
Lelah masih tampak terlihat di mata indah Ratna Puspa, ketika wanita itu dan suaminya baru saja tiba di rumah Rima Gunawan. Wanita itu dan suaminya tengah memenuhi undangan Rima melalui Tian, untuk datang ke rumah Rima pagi ini. Semalam, Tian mengabari Ratna, bahwa pagi ini Rima ingin bertemu dengan dirinya dan suaminya.
Berdebar tentu saja Ratna rasakan. Ia takut, jika Rima meminta sesuatu yang membuatnya harus berpisah dengan Herman. kesalahan Herman memang fatal di masa lalu, tetapi dibalik itu semua, bukankah Herman juga memiliki alasan meninggalkan Gunawan begitu saja?
Sepasang suami istri itu datang, disambut baik oleh sekuriti yang ia temui malam itu, saat dirinya dan Herman diusir dari sana oleh Rima. Meski Ratna tampak gugup dengan hati yang berdebar, namun tidak demikian dengan Herman yang tampak sumringah.
Senyum terus terukir di bibir Herman, lelaki itu senang, akhirnya Rima akan memberinya keputusan, antara memaafkan, atau menempuh jalur hukum. Tak apa dipenjara, asal Herman masih bisa melihat anak dan cucunya nanti. Selain itu, maaf dari Rima begitu membuat Herman tak pernah berhenti mengharapkannya.
"Pagi, pak Herman. Baru datang?" sapa Tian yang baru mendapati Herman, saat Herman baru tiba di teras depan.
"Pagi, Nak. Apa kabar?" sahut Herman kemudian.
"Baik, saya baik, pak. Masuk dulu, pak. Mama baru selesai mandi, mungkin sebentar lagi udah turun," Ujar Tian kemudian. Bungsu Rima itu tersenyum hangat, pada Herman dan Ratna saat ini.
"Nggak apa-apa. Oh ya, ngomong-ngomong, selamat ya, nak Tian, atas suksesnya acara semalam. Semoga usahanya tambah lancar, bisa sukses dan jangan lupa, semoga segera dapat jodoh," Herman tersenyum. Senyum jenaka dan penuh kehangatan.
"Waduh, terima kasih doanya ya, pak? Saya jadi terharu. Mari, Bu Ratna. Silahkan, silahkan duduk," Tian tertawa renyah, menanggapi candaan calon mertuanya itu.
Calon mertua? Sejenak Tian tersenyum geli dengan pemikirannya yang luar biasa halu itu.
'Teima kasih, pak. Semoga saya berjodoh dengan putri bapak sendiri.'
Sahut Tian dalam hati.
"Sepagi ini bapak belum sarapan, kan? Nanti jangan pulang dulu, sarapan bareng saya di sini. Berhubung hari ini hari libur saya kerja, nanti saya ajak keliling kota Surabaya sampai sore," Ucap Tian tiba-tiba.
__ADS_1
Baik Ratna maupun Herman saling pandang, bertanya-tanya kenapa ia harus sarapan disini.
'Memangnya, Bu Rima sudah memaafkan kita?'
Batin keduanya.
"Ada kabar baik," bisik Tian pada sepasang paruh baya di depannya ini, "Mama mulai sadar dan saya yakin, bapak dan ibu pasti dimaafkan," Tambah Tian lagi.
Herman dan Ratna terkejut dibuatnya. Meski tidak mendengar secara langsung dari Rima, namun tak urung kabar itu cukup membuat keduanya bahagia. Semoga saja, ini adalah awal yang baik, agar kedatangan Herman dan Ratna dari ibukota, tidak sia-sia.
"Semoga saja, ya," ucap Herman kemudian.
Kebisuan mendadak menghampiri mereka bertiga, ketika Rima muncul dari tangga. Wajahnya berseri dengan jejak kecantikan muda yang masih tersisa. Pakaian yang dipakainya pun juga tampak sopan dan bersahaja. Sayangnya, dibalik kecantikan yang Rima miliki, wanita itu menyimpan luka yang menyakitkan.
"Pagi pak Herman, pagi Bu Ratna. Silahkan duduk," ucap Rima, membuat Herman dan juga Ratna terkejut.
"Pagi, Bu Rima. Apa kabar? Maaf ... saya sedikit terlambat dari waktu yang Bu Rima minta," Herman berkata dengan pelan. Ia takut, jika Rima mengamuk lagi dan berakhir mengusirnya.
"Baik. Saya baik. Sebelum saya menyampaikan sesuatu pada kalian, adakah sesuatu dari kalian yang ingin kalian sampaikan?" Rima bertanya datar. Ini semakin membuat Herman salah tingkah.
"Ya, tentu saja ada. Saya, saya ingin menyambung tujuan waktu itu datang kemari, yakni meminta maaf atas semua kesalahan saya di masa lalu. Saya mohon, beri saya maaf agar saya tidak lagi dikejar-kejar rasa bersalah seumur hidup," Herman berkata dengan penuh wibawa. Tak hanya itu, laki-laki itu menampakkan raut tulus di wajahnya. Penyesalan yang sejak dulu hinggap di hatinya, kini telah tercurah sudah.
"Saya juga minta maaf atas semua kesalahan saya selama ini," Rima tampak menarik napas panjang-panjang, dan menghembuskannya perlahan. "Saya selalu egois dan tidak sadar diri, jika semua sudah Tuhan tetapkan untuk hidup saya, dan batas usia suami saya," tambah Rima kemudian.
Herman terkejut. Respon yang ia dapat dari Rima, benar-benar jauh dari prasangkanya selama ini. Ia pikir, Rima akan marah-marah lagi untuk melampiaskan kemarahan yang disimpannya bertahun-tahun.
__ADS_1
"Andai saya harus menerima hukumannya, saya siap bila Bu Rima menuntut saya. Akan saya turuti, demi menebus kesalahan saya," ujar Herman kemudian.
Ratna dan Tian hanya menyimak, apa yang dibicarakan dua orang di depannya itu. Mereka seperti teman lama yang baru bertemu, akrab tanpa Tian duga.
"Jangan," Tian mengibaskan kedua tangannya di depan Herman. "Saya tulus dan murni memberi maaf, tanpa berharap apapun sebagai tebusan. Sudah saya pikirkan hal ini masak-masak. Tak hanya itu, bahkan saya juga sudah berkunjung ke makam suami saya, meminta kerelaan mendiang, untuk saya bisa berdamai dengan takdir. Saya juga tidak memilki hati sejahat itu untuk menghukum orang lain, pak Herman. Permintaan maaf pak Herman saja, bagi saya sudah cukup. Saya menerima permintaan maaf bapak," Rima berkata dengan bijak.
Herman tersenyum, begitu juga Ratna.
"Saya sudah memaafkan. Mari kita tutup masa lalu kelam itu, dengan membuka lembaran baru. Saya ingin hati saya tenang tanpa dendam sedikit pun," Imbuh Rima lagi.
"Terima kasih jika begitu, Bu Rima. Sekali lagi, saya minta maaf. Lain waktu jika seandainya saya berkunjung lagi ke tempat Mawar, boleh tidak, kalau saya juga singgah kemari?" Kali ini suara Ratna. Wanita itu seolah mendapat hembusan angin segar setelah suaminya dimaafkan.
"Boleh, silahkan," jawab Rima.
Mereka berempat lantas melanjutkan percakapan pagi itu, dengan sebuah kebahagian karena terbebas dari rasa bersalah, juga terbebas dari dendam. Ada banyak hal yang mereka dapat dari pertemuan ini.
Hingga setelah selesai acara sarapan pagi bersama, ponsel Herman berdering, menampakkan nama Amel disana.
"Siapa, Pak?" Rat a bertanya pelan.
"Amel, Bu. Kayaknya dia sudah sampai di stasiun," jawab Herman.
Mereka lantas pamit, meninggalkan Rima yang menatap penuh kelegaan. Keduanya hanya tak sadar, bahwa ujian hidup yang lain, tengah menunggu Herman dan Ratna melalui Amel.
Hidup memang tak bisa terlepas dari segala macam cobaan dan problem.
__ADS_1
**