Mawar Seruni

Mawar Seruni
Berubah pikiran


__ADS_3

Seminggu telah berlalu.


Mawar benar-benar sangat kepikiran dengan pertemuan terakhirnya dengan Raka. Bahkan yang lebih membuat Mawar gelisah, seminggu ini suaminya itu bahkan tidak pernah datang lagi padanya, sesuai dengan permintaan Mawar sendiri.


saat itu.


Rindu, tentu rindu itu masih terasa melekat dalam hati Mawar untuk suaminya. Tapi bila mengingat dengan malam mengerikan Raka bersama Amel, Mawar merasa cintanya telah sirna dalam sekejap.


Malam tadi, dengan segala pertimbangan dan banyak risiko yang Mawar pikirkan, dia memutuskan untuk kembali ke Jakarta, menjenguk ayahnya.


Sebagai seorang anak, Mawar memang membenci keluarganya karna telah membeda-bedakan dirinya dan Amel. Tapi bagaimana pun juga, seburuk-buruk nya Herman dan Ratna, mereka tetap orang tua yang sudah menghadirkan dan merawat Mawar sedari kecil.


Membawa sedikit pakaian daster longgar dan long dress hamil, Mawar mengepak pakaiannya. Bibi Wina yang menunggu Mawar dan siap untuk mengantar Mawar ke bandara, menatap Sekar penuh khawatir.


"Kamu nggak keberatan kalau berangkat sendiri, Mawar?" Mawar menggeleng pelan, mengerti akan kekhawatiran wanita paruh baya yang masih sangat cantik ini.


"Mawar akan baik-baik aja, Bi. Bibi nggak perlu khawatir." Jawab Mawar


"Tapi kamu sedang hamil besar. Usia kehamilan yang hampir memasuki delapan bulan sangat rentan bermasalah kalau di paksa untuk perjalanan jauh." Ujar bibi Wina.


"Nggak apa-apa, Bi. Doain aja Mawar akan baik-baik aja, anak mawar juga anak yang kuat." Jawab Mawar lagi menimpali.


"Biar saya temani."


Rima tiba-tiba muncul. Wina sontak terkejut mendengarnya.


Rima Suarti Gunawan.


Pasalnya wanita itu adalah wanita yang sangat cuek dan jarang peduli dengan orang-orang sekitar keluarga Gunawan, terutama tetangga. Tapi entah apa yang mendorong wanita cantik menawan itu, hingga memperlihatkan kepedulian terhadap Mawar yang notabenenya orang baru disana.


"Jeng?" Tanya Wina yang masih terkejut.


"Iya, jangan bingung."


Rima tersenyum kecil, langkahnya begitu anggun menghampiri Mawar yang jemarinya masih terpaut pada tasnya.


"Saya ada urusan ke Jakarta. Jadi daripada saya berangkat sendiri, apa salahnya kalau dia menemani saya?"


"Oh, iya, Tante. Boleh."


Mawar hanya tersenyum. Sejujurnya, dia bingung harus menanggapi bagaimana.


Bepergian berdua hanya dengan ibu dari Sebastian, membuat Mawar dilanda canggung.


~~


~~


Di sebuah gedung perkantoran, Bastian duduk dengan gelisah. Jas yang dikenakannya tadi, kini telah bertengger pada sandaran kursi kebesarannya.


Menghembuskan nafas kasar, Bastian berusaha membawa dirinya agar lebih rileks. Namun nihil.

__ADS_1


Ada gumpalan sesak yang coba ia tahan dalam dadanya.


Rindu.


Tian mengakui bahwa kerinduannya ini sudah menggebu pada seorang wanita yang masih berstatus istri orang. Namun ia menahan diri untuk menghindari Mawar selama ini. Penolakan Mawar saat terakhir bertemu, seakan melemparkan Tian pada suatu kenyataan, bahwa ia tidak bisa memiliki Mawar.


Wanita berpostur mungil itu demikian menggoda di mata Tian. Bukan karena bentuk tubuhnya yang semakin berisi, menggemaskan, dan menggoda, melainkan prinsip dan harga diri wanita itu yang membuat Tian blingsatan setengah mati.


Seperti remaja yang keranjingan cinta, Tian benar-benar tidak bisa berdiam diri lebih lama lagi. Di raihnya kunci mobil dan jas yang tadinya Ia sampirkan ke sandaran kursi.


"Mawar, saya datang."


Gumamnya lirih, kemudian menghilang dari ruangannya. Langkahnya tegap dan luar biasa menggoda kaum hawa. Seperti predator liar yang berjalan anggun hendak menjemput mangsanya.


Tian rindu. Sangat rindu Mawar.


Baru sampai di loby kantornya, Telepon pintarnya berdering lirih. Di raihnya dengan segera dan nama mamanya yang tertera.


Tanpa membuat sang mama menunggu, Tian segera mengangkat panggilannya.


"Iya, ma."


"...."


"Apa? Kenapa harus dadakan?"


"...."


"...."


"Ya udah, Tunggu Tian. Ini Tian meluncur ke sana....".


"...."


"Iya, iya bawel."


Panggilan di matikan sepihak oleh Tian.


Pemilik senyum manis itu kemudian melenggangkan mobilnya menuju pulang. Sungguh, ia beruntung karena ini kesempatannya bertemu dengan Mawar tanpa harus dituduh mendekatinya.


Sungguh ironis.


Baru kali ini Tian di tolak wanita.


Setibanya di rumah, Tian segera membantu Rima beberes keperluan yang akan di bawa mamanya itu ke Jakarta. Ada sesuatu yang mengusik hatinya kala Tian mendengar bahwa kemungkinan Rima akan berada di sana selama dua atau tiga Minggu.


Tak butuh waktu lama, Rima selesai dengan ritual berkemas. Tidak menunda waktu, Tian segera mengantar mamanya menjemput Mawar di rumah bibi Wina. Ada bahagia, sekaligus sedih yang menaungi hati Tian saat ia sampai di depan rumah Wina.


"Jeng, Mawar apa sudah siap?"


Wina segera menghampiri Rima yang baru saja turun dari mobil.

__ADS_1


"Sudah, jeng. Ini barang-barang nya sudah ada di luar. Mawar .... " Panggil Wina.


Mawar muncul ketika Wina memanggilnya dari luar. Sejujurnya, Mawar sudah tahu bila di luar, ada Rima dan Bastian yang telah menunggunya, tapi sengaja Mawar diam sejenak. Mawar sedang berusaha meredam detak jantungnya yang luar biasa menggila. Darahnya dengan kurang ajar berdesir keras seiring suara Tian yang samar-samar, sedang mengobrol dengan mamanya.


"Mawar ... kamu cantik sekali."


Suara Rima nampak menunjukkan ketulusan dan kekaguman. Seteelan sederhana yang Mawar kenakan, nampak pas membaluti tubuhnya yang semakin seksi dengan kehamilannya.


Tak jauh dari Mawar, Tian merutuk sisi tengah tubuhnya yang kurang ajar karna berdiri tegak menantang dan angkuh. Bagaimana bisa hanya melihat tubuh Mawar yang menggoda meski berpakaian tertutup, berhasil menyulut api dalam dirinya.


"Terima kasih, Tante. Anggi apa kabar, Tante?"


Sekar berusaha berbasa-basi.


"Baik. Dia sedang happy dengan kegiatan barunya, belajar renang." Jawab Rima.


"Syukur lah, Tante." Timpal Mawar.


Selanjutnya, Mawar masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku belakang. Tian sama sekali tidak turun dan tidak berusaha memperhatikan gerak gerik Mawar.


Mobil yang mereka kendarai perlahan melaju. Mawar bingung mengapa Tian sedari tadi hanya diam.


"Bang Tian apa kabar?" Tanya Mawar.


"Buruk." Jawab Tian.


Hening. Rima mengerutkan kening menyaksikan kedua orang ini yang tingkanya terasa aneh.


"Kok buruk sih? Perasaan kamu sehat?"


Tanya Rima kemudian. Aneh. Bukannya Tian dari tadi sehat-sehat saja?


"Tian.... kamu sakit?"


"Iya, ma. Sakit hati."


Jawab Tian sekenanya.


"Sakit hati kenapa? Kayak remaja yang baru di putus pacarnya aja".


"Iya, ma. Hatiku sakit karna aku di tolak mentah-mentah sama Mawar." Jawab Tian.


Rima yang duduk di samping kemudi, memukul keras paha putranya yang kurang ajar.


"Kamu kurang ajar, ya. Mama nggak pernah ngajari kamu kayak gitu. Mawar itu masih istri orang." Hardik Rima.


Tian tergelak seketika.


"Cuma bercanda, ma. Iya kan, Mawar?" Sahut Tian.


Mawar diam tak menjawab. Dia tengah sibuk merutuki jantungnya yang tak tau malu karna berdegub kencang. Wanita itu hanya bisa mengulas senyum kaku pada Tian.

__ADS_1


~~


__ADS_2