Mawar Seruni

Mawar Seruni
Tak percaya diri.


__ADS_3

Suasana mengharukan, kini terasa di dalam rumah Bibi Wina. Amel datang seorang diri, dengan niat meminta maaf pada adiknya, dan meminta pada wanita itu, agar bisa membangun hubungan yang lebih baik lagi.


Tidak adanya komunikasi, ditambah lagi dengan pengkhianatan Amel dan Raka, membuat Seruni pergi saat itu. Wajar saja, siapa yang tidak sakit hati bila harus ada di posisi Seruni?


"Maafin aku, dek. Maafin kakak. Selama ini kakak banyak salah sama kamu," ujar Amel kemudian. Wanita itu memeluk adiknya erat, dengan tangis yang sudah berderai.


Wina yang ada di sofa utama, ikut menangis haru. Mawar sudah seperti anaknya sendiri. Mustahil bagi Wina tidak merasakan apa yang Mawar rasakan.


"Aku udah maafin, kak. Tapi mungkin aku nggak bakalan lupa sama itu semua. Makanya aku memilih untuk tinggal jauh dari kamu dan mas Raka, aku ingin berpikir waras, dan mencoba untuk menjaga hatiku. Aku pergi menjauh dari kalian, bukan untuk menghindar, melainkan menjaga hatiku sendiri, serta memberi ruang agar kalian bisa bersatu. Jangan khawatir, aku udah tulus maafin kamu dan mas Raka. Buktinya, hubunganku sama mas Raka, beneran baik sampai sekarang. Kita tetap saudara, apapun yang terjadi. Hanya saja, jangan diulangi lagi perbuatan tercela itu, ya?" ujar Mawar, yang lantas mengurai pelukannya.


Dengan lembut, mawar mengusap air mata Amel, mencoba untuk memberikan ketegaran agar Amel kuat menjalani semua ini.


Amel tertegun, bahkan setelah pengkhianatan yang Amel lakukan terhadap adiknya, adiknya itu kini masih bisa memberinya maaf. Sungguh, Amel menyesali semuanya.


"Makasih, Runi. Aku benar-benar nggak nyangka, kamu bisa nerima aku lagi sebagai saudara," Amel menangis tersedu. Wanita itu benar-benar tulus dan benar-benar ingin berubah.


Mawar mengangguk mengiyakan. Sejatinya, Mawar adalah wanita yang baik. Hanya saja, ia tipe orang yang paling tidak bisa dipancing dengan masalah.


Di tempatnya, baik Herman maupun Ratna, merasa benar-benar terharu. Ada kebahagiaan yang kini Herman rasakan. Dirinya sudah dimaafkan oleh Rima, juga kedua putrinya yang tampak akur lagi.


Ratna juga berharap, ini bisa menjadi pelajaran untuk Amel ke depannya. Apa yang suaminya itu katakan benar, tidak seharusnya mereka membeda-bedakan anak sekalipun Mawar terlahir sebagai perempuan.


"Seringlah kesini, Amel. Saya disini tinggal hanya berdua dengan Mawar Seruni. Beberapa bulan lalu, adikmu kekeh mau beli rumah kecil-kecilan untuk tinggal bersama Kia, tapi saya tentang keras. Lha wong saya tinggal sendiri disini, nggak punya anak, suami juga meninggal," Wina bersuara. "Kalau kamu sering main disini, Bibi Wina seneng, pastinya rumah ini nggak sepi lagi," Tambah Wina.


Amel menyapa Wina, tersenyum penuh bahagia, "terima kasih sudah menerima Amel, Bi."


"Sama-sama," jawab Wina kemudian.

__ADS_1


Baru saja Mawar hendak menimpali, suara salam Bastian cukup mengejutkan semua orang. Mawar sendiri tidak tahu, mengapa jantungnya mendadak berdebar tak karuan, meski hanya sekedar mendengar suara Bastian. Ya, setiap ada suara Bastian.


Bastian masuk, selepas Semua orang menjawab salamnya. Mata lelaki itu tak bisa menahan keterkejutannya, ketika melihat sosok Amelia Kenanga yang tidak asing di matanya.


"Ada apa, nak Tian? Mana Anggi?" Wina bertanya pelan, dan menatap aneh ke arah Tian.


"Anggi ada di rumah, Bi. Anak itu nggak mau makan, kalau nggak disuapi sama bunda Mawar-nya," Tian lantas mengalihkan pandangannya pada Mawar.


"Boleh aku minta tolong bentar, Mawar?" tanya Tian kemudian.


"Menyuapi Anggi makan?" Tanya Mawar, yang diangguki oleh Tian. "Ya udah, Bang, tunggu bentar. Aku mau ambil gendongan Kia dulu."


"Tapi, aku tadi kesini jalan kaki , Mawar. Nggak apa-apa?" tanya Tian kemudian. Sejujurnya, ia segan pada Herman dan Ratna. Hanya saja, ia tidak tahu jika Amel masih berada di rumah Bibi Wina.


"Nggak apa-apa, kok kalau cuman jalan kaki. Lagian juga jaraknya dekat banget," jawab Mawar.


"Kia biar disini sama aku, dek. Nggak apa-apa, kan?" Amel tiba-tiba bertanya pada Mawar.


'Aku kayak pernah tahu laki-laki itu. Tapi dimana, ya?'


Batin Amel bertanya-tanya.


**


Sepanjang perjalanan menuju ke rumah Tian yang megah itu, Mawar hanya diam, menimpali dan menjawab tanya Tian sesekali. Ia tampak begitu berbeda, dan sedikit dalam berbicara.


"Kakak kamu, datang sejak kapan, Mawar?" tanya Tian yang hanya sekedar berbasa-basi.

__ADS_1


"Tadi pagi, Bang. tapi besok sudah pulang. Kayaknya Bapak sama Ibu juga akan ikutan pulang," jawab Mawar kemudian. Wanita itu menunduk, dan sesekali melihat ke depan. sweater hitam yang Mawar kenakan, membuat mawar tampak lebih muda, padahal sudah beranak satu.


"Amelia Kenanga. Apa bener itu namanya?" tanya Tian lagi.


"Loh, Kon Bang Tian tahu?" tanya Mawar kemudian. "Apa, kalian dulu pernah saling kenal?" tanya Mawar lagi.


"Nggak kenal dekat, juga nggak pernah kenal sama sekali. Cuman ya waktu itu, temanku lagi ada masalah dengan dia. Tapi, kamu diam aja, ya? Tolong jangan ngomong sama kakakmu," pinta Tian kemudian.


"Tapi, kalau nggak kenal, kenapa bisa tahu kalau namanya Amelia Kenanga?" tanya Mawar kemudian.


"Sudahlah, jangan di bahas," Tegas Tian. Ia hanya tidak mau, membuat masalah yang sudah lama terkubur rapat. "Oh ya, ada temanku yang tertarik dengan penyajian dan cita rasa masakan kamu. Kalau dia order ke kamu nanti, kamu layani, kan?" tanya Tian untuk mengalihkan pembicaraan mengenai Amel.


"Ya pasti aku melayani dong, Bang. Ngomong-ngomong, makasih banyak ya, Bang, Bang Tian udah banyak bantuin aku sejak dulu. Makasih banget untuk semuanya," tukas mawar tiba-tiba.


"Nggak apa-apa. Kalau kamu jadi istriku nanti, aku akan buatkan usaha catering untuk kamu," Ucap Tian tiba-tiba, dengan tersenyum di raut wajahnya yang tak merasa berdosa sama sekali.


"Abang, jangan ngadi-Ngadi, dong," ucap mawar kesal. Tian terkekeh di tempatnya, merasa lucu dengan sikap Mawar kali ini. Menggemaskan.


"Saya serius, Mawar. Nggak ada lagi alasan kalau Mama nggak bakalan setuju. Mama dan orang tua kamu udah baikan," Ujar Tian kemudian.


"Tapi, ah enggak. Pokoknya enggak usah, deh. Lagian nih ya, Bang, Banyak kan, perempuan yang suka sama Abang?" tanya Mawar.


"Termasuk kamu," Tian menimpali dengan menahan tawa.


"Ogah!" amaara menjawab judes. Tetapi justru mimik judesnya itu, membuat Tian semakin suka.


"Jangan gitu, Mawar. Jangan bilang ogah kalau akhirnya kamu membohongi diri kamu sendiri. Lagian apa susahnya, sih, kalau kamu bilang iya? Apa, apa jangan-jangan kamu masih mencintai Wiraka, mantan suami kamu?" pertanyaan Tian, sukses membuat Mawar menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Aku orang tak punya, Bang. Mana aku janda pula. Aku, aku nggak sederajat sama Abang," Mawar kehilangan kepercayaan diri.


**


__ADS_2