Mawar Seruni

Mawar Seruni
Pertemuan kembali


__ADS_3

Sebuah warung makan di siang hari ini nampak ramai akan pembeli. Dari pemuda-pemuda yang sedang mencari makan siang, hingga para bapak-bapak sopir yang singgah untuk mengisi perut.


Warung makan Mawar cukup ramai pengunjung. Selain makanannya memiliki cita rasa tinggi, warung milik calon seorang ibu ini, di bantu promosi oleh Tian, tanpa sepengetahuan Mawar sendiri tentunya.


"Mawar." Wina, bibi Andri ini memanggil Mawar lirih saat pengunjung satu persatu meninggalkan meja. Siang merambah sore saat suasana warung nampak lengang, karena jam makan siang sudah habis.


"Iya, Bi." Jawab Mawar kemudian.


"Jangan kecapekan, kamu kan sudah di bantu dua orang melayani pembeli, pikirkan juga kesehatan calon anak kamu."


Wina kembali memberikan nasihat untuk yang ke sekian kalinya.


"Iya, bi. Mawar kelewat semangat saat warung rame gini. Dengan kesibukan ini, Sekar bisa mengalihkan pikiran Mawar dari bayangan suami Mawar." Jawab Sekar pelan.


"Kamu masih mencintainya, Mawar?"


Sekar mengangguk pelan sebagai jawaban.


"Tapi, saya akan berusaha menerima kenyataan, Bi. Kalau memang mas Raka dan kak Amel saling mencintai, saya memilih mundur. Nyatanya memang begitu."


Wajah Mawar nampak sendu. Matanya berkaca-kaca, namun sebisa mungkin ia tidak akan menangis lagi kali ini.


"Apa kamu nggak kepikiran untuk .... "


Belum sempat Wina melanjutkan kalimatnya, sebuah suara berat menyapa Mawar dengan nafas tercekat.


"Seruni." Suara khas dan dalam itu, menyapa gendang telinga Mawar.


Mawar mendongak, menatap wajah pria yang sudah lima bulan ini di tinggalkannya. Hatinya demikian rapuh hingga air mata tidak sanggup lagi bertahan.


Tumpah ruah......


Air mata Mawar menganak sungai, membanjiri wajahnya yang memerah akibat kemarahan bercampur kecewa.


Waktu seperti terhenti dan menyisakan keduanya, seolah makhluk apapun di sekitarnya, hanya menjadi latar figuran yang tidak berarti apa-apa. Adegan layaknya rol film yang diperlambat.


Mawar mendadak berdiri dan mundur dua langkah di samping kursi yang tadi di dudukinya.


Sekelebat bayangan ucapan Raka yang mengatakan bahwa ia dan Amel saling mencintai, bak suara dengung ribuan lebah yang berputar di sekitar kepala Mawar.


Sekelebat bayangan adegan panas Amel dan Raka di atas ranjang, kembali berputar seolah jelas di depan mata Mawar.


Hati wanita mana yang tidak sakit?


Hati wanita mana yang tidak terluka?

__ADS_1


Semua kebaikan yang Raka lakukan terhadap Mawar, seolah lenyap akibat pengkhianatan yang ia lakukan.


"Untuk apa mas Raka kesini? Untuk apa? Lebih baik mas Raka pulang. Pergi dari sini."


Usir Mawar dengan nafas memburu. Luka hatinya masih basah.


"Seruni, aku minta ... maaf." Ujar pria itu.


Raka berjalan kian mendekat.


"Kalau saja maaf kamu bisa menyembuhkan luka hati ku, mas. Sayangnya, aku hanya nunggu waktu untuk minta kamu ceraikan aku. Nggak akan lama, dua bulan lagi, kamu bisa bebas menikahi Amel." Tandas Seruni kemudian.


Hati Raka seolah di hantam seketika. Remuk dan hancur. Tidak ada yang lebih menyakitkan dari penolakan yang Mawar lakukan padanya.


Diam-diam Raka berpikir, beginikah rasanya di tolak? Beginikah rasanya hati Mawar Seruni dulu, saat ia menolak untuk mencintainya?


Raka marah pada dirinya sendiri.


Wina sudah tau siapa Raka tanpa bertanya pada Mawar. Sikap mereka sudah menjelaskan segalanya tentang mereka.


"Kamu suami Mawar?" Tanya Wina lembut dan bernada sopan.


"Mari bicarakan ini di rumah saya, Di sini biar pembantu nya Mawar yang bekerja. Ayo Mawar kita pulang dulu"


Suara Tian tiba-tiba muncul dan mengalihkan pandangan semua orang. Suasana kian panas, juga kian membuat kepala Mawar pening.


~~


Di ruang tamu kediaman Winasih, Mawar dan Raka duduk berdua. Hampir tiga puluh menit berlalu, tak satupun dari mereka berniat membuka percakapan lebih dulu.


Baik Mawar maupun Raka, mereka hanyut dalam kebisuan yang panjang.


Raka tak melepaskan pandangan dari Mawar sedetikpun. Ada kerinduan yang begitu nyata berkilat dalam netra mata nya. Sayangnya, rasa bersalahnya membuatnya tidak leluasa menumpahkan kerinduan pada wanita yang tengah mengandung benihnya itu.


Sedang Mawar Seruni, wanita itu memilih diam dan sabar menunggu apa yang hendak Raka ucapkan. Meski nanti tentu akan menyakiti hatinya, Mawar sadar ia tak boleh lemah di hadapan Raka bila tak ingin di tertawakan oleh suaminya itu.


"Bagaimana kabar kamu dan anak kita, Runi?" Raka bersuara, tidak tahan lagi berdiam diri lebih lama.


"Baik." Mawar menjawab singkat.


Raka mendesah lemah menghadapi sosok istrinya yang lebih banyak diam sekarang ini.


"Saya merindukan kamu, Seruni." Ungkap Raka.


"Tapi maaf, mas. Tidak seharusnya mas Raka berkata seperti ini. Pulanglah. Kak Amel menunggumu. Biarkan saya hidup tenang di sini. Setelah anak saya lahir, anda bisa menceraikan saya dan hidup bahagia dengan wanita yang anda cintai." Tandas Mawar kemudian.

__ADS_1


Mawar benar. Meski hatinya terluka, ia harus kuat mengatakannya.


"Saya mau pulang jika hanya kamu mau ikut pulang bersama saya ke Jakarta. Saya mohon, maafkan segala khilaf saya. Mari kita perbaiki semuanya. Saya janji, saya akan berusaha membina rumah tangga bersama kamu hingga tua nanti."


Jemari Raka terulur untuk menggenggam jemari Mawar. Sayangnya, Mawar menepis kasar hingga membuat hati Raka di dera rasa kecewa akibat penolakan istrinya itu.


"Jangan pernah sentuh saya lagi, mas. Saya mohon." Mawar Mengatupkan kedua tangannya di dada. Suaranya sudah bergetar seiring air mata yang menetes.


"Anda tidak mencintai saya. Mana mungkin kita akan menua bersama? Bayangan anda begitu bergairah saat menyentuh kakak saya, cukup menjadi alasan mengapa saya begitu jijik pada anda."


Mawar tidak tahan lagi. Kemarahan yang selama lima bulan ini, ia tahan sekuat tenaga hingga saat ini, sampailah pada puncaknya.


Raka yang mendengar ungkapan Mawar, hatinya seolah tersayat sembilu saat kata Jijik meluncur begitu lancar dari bibir istrinya.


"Ya. Kamu berhak marah. Saya sadar. Saya yang salah. Tapi perlu kamu tau, saya mencarimu dan saya ingin menebus segala dosa saya selama pernikahan kita, Seruni.


Hukum saya, tapi tolong jangan menuntut perceraian. Bagaimana nasib anak kita kalau kita bercerai?"


"Bila istri ada yang berstatus mantan, tapi tidak dengan anak. Anak ini tetap anak anda, saya nggak akan melarang anda menemuinya, karna itu adalah hak anda. Anda bisa menemuinya sesempatnya. Anak saya tetap akan hidup dengan baik-baik saja meski kita berpisah nanti." Janji seruni, untuk dirinya sendiri, dan juga untuk Raka.


"Tolong, tolong jangan ucapkan kata perpisahan lagi, Seruni. Saya nggak sanggup."


Raka bangkit dari duduknya dan bersimpuh di hadapan Seruni.


"Tolong, beri saya hukuman apapun, tapi jangan meminta perpisahan. Saya menyesal, beri saya kesempatan. Saya mohon".


Mereka berdua larut dalam Isak tangis yang begitu pilu menyayat hati. Mawar masih bergelut dengan rasa sakitnya. Antara logika dan nurani lnya, masih bertarung hebat dalam hatinya.


Di ruang lain, Tian tengah berbincang-bincang dengan Wina. Mereka sengaja memberikan privasi pada sepasang suami istri yang tengah di terpa badai dalam rumah tangga.


Hingga suara tangis Sekar terdengar ke telinga mereka, mereka seketika bangkit dan menuju tempat Sekar berbincang dengan suaminya.


"Pulanglah, mas. Saya akan kembali nanti, untuk perceraian kita. Kalau kamu selingkuh dan saling mencintai dengan kakak saya, saya masih bisa memahami. Tapi kalian sudah tidur bersama di depan mata kepalaku sendiri, aku nggak bisa menoleransi kesalahan kamu."


"Seruni ... saya mohon, Runi"


Raka mengiba di hadapan Seruni.


"Kalau anda tidak bisa menjaga hati wanita sebaik Mawar, saya bersedia menggantikan anda dengan senang hati.".


Tian datang dan membuat Raka bangkit.


Hingga......


~~

__ADS_1


__ADS_2