Mawar Seruni

Mawar Seruni
Sebuah Kunjungan


__ADS_3

Hari berlalu, bulan berganti, dengan tahun yang telah berubah angka. Tanpa terasa, setahun sudah kehidupan Mawar yang kini pindah ke Surabaya memilih untuk menetap disana.


Tak ada yang berubah, semua masih sama. Hanya status Mawar saja yang berubah menjadi janda. Meski begitu, Mawar tak pernah berpikir untuk mencari pengganti Raka. Baginya, berdua dengan Kia, sudah lebih dari cukup untuknya kuat menjalani harinya.


Pasca ketok palu perceraian dirinya dengan Raka, Mawar merasa lega. Hidupnya terasa bebas dengan pindah ke kota lain dan membuka usaha kecil-kecilan disana. Bahkan, penghasilan warungnya juga jauh lebih besar bila dibandingkan dengan gaji bulanan Mia, sahabatnya yang diterima satu bulan sekali.


Azkia juga tumbuh menjadi anak yang pintar dan sehat. Pipi anak itu menggembung, dengan langkah yang mulai lancar. Tak jarang, Mawar sampai lelah dan mengeluh setiap kali anak itu memintanya untuk jalan-jalan di sekitar taman dekat rumah Wina.


Sebuah mobil hitam yang Mawar kenal, tengah melaju ke arahnya. Itu adalah mobil yang biasa Raka gunakan untuk mengunjungi Azkia. Mawar hapal hal itu.


Mawar juga sudah mulai biasa saja, dengan kedatangan Raka yang selalu bersama ibunya. Bahkan hingga kini, Raka tak pernah memberi kabar perihal hubungannya dengan Amel. Tak hanya itu, Raka seringkali meminta rujuk dengan Mawar


"Assalamualaikum, anak papa." Raka segera menyapa Azkia, saat lelaki itu baru turun dari mobil. Tak lupa, ibu Raka pun juga ikut keluar dan menghampiri cucunya itu. Maklum, Ia dan Azkia bisa bertemu, hanya satu bulan sekali.


Mawar yang sedang berada di didepan warungnya, hanya tersenyum kecil. Wanita itu sudah menganggap Raka sebagai temannya, bukan lagi mantan suaminya. Baginya, pernikahan boleh bercerai, tetapi hubungan silaturahmi, Mawar tak ingin putus hubungan begitu saja.


Terlebih, Raka selalu rutin memberikan Kia jatah uang bulanan untuk kebutuhan anak itu. Mawar menyadari satu hal, bahwa Raka lebih mementingkan Kia diatas segala-galanya.

__ADS_1


"Waalaikum salam, mas. Warung udah mau tutup, Kamu apa kabar? Ibu juga ikut?" Tanya Mawar berbasa-basi.


"Baik. Kamu juga apa kabar?" Tanya Raka lagi.


"Aku baik juga kok, Mas. Langsung ke rumah bibi Wina, yuk." Ajak Mawar, usai menjabat tangan Raka dan Ibunya. Wanita itu tersenyum lembut keibuan.


"Boleh. Apa sekalian kamu ikut ke mobil saja?" Tanya Raka. Dilihatnya Mawar yang kini telah banyak berubah. Sejatinya, penyesalan Raka masih ada hingga sekarang.


Semenjak menjanda, dengan memiliki penghasilan dari warung, Mawar berubah lebih cantik dari sebelumnya. Dari pakaiannya pun, Mawar terlihat sangat berkharisma.


"Biarkan ibu yang bawa Kia, Runi. Ibu juga mau jalan kaki sambil gendong Kia. Nggak apa-apa, rumahnya dekat juga, kan?" Ibu Raka mencoba menawarkan diri. Wanita itu sebenarnya ingin sekali dekat dengan cucu satu-satunya. Tetapi apalah daya, jarak jauh yang menjadi penghalang untuk mereka.


"Boleh." Mawar segera menyerahkan Kia, dan membantu tiga orang pekerjanya menutup warung. Saat sore begini, semua menu yang Mawar jual, ludes terjual. Maklum saja, Mawar memang orang yang ramah dalam melayani pembeli, juga masakannya cukup enak.


Setibanya di rumah Wina, rumah masih tampak sepi, pertanda bahwa Wina belum datang dari toko bunganya. Mawar segera mempersilahkan Raka duduk bersama ibunya. Tak hanya itu, Mawar juga membuatkan teh untuk keduanya.


"Runi, kamu ... apa nggak sebaiknya kalau kita rujuk saja? Demi Kia, saya akan berubah dan membenahi semua kesalahan yang saya lakukan di masa lalu. Saya mohon, Runi. Saya mohon pada kamu, agar kamu bersedia menerima saya kembali." Untuk ke sekian kalinya, Raka membujuk Mawar agar bersedia kembali padanya.

__ADS_1


"Maaf, mas." Mawar menggeleng pelan. "Aku memang sudah memaafkan kamu. Kamu juga udah seperti saudara buat aku. Mungkin, memang kita nggak ada jodoh. Kamu bisa mendapatkan wanita lain yang lebih baik dari aku. Aku nggak bisa kalau seandainya, kita kembali. Kalau Kita udah besar, sesekali Kia boleh kok nginep di rumah kamu. Aku nggak mungkin membatasi ataupun menekan Kia untuk sama-sama kamu." Mawar masih memberikan Jawaban yang sama, setiap kali Raka memintanya rujuk.


"Aku lebih nyaman sendiri."


"Lelaki yang namanya Bastian Gunawan, bagaimana?" Tanya Raka. Pasalnya, Raka baru tahu, kalau Bastian adalah anak wanita yang memiliki sakit hati terhadap keluarga Herman Abdullah.


"Dia ... dia ya tetap baik-baik aja. Tetap gitu-gitu aja. Kalau kamu pikir aku menggugat cerai kamu karena Tian, kamu salah. sejatinya, aku cuman nggak mau di duakan, sekalian membuka jalan kamu dan Amel bersatu. Ngomong-ngomong, kenapa kamu sampai sekarang belum juga menikah sama Amel?" Tanya Mawar.


"Aku nggak mencintainya, Runi. Rasaku sama dia, hanya sebatas obsesi." Raka menjawab pelan. Ada sorot terluka yang telah Mawar tangkap dari mata Raka.


"Ya, itu urusan kamu, mas. Aku nggak bisa mencampuri itu lagi. Aku toh hanya memberi saran saja." Ungkap Mawar. "Dulu, kamu nggak mungkin menyatukan tubuh, kalau kamu nggak mencintainya. Aku menyimpulkan sesuai apa yang Aku lihat."


Kalimat Mawar, tentu saja menjadi tamparan keras yang ke sekian kalinya bagi Raka. "Bagaimana kalau sekarang, saya keliru. Saya justru mencintai kamu, dan nggak ingin siapapun menggantikan kamu di hati saya?" Raka mencoba sekali lagi. Pria itu sepertinya tak akan mudah patah semangat.


"Aku percaya tuhan, dengan siapa pun Aku akan menjatuhkan hati nanti, Aku pasti akan menerima. Tetapi sekarang, Aku lebih fokus untuk merawat dan menjaga Kia." Mawar berkata dengan tegas. Maka, tak ada jalan lain lagi bagi Raka untuk bisa membersamai Mawar Seruni.


**

__ADS_1


__ADS_2