
Di dalam kamar, Mawar tidak bisa memejamkan matanya barang sebentar saja. Meski sejak kemarin ia lelah karena orderan dari perusahaan Bastian, tapi sungguh, Mawar merasa matanya tetap terbuka lebar hingga malam telah larut. Mawar bahkan sadar, jika saat ini waktu telah menunjukkan nyaris dini hari.
Tentang kenyataan yang belakangan ini mampu membuat Mawar terus dilanda rasa terkejut. Dari acara orderan pesanan yang banyak, dihubungkan dengan banyaknya kolega bisnis Tian yang begitu tertarik pada menu masakan Mawar.
Mawar sebenarnya minder, karena dirinya bukanlah apa-apa bila dibandingkan dengan Bastian. Mawar juga bukanlah wanita sempurna, yang pantas menjadi pendamping hidup Bastian. Lagi pula, Rima juga tidak mungkin memberikan restunya untuk dirinya dan Tian.
Tidak. Mawar sadar diri, dengan siapa dan bagaimana dirinya tengah berhadapan. Rima bukanlah orang yang berlembut hati untuk menerima Mawar begitu saja. Mawar sadar betul, bahwa ada dosa orang tuanya yang kini ia juga ikut menanggungnya.
"Mawar, kamu nggak tidur? Kenapa?" Bibi Wina tiba-tiba muncul di ambang pintu kamar.
Wanita itu meski tak memiliki keterikatan darah dengan Mawar, namun tetap saja merasakan perasaan yang berbeda, setiap kali menatap mata polos Mawar. Sekali tatap saja, Wina tahu bahwa Mawar juga orang baik. Pantas aja Tian menggilai Mawar, karena Mawar berbeda dengan Anita lainnya.
Sejujurnya, wanita itu terkejut ketika mendapati pintu kamar Mawar terbuka tadi, dan Mawar masih membuka matanya. Wina saja baru terbangun dari tidur, dan merasakan tenggorokannya haus. Saat hendak ke dapur, ia mendapati pintu kamar maaR terbuka lebar.
"Bibi? Mawar lagi nggak bisa tidur, Bi," jawab Mawar dengan melempar senyum.
"Bibi tidur lagi aja, bi. Mawar nggak apa-apa sendirian."
"Biar bibi temani. Tanggung juga kalau harus tidur lagi. Bibi lelah, besok juga toko bunga milik Bibi, Bibi tutup dulu sehari aja. Memangnya, apa yang sedang kamu pikirkan?" Bibi Wina bertanya pada Mawar.
"Nggak ada kok, Bi," Mawar mencoba untuk menyangkal. "Lagian Bibi ini ada-ada aja, deh. Hidup Mawar udah rumit, sekarang Mawar ingin bersantai saja, tanpa dibebani masalah seperti ini.
__ADS_1
"Halah, jangan bohong," Wina lantas mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang, dengan Mawar yang masih setia duduk di kursi dibalik jendela kamar. "Jujur aja, jangan menyangkal, kamu mikirin nak Tian?" Tanya Bibi Wina kemudian.
"Bibi kenapa bisa tahu?" tanya Mawar kemudian.
"Bibi tahu, karena memang ada yang lain diantara kalian, Mawar. Okelah, tak masalah kalau kamu tak disukai oleh jeng Rima. Hanya saja, yang akan melakukan kan, kalian berdua, jadi harus tetap optimis dan semangat," ujar Wina kemudian.
"Bukan begitu, Bi. Hanya saja, Mawar ini anak orang tak punya, Bi. Latar belakang keluarga Mawar juga tak baik di mata mamanya mas Tian. Jadi Mawar pikir, lebih baik menjauh saja," jawab Mawar.
"Oh ya, tadi kamu sama nak Tian ngomong apa aja? Kalau Bibi perhatikan, kayaknya tadi serius banget ngobrolnya," tambah Bibi Wina. "Perasaan bibi bilang, kalau kalian semakin dekat."
"Mas Tian melamar Mawar, Bi. Gimana menurut Bi Wina?" Mawar bertanya dengan raut penasaran.
Tentu saja Wina terkejut tak karuan di tempatnya. Sudah sejauh itu Tian mengambil sikap, meski ia tahu, bahwa ibunya masih menyimpan dendam terhadap Bapak Herman.
"Dia bilang sendiri, Bi, kalau Mawar bebas menjawab kapan pun Mawar siap. Cuman ya, kayaknya memang nggak mungkin untuk Mawar dan Bang Tian bersatu. Ada banyak halangan dan rintangan keluarga, yang saat ini kami hadapi. Jadi lebih baik, ya begini saja," jawab Mawar kemudian.
"Lagian untuk melawan takdir, Mawar nggak akan bisa. Terserah tuhan mau diapakan hati ini nanti."
"Yakinkan hatimu, yakinkan pada Tuhan, kalau jodoh kamu, sudah dipersiapkan Tuhan mulai dari sekarang. Yang terpenting, andai nanti kamu memilih rujuk sama Raka, ataupun menerima cinta Tian, Bibi minta kamu yang tegas. Ingat, kamu nggak bisa memiliki keduanya," Bi Wina menasihati.
Meski Mawar bukanlah darah daging Bibi Wina, namun tetap saja, bibi Wina sangat menyayangi wanita yang menemani kesepiannya selama beberapa waktu ini. Dengan hadirnya Mawar, juga Kia, Wina tampak sekali begitu semangat dalam beraktivitas apa pun.
__ADS_1
Janda tanpa anak itu, tetap setia menjanda, demi menjaga setianya terhadap mendiang suaminya. Kehadiran Mawar, tentunya adalah anugerah dalam hidupnya. Cinta Wina memang luar biasa untuk Mawar dan Kia.
"Mawar nggak mungkin menerima Mas Raka, Bi. Bibi tahu sendiri dia mencintai kak Amel. Mawar bukan tipe orang rendahan yang mau bersaing sama kakak sendiri," jawab Mawar kemudian. Ia ingat betul, bahwa Raka pernah nikah kalau Raka benar-benar mencintai Mawar.
"Bagus. Tapi, gimana sama Tian? Kamu nggak menolaknya?" Wina kembali melempar tanya pada Mawar.
"Kalau nanti Bu Rima memaafkan Bapak, Mawar akan terima. Tapi jika enggak, ya udah biarin begini aja," jawab Mawar dengan suara lirih. Senyumnya yang manis menawan, membuat Wina balas tersenyum.
"Kamu harus bahagia, Mawar. Bibi nggak akan membiarkan siapapun menyakiti hati kamu. Apapun keputusan kamu dalam masalah Tian, Bibi akan dukung kamu penuh. Benar kata Andre, ujian hidup kamu benar-benar kuat. Bibi juga berpesan, mulai sekarang, berhenti baik, dan sesekali jadilah egois, agar kamu tahu siapa sosok yang belakangan ini memilik niat menusuk mu dari belakang." Ina kembali bersuara.
**
Perjalanan kali ini terasa lama bagi Amelia Kenanga. Wanita itu duduk seorang diri, dan menatap keluar jendela di dalam bus. Ia sudah bertekad untuk menyusul Seruni, sang adik yang banyak dilukai Amel.
Malam terus beranjak, menyisakan banyak luka yang kini tengah dihadapi oleh Amel. Selain penolakan Raka, Amel juga ingin sekali bisa mendapatkan maaf dari adiknya itu.
"Mas Raka, kenapa kamu bisa bersikap sekejam ini ke aku? Aku sayang kamu, tapi kamu mengabaikan aku. Apa perlu, kalau misalnya aku mati dulu, biar kamu menangis mengharapkan aku datang ke kamu?" Amel berkata lirih, seolah lelaki itu ada tepat di hadapannya.
"Aku lelah, mas. Jika kamu terus nolak aku, aku nggak akan menampakkan muka aku di depan kamu lagi," tambah Amel. "Kamu juga nggak pernah tahu, gimana rasanya jadi aku. Andai tuhan juga menghakimi kamu, apa kamu berani?" Amel bermonolog kembali kali ini.
Malam Amel yang begitu sepi dan gelap, mungkinkah bisa memberikan sinar penerangan bagi Amel yang hampa dan mendadak mati setengah? Amel sendiri tidak mengerti, mengapa dirinya bisa selemah ini bila berhadapan dengan Raka.
__ADS_1
**