
Suara gedoran pintu, terdengar begitu kencang di dalam rumah Herman Abdullah. Amel yang berlari masuk ke kamar, dengan Raka yang berlari juga untuk mengejar, membuat suasana terdengar gaduh. Beruntung saat itu siang hari, dimana para tetangga pada sibuk bekerja dan mayoritas tidak ada di rumah.
Amel memutuskan masuk ke dalam kamar, tanpa peduli bagaimana Raka sekarang. Selain hancur karena tidak lagi memiliki harga diri, penolakan Raka membuat nyalinya untuk bertemu orang lain, mendadak lebur. Amel merasakan sendiri bagaimana sakitnya sebuah penghinaan.
Apa yang Raka lakukan, bukankah itu sebuah penghinaan untuknya?
"Mel, Amel buka pintunya. Aku mohon, Mel. Ayo kita bicara," lantang suara Raka, membuat Amel berpura-pura tuli.
Amel hanya bisa membersihkan lukanya dengan antiseptik, menyumpalnya dengan kassa dan menutupnya dengan plester. Wanita itu menangani luka di kepalanya seorang diri.
"Lebih baik kamu pulang, aku capek. Aku mau tidur," ucap Amel yang masih dengan suara sengau.
"Mel, aku minta maaf," kata Raka lagi.
"Pulanglah, mas Raka. Nggak ada yang perlu di maafkan, aku yang salah," Amel masih kuat bersuara, meski suaranya terdengar terisak-isak.
"Mel, aku mau ketemu kamu. Buka pintunya. Aku minta maaf, Mel. Tolong," pinta Raka dengan suara merendah.
"Tolong jangan menampakkan muka kamu lagi di depan aku. Aku takut beneran kalau nggak bisa mengendalikan diri aku di depan kamu. Sebaiknya kamu pulang. Makasih untuk makanannya. Sampaikan terima kasih aku ke Bu Subagio. Lain kali jangan begini, aku mohon, sebaiknya kamu pulang secepatnya," Amel masih menguatkan hatinya untuk bersuara.
Raka terhenyak di tempatnya. Ia tidak habis pikir dengan dirinya sendiri. Selain Mawar Seruni, lelaki itu juga sudah melukai hati Amel.
'Terlepas dari sikap buruknya dulu di masa lalu, harusnya aku nggak menyakitinya. Ya Allah, aku dosa sama banyak wanita. Bahkan dua Ibu juga merasakan sakitnya karena ulahku.'
Batin Raka.
"Aku pamit pulang, Mel. Aku minta maaf sama kamu. Aku berharap, lain waktu aku bisa ... maksudku, kita bisa ngobrol berdua. Sekali lagi maafin aku, Mel," Ujar Raka sebelum berlalu pergi.
Suara sepatu Raka yang terdengar menjauh, membuat Amel bisa bernapas lega. Siapa yang bisa bernapas dengan tenang, bila bencana masih berada di dalam rumah? Mulai sekarang, Amel menganggap Raka sebagai bencana dalam hidupnya.
Selepas kepergian Raka, Amel menangis seorang diri. Menguatkan tubuhnya untuk menutup jendela dan juga pintu dari dalam. Satu-satunya harapan Amel adalah, Ia tidak lagi bertemu dengan Raka, selamanya.
'Tuhan, kenapa jadi kayak gini, sih? Bukankah seharusnya aku nggak memeluk Raka tadi? Kenapa aku nggak bisa mengendalikan diri? Kenapa juga aku mendadak goblok ketika berhadapan dengan Raka? Maafin aku, Tuhan. Maafin aku.'
Amel berkata dalam hati.
__ADS_1
**
Beberapa hari berlalu semenjak bertemu Herman dan Tian. Sore kembali menyapa kota Surabaya. Mawar duduk santai saat rumah makannya sudah tutup. Belakangan, usahanya itu lumayan ramai pembeli.
Beruntung, Bibi Wina saat ini ada di rumah. Mawar sendiri hendak menyiapkan daftar belanjaan yang hendak dibawa ke pasar besok pagi. Acara kantor Bastian sudah hampir tiba. Mawar sungguh gugup karena besok adalah hari pertama dirinya mendapatkan orderan dalam jumlah banyak.
"Mawar, kayaknya kalau nambah tenaga empat orang lagi kurang. Gimana kalau tambahin satu orang lagi, jadi 7 orang? Bibi khawatir nggak nutut kalau cuman empat orang. Ya, meski Ibu Ratna dan Bibi Wina bantuin, tapi tetep aja kembali lagi ke orderan, jumlahnya lebih dari seribu lima ratus kotak," ujar bibi Wina.
"Ya udah, Mawar akan suruh mbak Ratih nyari satu orang lagi," Ungkap Mawar. Ratna yang ada disamping Mawar pun, tersenyum bangga.
Dulu, Ratna berpikir bahwa Mawar tidak mungkin bisa sesukses ini. Karakter dan sikap barbar Mawar ketika sekolah hingga kuliah dulu, membuat Ratna meremehkan Mawar.
"Mawar, Kia biar Ibu bawa ke hotel aja, nak. Disana biar di ajak main sama Bapak. Ibu akan bantu kamu aja, biar nanti kamu nggak keteteran," Ratna menimpali.
"Ibu beneran nggak apa-apa?" tanya Mawar kemudian.
"Nggak apa-apa, dong. Lagian mungkin tinggal beberapa hari lagi Ibu sama Bapak udah balik ke ibukota. Kasihan kakak kamu, dan juga cuti kerja Bapak yang tinggal beberapa hari lagi," jawab Ratna kemudian.
Mawar mengangguk mengiyakan. Hingga kemudian ponsel Ratna berdering, nama Amel tertera disana. Kening Ratna berkerut kemudian.
"Siapa, Bu?" tanya Mawar.
"Iya, Mel, ada apa?" tanya Ratna.
'Bu, Ibu sekarang dimana? Apa Ibu sekarang lagi sama Seruni?'
Amel bertanya dengan suara sengau.
"Iya, ini ibu lagi di rumah Runi. Ada apa? Kamu sakit?" tanya Ratna yang merasa tak nyaman saat mendengar suara Amel.
"Enggak kok, Bu. Amel baik-baik aja. Apa, apa boleh kalau misalnya Amel ngomong sama Runi?"
Tanya Amel tiba-tiba. Suaranya lirih, tidak seperti Amel yang biasanya ceria dan suka blak-blakan jika sedang bicara dengan Ratna.
"Kakakmu mau ngomong, Run. Gimana? Boleh?" tanya Ratna kemudian.
__ADS_1
Mawar tampak mengangguk di tempatnya. Ia penasaran, setalah sekian lama ia dan Amel tak ada komunikasi, kini kakaknya yang telah merebut mantan suami Runi itu, tiba-tiba ingin bicara. Ada apa sebenarnya?
"Halo, kak Amel, apa kabar?" tanya Mawar kemudian. Ia bisa mendengar isakan Amel di seberang sana.
"Baik. Kamu dan Kia apa kabar, dek?" tanya Amel dengan suara sengau.
Mawar terpaku di tempatnya. Matanya mengerjap beberapa kali, sebagai ekspresi bahwa ia kaget. Sejak kapan kakaknya itu memanggilnya dek?
"Aku dan Kia baik. Kak Amel, kenapa nangis?" Tanya Mawar kemudian. Ia paham betul, bahwa sekarang Amel tengah nangis.
"Nggak apa-apa. Boleh nggak, kalau misalnya aku mengunjungi kamu ke Surabaya? Aku, aku mau minta maaf secara langsung sama kamu."
Amel mengatakan yang sejujurnya.
"Boleh, kalau kamu nggak sibuk, kak. Aku sama Kia selalu terbuka menerima siapapun yang mau datang berkunjung. Kak Amel, lagi ada masalah, ya?" tanya Mawar kemudian.
"Ya, aku lagi banyak masalah dan seperti dikejar rasa bersalah. Maaf kalau, kalau aku selalu membuat masalah sama kamu. Aku beneran minta maaf. Atas salahku ke kamu di masa lalu, juga tentang Wiraka, aku beneran menyesalinya. Aku, aku pengen peluk kamu," ungkap Amel kemudian.
"Itu cuman bagian dari masa lalu, kak. Jangan khawatir, seiring berjalannya waktu, aku udah maafin kamu, kok. Hubunganku sama mas Raka juga udah baik, seperti saudara. Dia datang sebulan sekali untuk jenguk anaknya," ujar Runi kemudian.
"Sumpah, Run. Aku ngerasa bersalah banget sama Kia. Gimana caranya aku Nebus dosa aku ke kalian?" Ucap Amel.
"Nggak usah terlalu dipikirkan, kak. Kalau kamu minta maaf, aku udah maafin. Kia juga anak baik, dia nggak ngerti masalah orang tuanya. Kalau kamu beneran ingin menebus kesalahan kamu di masa lalu, kamu harus berubah lebih baik lagi. Jangan nangis lagi, ya?" kata Mawar lagi.
"Aku udah mendapat karmanya. Mas Raka, mas Raka beneran membenciku setengah mati." Suara Amel kembali terisak disana.
"Mungkin, besok aku akan nyusul bapak dan ibu ke Surabaya. Maafin aku ya, Run. Maaf karena aku banyak salah sama kamu."
"Aku udah beneran maafin kamu, kak. Udah, kamu jangan sedih lagi," jawab Mawar.
Hari ini, entah mengapa banyak keberuntungan dan kebaikan menghampiri Mawar. Saat terpuruk, Mawar bahkan merasa semua orang menjauhinya.
Kini, mendengar Amel meminta maaf padanya, hidup Mawar semakin tenang dan damai. Ia tak lagi memiliki sakit hati pada keluarganya. Dengan legowo, Mawar mencoba untuk menerima apapun yang tuhan berikan padanya.
'Terima kasih atas nikmatmu, Tuhan. terima kasih.'
__ADS_1
Bisik hati seruni.
**