Married To Ceo

Married To Ceo
Cemburu tingkat angkut


__ADS_3

20.45(Aula megah LS)


Para tamu undangan terhormat, telah sedari setengah jam tadi meramaikan pesta ini, ada yang sekedar duduk menikmati hidangan sampai para pembisnis yang membicarakan kerja sama mereka. Banyak kalangan pengusaha, selebriti papan atas yang ikut berpartisipasi untuk hadir. Pesta ini diselenggarakan karena pencapain brand kosmetik keluaran dari LS yang membuming di seluruh negara. Semua ini berkas kerja samanya dengan perusahaan Kun yang telah banyak memberikan dukungan dan modal kepada mereka.


Sudah dikatakan setengah jam telah berlalu, rangkaian acara sudah sekian banyak terlewatkan. Namun, sosok yang mereka tunggu kedatangannya belum juga menampakkan diri.


"Dimana Aurora? Kenapa aku sama sekali tidak melihat keberadaannya hari ini?" Leon yang terlihat gelisah, melihat-lihat mencari keberadaan Aurora.


Dari kejauhan Jenny memperhatikan gerak gerik Leon yang tampak gelisah. Dia tau bahwa presdirnya saat ini pasti sedang mencari keberadaan Aurora.


Selesai berbincang dengan para karyawan, Jenny menghampiri Leon dengan membawa 2 gelas wine.


"Presdir" panggil Jenny menyodorkan segelas wine dan langsung disambar dan di teguk oleh Leon.


Jenny membalas dengan senyuman ketika menyadari mood Leon yang tampak tidak begitu baik hari ini. Dapat dia buktikan dari pertama kali Leon menjemputnya, satu patah kata sedikitpun tidak keluar dari mulutnya.


"Presdir, apa perlu saya ambilkan makanan?" tanya Jenny menatap wajah Leon yang masih mencari-cari sosok Aurora.


"Tidak perlu" jawabnya dingin.


Tak lama kemudian, para wartawan terlihat berlari-lari menuju kearah pintu keluar. Mereka memfokuskan kamera kepada pasangan yang saat ini baru keluar dari mobil dan berjalan di atas red karpet.


Pasangan tersebut tidak lain adalah Kun dan Aurora. Pasangan yang nyaris sempurna di pandangan setiap orang.


Para wartawan tidak tinggal diam melihat kedatangan Kun dan Aurora. Mereka berusaha sebisa mungkin untuk mewancarai pasangan fenomenal tersebut, sampai-sampai bodyguard kewalahan melerai para wartawan yang berhimpit-himpitan.


Leon pun ikut mendekat, ingin memastikan apakah benar itu adalah Aurora. Dengan Jenny yang ikut menguntit di belakangnya.


Sedangkan Kun dan Aurora, sedang pusing-pusingnya diwawancarai oleh para wartawan. Mulai dari pertanyaan tentang bisnis Kun yang sangat-sangat sukses sampai kisah percintaan mereka dalam berumah tangga, dan tak lupa insiden yang telah mencelakai Aurora beberapa waktu lalu di luar kota, yang sampai sekarang belum terbukti benar apa penyebabnya.


Lelah dengan pertanyaan yang seakan tidak habisnya. Kun memberikan kode kepada para bodyguardnya untuk meniti mereka masuk kedalam gedung.


Panitia acara tersebut juga ikut melerai dan memberikan pengertian kepada wartawan untuk tidak dulu mengganggu Kun dan Aurora karena acara utamanya akan segera di mulai yang dimana Kun akan memberikan pidatonya di atas panggung atas semua pencapaian LS.


Selesai dengan acara utama, Kun berniat menghampiri istrinya yang sedang duduk disalah satu meja yang disiapkan khusus untuk mereka sebagai tamu terhormat dengan pelayanan yang sangat baik.


Saat berpidato tadi. Kun sangat ingin cepat-cepat dalam menyelesaikan pidatonya di atas panggung, dia sangat risih ketika melihat pria yang memandangi istrinya dengan lapar. Apalagi ada beberapa pria yang mengambil kesempatan untuk berbicara dengan Aurora.


Jika tidak berada diatas panggung. Mungkin Kun sudah memukuli banyak pria tadinya karena telah berani mendekati istri kesayangannya itu.YA, KALAU DALAM KATA LAIN SIH CEMBURU TINGKAT ANGKUT WKWKWK๐Ÿ˜‚.

__ADS_1


Dengan sigap Kun mendekat ke arah istrinya dan mengambil satu kursi untuk dia duduki, tak lupa juga lototan tajam yang mengarah kepada pria yang tadi tengah sibuk memandangi Aurora dengan jelalatan.


Sadar dengan kedatangan sang suami, membuat Aurora sangat senang karena akhirnya dia ditemani Kun yang tadi sudah sangat sibuk melakukan rangkaian acara di atas panggung yang membuat dirinya hanya bisa melihat wajah tampan Kun dari kejauhan.


"Istriku sudah sangat berhasil menggoda pria di sekitarnya," ucap Kun mendekatkan wajahnya ke Aurora dengan tiba-tiba.


Sadar dengan arah pembicaraan Kun itu. Membuat Aurora tertawa geli, ketika mengingat wajah Kun yang sangat lucu saat berpidato karena termakan api cemburu tadinya.


"Aku tidak berniat sama sekaliuntuk menggoda, hanya saja mereka yang tidak tahan dengan aura keseksianku malam ini" balas Aurora dengan nada menggoda.


"Hmm...hukuman seperti apa yang pantas untuk ke berikan malam ini sayang" mencoba menciumi bibir Aurora. Namun dihentikan oleh Aurora karena mereka sedang dikelilingi banyak orang.


Mendapat penolakan dari sang istri membuat Kun menjauhkan dirinya. Tapi tangannya masih liar membelai paha mulus Aurora dengan nakalnya.


"Cih..." umpat Leon dengan benci ketika melihat tingkah Kun yang menurutnya sangat menjijikan didepan Aurora. Apalagi ketika Kun yang terlihat sok manja, ingin sekali Leon melemparnya ke dalam kolam buaya.


Jenny yang melihat kekesalan dalam diri Leon hanya mampu untuk memilih diam tanpa harus sedikitpun berkutik. Dia harus paham karena bagaimana pun juga Aurora masih ada dihati Leon dan dia juga tidak boleh gegebah apalagi harus terlihat agresif didepan Leon sendiri.


-


-


-


Bunyi langkah seorang pria yang perlahan mendekat ke arah Kun yang terlihat masih sibuk menggoda Aurora di sebelahnya. Pria tersebut adalah panitia dalam acara tersebut yang memberitahukan kepada Kun bahwa ada pengusaha dari Jepang yang ingin berbincang-bicang dengan dirinya dan merasa berkeinginan membangun proyek mereka bersama Kun.


Oleh karena itu dengan terpaksa, Kun harus kembali meninggalkan Aurora sendirian. Padahal acara dansa akan segera dimulai. Dengan wajah cemburut Aurora masih tetap mengiyakan keputusan Kun untuk bertemu pengusaha dari Jepang.


"Sekarang, aku benar-benar telah menjadi patung pajangan" celetus Aurora dalam hati saking kesalnya.


Pada akhirnya acara dansa telah dimulai. Aurora melirik dengan rasa iri ketika melihat setiap wanita yang berdansa dengan penuh bahagia bersama pasangan mereka. Sedangkan dia, hanya dapat menyaksikan setiap kebahagian mereka.


"Malam yang menyedihkan," ucap Aurora pelan. Namun tiba-tiba disahuti oleh suara seorang pria.


"Tidak menyedihkan. Jika kau bersedia untuk berdansa dengan ku" balas Leon yang kini menyodorkan telapak tangannya untuk meminta izin berdansa bersama.


"Kak Leon" berbalik, melihat kearah Leon.


Namun disisi lain, terlihat kesedihan dari balik wajah Jenny. Ketika melihat Leon dengan sendirinya melemparkan diri untuk meminta Aurora berdansa bersamanya. Dia sekarang benar-benar merasa tidak ada artinya di mata Leon...

__ADS_1


"Apakah bersedia berdansa bersamaku" pinta Leon kembali yang semangkin terpukau dengan kecantikan yang melekat secara alami di wajah Aurora.


"Umm..." Aurora berfikir panjang sambil melirik ke arah Jenny yang dari kejauhan terlihat memperhatikan mereka berdua.


"Bagaimana pun juga, aku harus menjaga perasaan Jenny. Walaupun itu berat bagiku" pikir Aurora mempertimbangkan permintaan Leon.


Sampai dering ponsel berbunyi, Aurora sama sekali masih belum mengiyakan atau menolak ajakan Leon. Dia sudah terlebih dahulu mengangkat panggilan tersebut.


"Halo Dina, ada apa?" tanya Aurora, yang ternyata panggilan tersebut adalah panggilan dari sahabatnya Dina.


"Ra...hiks...hiks..." racau Dina tidak menentu.


"Din, kamu mabuk yah?" mulai khawatir dengan Dina karena bagaimana pun dia tau betul tingkah Dina jika sudah mabuk.


"Um enggak kok. Cuman seneng-seneng aja di bar, sini dong kita dugem bareng" pinta Dina masih dengan racauannya.


"Cepat beritahu aku alamatnya.Aku akan segera kesana" tutup Aurora dan langsung beranjang dari kursinya. Dia pun mulai tersadar bahwa sedari tadi Leon berdiri menunggu dirinya untuk berdansa bersama.


"Maaf banget kak aku gak bisa dansa sama Kak Leon kali ini. Aku ada masalah mendesak soalnya. Tapi bentar..." Aurora melambaikan tangannya kearah Jenny untuk datang menghampirinya.


"Ada apa Aurora?" tanya Jenny.


"Tolong gantiin aku yah buat dansa sama Kak Leon karena sekarang aku harus pergi ke suatu tempat" pinta Aurora langsung berlari meninggalkan keduanya.


Setelah kepergian Aurora membuat kecanggungan antara Leon dan Jenny memuncak. Tidak ada ucapan kata sampai Jenny menyerah karena Leon belum juga memintanya untuk berdansa bersama.


"Presdir tidak perlu sungkan. Jika tidak mau berdansa bersama saya. Kita bisa kembali duduk menikmati hidangan," ucap Jenny pasrah.


"Tidak, mari berdansa" balas Leon yang membuat Jenny yang mendengarnya merasa tidak percaya...


Bersambung...


๐Ÿ’ฃ๐Ÿ’ฃ๐Ÿ’ฃ๐Ÿ’ฃ๐Ÿ’ฃ


Hai reader bantu like, rate, vote, dan juga sarannya yah๐Ÿ˜‰


Author : WinaAtlyn


Iq. : married_to_ceo03

__ADS_1


__ADS_2