Mawar Seruni

Mawar Seruni
Rumah sakit


__ADS_3

"Karna kamu yang memulai masalah ini, mas. Bukan saya. Dan sekarang kamu berkata seolah-olah, saya yang memicu kehancuran rumah tangga kita. Tolong pergi dari kamar ini kalau kamu mau semua tetap baik-baik saja." Seruni mengatakan kalimatnya dengan lantang.


Raka terhenyak.


"Apa maksud kamu, kamu mengusir saya?" Tanya pria itu.


Mawar tidak menjawab. Ia membiarkan Raka begitu saja. Mendapat penolakan dari Mawar, tentu ego seorang Raka tergores dengan sangat mengerikan. Maka, tanpa pikir panjang, Raka segera membalikkan badan Mawar dengan gerakan tiba-tiba.


Mata Raka menatap Mawar lekat. Mawar bukan orang bodoh, tentu saja ia meladeni konfrontasi suaminya, menatap Raka layaknya tikus kecil yang menentang harimau buas.


"Memangnya kenapa kalau saya tidak mau pergi dari sini? Ini kamar kamu, tapi saya selaku suami kamu, saya berhak untuk tetap di sini." Tandas Raka kemudian.


Masih dalam posisi merebah, Mawar semakin gusar dalam hatinya.


"Lakukan apapun yang kamu mau. Selama ini, apa saya memiliki pilihan lain selain bilang iya? Saya menyerahkan hidup dan diri saya pada kamu yang ternyata, orang yang salah. Saya banyak mengalah dan rela tidak menjadi diri saya sendiri, agar kamu tetap berada di sisi saya, rupa-rupanya saya salah besar. Lakukan apapun yang akan kamu lakukan. Saya tidak peduli. Saya akan tetap pada pendirian saya."


Mawar melempar tatapan menantang pada Raka yang kini sudah kehilangan kendali dirinya.


"Baiklah, kalau kamu mengizinkan saya melakukan apapun yang saya mau." Sahut Raka.


Tanpa Mawar duga, Raka segera meraup bibir Mawar saat itu juga. Mencumbu istrinya dengan rakus dan membiarkan Mawar melemah dalam kuasanya.


Sekuat tenaga Mawar meronta dan berusaha melepaskan diri. Sayangnya, tubuh kecilnya kalah kuat dengan Raka, tentunya.


"Mas, hmmmph .... Lep ... paskan .... " Mawar memberontak.


Tak lama, Raka melepas pagutannya dengan nafas yang memburu. Matanya memerah, antara amarah bercampur gairah yang membuncah.


Kurang lebih enam bulan, ia tak pernah menyentuh wanita. Terakhir kali ia melakukannya bersama Amel untuk pertama kalinya mereka melakukan hubungan terlarang itu.


"Layani saya, Mawar." Pinta Raka.


Dengan mengerang penuh nafsu, Raka lantas gelap mata. Ia bahkan tak peduli dengan Mawar yang menggelengkan kepalanya kuat-kuat.


Sesungguhnya Mawar amatlah rindu akan sentuhan suaminya. Tapi tidak.


Seolah rasa merindu itu berganti jijik saat ia mengingat kembali kejadian di hotel.


"Enggak ... Lep ... passin .... "


Dan Mawar tetap meronta, menolak untuk kalah. "Saya akan teriak sekarang juga." Ujarnya.


Seringai nakal terbit dari bibir Raka. Wajah pucatnya berganti merah. Raka seolah tak peduli akan kondisinya yang sedang tidak fit.


"Berteriak lah. Saya kangen kamu, Mawar. Tidak akan ada yang berani masuk karna kamu istri saya." Jawab Raka dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


Raka lengah karna ia menikmati wajah Mawar yang ketakutan. Kesempatan ini tentu saja Mawar gunakan untuk melarikan diri.


Raka kecolongan ketika ia menyadari, Mawar telah lepas darinya. Kemudian ia bangkit dan mengejar istrinya. Ia tidak akan membiarkan Mawar lepas darinya begitu saja.


Namun, tragedi tiba-tiba datang tanpa di minta. Kaki kiri Mawar tergelincir dan tubuhnya oleng seketika. Mata Raka membeliak kaget. Ia tak menyangka, kejadiannya akan secepat ini.


~~


Prang


Bastian Gunawan, merasakan resah di hatinya. Entah apa yang terjadi dengan dirinya, yang jelas, ia tengah merasakan gelisah yang datang secara tiba-tiba. Pikirannya tengah berpusat pada wanita yang beberapa hari ini tak terlihat di matanya.


Jantung Tian berdegup kencang.


Tanpa ragu, Tian segera menyambar ponselnya yang tergeletak di atas nakas.


Dering pertama, tidak di angkat.


Kembali, dering kedua, barulah seseorang mengangkat panggilannya.


"Halo.... siapa ini?"


Suara wanita paruh baya yang terdengar asing di telinga Tian, menyapa.


"Assalamualaikum. Saya Bastian. Tetangga Mawar Seruni di Surabaya. Maaf, apakah saya bisa bicara dengannya?"


Dugaan Tian, wanita itu adalah ibunya Maaar.


"Wa'alaikum salam. Oh maaf, Seruni sedang dalam perjalanan ke rumah sakit." Jawab Ratna kemudian.


Suara di seberang sana semakin panik. Tian pun ikut-ikutan resah di buatnya.


"Apakah Mawar akan melahirkan?" Tanya Tian lagi.


"Sepertinya begitu. Tadi jatuh karena kakinya tergelincir. Sepertinya, pendarahan. Maaf, nanti hubungi lagi ya, nak." Jawab Ratna yang masih panik.


"Oh, iya iya, Bu. Nanti saya hubungi lagi. Semoga Mawar baik-baik saja." Sahut Tian.


"Ya, terima kasih. Assalamualaikum." Ratna lun mengakhiri panggilannya.


"Wa Alaikum salam." Jawab Tian terakhir kali.


Telepon terputus. Tian semakin tidak kuat menahan keresahan dalam hatinya.


Tanpa pikir panjang, Tian segera menghubungi mamanya untuk memberi kabar. Mungkin ibunya itu bisa mencarikan kabar tentang keadaan Mawar di Jakarta.

__ADS_1


Hati Bastian semakin kacau. Pikirannya hanya berpusat pada wanita bertubuh mungil dengan paras ayu, namun pemberani tersebut. Bayangan beberapa hari selalu bertemu bersama Mawar, membuatnya dilanda kerinduan.


Rindu?


Mungkinkah benar itu sebuah rindu?


Ya. Tidak salah lagi. Bastian memang merindukan sosok Mawar. Debaran jantungnya yang liar serta hatinya yang berdegup kencang, seperti seekor ikan tengah terlempar di tepi pantai yang panas.


Mawar Seruni. Tian terus mengeja nama wanita yang mampu membuatnya merasakan kembali jatuh cinta.


"Ya, Tian .... ada apa? Mama mau tidur." Suara lesu Rima terdengar tak nyaman.


"Ma, barusan Tian telepon Mawar, dan yang mengangkat bukan Mawar. Katanya Mawar sedang dalam perjalanan ke rumah sakit."


Jelas Tian pada mamanya dengan suara panik yang tak bisa ia sembunyikan. Rima yang ada di atas ranjang karna telah bersiap untuk tidur, kini bangkit dan melotot secara tiba-tiba.


"Apa? Apa Mawar waktunya melahirkan?" Tanya Rima.


"Sepertinya pendarahan. Begitu katanya." Jawab Tian.


"Astaga, ya sudah .... mama akan berangkat ke rumah sakit, sekarang." Sahut Rima kemudian.


"Hubungi ponsel Mawar dan tanyakan pada siapapun yang mengangkat panggilannya, di rumah sakit mana Mawar dirawat." Tian tamoak sangat khawatir.


"Iya iya. Ya sudah mama mau ganti baju dulu." Timpal Tian.


Panggilan di matikan sepihak oleh Rima. Tian merasa panik luar biasa. Dalam hati ia berbisik, mungkinkah ia harus ke Jakarta sekarang?


Sedang di seberang sana, Rima tengah tergopoh-gopoh mengganti pakaiannya. Setelah baru saja ia menghubungi nomor Mawar, ia telah mendapat informasi dimana Mawar di rawat.


Tidak butuh waktu lama, Rima tiba di rumah sakit tempat dimana Mawar di rawat.


Namun, hal tak terduga terjadi.


Ia harus bertemu dengan sosok yang sangat ia benci setengah mati. Sosok yang menjadi pantangan untuk ia temui di seumur hidupnya. Sosok yang saat ini menatapnya dengan penuh keterkejutan.


Jantung Rima bertalu lebih kencang dari biasanya. Bibir dan lidahnya terasa kaku.


Dengan gemetar, ia mengeja nama seseorang di masa lalu yang telah berhasil memporak porandakan hidupnya.


"He ... Herman?" Suara Rina lirih.


"Rima?" Pun dengan Herman yang tak menduga melihat Rima di rumah sakit ini.


Mereka ....

__ADS_1


~~


__ADS_2