
Malam telah larut, ketika Tian sayup-sayup mendengar suara sang mama yang tengah menangis. Wanita itu tampak kacau dengan air mata yang berlinang di dalam kamarnya. Entah bagaimana, Tian tidak tahan membiarkan mama terus mendendam.
Entah untuk yang ke berapa kalinya, Tian menghembuskan nafas lelah. Waktu telah memasuki waktu dinihari, namun Ibunya belum juga tidur meski Herman sekeluarga sudah pulang.
Putra bungsu mendiang Gunawan itu lantas membuka pintu, tanpa mengetuknya lebih dulu. Entah mengapa, Tian bukan prihatin atau iba terhadap mamanya, melainkan Tian justru jengkel akan sikap Mama yang kekanak-kanakan.
"Ma, mama kenapa lagi? Udah dong, ma, nangisnya. Ayo kita ke sofa, kita perlu bicara." Tian menuntun Rima ke sofa, mendudukkan ibunya dengan lembut dan penuh kehangatan. Beruntung Rima hanya pasrah, tidak menolak sama sekali.
Bukan tidak paham, Tian sangat paham akan bagaimana luka sang Mama. Sayangnya, sesedih dan semurka apapun Rima terhadap Herman yang sudah jauh-jauh datang untuk meminta maaf, tetap tidak akan membuat papa hidup lagi.
"Ma, Mama udah tenang?" Tian melempar tanya, menatap Rima dengan tatapan lembut. "Tian nggak akan melanjutkan tanya ke Mama, kalau Mama masih belum bisa tenang dan terus nangis, karena itu percuma. Yang ada nanti Mama malah emosi dan kita nggak akan menemukan solusi." Tambah Tian lagi.
Rima menatap putranya penuh luka. Sekuat apapun Rima berusaha untuk menepis semua kesedihan dan bayangan kematian suami diatas pangkuannya, tetap saja Rima tidak mampu. Pembawaan ingin marah dan memaki itu, terus bersarang dalam hatinya.
"Maafin Mama, Tian. Mama terlalu emosi dan Mama nggak bisa mengendalikan diri. Harusnya Mama bisa menahan semua amarah ini. Kejadiannya udah lama, tapi Mama tetap nggak bisa melupakannya." Rima menjawab. Suaranya sesekali masih bergetar, bahunya juga terguncang pelan.
"Jangan khawatir, Mama adalah Mama Tian yang baik dan kuat. Tian yakin, Mama bisa melalui ini semua. Kalau Tian ingin bahas tentang pak Herman Abdullah, apa Mama keberatan?" Tanya Tian kemudian.
Rima menggeleng pelan, menunjukkan kesediannya untuk membahas tentang lelaki yang ia sebut biadab itu.
__ADS_1
"Apa yang mama pikirkan tentang bapaknya Mawar? Apakah menurut Mama, beliau memang nggak pantas mendapat maaf?" Tanya Tian pelan. Meski nadanya pelan, namun cukup membuat Rima tersentuh hatinya.
Sungguh, Tian adalah sosok anak yang sangat berbakti padanya. Bahkan di sepanjang hidup Rima, hanya Tian satu-satunya anaknya yang paling nurut dan tak pernah neko-neko.
"Ma, sekarang begini, Tian nggak akan ngomong banyak-banyak sama Mama tentang mereka. Dengerin Tian tanpa menyela kalimat Tian. Seandainya Mama menjadi istrinya pak Herman, dan Mama datang menemani suami Mama untuk meminta maaf atas kesalahan suami Mama, tapi nggak dapat maaf, gimana perasaan Mama sebagai istri. Oh bukan, ini bukan hanya sebagai istri, tetapi sebagai perempuan." Tian berkata pelan.
"Tapi nggak semudah yang dibayangkan, Tian. Mama .... " Rima tak bisa melanjutkan kalimatnya, saat Tian menyelanya dengan cepat.
"Bastian nggak meminta tanggapan atau pendapat apalagi jawaban dari Mama, Ma. Tian hanya ingin, Mama menanyakan ini pada diri Mama. Tempatkan diri mama pada posisi ibunya Mawar, bagaimana perasaan Mama kemudian?" Tian kembali memberi pengertian. Sejujurnya, Tian tidak tega sama sekali akan semua yang terjadi pada ibunya, namun mau bagaimana lagi? Semua sudah terjadi.
"Mama ngerti, Tian. Mama salah." Rima menjawab. Mata wanita itu basah dan senantiasa mengalirkan air mata.
"Pertama, Mama udah ngusir tamu kita. Kedua, Mama menolak niat baik seseorang yang datang untuk meminta maaf sama kita. Ketiga, Mama menganggap anak mereka, Mawar juga bersalah, padahal kejadiannya, sebelum Mawar terlahir. Ma, andai nanti Mama ketemu sama Mawar, apa mama nggak malu?" Tian bertanya, masih dengan nada suara lembut.
"Kamu begitu ke Mawar, karena kamu mencintainya, Tian. Sudahlah, Mama tau kamu masih nggak bisa lepas dari bayangan dia." Rima masih bertahan, dengan sikap egoisnya.
"Ya, Tian mengakui kalau Tian mencintainya. Tetapi Mama masih bertahan dengan ego Mama yang setinggi langit. Bahkan karena ego Mama itu, Tian bahkan harus merelakan orang yang Tian sayangi. Sebesar itu Tian berkorban demi menjaga perasaan Mama, tapi Mama tetap egois, nggak mau mendengar nasihat Tian." Telak Tian berkata menimpali kata-kata egois ibunya itu.
"Percayalah, Ma, melepaskan seseorang yang sangat kita sayangi, adalah sebuah siksaan yang sangat berat untuk seonggok hati. Tetapi semua ini demi Mama, Tian melakukannya demi Mama. Tian indah ngerti perasaan Mama, menjauhi Mawar karena keinginan Mama. Tetapi apa Mama pernah memikirkan perasaan Tian dan Mawar? Tegakah Mama memisahkan dua orang yang saling mencintai?" Tandas Tian kemudian.
__ADS_1
Rima bungkam, memalingkan wajahnya ke sembarang arah agar tidak mendapati wajah putranya yang menatapnya sendu. Bila boleh sedikit saja Rima akui, Rima memang egois. Hanya saja, Rima benar-benar tidak ingin menjalin hubungan besan dengan orang yang membuat suaminya celaka hingga meninggal.
"Ma, jika seseorang tumbuh dengan memiliki cinta yang luar biasa dahsyat, dan Mama berusaha memisahkannya, karena dia anak Mama, Tian akan menurutinya demi bakti Tian terhadap satu-satunya orang tua yang masih Tian miliki. Hanya saja, untuk pengorbanan Tian yang satu itu, Tian mohon, Ma, buka hati mama untuk memaafkan mereka. Setelahnya, jika memang Mama nggak mau Tian menikahi Mawar, Tian akan terima. Akan Tian korbankan apapun itu demi ketenangan hidup Mama, sekalipun itu cinta dan Mawar." Tian berkata mantap.
Rima mengedipkan matanya beberapa kali, mencerna apa yang baru saja putranya katakan.
"Tian pamit, Tian perlu istirahat. Mama juga harus tidur, jangan banyak pikiran. Besok Tian akan ajak Anggi untuk jalan-jalan." Tian berlalu pergi dari kamar ibunya, meninggalkan Rima yang tercenung sendirian seorang diri.
Semua kalimat putranya terus terngiang, meninggalkan bermacam perasaan yang berkecamuk. Antara benci dan iba, kini tengah menggeluti hari Rima. Sejujurnya, ini memang terasa snaagt menyakitkan. Tetapi tak ada yang salah dari apa yang diucapkan Tian.
'Egoisnya aku. Apa sebaiknya aku memaafkan mereka? Tapi ini terlalu mudah untuk lelaki jahat seperti dia. Bagaimana ini, Tuhan? Hatiku masih sakit sekali.'
Batin Rima kemudian.
Semalaman penuh, Rima tetap tidak bisa tidur, memikirkan apa yang putranya itu katakan. Meski belum bisa memaafkan Herman sepenuhnya, tetapi perasaan marah itu terkikis secara perlahan.
**
Selamat membaca untuk semua readers yang setia. Jangan lupa tetap tinggalkan jejak, ya. Yang udah support, maksud banyak sudah ikuti cerita ini. Semoga sore nanti aku bisa update lagi, ya?
__ADS_1
Terima kasih buat semua.