Mawar Seruni

Mawar Seruni
Seperti kencan.


__ADS_3

Amel tengah duduk berdua dengan Bibi Wina di ruang tengah, sambil memangku Kia yang tengah bermain. Kakak Mawar itu merasa senang saat bersama Kia, meski tubuhnya merasa kelelahan sebab membantu adiknya di rumah makan.


Andai dulu Amel bisa akur dengan Mawar, mungkin tak akan ada yang namanya Amel merebut suami adiknya. Terkadang, untuk menjadi lebih baik, diperlukan penyesalan lebih dulu. Diperlukan kesalahan sebagai pelajaran.


"Amel, kenapa kamu maksa banget tadi, buat Mawar ikut sama nak Tian?" tanya Bibi Wina kemudian. Jika dilihat-lihat, Amel mendukung sekali bila Mawar dekat dengan Tian.


"Nggak apa-apa, sih, Bi. Amel, Amel lihat sepertinya pak Tian itu orang yang baik. Amel harap, ada lelaki yang bisa menerima Mawar dan Kia. Mawar juga berhak bahagia. Apa memangnya yang bisa Amel lakukan, untuk menebus kesalahan Amel ke Mawar selama ini, Bi? Amel ingin memperbaiki semuanya, ya, meski Amel tau kalau itu akan terlihat sulit," ucap Amel. Amel tersenyum, sorot matanya menunjukkan ketulusan.


"Kamu menyayangi adikmu?" tanya Bibi Wina.


"Ya. Tapi apa yang dulu Amel lakukan, memang sebuah kesalahan. Amel khilaf, Bi. Andai Amel bisa membalikkan waktu, Amel ingin menjauh saja dari Raka, Bi," Jawab Amel.


"Nggak apa-apa. Nggak ada manusia yang sempurna tanpa cacat cela dan tanpa dosa. Semua sudah di takar sesuai porsinya. Asal kamu berjanji untuk tidak mengulangi lagi, semua pasti akan baik-baik saja," ujar Bibi Wina.


"Kamu harus pandai-pandai mengambil hikmah dibalik dari kejadian ini. Bibi yakin, dan Bibi percaya banget, kalau kamu anak baik. Ayo, tetap semangat dan jangan lelah untuk berbuat baik. Bibi percaya, kalau kamu kuat dan bisa melewati ini semua," tambah Wina lagi.


"Makasih ya, Bi. Bibi sudah ngerti dan nggak menghakimi Amel. Bibi tahu? Bahkan setelah semua yang terjadi, bahkan Raka sendiri juga menghakimi Amel. Dari sana Amel sadar, bahwa sebuah perselingkuhan, pasti yang disalahkan, adalah pihak orang ketiga sepenuhnya. Andai saat itu Raka nggak terpancing, itu nggak akan terjadi. Tapi ya Amel mengakui, bahwa Amel yang menyulut permasalahan," jelas Amel.


Sulung Herman Abdullah itu mengusap sudut matanya yang berair, namun berusaha menampilkan senyum terbaiknya. Bibi Wina hanya tersenyum penuh iba.

__ADS_1


Bila ingat kejadian setahun yang lalu, Amel ingin menghilang saja saat itu. Betapa tidak tahu malunya dia saat ini.


"Kamu harus kuat, Amel. Nggak ada hidup tanpa ujian, nggak ada hidup tanpa masalah. Kalau semua orang baik, dunia bakal lurus-lurus saja," Bibi Wina menepuk pelan bahu Amel untuk menguatkan.


"Amel ngerti, Bi. Amel harap, Mawar bisa menemukan kebahagiaannya. Amel nggak peduli dengan diri Amel sendiri, yang penting Mawar dulu yang harus menikah dan bahagia, setelah itu, baru Amel akan pikirkan diri Amel sendiri," timpal Amel.


"Kamu hebat, Amel. Meski di luar sana banyak orang yang menghakimi kamu, tapi kamu bisa tetap kokoh dalam berpendirian. Bibi berharap, kamu dan Amel senantiasa akur dan saling bantu kalau salah satu diantara kalian sedang dalam masalah," kata Bibi Wina menasihati.


"Tentu saja, Bi," jawab Amel. Ada sebuah kelegaan yang luar biasa, ketika ada Bibi Wina yang tak menghakiminya, melainkan memberikan wejangan dan dukungannya. Disinilah, semangat hidup Amel kembali menggebu.


**


Sejak berangkat tadi, tak henti-hentinya Mawar menggerutu dan minta pulang. Alasan satu-satunya adalah Kia. Tentu saja Tian akan memulangkan dirinya, setelah Tian puas menikmati momen kebersamaan dengan Mawar


"Bang, aku mau pulang," ucap Mawar entah untuk yang kesekian kalinya. "Aku khawatir sama Kia," tambah Mawar lagi.


"Nanti, Mawar. Nanti aku antar pulang. Sekarang kita makan dulu, yuk?" tanya Tian dengan senyum cerah. Meski keduanya berada diatas motor berdua, namun Tian bisa mendengar dengan jelas apa yang Mawar katakan.


"Tapi, Bang. Aku nggak nak sama Bibi Wina. Kamu tahu sendiri kalau aku disana cuma numpang, mau nekat beli rumah sendiri pun, Bibi Wina malah nggak bolehin," jawab Mawar.

__ADS_1


"Yaudah, besok aku belikan rumah, jangan khawatir," sahut Tian dengan entengnya.


Belum sempat Mawar menyahuti, Tian sudah memarkirkan motor di trotoar dekat sebuah gerobak yang menyajikan makanan pedas. Sejauh ini, Tian cukup paham jika Mawar adalah penyuka makanan pedas.


'Aku tahu, kamu bakalan bungkam kalau disajikan makanan pedas,"


Tian tertawa dalam hati. Pelan tapi lagi, akan Tian pastikan jika Mawar akan nurut padanya.


"Bang, Bang Tian nggak apa-apa, kalau makan pedas? Kok kita berhenti disini?" Mawar bertanya, dengan mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.


Ada beberapa muda-mudi yang hidup bebas dengan bernyanyi, bergitar, dan bercanda sesuka hati mereka. Senyum Mawar merekah, saat melihat mereka yang bahagia dan tertawa lepas.


"Ayo, malam ini kamu, aku bebaskan makan apa aja. Aku pengen makan itu," tunjuk Tian pada sebuah Abang gerobak yang menjual sate.


"Aku juga mau, deh," sahut Mawar. Wanita itu tidak sadar, bahwa sejak tadi ia telah kehilangan mode marahnya pada Tian.


"Siap Nyonya," Tian tertawa lepas, memandang Mawar yang tersipu malu. Terkadang, untuk melihat Mawar terlihat lucu, itu sangat sederhana.


**

__ADS_1


__ADS_2