Married To Ceo

Married To Ceo
Cemburu


__ADS_3

Niat ingin mengintrogasi,sontak ia urungkan. Malahan Kun membalas memeluk Aurora dengan eratnya. Kun sangat berharap Kehangatan dan rasa aman yang dia berikan dapat Aurora rasakan. Dia juga tidak pernah melihat Aurora berinisiatif memeluknya seperti ini,biarpun dalam keadaan menyedihkan sekalipun.


"Apa yang sedang terjadi,?"tanyanya dengan nada lembut seraya mengusap pelan pucuk rambut Aurora.


Aurora hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya. Mulutnya terasa kaku untuk menceritakan sebuah paket yang berisi ancaman yang tadinya ia terima.


"Baiklah,jika tidak ingin berbicara. Lebih baik ku temani untuk beristirahat,"membantu Aurora untuk berbaring dan masih dalam pelukan eratnya sampai keduanya saling terlelap.


Pagi harinya,Kun tengah sibuk mempelajari setiap berkas yang akan ditanda tanganinya.


"Maaf Tuan,kami tidak dapat melacak siapa orang yang telah mengirimi Nona sebuah paket yang berisikan boneka tersebut,"Ucap Thomas meminta maaf.


Kun menghempaskan kasar berkas yang barusan ia baca dan memutar kursinya berbalik menghadap Thomas.


"Bagaimana pun caranya aku ingin orang tersebut segera ditangkap,karena dia sudah berani menakuti istriku,"tegasnya seraya berdiri berjalan mendekati Thomas dan menenpuk bahunya.


"Dan satu lagi,tingkatkan keamanan Aurora,kirim beberapa pengawal untuk berjaga dan jangan sampai dia mengetahuinya,"perintah Kun yang kembali duduk memeriksa sejumlah berkas.


Mendengar perintah dari tuannya dengan segera Thomas pamit pergi menjalankan tugasnya.


πŸ–€πŸ–€πŸ–€


Menggerutui dirinya sendiri,itulah yang saat ini Aurora lakukan didepan meje rias sambil menunggu gilaranya untuk syuting.


"Sejak kapan aku menjadi seorang wanita yang agresif. Ya ampun Aurora,apalagi ketika kau berada didepannya,"gerutu Aurora kesal.


Aurora terus membayangkan dirinya yang semalam dengan agresif menarik dan memeluk suaminya. Mengingatnya saja sungguh membuat dia merasa sangat malu.


Sampai datang seorang kru untuk memberitahu Aurora bahwa bagiannya akan segera dimulai,dan dipinta untuk segera bersiap-siap. Aurora mengangguk paham dan langsung mempersiapkan diri dibantu oleh seorang asisten.


Kini Aurora tengah membaca sedikit naskahnya menunggu persiapan kamera setiap kru yang sedang bertugas,sampai seorang sutradara datang hendak memulai adegannya.


"Camera...Roll...Action,"teriak seorang sutradara memulai adegan yang diperankan oleh Aurora dan Erik disebuah rumah mewah.


Adegan pertama yang mereka lakukan masih berlangsung lama, akting yang dilakukan Erik terhadap Aurora sangat murni dan natural.

__ADS_1


Namun suatu hal yang tidak terduga terjadi di lokasi syuting,sebuah lampu hias yang bergelantung nyaris menimpa Aurora untung saja didorong oleh Erik sehingga yang terluka hanyalah Erik. Erik dengan segera di larikan kesebuah rumah sakit terdekat.


Disisi lain seorang wanita terlihat tidak senang melihat rencananya gagal dan tidak tepat sasaran.


"Cih...sial,kamu hanya beruntung kali ini Aurora,"tutur seorang wanita yang bersembunyi dibalik para kru yang tidak lain adalah Clara.


Hospital Hotel-Dieu AP-HP


Terlihat seorang dokter sedang mengobati luka dari serpihan kaca yang tadinya menempel di punggung Erik. Aurora menyipitkan matanya ketika dokter tersebut mencabut beberapa serpihan yang menancap ditubuh orang yang telah menyelamatkan dirinya.


Aurora tidak dapat membayangkan jika tidak ada Erik yang menolongnya,mungkin dia akan bernasip sama dengan Erik dan mungkin akan lebih parah lagi.


Beberapa menit kemudian Erik telah selesai di obati dan diperban lukanya oleh seorang dokter. Dokter tersebut pamit karena telah selesai mengerjakan tugasnya.


"Erik...apakah masih sakit,"tanya Aurora dengan wajah yang murung.


"Enggak kok,kamu tenang aja ya,"Erik mencoba menenangkan Aurora yang seperti sedang mengkhawatirkannya.


"Maaf,udh ngelibatin kamu buat nolong aku. Aku enggak bisa bayangin kalau kamu enggak nolongin aku tadinya,"ucap Aurora sedih.


"Loh...jangan gini dong. Kok kamu sedih,aku tulus kok nolongin kamu yang terpenting buat aku adalah kamu jangan sampai sedikitpun terluka,"balas Erik dengan nada lembut seraya menyentuh pipi mulus Aurora


"Ehem...,"Kun mencoba menunjukan keberadaannya dan menghentikan tangan Erik yang bebas menyentuh pipi mulus Aurora


Melihat keberadaan Kun dengan cepat Erik menyudahi aksinya. Berharap pria yang terkenal kejam tersebut tidak melihat apa yang tadi tengah ia lakukan.


"Apakah ada yang terluka,?"tanya Kun posesif terhadap Aurora


"Aku baik-baik aja kok,karena aku di tolongin oleh Erik dan malahan dia yang terluka dan bukan aku,"jelas Aurora menunjuk Erik yang sedang terbaring.


Wajah Kun terlihat tidak senang melihat kedekatan istrinya dengan pria yang bernama Erik ini.


"Terima kasih telah menolong istriku,"ucap Kun dengan nada yang terpaksa. Mendengar Kun yang menyebut dirinya dengan embel-embel istri membuat wajah Aurora terlihat merona.


Tanpa meminta izin dengan Aurora. Kun menarik lengan Aurora setelah dia berpamitan dengan Erik. Aurora hanya terdiam mengikuti langkah suaminya karena sedikit terhanyut dengan ucapan Kun tadinya.

__ADS_1


"Hei...kenapa wajah mu merah seperti itu,"menunjuk wajah Aurora.


"Mungkin karena keadaan cuaca yang panas,"sahut Aurora mencoba menutupi dirinya yang juga sedang deg-degan.


"Dan juga,setelah ini jika kamu pergi syuting harus diikuti oleh beberapa pengawal. Aku tidak ingin hal yang serupa terjadi lagi,membuat cemas saja,"tegas Kun berjalan dengan Aurora dibelakangnya.


"Ya ampun...dia cemas dengan ku,"batin Aurora meronta kesenangan.


"Hei...apa kau dengan yang barusan ku katakan,"berbalik menghadapi Aurora yang tengah tersenyum kesenangan.


"Ya,ya...aku paham,"jawab Aurora membalas tatapan kesal Kun.


Mereka kembali melanjutkan langkahnya untuk pergi menuju mobil yang sedang terparkir bersamaan dengan Thomas didalamnya.


Namun,lagi dan lagi Kun bertemu dengan Arini yang juga sedang berada di rumah sakit tersebut.


"Hai Kun...ngapain kamu disini,ada yang sakit,?Arini bertanya sambil melihat wanita yang berada disamping Kun.


"Hanya menjenguk,"jawabnya santai.


"Kalau kamu,ngapain disini,"dengan nada yang berpura-pura akrab.


"Aku hanya ingin mengambil resep obat dari dokter,berhubung obat ku juga sudah habis,"sambil tersenyum manis kepada Kun tanpa sama sekali menghiraukan keberadaan Aurora.


Arini sengaja dan berpura pura tidak tahu dengan Aurora yang merupakan istri dari pria yang ingin dia rebut sekarang karena ini semua merupakan bagian dari rencananya.


"Oh..ya,Kun mau kan nemenin aku ngambil resep obat kedokter. Berhubung dokternya juga memerlukan seorang wali untuk ku bawa,"melihat sinis kearah Aurora.


Cemberut,itu lah gambaran wajah Aurora saat ini. Bagaimana tidak dia seperti dianggap tidak ada disisi pria yang sudah sah menjadi suaminya saat ini dan dunia seperti milik mereka berdua.


"Oke,akan kutemani. Aurora aku tidak bisa menemanimu pulang,pergilah ke garasi temui Thomas dan jangan pergi kemana-mana selain pulang kerumah,"ancamnya.


"Baik,"balas Aurora berjalan melewati Kun dan Arini. Kun hanya berdecak kesal ketika melihat Aurora sedikitpun tidak marah dengannya ketika hendak menemani wanita lain kareba tadinya dia hanya berusaha ingin membuat Auroea cemburu. Namun,lihatlah tingkahnya sangat tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan saat ini


Bersambung...

__ADS_1


πŸ’£πŸ’£πŸ’£πŸ’£πŸ’£


Hai reader tercintaπŸ˜‹ jaga selalu kesehatannya yaπŸ˜™ dan jangan lupa buat selalu dukung karya Author dengan like sebanyak-banyaknya,rate,vote,dan kasih sarannya,dan juga terima kasih yang sudah selalu support karyanya Author.βœπŸ»πŸ’•


__ADS_2