Mawar Seruni

Mawar Seruni
Berbeda


__ADS_3

Sepasang mata tajam Bastian menatap Mawar dan putrinya di depannya. Senyumnya tidak pernah pudar bila melihat kedekatan Anggi dengan Mawar. Bahkan berkali-kali Rima membujuk cucunya, menjanjikan banyak mainan dan pakaian mahal agar Anggi bersedia makan malam ini.


Alih-alih mau makan, Anggi justru tak bersedia dan merajuk. Yang anak itu pinta hanyalah, ia ingin bertemu dengan Mawar dan disuapi janda satu anak itu. Tak ada yang mengerti, bagaimana pola pikir Anggi. Rima sendiri segan, bila meminta Mawar datang hanya untuk menyuapi Anggi.


Tatapan mata Tian mendadak kosong. Pikirannya tengah berkelana pada kejadian setengah jam yang lalu.


"Aku orang tak punya, Bang. Mana aku janda pula. Aku, aku nggak sederajat sama Abang,"


Kalimat Mawar tadi, hendak disahuti oleh Tian. Sayangnya, mawar berjalan cepat untuk menghindari, dan lagi, rumah Tian tiba-tiba saja ada di depan sana. Secepat itu mereka tiba. Tian merutuk dirinya sendiri.


"Tian. Kenapa sih, kamu dari tadi dipanggil nggak dengerin?" Rima menepuk keras bahu putranya itu. AnIta itu tiba-tiba muncul, dengan duduk disamping Tian kemudian.


Bastian melonjak kaget, dan menatap Rima dengan sorot terkejut. "Apa sih, Ma? Biasa deh, kerjanya ngagetin Tian mulu," ucap Tian. Decakan kesal tampak terdengar dari mulut Bastian.


"Bukan ngagetin, kamu yang dipanggil nggak mau dengar. Mama tuh panggil kamu udah sejak tadi, kamu aja yang melamun. Mikirin apa sih? Mawar lagi?" Rima menatap Mawar yang tampak akrab dengan Anggi. Tak heran, keduanya tampak seperti ibu dan anak.


"Maaf, lagi fokus ngelihatin mereka," ujar Tian yang menunjuk Mawar dan Anggi kemudian. "Inginnya Tian nikahi saja Mawar, sayangnya aku ditolak."


Tawa Rima meledak, ketika mendengar kalimat terakhir Tian yang menurutnya terdengar kocak. Hal itu membuat Tian membungkam mulut ibunya, dengan menggunakan telapak tangannya. Beruntung hal itu tidak mengusik Mawar maupun Anggi.


"Ikut Tian, Ma," Tian menarik ibunya ke arah dapur, menyingkir dari sana agar pembicaraannya tidak terdengar oleh Mawar.


"Mama jangan resek, deh, jangan ngomong di depan Mawar," tambah Tian.


"Baru kali ini, sepanjang sejarah, Bastian Gunawan ditolak cewek? Astaga, mana yang nolak janda, lagi. Bisanya, banyak tuh cewek yang ngantri kamu, bahkan kebanyakan dari mereka itu, para gadis," Jawab Rima. Wanita itu meraih toples berisi kue pisang kering, dan melahapnya di depan Tian.

__ADS_1


"Memangnya, apa alasan dia menolak kamu?"


Tian menghembuskan napasnya kasar, "Dia bilang, karena dia miskin, Ma, nggak sederajat sama Tian," jawab Tian. "Tian juga nggak habis pikir, padahal disini tuh banyak wanita miskin yang ngejar-ngejar Tian, berlomba-lomba buat dapatkan hati Tian. Tapi Mawar beda dengan wanita kebanyakan," imbuhnya lagi.


"Coba kamu ngomong sama dia dari hati ke hati. Bilang saja, kamu nggak sedang mencari istri yang kaya ataupun sederajat, melainkan istri yang bisa mengimbangi kamu, menyayangi Anggi, dan ya, intinya dia nggak neko-neko. Mama juga, nggak mencari mantu yang sekelas mama dalam segi finansial, melainkan yang menerima kamu dan keadaan kamu apa adanya," Rima mencoba memberi solusi.


"Udah, Ma. Tapi ya Mawar tetaplah Mawar yang keras kepala dan teguh sama pendiriannya," jawab Tian kemudian. "Justru, ya inilah yang membuat Tian semakin kagum sama dia," tambah Tian kemudian.


"Atau gini aja .... "Rima tak melanjutkan kalimatnya, itu tentu membuat Tian penasaran.


"Gimana, Ma?" Tanya Tian kemudian. Lelaki itu menatap serius ke arah Mama.


"Kamu hamili dia aja, nanti dia pasti mau kamu nikahi," Ucap Rima sebelum berbalik dan berlari meninggalkan Tian.


"Mama, jangan ngasih ide yang menyesatkan Tian, deh," Teriak Tian, sambil meraih dan membawa toples kue pisang kering tadi, ke ruang tengah.


"Bang Tian, ada apa?" Tanya Mawar yang baru saja selesai menyuapi Anggi. Wanita itu menatap Tian penuh tanya.


"Mama ngerjain aku, Mawar. Oh ya, udah selesai, makannya, sayang?" tanya Tian yang menatap Anggi. "Bunda Mawar kan sudah selesai menyuapi Anggi, sekarang Anggi bobo, ya? Bunda Mawar mau pulang dan menidurkan adek Kia," ujar Tian.


"Kenapa harus pulang sih, pa? Bukannya enaknya bunda tinggal disini aja? adek Kia juga bisa kok, tidur sama Anggi di kamar Anggi," pinta Anggi dengan polosnya.


Mawar dan Tian saling pandang, menatap tanpa kata dengan tanya dalam hati, yang sama tanpa mereka sadari.


"Bukan suami istri, gimana bisa tinggal bareng?"

__ADS_1


Batin keduanya.


"Nggak bisa dong, kamu kan tahu sendiri kalau bunda Mawar belum menikah sama Papa," timpal Tian kemudian. "Laki-laki dan perempuan dewasa, tidak diperbolehkan tinggal bersama kalau belum menikah," Tambah Tian kemudian.


Anggi mengangguk saja, menatap Tian dengan sorot yang masih belum paham.


"Kalau begitu, gimana kalau papa sama bunda Mawar menikah saja?" tanya Anggi kemudian.


Mawar mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia tidak paham, mengapa gadis kecil seperti Anggi, harus memiliki keinginan yang sulit ia kabulkan.


"Tanya bunda Mawar, mau tidak, kalau bunda Mawar menikah sama Papa?" Tian semakin berani kali ini. Ia sengaja, untuk memancing Mawar, ingin tahu, apa reaksi Mawar selanjutnya.


Mawar mengerjapkan matanya berkali-kali.


"Bunda, mau ya, kalau jadi bundanya Anggi?" tanya Anggi dengan polosnya. Ia tahu betul, bila Anggi yang meminta, dirinya bisa lemah dan sulit menolak. Tetapi sungguh, untuk keinginan yang satu ini, Mawar tidak bisa memenuhinya.


"Tapi, ini bukan perkara mau atau tidak, sayang. Tapi, ini tentang perbedaan yang membuat bunda Mawar nggak bisa menikah sama Papa Tian," jawab Mawar kemudian.


Perbedaan? Bukankah dirinya dan Tian berbeda jauh, hingga membuatnya tidak pantas mendampingi Tian?


"Perbedaan gimana, bunda? Bukannya orang menikah itu biasanya berbeda? Kayak bunda dan Papa, bukannya laki-laki dan perempuan itu bisa menikah? Kalau laki-laki sama laki-laki, kan nggak bisa, bunda?" tanya Anggi kemudian.


Sumpah demi Tuhan, Mawar dan Tian ingin tertawa saat itu juga.


"Bang, bang Tian aja yang jelasin ke Anggi. Aku nggak ada jawaban untuk itu," Mawar menyerah, disisa tawanya yang sukses membuat perutnya kaku.

__ADS_1


"Kita sama-sama nggak bisa menjelaskan apa-apa ke Anggi, Mawar. Ya sudah, kita menikah besok," jawab Tian kemudian, membuat Mawar membolakan mata.


**


__ADS_2