Mawar Seruni

Mawar Seruni
Di Lamar?


__ADS_3

Riuhnya acara pesta ulang tahun perusahaan yang dimiliki oleh Bastian Gunawan, membuat decak kagum Mawar Seruni. Wanita itu juga ikut serta hadir, karena harus mempersiapkan segala konsumsi.


Tak hanya itu, Mawar juga dibuatkan seragam khusus oleh bastian. Sempat Mawar berpikir, bahwa tidak seharusnya dirinya dibuatkan seragam oleh Tian. Jika memang Tian ingin Mawar dan anak buahnya berseragam, dengan senang hati Mawar akan membuat seragam sendiri.


Ketika tiba acara sambutan orang nomor satu di perusahaan, Mawar tercengang di tempatnya. Bagaimana tidak? Bastian naik ke atas podium dengan gagahnya, memberikan sambutan dengan penuh kharisma dan berwibawa.


Mawar terhenyak di tempatnya. Wanita itu seolah terbius, dan menatap Bastian tanpa berkedip sedikitpun. Ada kalanya, Mawar juga merasa syok karena mendapati bahwa Bastian bukan karyawan biasa.


'Di perusahaan tempatku kerja, sedang butuh menu untuk acara .... '


Begitulah kurang lebihnya Tian menyampaikan pada Mawar. Sial. Mawar merasa dibodohi.


"Jadi, Bang Tian itu pemilik perusahaan? Bukan karyawan biasa?" Cicit Seruni,buang hanya di dengar Bibi Wina dan juga Ratna, ibunya.


Ratna dan Wina memandang Mawar secara bersamaan, merasa aneh. "Memangnya, kamu belum tahu? Lah, memang nak Tian yang punya perusahaan. Dulu masih dikelola Jeng Rima saat Tian masih sekolah, dan sekarang Tian yang pegang. Kalau kedua kakaknya, udah punya usaha masing-masing," Wina menjawab pelan, setengah berbisik.


"Aduh, Runi. Ibu jadi semakin minder dan nggak percaya diri kalau ketemu nak Tian nanti," ujar Ratna yang merasa selama ini tertipu. Bukan niat Tian menipu, hanya saja, Ratna salah mengira.


"Aku juga nggak tahu, Bu, kalau selama ini bang Tian itu sekaya itu. Aku pikir, dia cuman karyawan biasa," jawab Mawar menimpali.


Wina terkekeh pelan di tempatnya, merasa lucu dengan tingkah ibu dan anak di depannya ini. "Maaf ya, Bibi nggak pernah cerita," ujar Wina kemudian.


Mawar hanya tersenyum sambil mengangguk, merasa bahwa dirinya kerdil bila dibandingkan dengan Tian. Lalu, ketika Tian dulu sempat menyatakan cintanya, apa Tian sudah mempertimbangkan segala kekurangan Mawar dan keluarganya? Sekali lagi, Mawar mendesah pasrah. Ia hanyalah wanita sederhana.


Hingga kemudian acara telah selesai. Ada beberapa karyawan yang membantu Mawar membagi-bagikan nasi kotak pada masyarakat sekitar, juga kepada anak-anak jalanan yang biasa menghuni gang-gang kumuh.


Di tengah-tengah aktivitas, Mawar melihat Bastian yang begitu tulus ikut serta membagikan makanan yang ia order pada Mawar. Tentunya, itu membuat Mawar kagum pada sosok lelaki itu.

__ADS_1


"Mawar, disana masih ada?" Tian bertanya pada Mawar. Senyum manis Tian tersungging, ketika Mawar tertangkap tengah menatap Tian. Ini sungguh lucu, namun Tian juga berpura-pura tidak memergokinya.


"Masih, Bang ... eh, Pak. Maaf," Mawar gugup dan salah tingkah.


"Bawakan kesini, minta tolong, ya. Disini masih banyak yang belum kebagian," ujar Tian yang hanya sekedar modus.


Saat ini, Tian ingin sekali mendekati Mawar, namun takut di tolak. Itulah sebabnya Tian lebih memilih untuk memanggil Mawar dengan dalih pembagian nasi kotak.


"Iya, bang. Sebentar," jawab Mawar. Netra wanita itu menatap Ratna kemudian. "Bu, bantuin Mawar bawakan ini ke Bang Tian," kata Mawar.


"Ayo, ibu bawakan ini. Kamu bawa itu saja," jawab Ratna.


Kini, Mawar telah tiba di dekat Tian, wanita itu tersenyum selalu, saat membagikan nasi kotak. Sama seperti Tian. Mawar begitu ramah dan membuat semua orang senang padanya.


Alangkah kagetnya Mawar, ketika nama Seruni Catering disebut sebagai penyedia konsumsi dalam acara itu. Ini benar-benar membuat Mawar malu, sekaligus gugup.


Di tempatnya, Tian menggerutu dalam hati, karena ibu Mawar berada di sana. Niatnya ingin berdua saja dengan Mawar, namun ditunggui oleh Ratna. Langkah untuk mendekati Mawar, akhirnya terhalang juga.


"Kamu capek, Mawar?" tanya Tian pada Mawar kemudian. Ia menghampiri Mawar, dan duduk disamping wanita itu.


"Capek itu pasti, Bang. Namanya juga kerja. Tapi capeknya nggak seberapa, kalau dibanding sama pencapaiannya. Terima kasih banyak ya, Bang, udah bantuin kerjaan Mawar. Terima kasih juga, Bang Tian sudah memperkenalkan Seruni Catering ke semua karyawan Abang. Aku, aku baru tahu kalau Bang Tian yang punya perusahaan," ujar Mawar kemudian.


Mawar menunduk, kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain. Entah mengapa, Mawar seperti salah tingkah dan gugup begini.


"Biasa aja, jangan dipikirin. Aku juga nggak ada niat pamer ke kamu. Perusahaan ini juga peninggalan papa. Kedua kakakku nggak ada yang mau ngurus, jadi ya, aku yang gantikan Mama ngurus peninggalan Papa ini," sahut Tian kemudian.


"Oh ya, ngomong-ngomong, Bu Rima kemana?" Tanya Mawar seraya menatap anak buahnya yamg tengah beberes dan semua sisa masakan Mawar.

__ADS_1


"Aku kayak nggak lihat Bu Rima sama sekali."


"Mama lagi liburan, ke rumah kakakku yang pertama. Katanya sih, kangen sama cucunya yang disana. Anggi juga ikut Mama," jawab Tian kemudian.


"Oh, aku baru tahu. Ya udah, bang. Aku kesana dulu, ya?" Pamit Mawar. Sayangnya, ia tak jadi bangkit berdiri, karena Tian mencekal lengannya dengan pelan. tatapan mata Tian lurus menatap mata mawar. Tatapan keduanya pun bersirobok.


"Mawar, duduk bentar. Aku mau ada yang disampaikan ke kamu. Boleh, kan?" Tanya Tian Kemudian.


"Boleh, Bang. Ada apa?" Tanya Mawar kemudian. Wanita itu lantas duduk, menatap Tian dengan perasaan tak karuan. Ketika kulitnya dan kulit Tian bersentuhan, rasanya darah Mawar berdesir tidak karuan. Dada maaar terasa aneh.


Tian tak segera menjawab. Lelaki itu lantas berusaha menghela nafas panjang, dan mengeluarkannya perlahan untuk menetralkan detak jantungnya yang berdebar tak karuan.


"Kalau, kalau misalnya Mama udah memaafkan Pak Herman, dan juga Mama memberikan restunya ke kita, bagaimana menurutmu. Apakah, apakah kamu ... mau nerima lamaran aku?" tanya Tian.


Mawar terhenyak di tempatnya. Wanita itu benar-benar tidak bisa memberi jawaban. Jangankan jawaban, memberi tanggapan saja, rasanya Mawar tidak mampu.


"Abang ngomong apa? Jangan bercanda," tukas Mawar kemudian.


"Aku nggak lagi bercanda, Mawar. Ini aku benar-benar serius. Saya suka dan saya ingin kamu jadi pendamping hidup saya," ucap Tian dengan penuh ketegasannya. Bahkan, lelaki itu tak sadar, jika saat ini tangannya masih memegangi tangan Mawar.


'Apa-apaan ini? Jangan, mas Tian. Aku mohon jangan kayak gini. Aku bingung aku harus jawab apa.'


Mawar bungkam. Tenggorokannya terasa pahit tanpa sadar.


"Aku tahu," Tian melepaskan genggaman tangannya pada Mawar. "Aku tahu betul kalau kamu butuh waktu untuk menjawab. Aku nggak akan meminta jawaban kamu sekarang. Tapi pikirkan lagi, Kia juga butuh kasih sayang ayah, tetali ayahnya tak bisa bertemu dengannya setiap saat. Saya yakin, keyakinan yang begitu besar, bahwa kamu juga bisa menyayangi Anggi setulus seorang ibu kandung. Saya mohon, Mawar. Pikirkan ini lagi," ucap Tian


Tak ada yang bisa Mawar lakukan, selain hanya bungkam dengan tubuh mematung cukup lama.

__ADS_1


Bagaimana maara harus bersikap.


**


__ADS_2