
Tidak pernah terbayangkan dalam kisah hidup Seruni di sepanjang hidupnya, Ia bersedia menceritakan kisah hidupnya pada pria yang tidak benar-benar Ia kenal.
Sosok Tian, pria yang baru Ia kenal ini, mampu membuatnya merasakan kenyamanan tanpa tertekan. Sosoknya yang dewasa, sifatnya yang bijak dalam memberi nasihat, juga pengertiannya akan posisi yang Seruni tempati, membuat Seruni mampu sedikit lega dan nyaman.
Kehidupan rumah tangga Seruni bersama Raka, memang tengah diterpa badai, meski tak Ia pungkiri, keinginan untuk dicintai Raka, masih terbersit dalam hati Seruni yang meronta menuntut untuk di penuhi.
Sepenggal kisah yang menyedihkan serta memilukan ini, bukan tanpa alasan Seruni menceritakan pada sosok duda satu anak di depannya ini. Seruni hanya butuh seseorang, yang bisa mendengarkan keluh kesahnya di saat hatinya sudah penuh dengan kepedihan.
"Kamu harus pandai mengambil hikmah yang bisa di petik dari musibah yang kamu alami, Mawar. Meski saya tau kepergian kamu ke Surabaya adalah untuk lari dari masalah, tetapi kalau boleh saya sarankan, setelah kamu menenangkan pikiran, kamu harus kembali ke ibukota untuk menyelesaikan semuanya. Setidaknya, da pemutus jalan masalah kalian. Apalagi, kamu sedang hamil." Ujar Tian menasihati.
Mendengar kalimat Tian, refleks Seruni membelai perutnya yang masih nampak rata.
"Apa saya terlihat kayak lari dari masalah? Apa, apa saya kekanakan?" Tanya seruni.
"Ya. Kalau boleh saya memberi saran, kamu kembali ke Jakarta dan mempertahankan rumah tangga kalian, demi anak.
Badai dalam rumah tangga selalu ada, dan kamu harus kuat, nggak boleh mundur. Kamu tau, lari dari masalah itu terkesan kayak kekanakan. Hadapi dan jangan menyerah.
Jangan membiarkan kakak kamu bisa lebih leluasa merebut suami kamu. Pikirkan lagi, dia akan menang dan merasa bisa menyingkirkan kamu dari sana, mengambil suamimu hanya dengan satu cara picik." Jawab Tian.
"Tapi ... suamiku nggak mencintai aku, bang.
Kalau rumah tangga ini bertahan hanya karna alasan sebatas tanggung jawab sama kehamilanku, kedepannya, aku juga belum tentu bahagia. Logis saja, anak juga akan tertekan mentalnya, saya kedua orang tinggal bersama, namun keduanya saling dingin dan berdebat setiap hari." Ujar Seruni, mengeluarkan segala unek-uneknya.
Mendengar kalimat Mawar yang keras kepala ini, Tian tersenyum kecil.
"Kamu butuh waktu dan menenangkan pikiran agar mudah berpikir lebih jernih. Saat ini, kamu masih tengah digulung emosi." Ujarnya.
"Ayah ... apa ini bunda ku?" Gadis kecil yang ada dalam pangkuan Tian mendadak bertanya kembali.
"Bukan, sayang. Ini Tante Mawar." Jawab Tian lembut. Suaranya ramah dan senyumnya kebapakan.
"Tante Mawar? Gimana kalau Agi panggil bunda Sekar?"
Hanya keheningan dan kebisuan yang mengisi seluruh sudut ruangan, tanpa ada yang berniat menjawab pertanyaan Anggi.
Hingga suara Seruni memecah keheningan.
"Boleh. Hanya sebatas panggilan, kan?" Ucap Mawar dengan tersenyum lembut.
"Ya, Agi seneng bisa manggil bunda tiap hari." Kata anak itu sambil bersorak bahagia.
Hati Tian seperti di hujam samurai tertajam. Kehilangan sosok istri, rupanya banyak mempengaruhi banyak hal. Termasuk mental putrinya. Meski sekeras apapun Tian berusaha tegar demi sang putri, nyatanya tetap saja Anggi tidak bisa begitu saja menerima keadaan.
Senyum Mawar merekah.
Ada kehangatan yang menyelinap ke dalam hatinya.
"Boleh Agi duduk di pangkuan bunda Mawar?"
__ADS_1
Tian hanya tersenyum getir, saat mendengar kalimat putrinya.
"Boleh, ayo sini." Ajak Mawar.
Mawar mengangguk dan merentangkan kedua tangan.Masalah rumah tangganya sedikit menguap dengan adanya Anggi.
"Sepertinya alamat kita satu blok, Mawar".
Ucap Tian tiba-tiba, ketika ingat alamat yang di tunjukkan Mawar.
Mawar mendongak. Senyumnya terbit kala membayangkan, dirinya tak akan kesusahan mencari alamat bibinya Andri.
"Oh, ya ... em kalau gitu syukur deh, nanti nggak akan kesulitan nyari alamat bibi Wina."
Tian mengerutkan kening.
Alamat rumahnya di Surabaya yang satu blok dengannya, hanya ada satu nama Wina.
Winasih, pemilik toko bunga yang tak terlalu besar di dekat apotik.
"Apa namanya Winasih?" Tanya Tian.
"Iya, Abang kenal?"
Mawar mengangguk antusias.
"Iya, dia pemilik toko bunga sederhana di daerah itu. Nanti saya antar kamu, Mawar." Ungkap Tian.
"Nggak apa-apa. Kan kita akan jadi tetangga." Kelakar Tian yang memang ada benarnya.
Senyum tipis mawar terbit.
Kemudian hanya ada keheningan di antara mereka. Sedikit suara gaduh karna suara penumpang lain sebagian sudah terbangun dari lelap.
~
Di tempat yang berbeda, Wiraka nampak kacau tanpa peduli dengan penampilannya.
Hatinya demikian sesak saat mendapati semalam Seruni telah benar-benar pergi dengan sebagian pakaiannya yang telah raib.
Bahkan, perhiasan mas kawin dan cincin perkawinan mereka, Seruni tinggalkan.
Motor yang biasa Runi pergunakan juga ada. Nomor ponsel Runi pun, tidak bisa di hubungi.
Setelah menemui Mia dan Andri, mereka hanya bungkam dan memberi alasan bahwa Seruni meminta di turunkan di jalan, tanpa memberi tahu kemana Seruni pergi.
Buntu.
Semua jalan terlihat buntu, tidak ada celah bagi Raka untuk menemukan keberadaan Seruni. Kertas hasil laboratorium tentang kehamilan Seruni, selalu di bawa kemanapun Raka pergi, seolah menjadi satu-satunya pegangan Raka yang paling berharga.
__ADS_1
Seruni pergi, dengan membawa anak Raka.
Pagi menjelang siang, namun Raka masih tetap menyusuri jalanan padat ibukota. Bahkan, ia berniat untuk resign dari kampus tempatnya mengajar. Waktunya hanya akan terfokuskan untuk pencarian Seruni.
Andai pun nanti Seruni telah di temukan, Raka berjanji pada dirinya sendiri, untuk menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah bersama Seruni. Dalam hati ia mengikrarkan janji, Raka akan memperbaiki hubungan rumah tangganya.
Biarlah.
Biarlah ia kali ni tidak akan melanjutkan hubungan gilanya dengan Amel. Amel bukan lagi prioritasnya saat ini.
Hanya Seruni.
Hanya Seruni yang akan menjadi satu-satunya wanitanya hingga akhir hayat.
"Kemana kamu, Runi? Pulanglah .... Maafkan sa ... ya ... maafkan saya" Gumam pria itu.
Wajah Raka memucat. Bahkan pria itu melewatkan makan malamnya, semalam. Sarapan pagi pun, diri nya lewatkan begitu saja.
Mobil Raka menepi sejenak. Dering ponsel mengalihkan tatapannya. Nama bapak mertuanya tertera di sana.
"Halo, assalamualaikum." Ucap Raka sopan.
"Wa'alaikum salam. Raka, kamu cepet ke rumah bapak. Bapak tunggu." Kata Herman dari seberang sana.
Sambungan telepon terputus seketika.
Mendesah pasrah. Raka yakin pasti Amel sudah mengatakan tentang perbuatan mereka semalam di kamar hotel.
Memejamkan mata, Raka pasrah bila ia harus menerima apapun konsekuensinya.
~~
"Kalian harus menikah karena sudah berani berbuat zinah."
Suara Herman Abdullah yang murka, menggema di seluruh sudut ruangan. Dirinya terlewat marah saat mendengar pengakuan Amel, putrinya, yang mengakui bahwa Amel dan Raka telah kepergok Seruni, sedang memadu kasih bersama.
Amel dan Raka hanya tertunduk didepan orang tua mereka. Bahkan, kedua orang tua Raka juga sudah ada disana saat Raka baru tiba.
"Jadi benar kalau ... kalau Seruni tengah hamil, Raka?" Suara parau ibu Raka terdengar lirih. Raka memejamkan mata dengan mengangguk.
"Iya, Bu." Jawab Raka.
"Astaga. Apa kurangnya ibu mendidik kamu? Kamu anak satu-satunya dalam keluarga ini. Kamu." Merasa tak mampu ibu Raka melanjutkan kalimatnya, Raka kemudian bertanya dengan pasrah.
"Lalu, apa yang harus Raka lakukan?"
Raka bingung dengan apa yang akan Ia lakukan setelah ini. Antara benar dan salah, Raka benar-benar tak bisa berpikir dengan jernih.
"Karna kamu dan Amel sudah tidur bersama, Nikahi Amel secara Siri dan cari Seruni sampai ketemu. Ibu nggak mau cucu ibu satu-satunya terlantar dengan kehidupan yang nggak layak." Tegas ibu Raka, dengan suara lantang.
__ADS_1
~~