Mawar Seruni

Mawar Seruni
Banjir Pesanan


__ADS_3

Pagi ini terasa syahdu bagi Mawar. Wanita itu memasak sedang semangat karena Kia sudah ada yang menjaga. Tak hanya itu, Bapak sudah berubah, menjadi orang yang lebih baik dan pengertian. Mawar beruntung, dirinya bisa mendapatkan kasih sayang dari Bapak yang menurutnya selama ini terasa sulit ia gapai.


Semalam, meski berkali-kali mendapat makian dan hinaan dari ibunya Tian, tetapi itu tidak menyurutkan semangat Herman untuk mendapatkan maaf dari keluarga Gunawan. Mawar salut dengan perubahan Bapak.


Jika boleh sedikit meminta, Mawar tak masalah bila harus dirinya menjanda seumur hidup. Hanya saja, mawar meminta agar orang tuanya selalu seperti ini, bukan orang tua egois seperti di masa lalu.


Selepas kepulangan Raka beberapa waktu lalu, Mawar sedikit tak enak hati pada Raka dan mantan ibu mertuanya itu. Bagaimana tidak? Raka sudah berulang kali di tolak oleh Mawar.


Meski Kebahagiaan dan perasaan Kia yang menjadi alasan utama, namun Mawar enggan untuk mengulang kisah itu lagi. Bagi Mawar, sekali ia menutup sebuah kisah, pantang baginya untuk membukanya kembali.


"Mbak Mawar, pak Tian, tuh." Susi, salah satu pegawai Mawar memberi tahu. Tian datang dengan membawa sebuah catatan dalam kertas. Entah mengapa, tiba-tiba Mawar merasa canggung.


"Iya, sus. Kamu lanjutkan ini, ya, nanti tolong nawar gorengnya ditabur diatas telur." Mawar meminta tolong.


"Siap, mbak." Susi menjawab penuh semangat.


Mawar berjalan menuju ke arah Tian, dengan langkah gesit. Ia perlu melayani pembeli dengan baik dan tak ingin membiarkan Tian menunggu terlalu lama.


"Iya, Bang. Ada yang bis aku bantu?" mawar bertanya pelan, menatap Tian yang tampak semakin memukau di usianya yang semakin matang. Setahun tidak berinteraksi dengan Tian, membuat Mawar sedikit canggung dan gugup. Beruntung, Mawar sudah mengembalikan uang Tian yang sempat Mawar pakai untuk menambah modal warungnya.


Disaat warung tengah ramai begini, mengapa Mawar justru memikirkan tentang Tian? Sialan memang. Mawar memaki dalam hati.


"Saya mau ini, mau tanya ke kamu, kamu melayani pesanan dalam jumlah besar, nggak? Untuk acara kantor." Bastian berkata datar, seolah ia tidak lagi mengejar Mawar seperti setahun lalu.

__ADS_1


Mendapati fakta ini, membuat hati mawar terasa tercubit pelan. Mawar merasa aneh pada dirinya sendiri.


"Melayani sih, Bang, itupun kalau ada. Kan aku memang terima pesanan kayak acara arisan, PKK ibu-ibu komplek, sama acara khitan dan hajatan jumlah kecil." Mawar menjawab ramah layaknya penjual yang tengah bicara dengan pembeli.


"Ini bukan acara rumahan, tetap ini acara kampung. Gimana ya, saya ada acara kantor Sabtu malam, dan konsumsinya, aku mau kamu yang menyediakan. Acaranya sih, sekitar pukul enam sore, dan nanti makan bersama sekitar pukul tujuh lewat agak jam delapan malam gitu. Gimana, sanggup nggak? Soalnya, aku yang dipercaya perusahaan untuk mencari konsumsi." Dusta Tian.


"Memangnya, Bang Tian butuh berapa kotak nasi?" Mawar bertanya untuk memastikan. Jika hanya untuk acara kantor, Mawar yakin ia masih sanggup.


"Seribu lima ratus kotak nasi, dan juga kue sekalian dengan jumlah yang sama. Ini, dadakan. Tapi mau gimana lagi? Bos saya baru ngomong." Ungkap Tian ,masih dengan kembali membohongi Mawar. Memangnya, sejak kapan si Tian memiliki bos? Bukankah selama ini Tian adalah bosnya?


"Apa?" Mawar terhenyak di tempatnya, menatap Tian dengan terkejut.


"Iya, seribu lima ratus kotak." Jawab Tian.


Tak lama setelah itu, keduanya pun duduk di kursi belakang Ruko yang Mawar sewa.


"Jadi gimana? Ada acara apa sih, Bang? Kenapa dadakan juga?Terus kalau aku harus mempersiapkan banyak gitu, ya nggak masalah." Mawar menyahuti.


"Ini, Mawar, saya ada uang muka untuk memesan masakan kamu. Apapun lauknya, yang pasti rasanya harus enak dan cocok untuk lidah Indonesia." Pinta Tian, sambil mengeluarkan sejumlah uang.


"Seribu lima ratus kotak itu, kan banyak, bang. Apa memang karyawan perusahaan bang Tian kerja, sebanyak itu jumlah karyawannya?" Tanya Mawar kemudian.


"Enggak, nggak sebanyak itu. Cuman nanti ada acara berbagi nasi kotak untuk warga sekitar, juga di jalanan dekat kantor. Ini, saya kasih uang muka segini, cukup, kan?" Tian bertanya sambil memberikan sejumlah uang pada Mawar.

__ADS_1


"Iya, bang. Insya Allah cukup kok." Jawab Mawar.


"Oh ya, Dimana si Kia? Kok nggak kelihatan?"Tian bertanya sambil mengedarkan pandangannya.


"Kia sedang sama Bapak dan Ibu di hotel tempat mereka nginep. Maklum, mungkin nenek dan kakeknya kangen karena terlalu lama pisah juga. Lagian juga aku memahami, kok, kalau orang tua itu cenderung memanjakan cucunya, bukan anaknya sendiri." Ungkap Mawar kemudian.


"Oh, kebetulan sekali. Saya juga punya tujuan untuk menemui kedua orang tua kamu. Aku nggak mau mereka terus terjebak dalam rasa bersalah." Tambah Tian kemudian.


"Memangnya, Bu Rima udah memaafkan bapakku, bang?" Mawar bertanya untuk memastikan.


"Saat ini belum, tetapi nanti Mama Lastri memaafkan pak Herman. Saya juga ingin ketemu orang tua kamu, karena ada yang mau saya tanyakan juga. Apa nggak apa-apa?" Tian bertanya pelan.


Ada banyak harapan yang coba Tian tumbuhkan. Beberapa diantaranya, adalah mengharapkan Mawar bisa membuka diri lagi. Entah apapun hasilnya nanti, yang jelas Tian tidak akan pernah menyerah dalam meraih hati Mawar.


"Nggak masalah sih, bang. Kalau orang tuaku, mereka semua baik. Cuman karena saat itu Bapak kepepet juga, jadinya bapak pulang dengan terburu-buru." Inem jadi sasaran.


"Ya udah, beri tahu saja mereka menginap di hotel mana, nanti biar saya yang mendatangi mereka dan ngobrol-ngobrol dikit." Ungkap Tian.


"Saya pamit pulang, Mawar. Nanti malam, boleh kan, kalau saya datang ke sana ke tempat orang tua kamu?"


"Boleh, Bang. Nggak masalah."


**

__ADS_1


__ADS_2