Mawar Seruni

Mawar Seruni
Jangan dekati saya dulu


__ADS_3

Pagi menyapa bumi ibukota yang terasa sejuk. Selepas hujan dini hari tadi, hujan menyisakan embun yang membuat suasana pagi terasa lebih segar dari biasanya. Suara kicau burung yang tengah bersahut-sahutan, membuat semua penghuni rumah Herman Abdullah, bangun.


Akhir pekan ini, semua orang masih bergelut nyaman di dalam selimut. Baik Herman, Ratna, dan juga Amel sangat enggan bangun karena dingin.


Lain lagi dengan Mawar yang kini sudah rapi dengan dress sepanjang mata kaki. Wanita itu berniat membawa Azkia untuk kembali ke Surabaya.


Wanita itu semalam membicarakan dengan Mia perihal niatnya untuk menumpang dulu di rumah Mia. Tapi Mia menyarankan, untuk segera langsung kembali ke Surabaya saja. Bukan karena tak ingin menolong saat Mawar tengah susah. Tapi Mia tak ingin nanti menjadi bulan-bulanan Raka dan kedua orang tua Mawar.


Keluar dari kamar, Mawar melihat suasana rumahnya yang sudah sepi. Tak hanya itu, mawar juga mulai membawa sebagian barang-barangnya yang penting saja, dan juga semua pakaian Kia. Ada dua koper, dan pakaian Kia akan ia beli nanti sebagian lagi di Surabaya.


Bertepatan dengan saat Mawar membawa Kia di dalam gendongan, Ratna muncul dari dalam kamar. Ibu mawar itu sangatlah terkejut dengan penampilan Mawar yang sudah rapi sepagi ini. Ia juga tak sadar, bahwa ada dua koper yang sudah ada di depan pintu.


"Mawar, kamu mau bawa Kia kemana?" Ratna bertanya sambil menyanggul rambutnya.


"Aku mau berangkat ke Surabaya pagi ini juga, Bu. Aku mau pamit juga sama bapak. Mana bapak?" Tanya Mawar.


Tak menjawab, ratna segera membangunkan Herman karena Mawar akan pergi lagi ke Surabaya. Hingga kini keduanya bangun, dan mendapati Seruni duduk di ruang tengah dengan menimang Kia.


"Kata Ibu kamu mau ke Surabaya, Runi? Apa bener begitu?" Herman bertanya. Lelaki itu juga ikut duduk di kursi ruang keluarga.

__ADS_1


"Iya, pak. Runi mau ke Surabaya pagi ini juga. Andri yang akan antar Runi setelah ini. Mungkin, bentar lagi nyampe." Mawar menjawab pelan. Matanya fokus pada putrinya yang baru selesai menyusu.


"Apa kamu berpikir bapak nggak mampu memberi makan kamu dan Azkia? Dengar, bapak nggak setuju kalau kamu pergi jauh dari bapak dan ibu." Herman mencoba untuk mencegah. Sayangnya, kalimatnya itu terpatahkan oleh Mawar.


"Dan Runi nggak akan meminta persetujuan Bapak dan Ibu kalau gitu. Masalah kepercayaan, Runi sangat percaya kalau bapak dan ibu mampu membesarkan Kia. Hanya saja, Runi perlu bebas dan menjaga kewarasan, biar nggak gila karena menyaksikan Amel dan Raka berumah tangga. Bukan karena Runi nggak bisa melepas Raka sepenuhnya, tapi Runi perlu menjaga mental dan perasaan Kia. Runi bahkan bisa mendapatkan yang lebih dari Raka. Hanya saja, sekarang perasaan Kia lebih penting, dan diatas segala-galanya." Mawar mengungkapkan isi hatinya.


Sejak kelahiran Kia ke dunia, Mawar sudah tak lagi memiliki tujuan apa pun. Lelaki? Wanita itu bahkan sanggup bekerja keras untuk kebahagiaan Kia tanpa laki-laki. Kalau masalah jodoh, sepenuhnya Mawar menyerahkan pada Tuhan.


"Tolong, nak. Jangan pergi. Pikirkan lagi tentang Ibu. Azkia masih terlalu kecil, kamu, kamu nggak bisa kerja kalau sedang ngurus bayi." Ratna mencoba untuk membujuk.


"Nggak apa-apa, bu. Ibu bisa ke Surabaya jika kangen Kia. Nanti Runi beri alamatnya ke Ibu. Jadi ibu jangan khawatir. Kita juga bisa teleponan. Papanya Kia juga nggak mungkin bakal Runi larang kalau mau jenguk. Biarkan Runi hidup bahagia, bu. Runi pergi juga udah ngabarin mas Raka baru saja." Mawar memasang wajah sendunya.


"Maaf, Maafin ibu, nduk. Maaf karena ibu nggak bisa membuat kamu bahagia." Ratna berkata seraya menangis. Entah bagaimana caranya, hari ini mata hatinya seolah melihat betapa putri bungsunya itu sangat menderita tersebab dirinya di masa lalu.


Dari balik tembok, Amel mendengar perbincangan keluarganya. Ia memiliki rasa bersalah, namun juga ada sisi congkak dirinya yang memang ingin menguasai Raka.


Di saat yang bersamaan, suara mobil Andri terdengar menderu di depan rumah. Seruni bergegas bangkit, melangkah ke arah depan rumah. Senyumnya terbit ketika Mia turun dan menghampirinya.


"Bu, Bapak, Maaf, Runi harus berangkat sekarang juga. Bukannya apa, Andri dan Mia juga di kejar waktu untuk bekerja hari Senin. Oh ya, salam sama Amel, maaf kalau Runi ada salah." Mawar pamit dan mencium telapak tangan kedua orang tuanya.

__ADS_1


Ia pergi dengan tangis Ratna yang meraung. Rasanya sesak ditinggal Putri bungsu yang selama ini tidak ia perlakuan dengan baik. Pilih kasih, Ratna sadar ia dan suaminya terlalu memanjakan Amel hingga Amel melakukan hal yang melanggar norma agama dan norma bermasyarakat. Lihat saja, bahkan suami adiknya sendiri, diembat.


Mawar dituntun masuk ke dalam mobil oleh Mia. Sedang Andri, pemuda itu memasukkan koper ke dalam bagasi, sekalian pamit pada Herman dan Ratna.


Dan rasanya Mawar ingin berhenti melanjutkan niatnya, ketika netranya menatap sosok yang duduk di bangku belakang kemudi. Kaca mobil Andri yang gelap dan tak terlihat dari luar, membuat Mawar tak menyadari bahwa ada seseorang di sana.


"Mas Tian?" Mawar bergumam lirih.


"Iya, ini saya. Ayo masuk. Jangan berteriak, saya belum siap ketemu orang tua kamu." Tian menjawab lirih.


Andri mengemudikan mobilnya dengan kecepatan pelan. Mawar tak bisa berkata-kata.


"Tolong, mas Tian. Jangan melakukan sesuatu yang bisa membuat saya terlihat rendah. Saya sudah sampaikan ini berkali-kali, saya masih istri orang. Bahkan proses sidang masih akan berlangsung. Tolong hargai saya." Mawar menatap Tian sekilas, sebelum ia kembali fokus pada Kia yang terlelap.


"Saya mengerti, Mawar. Hanya saja, kita perlu bicara sebelum melakukan perjalanan jauh." Jawab Tian kemudian.


"Maaf, mas. Saya hanya bersedia berbicara serius, setelah saya benar-benar resmi berpisah dengan papa Kia, dan masa Iddah terlewati." Tegas Mawar.


"Tapi, tapi ini tentang orang tua kita, Mawar. Antara ayah kamu dan ibu saya." Tian tak berhenti membujuk.

__ADS_1


"Kita bisa bicarakan nanti." Mawar menjawab pelan. "Kalau ada jodoh, tuhan pasti akan mempertemukan kembali." Imbuh Mawar kemudian.


**


__ADS_2