teriakan tersebut, Aurora langsung menyadari bahwa ada mobil yang melaju kearahnya.
Kaki yang sudah sangat kaku membuat Aurora tidak mampu lagi untuk menghindar, dia seakan pasrah dengan apa yang ada dihadapannya saat ini.
Melihat Aurora yang sudah dalam bahaya, sekuat tenaga Erik berlari untuk menyelamatkan Aurora dari mobil tersebut.
Dan keduanya pun terpental setelah Erik berhasil menyelamatkan Aurora dengan wajah yang sangat cemas. Ia memapah Aurora untuk berdiri dan langsung memeluknya erat.
Aurora yang masih dalam keadaan lemas yang mengira dirinya telah dilindas oleh mobil hanya berdiri kaku saat Erik memeluknya erat dalam kata lain dia juga sangat berterima kasih karena kalau bukan Erik mungkin dia sekarang sudah dilarikan ke rumah sakit.
"Ra...kamu gak terlukakan?" ringis Erik yang masih sangat erat memeluk Aurora dengan segala kecemasannya.
Kejadian 4 tahun lalu menjadi masa yang kelam bagi Erik dan masa itu hampir saja terulang pada hari ini.
__ADS_1
Masa dimana dia melihat gadis yang sangat ia cintai bernama Helena tergeletak tak bernyawa dengan darah yang seakan membasahi setiap lekuk jalanan.
Erik merasa menjadi pria pecundang waktu itu, membiarkan gadis yang ia cintai di tabrak mobil sehingga menewaskannya dalam sekejap.
Jika hari itu Erik tidak membiarkan gadis tersebut untuk menghampirinya dan jika Erik juga berusaha untuk menyelamatkan Helena seperti dia berusaha menyelamatkan Aurora mungkin Helena masih tetap berada disisinya.
Sejak itu Erik menutup dirinya, dia merasa kehilangan dan kesepian. Dia sangat dingin dengan setiap gadis yang mencoba mendekatinya karena baginya Helena tidak dapat tergantikan oleh siapapun.
Sampai ia mengenal Aurora yang memiliki paras dan sikap yang hampir sama dengan Helena. Dia jatuh cinta tapi dia hanya bisa memendam rasa cinta tersebut.
Dia takut jika nanti Aurora dan dirinya bersama. Dia tidak mampu untuk melindungi Aurora sebagaimana dia tidak mampu untuk melindungi Helena.
Walaupun sekarang kenyataannya Aurora sudah memiliki suami, Erik masih bersikeras untuk melindungi Aurora dalam segala marabahaya apupun karena itu adalah janjinya.
"Erik...aku baik-baik saja kok. Lepasin aku!" Aurora yang merasa lemas di peluk erat oleh Erik.
"Ra, kan aku udah bilang sama kamu untuk selalu hati-hati. Kamu ini seorang artis jadi bahaya kalau sendirian begini," ucap Erik kembali mencaramahi Aurora.
"Iya...iya. Bahkan saat kamu memarahiku itu lebih menakutkan dari pada aku yang akan ditabrak mobil" dengan nada bicara pelan.
"Apa katamu Ra?" tanya Erik dengan mata melotot.
"Enggak kok" Aurora yang terkekeh dibuat buat.
Erik meraih lengan Aurora lalu menariknya menuju garasi.
"Rik kita mau kemana sih?" tanya Aurora keheranan.
"Aku mau nganterin kamu pulang. Besok-besok kalau enggak bawa mobil lebih baik nebeng sama aku sini. Buat aku khawatir dan jantungan aja" memasang wajah galak sambil membuka pintu mobil dan mengisyaratkan Aurora untuk masuk.
"Kenapa dia menjadi posesif seperti ini. Apakah memang aku sangat mencemaskan" batin Aurora bertanya dan langsung masuk ke dalam mobil sport berwarna merah milik Erik...
Bersambung...
💣💣💣💣💣
Please like, rate, saran, dan yang paling terpenting votenya ya✍🏻💕
__ADS_1
Author : WinaAtlyn
Iq : married_to_ceo03