
Langkah Mawar terasa berat saat menapaki jalanan menuju rumahnya.
Sekelebat bayangan masa lalunya yang begitu rumit dan menyesakkan, membuat langkahnya semakin berat kali ini.
Orang tuanya memperlakukannya dengan tidak baik selama ini. Rima saja yang notabenenya bukan ibu kandungnya, memperlakukannya dengan sangat baik. Maka dalam hati Mawar mempertanyakan, apakah Mawar anak kandung mereka?
Mendesah pasrah, Mawar kemudian mempercepat langkahnya. Lima bulan terakhir, ia telah membayangkan pasti akan tiba hari ini. Hari dimana dirinya akan kembali pada keluarga yang tidak mengharapkan kehadirannya sebagai perempuan. Sayangnya, Mawar tidak membayangkan akan secepat ini.
Suasana rumah nampak sepi. Pandangan mata Mawar tertuju pada motor milik Mawar dulu. Ada banyak kenangan yang tersimpan rapi dalam otak Mawar bersama motor itu. Sepertinya, keluarganya merawat barang-barang milik Mawar dengan sangat baik.
Melangkah pelan sembari memegangi perutnya yang buncit, Sekar mengetuk pintu dengan pelan. Ingin rasanya ia lari saja agar tidak bertemu dengan mereka-mereka yang tidak mengharapakan kehadirannya, tapi tak mungkin ia urungkan. Ia ingin masalahnya di sini selesai.
"Seruni."
Ratna yang baru saja membuka pintu, tenggorokannya terasa tercekat saat sosok anaknya yang selama lima bulan terakhir, pergi. Matanya sudah mengalirkan air mata dengan deras.
"Runi pulang, Bu."
Suara Mawar mencicit lirih. Kedengarannya seperti suara bisikan angin.
Maka, gerakan Ratna secara naluriah segera meraih dan memeluk tubuh putrinya yang mungil ini. Membawanya ke dalam pelukan.
"Maafkan ibu, nak. Maafkan ibu dan bapakmu yang nggak mensyukuri nikmat Tuhan karena telah memberikanmu. Maafkan ibu atas segala kesalahan ibu di masa lalu."
Ratna menangis dan meraung sekuatnya. Ia tidak akan peduli pada apapun lagi sekarang, selain kehadiran Runi.
Mawar hanya diam tak menjawab. Sebagai seorang anak, ia juga ikut menangis saat ini. Ada pedih saat teringat waku terakhir kali ia di rumah ini. Saat itu, ia harus hancur karna kedua orang tuanya tidak menghendakinya lahir tersebab ia terlahir sebagai perempuan.
"Ayo, masuk. Bapakmu pasti bahagia putrinya sudah pulang." Ajak Ratna yang melepas pelukannya.
Ratna segera menuntun Mawar untuk masuk ke dalam. Langkah mereka nampak menuju kamar Ratna dan Herman.
Mawar seperti di hantam gelombang siksa saat matanya menatap tubuh bapaknya yang terbaring lemah dengan wajah pucat.
Saat Minggu lalu, ia mengatakan pada Raka bahwa ia enggan pulang menjenguk bapaknya. Hatinya masih tertutup kabut amarah saat itu.
Namun, kabut itu seolah sirna begitu saja dari hati Mawar, ketika melihat bapaknya tidak mampu sekedar untuk duduk sendiri.
"Se ... Seruni."
__ADS_1
Suara Herman bergetar seketika.
"Maafkan Bapak. Bapak .... "
Dan Mawar luluh.
Ia tidak bisa mengabaikan orang tua yang sudah membesarkannya, meski kerap kali Mawar di perlakukan berbeda dengan Amel. Kebenciannya perlahan teekiks oleh kondisi menyedihkan Herman Abdullah.
Mawar hanya bisa mengangguk tanpa bisa berkata-kata. Hatinya di liputi keharuan.
Setelah lama mereka saling bincang, tiba-tiba Mawar teringat dengan barang-barang berharganya di rumah Raka. Ah tapi tidak, Mawar perlu bertemu dulu dengan Mia dan Andri.
Ada beberapa hal yang perlu mereka bahas.
~~
~~
"Gimana kabar kandungan Lo, Mawar? Apa sehat?"
Andri tersenyum hangat. Begitu juga Mia.
Ada benang ikatan persahabatan yang begitu kuat terjalin di antara mereka. Ada kehangatan yang benar-benar murni dan tulus di mata mereka saat menatap Mawar. Kehangatan dan ketulusan uang bahkan tidak Mawar dapatkan dari kedua orang tuanya maupun kakaknya sejak dulu.
"Lo nggak usah sungkan. Sebagai sahabat, gue sama Andri siap berdiri di samping Lo, apapun yang terjadi." Mia menimpali.
Selama ini, tak pernah sekalipun Andri maupun Mia merecoki hidup Mawar. Justru merekalah yang selalu di recoki oleh masalah-masalah keluarga Mawar sendiri.
Terkadang Mawar berpikir, mungkinkah Mawar bukan anak kandung Herman dan Ratna?
"Jadi, gimana rencana Lo selanjutnya?"
Andri kali ini bersuara. Mimik wajahnya berubah serius. Ada kekhawatiran yang jelas nampak di netra matanya yang tajam.
"Gue, gue berpikir, mungkin lima bulan lebih adalah waktu yang cukup buat gue menghukum mas Raka. Dia juga nggak pernah mengusik gue." Jawab Mawar.
"Apa itu artinya Lo mau balikan lagi sama dia? Lo nggak jadi cerai gitu?"
Mia bertanya dengan nada jengkel.
__ADS_1
Sedang Mawar tersenyum kecil akan pertanyaan yang keluar dari sahabatnya itu.
"Lima bulan gue merenungi semua kejadian yang terjadi sama gue. Dan gue rasa, mas Raka pantes gue maafin. Biar gimanapun, mas Raka ayah dari bayi gue. Gue nggak mau anak gue yang jadi korban ke depannya. Gue rasa mas Raka udah berubah dan dia bener-bener sungguh-sungguh, Jadi, gue memutuskan untuk bertahan dan ngasi dia kesempatan ke dua." Ungkap Mawar.
Mawar tersenyum kecil dan menyadari, memaafkan Raka adalah pilihan yang tepat.
Andri pun demikian. Pria yang nampak begitu maskulin itu, semakin menyadari bahwa Mawar adalah wanita baik yang terjebak dalam keluarga dan suami yang kebetulan, tidak punya hati, mungkin.
Berbeda dengan Mia yang merasa gemas sekaligus jengkel. Hatinya seperti tidak ikhlas bila Mawar kembali pada Raka. Kejadian hampir enam bulan yang lalu itu, masih tercetak jelas dalam memorinya.
Sebagai seorang wanita, tentu Mia sadar akan luka yang Mawar alami di hari itu.
"Lo kuat, Runi. Gue dukung apapun keputusan Lo." Andri tersenyum tulus. Berbeda dengan Mia yang menggerutu tidak jelas di sana.
Mawar hanya tidak tau saja, episode-episode yang akan ia lalui, masih begitu panjang.
Ada sesuatu yang cukup mengejutkan dirinya nanti. Ada fakta yang belum ia ketahui tentang masa lalu Amel, sang kakak.
Yang ada dalam otaknya saat ini hanyalah, ia dan Raka harus kembali demi anak.
Dengan hati yang entah mengapa, terasa menggelegak aneh, Mawar mendadak hatinya berdenyut nyeri.
"Makasih. Gue yakin ini jalan terbaik.
Andai mas Raka nggak datang jauh-jauh dari Jakarta-Surabaya buat ngajak gue kembali ke sini, gue nggak akan pernah ngasi dia kesempatan." Ujarnya. "Lima bulan dia kehilangan gue, gue yakin dia udah merasakan siksaannya.
"Lo bisa nggak sih, jadi orang jangan baik-baik amat. Feeling gue mengatakan, kalau pak Raka ngajak Lo kembali bukan karna dia menyesali semuanya, melainkan hanya perasaan semu karna rasa bersalahnya sama Lo. Lo pikirin lagi deh, atau Lo cari tau dulu dan jangan gegabah. Sebagai temen, percaya deh,
gue nggak yakin pak Raka benar-benar mencintai Lo. Dari tatapannya, udah kelihatan." Ungkap Mia.
Baik Mawar maupun Andri, mereka sama-sama melongo mendengar pernyataan Mia.
Ada apa dengan Mia kali ini?
"Apa sih maksud Lo?"
Andri tidak mengerti dengan Mia yang menolak keras keputusan Mawar, meski dengan cara halus.
"Ya, sekedar mengingatkan agar Sekar nggak gegabah ngambil keputusan.
__ADS_1
Intinya lebih jeli lagi lah dalam menilai sesuatu."
~~