
Jantung Mawar mendadak menghentak tak karuan. Darahnya berdesir hebat. Hatinya seolah beku setelah suaminya, mengkhianati cinta dan kepercayaannya dengan sagyat kejam.
Tapi Tian, entah mengapa Sebastian Gunawan mampu membuat emosi asing dalam jiwanya bangkit perlahan. Tidak. Mawar tak ingin dirinya kembali terjebak dengan lelaki dalam bentuk hubungan apapun. Mawar ingin memusnahkan rasa itu.
"Mawar ... kamu apa kabar?"
Suara bass Tian terdengar mengalun merdu di telinga Mawar. Nada suaranya lembut dengan intonasi pelan.
Sungguh, Mawar diam-diam sangat rindu dan hampir saja terbuai andai di sana, tidak ada Mia yang juga turut hadir di dalam mobil.
"Baik. Bang Tian juga apa kabar?"
Mawar juga membalas tak kalah lembut.
"Sehat Alhamdulillah." Jawab Tian.
"Kenapa bang Tian hanya di dalam mobil? Ayo kita turun, saya buatkan kopi."
Ajak Mawar dengan canggung. Setelah Herman menceritakan masa lalu kelam orang tua Tian akibat kecerobohan Herman, Mawar mendadak ikut-ikutan merasa bersalah. Dan ia perlu meluruskan kembali masalah orang tua mereka yang belum usai di masa lalu.
"Saya rindu kamu. Tapi hanya sebentar saya di sini. Asal lihat kamu bahagia dan sehat, saya sudah puas. Perihal saya nggak mau masuk, karena saya nggak mau mengganggu pertemuan kamu dan suami kamu. Saya sadar diri nggak seharusnya saya begini terhadap kamu, tapi saya hanya mengikuti apa yang hati saya katakan." Ujar Tian.
Kalimat panjang Tian mewakili ungkapan halus yang Tian miliki, untuk wanita yang masih berstatus istri orang ini.
Mawar mengangguk paham. Suasana mendadak hening. Mawar tak tahu lagi apa yang harus ia katakan. Sejujurnya, ia juga tak menampik adanya rindu di hatinya.
Tapi biar bagaimana pun, ia harus menghormati Raka yang masih berstatus sebagai suaminya. Meski status itu, mungkin sebentar lagi akan lepas dari dirinya.
"Bayi kamu dan pak Raka udah lahir, Mawar. Berkas untuk persyaratan perceraian kalian udah aku ajuin ke pengadilan agama."
celetuk Mia secara tiba-tiba yang membuat Tian menatap Mawar tak percaya. Namun tak di pungkiri Tian sama sekali, bahwa ada setitik harapan serta rasa bahagia baginya, karena jalan untuk meraih dan mendekati Sekar secara alami.
"Oh ... ii ... iya."
Hanya itu yang bisa Mawar ucapkan.
Mawar merutuk Mia dengan banyak sumpah serapah karena mulut lancangnya, harus membuat Tian tahu.
"Kamu harus bahagia, Mawar. Harus dan harus. Cukup sudah kamu menderita selama ini. Kamu berhak mendapatkan kebahagiaan kamu." Tukas Tian tiba-tiba, memecah kesunyian.
__ADS_1
"Terima kasih, bang. Saya ada rencana untuk kembali saja ke Surabaya untuk kembali membuka warung." Ungkap Mawar yang Tania sadar, membuka rencananya pada tian.
"Kamu yakin?" Tanya Tian lagi.
"Ya. Bukan untuk lari dari masalah, tapi untuk memulai hidup baru di sana. Antara aku dan mas Raka, semua udah selesai bang." Ungkap Mawar.
"Apapun keputusanmu, aku harap itu yang terbaik untuk kamu."
Juga untuk saya tentunya.
Bisik Tian lanjut dalam hati. Senyum nya tipis, amat sangat tipis hingga tak sampai pada matanya.
"Bang ... aku nggak bisa lama-lama. Takut ada yang curiga."
Tian mengangguk mengiyakan. Ia berharap, ke depannya, semua yang menjadi rencananya berjalan dengan mulus.
Mawar.
Sebagai wanita yang berstatus sebagai istri dari Raka, Mawar tak ingin ada desas-desus buruk tentangnya nanti. Ia tak ingin orang-orang menganggapnya sama seperti Raka yang sudah berselingkuh.
Tidak. Mawar jelas tak ingin seperti itu. Selama dirinya masih berstatus sebagai istri, ia akan bersikap layaknya istri, hingga ketuk palu perceraiannya nanti di resmikan, Sekar akan tetap bersikap biasa saja, dan tak ingin memancing gosip miring tentangnya.
Keluar dari mobil Tian seorang diri, Mawar lantas melambai ke arah Mia yang juga telah berlalu bersama Tian. Entahlah, Mawar tidak tau tentang reaksi dirinya ketika bertemu Tian.
"Siapa yang menemui kamu, Seruni?"
Raka bertanya dengan tatapan menyelidik ketika Mawar kini berjalan memasuki rumah. Pasalnya, Raka sangat penasaran tentang siapa yang berkunjung kemari.
"Temanku." Jawab Mawar datar.
Amel hanya diam sengaja dan membuang muka.
"Teman yang mana?" Raka masih tak berhenti memberondong Mawar dengan pertanyaan.
"Teman baik." Jawab Mawar dengan jujur.
Setelahnya, Mawar cepat-cepat berlalu karena tak ingin Raka mengurusinya lebih jauh lagi.
Entahlah, hatinya kini seolah mati rasa bila harus berlama-lama dengan Raka. Mungkin, terlalu banyak luka yang Raka torehkan padanya.
__ADS_1
Raka yang di tinggalkan begitu saja oleh Mawar, menghembuskan nafas dengan kasar.
"Mungkin Seruni sedang butuh waktu, mas. Yang sabar. Aku akan bantu kamu mempertahankan dia." Ucap Amel tiba-tiba.
"Saya nggak butuh bantuan siapa pun. Terima kasih atas bantuannya. Saya pamit pulang." Raka berlalu begitu saja.
Amel lantas melepas kepergian Raka dengan pandangan sendu. Rasa yang ia miliki untuk Raka, benar-benar tak bisa dihilangkan.
~~
~~
"Mama nggak mau tau, Tian. Pulang. Kamu harus pulang. Lupakan anak pembunuh itu dan hiduplah bahagia. Anggi butuh kamu. Anggi butuh kamu!! Apa kamu dengar mama?Mama nggak akan merestui kamu dengan wanita itu. TITIK!!"
Suara Rima terdengar nyaring di telepon. Tian bingung dengan posisi nya saat ini. Ia bahkan tak pernah mendapati Rima bersikap sekeras kepala ini menyangkut kebahagiannya.
"Ma. Tian di Jakarta ada urusan. Bukan untuk menemui Mawar Seruni. Please dong ma, mama jangan salah paham." Jawab Tian untuk menenangkan.
Dusta.
Tentu saja Tian berdusta. Mana mungkin dirinya akan jujur bahwa ia ke Jakarta untuk menemui pujaan hatinya? Gunung agung di Bali akan di balik menjadi perahu oleh Rima, bila sampai Tian mengungkapkan kebenarannya.
"Bohong!! Mama mau kamu pulang dan lupakan wanita itu. Mama nggak akan merestui. Sampai kapanpun." Tegas Rima dengan suara menggebu.
"Iya, ma. Mama jangan terlalu paranoid deh. Mending mama istirahat. Besok Tian pulang. Sekarang Tian mau istirahat." Jawab Tian kemudian.
"Hmmm." Rima merasa lega di seberang sana.
Panggilan terputus sepihak oleh Rima.
Tian tercenung. Baru saja dirinya mendapat jalan lebar-lebar untuk mendapatkan Mawar, kini ada bongkahan batu besar yang menghalangi jalannya.
Berurusan dengan Rima yang cukup rumit dan licik, membuat Bastian bingung dan harus mencari seribu satu cara untuk meyakinkan sang mama.
'Kenapa untuk bisa hidup bersama kamu, harus sesulit ini, Mawar?'
Gumam Tian dalam hati.
Setelah rasa bahagia karena mendengar akan berpisah dengan suaminya, harusnya Tian lega. Sayangnya, sang mama telah menyatakan ketidaksetujuannya pada Tian, agar Tian berhenti mengejar Maaar.
__ADS_1
~
~