
Setelah 30 menit berada di apertemen Arini. Akhirnya Kun berniat untuk menghubungi Thomas agar segera menjemputnya.
Rasa khawatir sudah sedikit berkurang sebab,dia telah mengutus beberapa pengawalnya untuk berjaga-jaga di kawasan apertemen.
Tapi Arini tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Padahal Kun tidak cukup banyak waktu untuk berlama lama disini. Berhubung sekretarisnya telah sampai dan dia harus segera pulang.
Disisi lain Kun juga lebih mengkhawatirkan Aurora akan berniat untuk kabur lagi dari villanya berhubung dalam situasi dia tidak berada dirumah,karena bagaimana pun Aurora dimatanya adalah kucing liar yang harus dijaga ketat.
Tidak ingin membuang banyak waktu,Kun mulai beranjak dari sofa yang sedang di naungi untuk segera pergi dari apertemen Arini namun langkahnya seketika terhenti.
Sepasang lengan kini menyusup melingkar di pinggangnya. Kun berdiri dengan kaku merasakan tonjolan kenyal yang kini melekat dipunggungnya.
"Kun,tolong temani aku malam ini,"ucap Arini dengan nada menggoda.
Arini semangkin mempererat dekapannya mencegah Kun agar tidak pergi dari apertemennya.
"Arini,lepasakan aku,"Kun melepas lengan Arini berbalik menghadapnya.
Kun terkejut melihat penampilan Arini yang mengenakan lingeria sexy transparan yang memperlihatkan kulit mulusnya.
Arini berniat untuk menggoda Kun. Dia mendekat lalu mengusap pelan wajah Kun sampai berhenti di sudut bibirnya.
Dengan kesal Kun mengibaskan tangan Arini dengan kasar. Dia marah melihat sikap Arini yang sama dengan seorang ****** pada umumnya.
"Aku akan segera pulang,"balas Kun dingin mengabaikan permohonan Arini.
Tapi Arini masih kekeh dengan kemauannya. Dia masih ingin berusaha mempertahankan egonya untuk mencegah Kun.
"Kun,aku mohon temani aku malam ini. Aku berjanji akan memulai kisah kita kembali dan dapat ku pastikan kamu masih mencintaiku kan,"kata Arini yang kembali memeluk Kun enggan untuk melepaskannya kembali.
"Cihh...,"Kun tertawa dengan sinis sambil melepaskan dekapan erat Arini dengan kasar.
Wajah keheranan terlihat pada Arini ketika melihat Kun yang merespon perkataanya dengan hanya tawa sinisnya.
"Jangan berharap aku untuk kembali. Aku bukan lah pria yang sama seperti dulu yang bisa kau khianati,"tegasnya berbalik membelakangi Arini.
"Kamu berbohong,kamu masih mencintaiku,?"teriak Arini yang terisak.
"Aku tidak berbohong,karena aku tidak mungkin untuk mencintai seorang wanita ******,"dengan nada yang menekan,Kun lontarkan.
Mata Arini membulat mendengar perkataan Kun yang memandang dirinya rendah. Dadanya terasa sesak biarpun pada kenyataannya memang benar apa yang sudah Kun ucapkan.
"Dan satu lagi,aku sudah memiliki istri. Jadi jangan pernah berniat untuk menghubungiku lagi,"tegasnya lalu pergi dari hadapan Arini.
Jiwa Arini membeku. Kaki nya mulai kaku untuk menompang dirinya yang sedang berdiri.
"Tidak mungkin...,"lirihnya menghempaskan diri kelantai dengan tangis yang sudah pecah.
Tapi menyerah bukan lah sifat Arini. dia akan melakukan berbagai cara untuk membuat Kun kembali ke sisinya lagi. Apapun itu caranya akan dia lakukan...
-
-
-
-
Setibanya Kun di villa dengan langkah kaki yang cepat di menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya.
Keresahan Kun terbayar ketika mendapati sang istri yang telah tidur dengan nyenyak. Wajah yang menggemaskan sontak menarik perhatiannya untuk mendekat.
__ADS_1
"Ternyata sudah tidur...,"gumamnya pelan menyisipkan rambut yang menutupi wajah Aurora.
Rasa lelah teramat Kun rasakan malam ini, hanya untuk menolong wanita yang dulu pernah mengkhianatinya. Kembali mengingatnya saja dapat membuat dia sangat muak apalagi berfikir harus kembali bersamanya.
Kun menghela nafas panjang sambil merebahkan dirinya menghadap sang istri yang sedari tadi tertidur nyenyak.
Rasa cinta mungkin mulai tumbuh dihatinya. Entah kenapa ketika melihat Aurora kesedihannya dimasa lalu seperti memudar.
Kun mendekati Aurora lalu mendekapnya lembut enggan untuk membuatnya terbangun.
"Selamat tidur sayang...,"ucapnya sambil memejamkan mata untuk menyusul Aurora yang telah terhanyut dalam mimpinya.
Rasa hangat Aurora rasakan tanpa sadarnya. Dia menggeliat membalas dekapan Kun erat. Bermimpi bahwa yang mendekapnya saat ini adalah orang yang sangat dia cintai...
*Ketika aku mengingat masa lalu
Aku begitu tidak percaya arti ketulusan
Cinta bagiku adalah sebuah pengkhianatan
Indah tapi pada akhirnya menyiksa dan membunuh dengan perlahan
Tapi setelah kau datang
Sakit itu perlahan menghilang
Memudar bersamaan dengan datangnya cinta*
Suasana pagi ini begitu indah,ditambah dengan kehangatan yang saling mereka berikan satu sama lain.
Aurora dan Kun masih terhanyut dalam mimpinya. Sampai Aurora merasa terusik dengan beban yang ada didadanya saat ini.
Aurora menggeliat tak karuan mencoba menyadarkan dirinya. Penglihatan masih sedikit kabur yang menandakan sadarnya belum kembali sepenuhnya.
Setelah kesadaran Aurora telah kembali sepenuhnya. Dia melirik ke arah dadanya yang memperlihatkan seorang pria yang masih nyenyak dengan tidurnya.
Sontak Aurora membulatkan matanya menyadari bahwa itu adalah pria angkuh dan brengsek yang sangat dia benci.
"Dasar mesum...sejak kapan dia kembali,"lirih Aurora memukul jidatnya.
Dia tak mungkin mengamuki Kun,karena apabila itu dia lakukan pasti ancaman supernya akan keluar.
Aurora perlahan demi perlahan melepaskan lengan Kun yang melingkar di pinggangnya. Berusaha agar tidak membangunkan sang singa yang sedang tertidur.
Tapi itu sebaliknya,gerakan-gerakan kecil yang Aurora lakukan telah mengusik tidur Kun sehingga membuatnya tersadar.
"Tetap seperti ini,jangan bergerak,"ucap Kun menambah kuat dekapannya.
"Hei...apa yang kau lakukan di tubuh ku,"balas Aurora yang masih mencoba melepaskan diri.
"Memelukmu,"jawabnya santai.
Aurora semangkin menambah kekuatannya untuk melepaskan diri.
"Eiii...sudah ku bilang jangan bergerak atau aku akan menghukum pagi ini,"Kun berseringai.
Paham dengan apa yang diucapkan suaminya. Akhirnya Aurora memilih untuk diam dan menghentikan usahanya untuk melepaskan diri.
Melihat suasana hati sang suami yang tampak bagus. Aurora seperti tidak ingin menyia-nyiakan keadaan.
"Hei jelek...,"panggil Aurora.
__ADS_1
"Hmm...,"jawab Kun masih dengan posisinya.
"Berhubung aku sudah beberapa hari ini izin syuting. Bolehkan kalau hari ini aku kembali syuting tapi,jangan utus para pengawalmu untuk menjagaku karena aku merasa tidak nyaman,"seru Aurora.
"Hmm...,"jawabnya lagi.
Aurora pun kesal mendengar respon dari suaminya yang sama sekali tidak memperdulikannya.
"Hei jelek,aku lagi minta izin. Kok jawabnya hanya hmm sih,"dengan teriaknya.
Gendang telinga Kun terasa ingin pecah ketika Aurora meneriakinya. Sehingga membuat Kun melepaskan lengannya dipinggang Aurora.
"Hei...,"Kun membalas meneriaki Aurora yang dimana posisinya saat ini duduk menghadap Aurora yang masih terbaring.
"Kenapa kamu kembali meneriaki ku,aku cuman mau minta izin kok,"ucap Aurora dengan nada pelan karena ketakutan melihat wajah Kun.
Wajah menggemaskan Aurora ketika bicara seketika membuat hati Kun luluh.
"Huh...selembut inikah hatiku,"batin Kun menyerah.
"Hei jelek...,"panggil Aurora lagi mencoba menyadarkan suaminya yang tiba tiba melamun.
"Hmm...tapi ada syaratnya,"jawab Kun perlahan demi perlahan mendekati wajah Aurora.
"Apaaaa itu,?"balas Aurora gagap
"Panggil aku dengan sebutan sayang dan berhenti memanggilku dengan sebutan sijelek,"perintahnya dengan nada menggoda sambil mengusap lembut pipi Aurora.
Aurora tertegun mendengar ucapan Kun yang menyuruhnya memanggil dengan embel embel sayang. Dia heran kenapa laki laki di hadapnnya sekarang ini mendadak jadi pria yang manis.
"Cihh...mungkin otaknya sedang bermasalah,"ucap batin Aurora melamun.
"Hmm...sudahlah kalau kamu tidak mau syuting,"ucap Kun mencoba mengumpan.
Terlihat Aurora sedang berfikir,disatu sisi dia. harus pergi syuting dan disisi lainnya dia merasa jijik harus memanggil Kun dengan embel embel sayang.
"Baiklah ku pikir diam mu adalah jawaban atas penolakanmu,"ucap Kun kembali.
"Ehh...siapa bilang aku menolak,aku setuju,"Aurora dengan nada sanggup.
"Baiklah kalau setuju,"ucap Kun dengan senyum kemenangannya.
Kun masih memandangi Aurora penuh harap,sehingga membuat Aurora bersikap salah tingkah.
"Apa yang kau lihat,"ucap Aurora yang kini pipinya sudah merona karena malu.
"Aku menunggumu untuk mengucapkannya,"Kun mencoba mengingatkannya.
"Ayolah Aurora ayo,itu hanya sepatah kata kamu pasti bisa,"dengan mata terpejam Aurora mencoba menggali keberaniannya.
Kun masih setia menunggu sang istrinya untuk mengucapkan embel embel yang sangat ingin dia dengar saat ini dan...
"Sayang,"panggil Aurora dengan lembut dengan wajah yang sangat menggemaskan dimata Kun
Hasrat Kun untuk tidak menciumi Aurora tidak bisa dia tahan. Dengan sigap dia langsung mengecup lembut dahi Aurora.
Aurora yang mendapatkan perlakukan lembut dari Kun hanya mematung. Jantungnya berdegup tak karuan pipi nya seakan memanas...
Bersambung...
π£π£π£π£π£
__ADS_1
Hai reader jangan lupa buat selalu dukung karya Author. Like,rate,vote,dan sarannya selalu Author tunggu yaππ dan tak lupa Author mau ngucapain "mohon maaf lahir bathin semua...ππππ"