
Raka menempuh perjalanan menuju ke rumahnya, dengan perasaan yang entah. Lelaki itu juga bahkan tak bisa menemui Runi, istrinya, karena wanita itu sudah berangkat ke Surabaya di pagi buta tadi.
Betapa kecewanya ia pada Seruni yang suka kabur, dan membawa Azkia dengan izin dadakan. Tidak bisakah Seruni mengerti dirinya.
Ada rasa marah pada Runi, saat ia mendapati fakta bahwa wanita itu pergi mendadak. Atas kesalahannya, Raka memang sudah minta maaf dan menyesali kekhilafan dan dosanya di masa lalu. Namun rupanya, Mawar Seruni adalah orang yang tak bisa menoleransi perselingkuhan begitu saja.
Sekali lagi, Raka lelah. Ia bingung bagaimana caranya menebus kesalahannya terhadap Seruni dan Azkia.
"Terus, gimana sama rencana kamu selanjutnya, Raka? Apakah mau menyusul ke Surabaya?" Tanya Rama. Lelaki itu juga kasihan pada Raka. Hanya saja, ia tak bisa membantu banyak. "Susul aja, bilang sama Seruni, kalau dia salah udah pergi bawa Kia yang masih bayi, tanpa memberi kesempatan kamu untuk ketemu dulu sama Kia. Biar gimana pun, Kia anak kamu juga, bukan anak Seruni seorang diri."
"Mau apa ke Surabaya? Minta dia balik? Itu nggak mungkin. Dia disana sudah punya laki-laki pengganti saya yang bisa menjamin hidupnya. Saya nggak mau di usir lagi sama dia, Ram. Kamu tahu sendiri, dia kalau marah, jurus andalannya itu adalah mengungkit perselingkuhan saya dan Amel."
Raka menjawab.
"Tapi Azkia juga anak kamu, Raka.
Dia masih bayi. Butuh banget yang namanya kasih sayang seorang ayah. Saranku, bujuk lagi Seruni biar bisa menerima kamu lagi. Demi Kia." Rama tak bosan-bosannya memberi saran.
"Percuma. Saya sudah berulang kali membujuk dia, meminta dia tetap bertahan dan minta dikasih kesempatan satu kali lagi. Tapi tetap saja hasilnya nol. Dia keras kepala, Rama. Dia memang kelihatan baik, tapi juga pendendam." Ujar Raka.
"Repot kalau begitu. Itu artinya istri kamu itu merasa dirinya paling benar. Dia nggak bisa melihat kesungguhan kamu." Rama menggelengkan kepalanya dramatis.
"Entahlah, Ram. Dia juga sedang dekat dengan seseorang yang namanya Tian. Itu loh, Yang saya ceritakan waktu itu." Ungkap Raka. Lelaki itu bahkan menghembuskan nafasnya kasar.
__ADS_1
"Dan saya cemburu melihat kedekatan mereka." Raka menambahkan.
"Terus, gimana sama Amel? apa dia masih ngotot untuk minta kembali lagi sama kamu?" Rama bertanya serius.
Raka tak menjawab, melainkan menepikan mobilnya yang kini tengah berada tepat di depan sebuah kafe. Mungkin, curhat dengan Rama yang bisa mengerti karakter dan hati Raka, bisa membuat hati Raka lega.
"Kita bicara di dalam saja. Ayo." Ajak Raka kemudian. Keduanya lantas memesan minuman dan segera mencari tempat yang paling nyaman untuk mereka. Raka sepertinya perlu berdiskusi untuk memecahkan masalah ini.
"Kamu tadi tanya tentang Amel, kan? Oke saya jawab sekarang." Raka menjeda kalimatnya. Ia perlu menghirup udara sebanyak mungkin, untuk menetralkan jantungnya yang berdegup kencang.
"Saya sudah memutuskan untuk nggak berhubungan sama Amel lagi." Raka mengungkapkan.
"Kenapa? Bukannya kamu dan Amel saling mencintai?" Tanya Rama. "Ini sudah seperti ini, bukannya menjadi jalan yang mulus untuk kalian berdua bisa saling bersatu lagi?"
"Dengan Amel?" Tanya Rama lagi.
"Justru itu. Saya bahkan nggak begitu peduli sama dia. Ini aneh, kan? Meskipun nggak ketemu dia berhari-hari, nggak ada kepikiran apa-apa lagi. Getaran yang dulu pernah ada, sekarang malah hilang tanpa jejak. Saya heran juga sebenarnya." Raka menjelaskan.
"Mungkin dulu kamu cuman sekedar terobsesi sama Amel. Melihat gimana kacaunya kamu saat ditinggal Seruni, saya yakin kamu beneran sayang sama dia. Tapi ini udah repot juga. Istri kamu udah mengajukan gugatan ke pengadilan. juga udah hampir prosesnya sidang. Jadi ya, sulit juga." Rama memberi penjelasan.
"Entahlah." Raka menanggapi.
"Atau, kamu bisa jadikan senjata kedekatan Seruni dengan lelaki yang namanya Tian itu, di persidangan. Siapa tahu nanti ada harapan untuk kalian kembali. Namanya usaha juga, kan?" Rama menyahuti.
__ADS_1
"Akan saya pikirkan. Cuma saat ini, otak saya kayak buntu." Raka memberi penjelasan.
Kini, keduanya sama-sama diam. tak ada yang bisa menebak, akan seperti apa setelah ini yang terjadi di masa depan.
"Kamu harus sabar, Raka .... " Kalimat Raka terhenti, ketika Amel kini datang secara tiba-tiba, dan duduk di kursi tepat di sebelah Raka.
"Kamu tega, mas. Kamu datang ke aku, meminta semuanya, bahkan diri aku. Aku udah kasih, nyatanya kamu cuman manfaatkan aku." Ucap Amel tiba-tiba. "Kamu bilang cinta sama aku, inikah nyatanya? Astaga."
Sulung Herman itu menatap Raka dengan sorot kecewa. Sedang Raka, Raka juga tak kalah kecewanya dengan Amel.
"Kamu yang dari awal mancing duluan, Amel. Andai kamu nggak mengirimkan foto dengan pose vulgar, saya sebagai lelaki normal nggak akan menginginkan kamu. Kamu sendiri yang melemparkan diri ke atas ranjang, dan sekarang kamu berlagak layaknya saya yang merayu kamu. Saya tegaskan sekali lagi ke kamu, saya menyesal karena udah terjerat sama wanita licik seperti kamu." Raka berkata, dengan disertai nada yang dingin.
"Jadi, kamu menyalahkan aku?" Amel bertanya dengan mata berkaca-kaca.
"Menyalahkan? Nyatanya saya juga salah, Amel. Tolong. Hentikan semua ini. Kita sudahi saja. Kamu sudah dewasa. Ada Azkia yang butuh saya. Mari kita sudahi dan berjalan masing-masing saja." Raka berkata dengan suara yang dingin.
"Aku nggak akan pernah berhenti untuk mendapatkan kamu, mas. Kalau dengan cara baik-baik nggak bisa, cara nggak baik pun bisa aku lakukan." Tandas Amel, dengan berlalu pergi.
"Raka, dia ancaman besar untuk kamu. Kamu harus hati-hati sama dia." Rama mengingatkan.
"Saya menyesal jatuh cinta sama wanita seperti dia, Ram." Raka mendesah panjang.
**
__ADS_1