Mawar Seruni

Mawar Seruni
Bertemu kembali


__ADS_3

Bastian tengah duduk di ruang tengah rumah yang ia tempati bersama mendiang istrinya dulu.


Fakta demi fakta yang baru saja tersuguh di depan mata dan tepat di samping telinga, sungguh membuatnya terasa linglung sejenak.


Mawar Seruni......


Adalah anak dari seorang pria yang telah membuatnya tak pernah merasakan kasih sayang dari figur ayah. Dan kini, yang lebih menyakitkan lagi, Ia di paksa harus memutuskan hubungan dengan seorang wanita yang benar-benar mampu menyentuh sisi hatinya yang beku, setelah kepergian mendiang istrinya.


Seminggu ini, Tian tak pernah punya waktu untuk tetap tidur nyenyak. Ia sedang memastikan hatinya saat ini. Dan tentu saja, selama lebih dari seminggu tanpa melihat dan tahu keadaan Mawar, Tian merasa ada yang hilang dari hatinya.


Usai sholat subuh, Tian memutuskan untuk jogging di sekitaran kompleks perumahan yang ia tempati. Turun ke bawah untuk mengambil sesuatu di dalam mobilnya, Tian perlu udara segar untuk memulihkan sesak akibat seminggu tanpa Mawar.


Setelah Tian mengelilingi kompleks dua kali, Ia memutuskan untuk menjenguk Mawar. Satu hal yang perlu Tian lakukan adalah, menghubungi Andri ataupun Mia lebih dulu. Tian hanya tidak mau saja, nanti ia menjadi pihak yang tak di inginkan di sana. Ia juga perlu berbicara sebagai lelaki dengan ayah Mawar, Herman Abdullah.


Mungkin, berbicara dengan Herman, bisa membantu memecahkan kemelut masa lalu antar orang tua yang belum usai. Meski sejujurnya, Tian juga memiliki kebencian terhadap orang yang memiliki andil besar dalam kematian ayahnya, Gunawan.


"Halo, Andri, boleh saya minta tolong?" Sapa Tian membuka percakapan, ketika panggilan di ponsel pintar nya telah terhubung.


"Ya, bang Tian, minta tolong apa? Asal jangan suruh saya ke Surabaya, ya. Hahaha ... kerjaan di sini lagi nggak bisa di tinggalin.


Andri tertawa kecil saat ia kira, Bastian masih ada di Surabaya.


"Saya ada di Jakarta sejak seminggu yang lalu. Ingin jenguk Mawar di rumah sakit, tapi tidak berani. Jadi, bisa tolong antar saya?"


Ujar Tian.


"Bisa bang, tenang saja. Asal jangan saat jam kerja, ya? Oh ya, Mawar udah pulang dari rumah sakit. dan sekarang, dia di rumah orang tuanya." Ungkap Andri memberi tahu.


"Oke, gimana kalau nanti malam?" Tanya Tian kemudian.


"Siip dah bang." Jawab Andri.


"Ya udah, makasih ya." Tian kembali menimpali.


"Oke." Andri menjawab tenang.


Dan akhirnya, Tian menghembuskan nafas lega. Diam-diam tanpa di sadarinya, sudut bibirnya terangkat sempurna ketika membayangkan wajah Mawar yang demikian santun, sambil tersenyum ke arahnya.


"Tunggu saya, Mawar. Saya akan datang untuk kamu."

__ADS_1


~~


Di kediaman orang tua Mawar, Raka tengah menemui Mawar yang kini sedang berada di ruang tamu. Bayi perempuan mereka masih berada di rumah sakit.


Sejujurnya, Mawar tidak bisa lagi mempertahankan rumah tangganya.


Baginya, rumah tangga yang berjalan tanpa di dasari cinta, akan seperti neraka selamanya.


"Seruni, saya minta maaf."


Lirih Raka. Bukannya antusias atau pun memiliki rasa iba, Mawar justru menatap Raka dengan pandangan mata biasa saja.


"Aku udah maafin, mas. Tapi untuk kembali, maaf aku nggak bisa. Setelah masa nifas ku selesai, dan Azkia Ayunindya keluar dari rymah sakit, aku harap mas segera mengurus perceraian kita. Percaya lah, mas. Hidup dengan orang yang tidak kita cintai, akan sangat menyakitkan nantinya. Tapi kalau kamu berusaha dan berjuang untuk bisa hidup dengan kak Amel yang kamu cintai, Itu akan menjadi kebahagiaan yang sangat berharga. Jadi aku mohon, jangan persulit keinginanku untuk pisah sama kamu. Azkia, kamu bisa memeluknya, menjenguknya sesempat kamu. Tapi membawanya dan mengasuh Kia sepenuhnya, aku nggak akan izinkan." Jawab Mawar panjang lebar.


"Tapi .... " Belum sempat Raka melanjutkan kalimatnya, Mawar segera menyela untuk meyakinkan.


"Aku nggak akan pisahkan kamu dari dia. Biar gimanapun, kamu bapaknya. Jadi, aku mohon .... Jangan mempersulit keinginanku kali ini. Toh selama ini kamu banyak mempermainkan aku, kan? Tolong, tolong sekali ini saja, kamu ngertiin aku." Timpal Mawar


Mawar benar. Dirinya memang selama ini sudah cukup mengalah pada Raka.


Dia hanya ingin semua baik-baik saja tanpa ada yang terluka.


Bahkan yang katanya cinta pun, kini banyak mempermainkan banyak hati. Seperti tindakan Raka terhadap Sekar selama ini.


"Saya ingin memperbaiki semuanya, Seruni. Mengapa semua menjadi berantakan begini. Tolong, beri saya kesempatan untuk dekat denganmu. Memperbaiki kesalahan masa lalu, juga beri saya kesempatan ke dua. Demi Kia. Saya akan buktikan kesungguhan saya."


"Maaf, mas. Aku nggak bisa." Mawar masih merasa sakit. "Kamu ngajak aku balik hanya karena ada Kia. Bukan atas dasar cinta.


Senyum getir ter-ulas di bibir Mawar. Hatinya masih di penuhi dengan rasa sakit akibat kalimat Raka yang mengungkap, bahwa Raka menginginkannya hanya karena alasan anak. Tidak lebih.


Di saat bersamaan, Mia datang dengan Andri dan keluar dari dalam mobil.


Entah kenapa, jantung Mawar terasa ingin lompat saat itu. Hanya Mia dan Andri. Tapi kenapa harus segugup ini?


"Hai Mawar .... "


Sapa Mia. Andri lebih memilih diam dan hanya mengangguk pelan ke arah Raka sebagai sikap kesopanan.


"Eh Mi, ayo masuk." Ajak Mawar kemudian.

__ADS_1


"Nggak usah. Gue lagi kangen sama Lo. Ada yang mau gue bicarain, deh. Tapi, ini privasi sifatnya. Ikut ke mobil, yuk." Ajak Mia.


Celoteh Mia tanpa duduk sama sekali. Andri hanya geleng-geleng kepala di buatnya.


"Ngapain? Di dalam kamar gue aja, yuk?" Mawar menolak.


"Nggak, Nggak bisa. Di mobil aja." Mia memaksa Mawar.


"Ya udah. Tunggu bentar." Ujar Sekar.


Saat Mawar masuk, Amel keluar dari kamar dan berniat untuk menyapa Raka yang sedari kemarin tidak bertemu dengannya. Bukan menghindar ... tapi lebih tepatnya karena kesibukan yang membuat Amel terpaksa menahan rindunya terhadap Raka.


"Mas Raka ... sudah dari tadi?"


Belum sempat Raka menjawab, Mia yang memang sangat benci Amel lah yang menimpali kalimat Amel.


"Eh, ya ampyuuuuuun .... Ada bidadari cantik pujaan pak Raka. Hello ... apa kabar mbak Amel....? Gimana sama rencana masa depannya? Udah siap dong ya gantiin Mawar jadi nyonya besar Wiraka Subagio? Meski pun itu dapetnya ngerebut .... "


Amel memandang semua orang dengan pandangan terluka.


Lantas Mawar muncul dan tak peduli, juga tak mau ambil pusing dengan Amel yang kini sudah memandangnya dengan mata berkaca-kaca.


"Ayo, Mi." Ajak Mawar.


Mawar lantas berjalan beriringan dengan Mia. Kening Mawar berkerut ketika Mia memintanya duduk di bangku belakang mobil, sedang Mia mengambil tempat duduk di bangku sebelah kemudi.


Darah Mawar kemudian semakin berdesir hebat ketika matanya, menangkap keberadaan sosok Tian di sampingnya.


Mawar tercekat.


Beberapa hari terakhir, Herman telah banyak menceritakan kejadian naas masa lalu yang menimpa almarhum ayah Tian akibat Herman. Mawar pikir, kini Tian membencinya. Tak masalah bagi Mawar jika memang itu benar terjadi. Mawar ingin hidup tenang tanpa harus melibatkan diri dengan lelaki manapun.


Sayangnya, dugaannya salah.


"B--bang ... bang Tian?" Mawar terhenyak di tempatnya.


"Saya rindu kamu, Mawar." Suara Tian yang dalam, membuat mawar terpana setengah mati.


~~

__ADS_1


~~


__ADS_2