Mawar Seruni

Mawar Seruni
Memulai hidup baru


__ADS_3

Raka tercenung lama. Ucapan ibunya masih terngiang jelas di telinganya.Kalau dulu, ia akan dengan senang hati bila mendapat celah untuk bisa bersatu dengan Amel.


Tapi tidak untuk saat ini. Bagaimana mungkin, ia harus menikah dengan Amel? Sementara mereka adalah saudara ipar?


Apa kata orang nanti?


Lantas, kemana pemikiran seperti ini sejak kemarin-kemarin?


Wajah Raka menampakkan lebam di beberapa titik. Ayahnya dengan murka menghajarnya tadi. Namun, semua sakit yang di rasakan fisiknya, tidak berarti apapun.


Memejamkan mata sekali lagi, Raka menelisik lebih dalam lagi, tentang perasannya. Yang ada, sekelebat bayangan Seruni yang tengah menangis pilu, terlintas dalam otaknya. Berlari seraya membawa anak mereka dengan membawa derita. Ya Tuhan, laki-laki macam apa Raka? Raka merutuk dirinya sendiri.


Raka tersentak. Hatinya terremas pilu seketika. Saat tangis Seruni terbayang, ia merasakan dadanya seperti sesak akibat di hantam Godam dengan bobot berkilo-kilo. Sakit dan pedih.


Dengan langkah tegap, Raka bergegas menuju mobilnya. Saat ini, ia perlu bertemu dengan mertuanya.


Hingga mobil Raka tiba di kediaman Herman, Raka lantas masuk dan mengucap salam.


Baik Herman, Ratna maupun Amel, mereka tak kalah kacau dengan dirinya.


Ini adalah hari pertama tanpa Seruni. Runi lenyap bak di telan bumi. Jejaknya sama sekali tidak tertinggal. Semua wajah muram bak langit yang di gelayuti awan kelabu. Langit siap hujan kapan saja saat petir menggelegar melintasi cakrawala.


"Bagaimana, Raka? Apa sudah ketemu Seruni nya?" Tanya Ratna tidak sabaran. Wajah wanita paruh baya itu memucat dengan pipinya sedikit tirus.


Dengan pelan, Raka menggeleng.


"Belum Bu. Saya sudah mengecek semua alat transportasi di kota ini. Nggak ada satu pun petunjuk kemana Seruni pergi. Entah pergi kemana." Jawab Raka pelan.


"Ini semua gara-gara kalian."


Pandangan Herman menghunus tajam pada Raka dan Amel bergantian.


"Ma--maafkan Amel, pak." Ucap Amel, masih dengan suara bergetar.


"Maaf saja nggak cukup untuk membuat Seruni kembali. Itupun kalau seruni masih sudi kembali. Biar bagaimana pun, Seruni juga anak ibu. Meskipun ibu seringkali membuatnya menangis dan selama ini, membeda-bedakan kamu dan adikmu.


Ibu, Ibu juga memiliki perasaan sebagai orang tua yang melahirkan Seruni."


Ratna terisak.


Dulu, sedari Seruni kecil, Ratna dan Herman selalu bersikap pilih kasih. Ratna dan Herman menyadari itu. Tapi sekarang sudah terlambat, Seruni sudah pergi entah kemana. Keberadaannya tidak lagi bisa di endus orang-orang sekitarnya.

__ADS_1


Yang tersisa saat ini adalah, penyesalan keluarga dan suami Seruni.


"Saya kesini untuk menyampaikan sesuatu, pak." Ujar Raka dengan mantap.


Raka tiba-tiba mulai menyuarakan tujuannya datang kemari. Ia harus segera mengatakan apa yang isi hatinya katakan.


"Sesuatu apa?" Tanya Herman.


"Maaf, saya ... saya keberatan untuk menikahi Amel. Saya ... saya tidak akan menikahi Amel apapun yang terjadi. Karna saya, saya sangat mencintai Seruni." Ungkap Raka tegas.


Amel memucat. Bibirnya membiru seiring nafasnya yang kian menderu tidak beraturan.


"Apa maksud ka-mu, mas?" Tanya Amel syok.


"Maaf, Amel. Nggak seharusnya saya menikahi kamu karna kamu adalah kakak ipar Saya. Saya khilaf. Saya bersedia di hukum dengan apapun oleh keluarga bapak. Tapi tolong, biarkan saya mencari Runi." Jawab Raka.


Herman dan Ratna memejamkan mata.


Mereka sadar, dalam hal ini, bukan hanya Raka saja yang patut di salahkan, melainkan Amel yang turut andil di dalamnya.


Berbeda dengan Amel, wanita yang baru saja menyandang status janda itu merasa syok luar biasa. Dia pikir, Raka benar-benar mencintainya, nyatanya semua itu hanyalah omong kosong belaka.


Amel berdiri spontan. Rasa sakit menghimpit ulu hatinya yang terasa sesak karna merasa menjadi pihak yang yang kalah.


Belum sempat Amel melanjutkan kalimatnya, sebuah tamparan mendarat tepat di pipi Amel yang mulus.


"Dasar perempuan nggak tau malu kamu, Amel!! Ibu malu udah membesarkan anak se egois kamu!! Kamu merebut suami adik kamu sendiri!" Ratna baru menyesali semuanya.


~~


"Kamu Nawar Seruni?"


Seorang wanita paruh baya yang cukup cantik terawat menyapaku untuk pertama kali. Kemudian pandangan matanya beralih pada Tian yang berdiri di sebelah Seruni sembari menggendong Anggi, putrinya.


"Iya, bi. Saya temannya Andri, dari Jakarta."


Jawab Seruni sopan. Senyum tulus wanita yang bernama Wina ini menyejukkan. Saat di Jakarta, ibu Ratna sendiri bahkan jarang tersenyum seperti itu pada Mawar Seruni.


"Iya, panggil aja Saya bibi Wina. Jangan terlalu formal. Nak Tian ... kok di sini? Kapan tiba dari Jakarta? Ayo masuk." Ajak bibi Wina.


Tian yang memang lelah, akhirnya memilih mengikuti ajakan bibi Wina untuk masuk. Suasana rumahnya memang sepi seperti yang Andri katakan.

__ADS_1


"Baru datang juga, Tante. Kebetulan saya satu kereta dengan Mawar."


"Oh gitu, iya. Namanya unik ya. Mawar Seruni." Ujar bi Wina.


Aku dan Tian lantas duduk di sofa ruang tamu. Kemudian koper mini yang aku bawa dari Jakarta, diseret ke sebuah kamar dekat ruang keluarga.


Kami terlibat perbincangan ringan, hingga Anggi merengek meminta tidur. Saat itu lah Tian pamit untuk pulang ke rumahnya yang tak jauh dari rumah bibi Wina.


"Yah, nanti main kesini ya, yah. Agi mau main Sama bunda Mawar."


Ucap Anggi tiba-tiba. Semua lantas memandang Anggi.


"Iya, nanti kalau ayah nggak capek, ya?"


Gadis kecil itu mengangguk, hingga kemudian berlalu pergi.


Seruni sempat berpikir, andai hubungannya dan suaminya baik-baik saja. Mungkin tahun-tahun berikutnya, Pastilah anaknya akan lengket dengan Raka.


Tapi tidak. Seruni berpikir, Raka sama sekali tak mencintainya. Yang ada di hati Raka hanya Amel. Mengingat nama kakaknya, ingin rasanya Seruni menjerit menyumpahi kakaknya yang melewati batasannya sebagai saudara.


"Ayo, masuk. Kamu pasti kecapekan. Andri bilang, kamu sedang hamil. Kamu nggak boleh stress dan bekerja terlalu keras." Ujar bibi Wina pertama kali, setelah tahun pulang.


Bibi Wina menuntun Seruni menuju kamar yang sudah bibi siapkan untuk wanita itu.


Mawar merasa seperti memiliki ibu yang sesungguhnya. Hangatnya sikap bibi Wina, membuatnya terharu.


"Makasih, bi. mungkin beberapa waktu kedepan, Saya pasti akan merepotkan bibi".


Ucap Mawar Seruni pelan. Membayangkan hidup dengan bergantung pada orang lain meski hanya beberapa waktu, membuat Mawar merasa malu.


"Nggak apa-apa. Ngomong-ngomong, kamu mau ganti nama panggilan jadi Mawar?".


Mawar mengangguk membenarkan.


"Bagus. Oh ya, sepertinya antara kamu sama nak Tian, kalian cocok deh. Tian bukan hanya cakep dan baik aja Loh. Tapi juga mapan. Hanya saja, kabar yang bibi dengar, semua asetnya yang di Jakarta di tinggalkan karna terlalu banyak kenangan bersama almarhum istrinya." Ungkap bi Wina yang semakin melantur.


"Saya masih berstatus istri orang, Bi." Tandas Mawar kemudian.


"Iya, bukan bibi bermaksud macam-macam. Bibi hanya sekedar cerita tentang Tian aja, nggak lebih kok." Ujarnya.


Mawar tersenyum mengerti. Di tempat ini, mawar memulai hidup yang baru.

__ADS_1


~~


__ADS_2