
Tetesan butir air yang bergelantung di rambut Kun satu persatu mulai terjatuh ke dasar lantai yang dimana semangkin menambah kesan sexy pada sosok pria yang dengan gagah berdiri penuh percaya diri saat ini dan plusnya lagi dada super bidangnya yang setiap wanita ketika melihatnya akan terpana dan terpukau dengan segala kesempurnaannya ini.
Salah satu wanita yang sangat beruntung yang dapat menyaksikan pemandangan indah saat ini dengan cuma- cuma adalah Aurora yang tidak lain adalah wanita milik pria sempurna itu.
kekaguman tak henti-hentinya Aurora ucapkan didalam hatinya. Sampai-sampai, Kun memandanginya heran karena sang istri belum juga mengalihkan pandangannya dari tubuh sang suami.
Tekk...kun menyentil dahi Aurora mencoba menyadarkan Aurora dari lamunannya.
"Auww...sakit tau,"kesal Aurora mengusap lembut dahinya.
"Apa yang sedang kau fikirkan hah?apakah tubuhku sangat indah dimatamu,"balas Kun menggoda Aurora.
Tidak menghiraukan perkataan Kun yang mencoba menggoda dirinya sebab sudah tertangkap basah memandangi tubuhnya tanpa sedikitpun berkedip.
Aurora tanpa basa basi langsong bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu dengan sangat keras. Kun yang melihat sikap istrinya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Kun meraih handuk yang tersusun rapi di dalam lemari untuk mengeringkan rambutnya yang masih sedikit basah. Namun, aktivitasnya terhenti ketika mendengar ponsel Aurora berdering.
Dia berjalan mendekati ponsel Aurora untuk mencari tau siapa yang malam-malam begini yang sedang menghubungi Aurora.
"Leon...,"sebut Kun sambil menaikkan sebelah alisnya dengan hati yang tidak senang dan Kun berniat untuk meraih ponsel Aurora untuk mengangkat panggilan dari pria yang saat ia benci saat ini dan belum sempat dia meraihnya, Aurora sudah lebih cepat menyambar ponsel tersebut.
"Apa yang sedang kau lakukan dengan ponselku,"tegas Aurora melotot ke arah suaminya dan tanpa sadar dia keluar dari kamar mandi hanya melilit tubuhnya dengan handuk tipis.
"Cih...,"dengan seringai jahatnya mendekati Aurora sehingga tanpa Aurora sadari dia terjatuh dan terduduk ke ranjangnya.
"Kau sampai rela keluar hanya menggunakan handuk seperti ini hanya karena ingin menyelamatkan ponsel mu dari ku. Sebegitu pentingnya kah Leon dimatamu itu,"ucap Kun dengan tegas kepada Aurora dan menarik ponselnya dengan kasar.
Aurora mencoba melakukan perlawanan untuk mencegah ponselnya diambil paksa oleh Kun tapi tenaga yang dimilikinya tidaklah sekuat yang dia pikirkan.
"Hei kamu sudah gila ya,"Aurora membentak Kun dengan penuh emosi.
"Seperti nya aku harus menghukummu supaya kau sedikit berperilaku baik ketika didepanku,"jelas Kun yang mulai naik ke atas ranjang mendekati Aurora yang memundurkan dirinya sehingga terkunci di bibir ranjang.
"Apa yang ingin kau lakukan hah. Jangan mendekat,!"perintah Aurora dengan raut wajah pucat.
Kun sama sekali tidak memperdulikan apa yang di ucapan oleh Aurora Dia masih sibuk mengunci tubuh istrinya dengan kasar.
__ADS_1
Aurora semangkin meronta ketakutan ingin menghentikan segala kegilaan yang dilakukan Kun.
"Hei...lepaskan aku,kau dengar ya!apapun yang dilakukan secara paksa tidak akan berbuah manis,"tegas Aurora dengan penekanan.
"Segala sesuatu itu belum kita lakukan. Bagaimana bisa diketahui manis tidaknya,"balas Kun seraya mengulum daun telinga Aurora dengan penuh nafsu.
Aurora terkejut bukan mainnya. Berteriak berharap Kun menghentikan dirinya saat ini yang sudah mencoba untuk menidihnya. Kata "Hentikan"tak henti-hentinya Aurora tegaskan kepada Kun dan pada akhirnya dengan tanpa disengaja Aurora menampar Kun dengan sangat kuat.
Mendapat tamparan dari Aurora. Kun langsung menghentikan kegilaannya dan mengusap pelan pipinya yang memerah.
Disisi lain Aurora terlihat menangis ketakutan. Takut jika Kun melakukannya dengan tanpa sadar dan kasar sama halnya dengan dimana pertama kali Kun merenggut kesuciannya. Hari itu masih membekas dan menjadi trauma didalam benak Aurora.
"Wanita ini...sedikitpun tidak ada istimewanya,"sambil berdiri hendak pergi ke ruang ganti untuk mengenakan pakaiannya.
Selesai berganti, Kun langsung bergeges meninggalkan Aurora yang masih terisak menangis ketakutan,untuk tidur dikamar tamu tanpa sedikitpun ingin menenangkannya.
Malam panjang mereka lalui dengan tidur terpisah. Tangis yang tadi kian membara sudah sedikit demi sedikit padam,mata yang membekak sayu juga sudah mulai terlelap dalam tidurnya.
Lain dengan pria raven yang sedang berbaring terpisah dengan sang istri. Tak henti-hentinya dia terus menggerutu dalam hatinya. marah,dan kesal semua berbaur menjadi satu memenuhi pikirannya dengan leluasa.
-
-
-
Sinar matahari pagi,mulai kembali bercahaya untuk menyadarkan setiap manusia untuk mulai kembali segala rutinitas nya. Salah satunya adalah Kun yang sudah sedari tadi berangkat menuju kantornya dengan di antar asisten kepercayaannya Thomas. Ya,tentunya setelah dia selesai sarapan dan berpamitan dengan ibu dan ayah mertuanya.
Tidak dengan Aurora baru tersadar dari tidurnya. Perlahan dia mulai bangkit untuk pergi membasuh wajahnya dan turun ke dapur untuk memulai sarapan.
Aurora mengoles rotinya dengan selai coklat kesukaannya seraya melihat-lihat area sekitar yang terlihat sepi dan sunyi karena biasanya ayah dan ibunya masih terduduk tentram menikmati sarapan mereka.
"Hei...,ayah dan ibu sudah selesai sarapan,?tanya Aurora kepada seorang pelayan yang mengantarkan susu kepada Aurora.
"Sudah Non,tadi barengan sama Tuan muda karena buru-buru banget mau pergi ke kantor yang katanya ada rapat penting hari ini,"pelayan tersebut menjelaskan.
"Terus,ayah dan ibu pergi kemana,?"tanya Aurora lagi.
__ADS_1
"Kalau Tuan dan nyonya besar sedang ada perjamuan di hotel Non,"jawab nya lagi.
"Ohh...begitu ya. Baiklah kamu sudah boleh pergi,"sambil meraih lalu langsung meneguk segelas susunya.
"Ternyata satu pun tidak ada yang memperdulikan ku,"gerutu Aurora kesal.
🖤🖤🖤
"Thomas,sambil menunggu aku selesai rapat. Lebih baik jika kamu menjemput Aurora dan membawanya pulang kerumah,"ucapnya memberikan perintah kepada bawahannya sambil bersiap-siap untuk memulai rapat saham.
Thomas mengangguk paham. Dengan segera dia pergi menjemput Aurora setelah menyiapkann segala berkas serta mengantar tuannya ke ruang rapat.
Drettt...(sebuah pesan masuk)
Pesan tersebut dikirim oleh Kun untuk memberitahu Aurora,agar segera bersiap-siap untuk yang dimana Thomas akan diperintahkan menjemputnya. Segala kecaman dan ancaman di kirimkannya jika menolak untuk pulang.
"Huh..."Aurora menghela nafas panjangnya lalu mulai bersiap-siap untuk pulang. Jiwanya sekarang sudah mulai lelah untuk berdebat dengan sang suami.
Setelah cukup lama melakukan perjalanan untuk pulang dari rumah ayah dan ibunya. Akhirnya Aurora telah tiba dikediamannya. Tapi tidak,lebih tepatnya adalah kediaman suaminya karena dia sama sekali tidak mengakui bahwa itu adalah rumahnya.
Thomas sudah sedari tadi berpamitan untuk kembali lagi kekantor. Aurora membalasnya dengan anggukan mengizinkan.
Namun,baru beberapa langkah Aurora memijakan kakinya didalam rumah tersebut. Bunyi bel seketika berbunyi seakan memberitahu ada seseorang yang sedang menunggu dibukakan pintu.
Aurora lalu membuka pintu dan memperlihatkan seorang tukang pos yang mengirimkan sebuah paket yang tidak tau dari siapa.
"Siapa yang telah mengirimi aku paket ini,misterius sekali,"gumannya keheran sambil berjalan dan menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya.
Dengan jiwa yang tidak sabaran,Aurora dengan cepatnya membuka paketan tersebut dan betapa terkejutnya dia melihat barang yang ada didalam kotak tersebut adalah sebuah boneka mengerikan yang telah tertusuk jarum,fotonya yang dicoret-coret menggunakan spidol merah,serta tulisan "Aku akan menghancurkan hidupmu".
Saking terkejutnya,Aurora melemparkan kotak tersebut tanpa sadar sambil terduduk lemas.
Bersambung...
💣💣💣💣💣
Hai reader😋jangan lupa buat selalu dukung karya Author ya caranya dengan Like,rate,vote,dan kasih sarannya ya ditunggu loh💕
__ADS_1