Married To Ceo

Married To Ceo
Kembali


__ADS_3

Entah sejak pukul berapa Aurora mulai kembali terlelap. Setelah dia memilih untuk tidur disofa menjaga jarak dengan suaminya.


"Non...,"panggil seorang pelayan mencoba membangunkan Aurora yang masih berdamai dengan mimpi indahnya.


"Uhhhh...,"lenguh Aurora sambil merenggangkan tubuh nya dan mencoba kembali ke alam sadarnya saat ini.


Sesekali dia mengucek matanya dan melihat lihat keadaan sekitar dengan sangat terkejutnya dia saat ini mendapati para pelayan yang sudah berada dihadapannya melihat dengan heran.


"Non...maaf jika kami telah lancang membangunkan Nona. Tapi kami tidak tega melihat Nona yang tampak tidak nyaman,"ujar seorang pelayan memulai bicara


"Ohh...tidak...tidak aku sangat nyaman malahan tidur disini. Kalian tidak perlu khawatir aku akan segera naik keatas dan kalian sudah boleh lanjut kerja sekarang,"balas Aurora dengan senyum yang dibuat buat.


"Baik nona...,"ucap para pelayan serempak dan pergi menuju dapur.


"Cihh...memalukan. Ini semua gara gara perbuatan sijelek,"gumam Aurora pelan dan mulai beranjak dari sofa.


Melihat Aurora yang sudah beranjak pergi dari sofa mulai lah kebiasaan buruk para pelayan yaitu bergosiap.


"Hei...ternyata Tuan muda ganas juga yah. Buktinya Nona muda kewalahan melayaninya. Sampai-sampai lebih memilih tidur disofa dibandingkan tidur seranjang dengan Tuan muda,"ucap salah satu pelayan.


"Iya bener apa yang barusan kamu bilang. Dulu waktu aku baru kerja disini aku sempat berfikir kalau Tuan muda itu Gay. Tapi ternyata itu tidak benar,"balas pelayan B sambil terkekeh pelan.


---------------


Aurora membuka pintu kamar dengan pelan. Takut sang empu yang sedang tertidur terbangun.


"Syukurlah dia masih tidur. Sebaiknya aku segera membersihkan diri,"gumam Aurora pelan pergi menuju kamar mandi.


Aurora telah selesai membersihkan diri. Tapi sang suami pun belum kunjung bangun. Dia mencoba mendekat ingin memastikan keadaan suaminya.


Kun terlihat mengkerutkan keningnya sambil meringis kesakitan. Aurora yang melihat hal tersebut langsung menempelkan telapak tangannya ke kening suaminya.


"Ya tuhan...badannya sangat panas,"gumam Aurora.


"Sulit diduga ternyata si angkuh ini bisa juga sakit ha..ha..ha,"tawanya mengejek sang suami.


Tanpa Aurora sadari, Kun ternyata sudah sedari tadi bangun. Dia memperhatikan Aurora yang tak henti-henti mengejek kondisi nya saat ini.


"Sudah selesai memandangi ku,"suara barinton keluar dari mulut Kun yang masih memejamkan matanya.


"Hah...,"balas Aurora terkejut sambil memalingkan pandangannya.


Kun yang tadi nya tidur terlentang sekarang merubah posisinya menjadi membelakangi Aurora. Entah kesal mendengar perkataan yang tadi Aurora lontar kan atau pun merasa tidak nyaman dengan keberadaan istrinya sekarang.


Aurora yang melihat tingkah laku suaminya hanya diam. Dia sadar mungkin pria itu tidak ingin melihat dirinya saat ini.


"Tapi dia sedang sakit sekarang. Apakah aku harus membiarkan nya sakit-sakitan seperti ini. Bagaimana kalau dia tiba-tiba meninggal? haduh...pasti dia akan jadi hantu gentayangan yang lebih mengerikan dari dia yang sekarang ini,"pikir Aurora yang tidak tidak.


Jadi untuk itu,Aurora berinisiatif pergi menuju dapur mengambil mangkuk yang berisi air yang digunakan untuk mengompres dan menyuruh pelayan untuk memasak bubur segara.


Braakk..

__ADS_1


Pintu kembali terbuka...Kun menatap malas Aurora yang kembali sambil membawa semangkuk bubur,Air putih,dan kain basah untuk mengompres"


"Pergilah...aku tidak butuh perhatianmu,"ucap Kun tiba tiba.


"Aku akan keluar jika kau telah selesai dikompres dan makan,"balas Aurora duduk dibibir kasur.


"Jangan berharap untuk mencari perhatian ku dan berharap aku dapat menyukaimu,"tegas Kun dengan angkuh.


"Hei...siapa yang berharap untuk itu. Aku ngelakuin ini karna aku mau membantu kamu tetap hidup dan tidak lebih,"bentak Aurora kesal.


"Kamu doain aku meninggal ya,?balas Kun yang tadi membelakangi Aurora kini berbalik menatap tajam mata Aurora.


"Huh...sudahlah lebih baik cepat makan,"Aurora mendesis kesal.


"Saat sakit saja dia sangat menyebalkan. Ooo tuhan...bantu aku bertahan,"batin Aurora memohon.


Kun yang mulai letih beradu mulut dengan Aurora akhirnya pun menyerah. Saa ini dia bersandar diranjang sambil disuapi Aurora.


Tidak ada obrolan kecil yang keluar dari mulut mereka berdua. Aurora sangat fokus menyuapi Kun sedangkan Kun sesekali diam diam melirik Aurora.


"Sudahlah...jangan diam diam memandangiku,!" ujar Aurora mencoba menyinggung Kun yang sudah tertangkap basah.


"Tiidakk...aku hanya heran kenapa papa bisa nyodohin aku dengan gadis sejelek kamu,?"balas nya untuk membela diri.


"Cihh...kau terlihat masih muda tapi matamu mungkin sudah sedikit mengalami kerusakan,"sindir Aurora pelan.


"Apa katamu,?"tanya Kun dengan wajah yang kesal.


"Hah...bubur mu sudah habis. Kau sudah bisa berbaring sekarang,"ucap Aurora berbohong.


"Pergilah...dan simpan nomor ponsel mu di ponselku,"perintah Kun menyodorkan ponsel ke Aurora.


Dengan lincah Aurora mengetik dan segera menyimpan nomor ponselnya ke ponsel Kun.


"Sudah selesai...aku langsung cabut deh kalau gitu,"ucap Aurora pergi dari hadapan Kun.


Setelah Aurora menghilang. Kun tiba tiba tersenyum entah apa yang sekarang sedang dia pikirkan sehingga mampu membuat dia tersenyum.


πŸ–€πŸ–€πŸ–€


Aurora bersandar lesu di depan meja riasnya. Saat ini dia sedang beristrirahat dari kesibukan nya sebagai seorang entertaint karena sebelum dia memulai syuting dia tiba tiba dimintai wawancara oleh beberapa wartawan.


"Ra...ini botol minuman buat kamu. Pasti hari ini kamu capek banget,"ucap Erik menyodorkan sebotol minuman.


"Iya Rik...makasih ya tau banget kalau aku lagi haus,"balas Aurora tersenyum manis dengan Erik.


Degg....jantung Erik seketika bergetar. Lagi lagi perasaan yang susah payah dia pendam muncul seketika melihat senyum manis Aurora.


"Memangnya apa yang tadi para wartawan tanyakan,"tanya Erik sambil meraih kursi duduk didekat Aurora.


"Ya...gitu deh, masalah rumah tangga,"jawab Aurora dengan malas.

__ADS_1


"Kamu mencintainya,?"tanya Erik tiba tiba.


Aurora mendengar perkataan Erik hanya terdiam memasang wajah murungnya.


Melihat ekspresi Aurora. Erik sekarang sudah paham dengan jawaban nya. Erik berusaha meraih tangan Aurora tapi tiba tiba terhalang karena asisten Aurora menghampirinya.


"Maaf mengganggu...didepan ada seseorang pria yang mencarimu Aurora,"ucap asisten tersebut memberitahu.


"Siapa,?"tanya Aurora penasaran.


"Maaf, tapi dia tidak mau memberitahu namanya. Katanya ini sebuah kejutan,"balas asisten nya yang juga nampak kebingungan.


Aurora semangkin penasaran siapa pria yang ingin menemuinya saat ini.


"Apakah ingin kutemani,?"ucap Erik menawarkan diri.


"Tidak perlu Erik terima kasih/"balas Aurora meninggalkannya.


Tapi sudah terlanjur. Erik juga merasa penasaran siapa pria sedang mencari Aurora. Apakah saingan barunya?jadi dia diam-diam membuntuti Aurora.


Aurora bergegas menghampiri sosok yang di katakan asistennya lalu dia mendapati seorang pria yang sekarang sedang berdiri membelakanginya.


Dia merasa tidak asing melihat punggung pria tersebut. Tapi siapa dia? pria tersebut Seperti menyadari kehadiran seseorang yang membuat dia segera membalik tubuhnya.


Aurora pun sontak membelalakkan matanya melihat seorang pria yang ada di hadapannya sekarang dengan wajah tidak percaya.


"Kak Leon...,"gumam Aurora dengan mata berkaca kaca.


Sungguh dia merasa tidak percaya dengan kehadiran Leon saat ini


"Aurora...,"balas Leon menatap Aurora penuh arti.


Aurora pergi menghampiri Leon dan langsung memeluknya erat seakan akan takut jika Leon akan pergi meninggalkannya lagi.


"Kak Leon.....aku enggak mimpikan ini beneran kamu,?"ucap Aurora memejamkan matanya yang semangkin mempererat pelukannya.


"Iya Aurora ini aku...Leon,"balas Leon mengusap pelan rambut Aurora.


Rasa tidak percaya masih sangat kuat menyelimuti hati Aurora. Bagaimana tidak sudah sebegitu putus asanya dia menunggu kedatangan Leon pada waktu itu. Sedangkan sekarang Leon tiba tiba kembali dan muncul begitu saja di hadapannya.


Bahagia saat ini sedang menyelimuti hati Aurora. Dia tidak peduli dengan status nya saat ini karena baginya Kun juga tidak menginginkan pernikahan itu. Jadi dia seperti nya dapat seleluasa mungkin bisa bersama Leon.


Disisi lain Erik memperhatikan Aurora yang tampak memeluk erat seorang pria dan sepertinya itu bukanlah suami Aurora yaitu Kun.


"Shit....siapa pria itu,?"ucap Erik kesal memukul kasar dinding yang ada disebelahnya.


Seakan tidak terima Aurora dipeluk orang lain. Erik hanya bisa menggretakkan gigi nya geram.


Bersambung...


πŸ’£πŸ’£πŸ’£πŸ’£πŸ’£

__ADS_1


Hai reader tercinta.πŸ˜‰


Semoga masih setia menunggu update karya aku yaπŸ˜‹. Jangan lupa buat selalu kasih like,rate,and vote ke karya akuπŸ˜‹ karena apapun yang dikasih reader itu sangat berarti buat authorπŸ’•


__ADS_2