Mawar Seruni

Mawar Seruni
Bertamu di pagi hari


__ADS_3

Wiraka berjalan cepat menuju ke rumah Herman Abdullah ketika ia mendengar kabar dari Rama, bahwa Herman dan Ratna telah pulang saat ini. Lelaki itu ingin sekali menemui Herman, berbicara dengan mantan mertuanya itu untuk meminta maaf atas semuanya.


Sejujurnya, Raka merasa bersalah atas apa yang menimpa kedua putri Herman, terutama Mawar Seruni. Namun pada Amel, Raka juga merasa tak karuan dibuatnya. Andai saja saat itu Amel tidak mengunci dirinya sendiri di dalam kamar, Raka tak akan merasa bersalah sebesar ini.


Pintu diketuk dari luar, Ratna muncul membuka pintu, dan sedikit terkejut saat melihat Raka muncul sepagi ini datang mengunjungi rumahnya. Dilihatnya Raka yang tampak rapi, dengan menggunakan kemeja abu-abu tua dan celana hitam.


"Nak Raka? Tumben kamu datang? Mau ketemu Bapak?" tanya Ratna sambil sesekali memindai penampilan Raka yang tampak rapi.


"Mau ketemu Bapak, Bu, ya sama Ibu juga, sih. Bapak sudah berangkat kerja?" tanya Raka kemudian. Mata Raka celingukan, tampak melihat keadaan yang terlihat sepi. Sejujurnya, Raka ingin sekali bertemu dengan Amel untuk meminta maaf pada wanita itu. Tentu saja mencari Herman, hanyalah alasan Raka saja.


"Ada, bapak hari ini terakhir ambil cuti, besok baru bisa kerja," jawab Ratna.


"Bisa saya sekarang ketemu Bapak, Bu?" tanya Raka lagi.


"Tentu saja bisa. Ayo masuk. Ibu akan buatkan teh untuk kamu," Ratna membuka pintu lebar-lebar, memberi ruang pada Raka seluas mungkin agar bisa masuk.


"Beberapa hari lalu, Raka kesini bawa makanan untuk Ibu dan Bapak, tapi Amel bilang, Bapak dan Ibu lagi mengunjungi Runi ke Surabaya. Apa, Amel cerita?" tanya Raka kemudian, setelah lelaki itu duduk di sofa ruang tamu. Ada banyak hal yang ingin Raka katakan, terutama tentang Amel dan kejadian tempo hari. Ia masih tak enak hati dan merasa bersalah pada Amel.


"Iya, Amel cerita. Makasih banyak ya, nak. Coba Ibu sama Bapak tau kalau kamu ke Surabaya waktu itu, mungkin bapak mau bareng aja sama kamu dan ibu Subagio. Oh ya, apa kabar Bu Subagio? Apa sehat?" tanya Ratna kemudian. Dada Raka berdetak lebih cepat dari biasanya. Bila Amel bercerita, ada kemungkinan bila Amel menceritakan tentang luka di pelipis kanannya itu.


"Sehat, Bu. Ibu dan Ayah sehat-sehat saja, kok. Oh ya, apa ada yang Amel ceritakan lagi, Bu?" tanya Raka pelan dan hati-hati. Lelaki itu lantas melihat Ratna tersenyum, raut wajahnya pun tampak sendu.

__ADS_1


"Ada, tentang luka di pelipisnya. Memangnya, kenapa kalau Ibu tahu?" tanya Ratna balik. Ratna bisa melihat dengan baik, bahwa saat ini Raka akan membahas tentang Amel.


Raka serasa tersiram air panas seketika. Lelaki itu tidak menyangka, bahwa dirinya benar-benar akan menemukan titik ini. Titik dimana ia seolah dihakimi, sekali pun Ratna tak pernah menghakiminya.


"Raka akan menjelaskan," ucap Raka. Raka hanya mengalami rasa takut, jika nanti Ratna dan juga Herman salah paham atas semua yang terjadi padanya.


"Nggak perlu. Ibu percaya sama Amel, dia nggak pernah berbohong sama ibu. Ibu maklumi, Amel sendiri juga salah, kok. Jadi jangan khawatir, dan jangan berpikir bahwa keluarga disini akan berpikir buruk sama kamu. Yang terpenting sekarang, Amel udah sadar dan mengakui semuanya," tatapan mata Ratna sendu dan berkaca-kaca, sekalipun ia menahan sekuat tenaga, namun tetap saja ia hanyalah seorang ibu dari dua putri yang tersakiti oleh pria yang sama.


"Ibu dan Bapak, marah sama Raka?" tanya Raka kemudian.


"Ibu tanya sama kamu, menurut kamu, bagaimana? Apa untungnya kalau Ibu sama Bapak marah sama kamu? Nggak ada, nak? Kamu juga sudah Ibu anggap sebagai anak," tukas Ratna sebagai jawaban. Jujur saja, hati Ratna merasa perih juga atas semua yang terjadi.


"Bu, Raka mohon, Raka masih mencintai Runi," ucap Raka tiba-tiba. Lelaki itu lantas melanjutkan kalimatnya, dengan berkata," Raka tahu Raka nggak tahu diri, tapi sungguh, Bu, jauh dengan Runi, dibandingkan dengan jauh dari Amel, rasanya lebih tersiksa jauh dari Seruni."


"Lalu, apa untungnya setelah kamu ngomong sama Ibu? Jika beneran kamu kembali sama Runi, bersatu lagi sebagai orang tua Kia, apa itu nggak membunuh Amel secara pelan-pelan?" Ratna menekankan kalimatnya.


"Ibu tahu, Amel salah besar terhadap Seruni dan Kia, tapi ingat, nak, Amel juga anak Ibu, Ibu nggak akan pernah membuat keduanya terluka lagi di masa depan. Ada banyak wanita yang pantas untuk kamu, tapi ibu mohon, jangan Amel dan Runi lagi, ya? Kamu tampan, masih muda, bahkan gadis pun banyak yang suka sama kamu," pinta Ratna.


"Amel mencintai kamu, sangat mencintai kamu, Raka," tambah Ratna kemudian.


"Lalu, di mana Amel sekarang, Bu?" tanya Raka lagi. "Saya mau minta maaf atas ketidaksengajaan tempo hari. Sungguh, Raka melakukannya dengan refleks.

__ADS_1


"Nggak usah minta maaf, Amel udah maafin, kok. Sekarang dia kerja ikut Runi di Surabaya. Jadi jangan khawatir, kamu nggak kan ketemu dia lagi, kecuali kamu nanti mengunjungi Kia," Tambah Ratna kemudian.


"Ibu marah sama saya?" tanya Raka.


"Tadinya ibu mau marah, tapi nggak jadi karena ibu nggak berhak marah. Apapun pilihan kalian, ibu hanya mau bilang, maafkan semua kesalahan Amel yang udah mengusik kamu. Sekarang, dia sedang dalam proses memperbaiki diri," jawab Ratna kemudian.


Sebagai seorang ibu yang mengandung hingga membuat Amel sebesar ini, tentu Ratna marah besar karena putrinya dilukai. Hanya saja, disini posisi putrinya yang bersalah.


"Raka minta maaf yang sebesar-besarnya pada ibu. Raka harap, Raka bisa memperbaiki hubungan dengan Amel, ya setidaknya sebagai saudara. Dengan Runi, pun, sekarang kami sudah seperti saudara," Raka menatap Ratna dengan tenang.


Meski tidak bertemu dan bicara langsung dengan Amel, tetapi Raka bisa bernapas lega sekarang.


"Memang seharusnya begitu. Amel juga sempat cerita, sampai sekarang anak itu belum bisa dapat pengganti yang baik, untuknya dan yang dia cintai. Cintanya untuk kamu terlalu dalam, Raka, sampai dia merendahkan dirinya untuk cinta itu. Ibu pikir, cintanya itu semu, tetapi nyatanya, dia beneran nggak bisa membuang rasa itu," tambah Ratna kemudian.


Dari balik tembok, Herman mendengar perbincangan mantan menantu dan istrinya itu. Lelaki itu bangga, dengan Ratna yang mulai bijak dan memiliki hati yang luas.


"Saya, saya nggak tahu harus bagaimana, Bu. Saya pasrah saja kemana takdir hidup akan membawa saya." Raka menatap Ratna penuh makna.


"Jika, jika nanti Tuhan menakdirkan saya berjodoh dengan Amel, kami pasti bersatu kelak. Toh tuhan memiliki alasan, mengapa Tuhan memberikan sebuah rasa pada makhluknya."


**

__ADS_1


__ADS_2