Mawar Seruni

Mawar Seruni
Tentang Emosi lain


__ADS_3

Hingga Raka bangkit dengan dada naik turun. Ia murka saat mendapati seorang pria yang cukup gagah, tengah menatap nya tajam. Siapa dia, berani-beraninya berkata begitu?


"Apa maksud anda? Siapa anda berani secara terang-terangan meminta istri orang?" Raka ingin marah dan meledak saat itu juga. Tapi sekuat tenaga ia tahan.


Ia tidak mau mempermalukan Mawar di hadapan semua orang.


Tian Yang mendapat pertanyaan seperti itu dari Raka, hanya tersenyum tipis. Sepertinya, Raka sudah benar-benar digulung emosi.


"Saya Bastian Gunawan. Pria yang sudah menolong istri anda Lima bulan yang lalu, saat istri anda hancur dan tidak tau arah.


Jangan khawatir, saya cukup bisa membedakan mana tindakan bermoral dan yang amoral. Jadi saya tau batasan saya. Tetapi bila anda membuat wanita sepolos Mawar menangis, bukankah itu artinya anda sudah menyia-nyiakan nya?" Ujar Tian kemudian.


"Tau apa anda tentang rumah tangga kami?" Tanya Raka dengan nada sarkas.


"CUKUP!!"


Suara Mawar lantang menggema di seluruh sudut ruangan. Ia tidak habis pikir, mengapa dua pria dewasa ini saling berdebat.


"Saya pusing, biarkan saya istirahat. Tolong jangan membuat keributan di sini"


Mawar bangkit dan berlalu pergi . Ia tak menyangka akan bertemu dengan Raka saat ini. Ini cukup mengejutkan bagi Mawar.


Tian yang memang tidak suka keributan segera bangkit dan berlalu pergi, meninggalkan Raka yang sedang di selimuti kabut amarah.


Tian suka.


Suka karena telah mempermainkan emosi Raka yang saat ini hancur karna penolakan istrinya sendiri.


Wina berdiri dengan tenang, menatap kepergian Bastian keluar dari rumahnya setelah tadi Tian menganggukkan kepala satu kali, sebagai isyarat pamit.


Kemudian Wina menghampiri Raka dan sedikit menenangkan. Selama ini, yang Wina dengar dari Andri, Mia, maupun Mawar sendiri, suami Mawar yang bernama Raka itu telah mengkhianati Mawar. Tapi tidak tau kalau ternyata Mawar sudah memergoki keduanya sudah tidur bersama.


Jadi inilah kesempatan Wina mencari tau tentang semua kejadian mengerikan yang menimpa rumah tangga Mawar. Bukan bermaksud buruk, melainkan untuk membantu mencari jalan keluar bila di ijinkan.


"Duduk lah dulu, nak Raka."


Raka mengangguk dan menurut saja. Ia sudah lelah. Perjalanan Jakarta-Surabaya lumayan cukup membuat tubuhnya letih. Di tambah dengan penolakan yang di lakukan istrinya terhadapnya, membuat Raka semakin merasa hatinya lelah luar biasa.


"Panggil saya, bibi Wina." Ungkap Wina.


"Iya, terima kasih, bi Wina, sudah membantu Istri saya selama di sini." Jawab Raka ramah.


" Ya, nggak masalah. Saya seneng bantu dia.


Jadi, apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangga kalian? Sejujurnya, ini bukan wewenang bibi untuk ikut campur, tapi berhubung Mawar ada di sini dan tinggal bersama bibi, bibi berhak tau apa yang sedang menimpa anak itu." Tanya Wina dengan bijak.

__ADS_1


Raka menghela nafas panjang seraya menetralkan sesak yang tiba-tiba kembali mencengkeram dadanya.


"Saya sudah berselingkuh dengan kakaknya Seruni, Bi." Ungkap Raka.


Wina manggut-manggut paham akan penjelasan Raka.


"Dan kami sudah tidur bersama, tragisnya, Mawar memergoki kami. Saya nggak tau kalau saat itu Mawar sedang mengandung anak saya, dan Saya nggak mencintainya waktu itu karna pernikahan kami, berjalan atas dasar perjodohan." Raka menjelaskan dengan jujur.


Raka mendongak, Tidak sekalipun menahan air matanya yang hendak tumpah.


"Tapi, semenjak Mawar Seruni pergi dari saya, Sebagian hati saya meneriakkan bahwa ada yang hilang dari dalam sini."


Raka menunjuk dadanya sendiri, merasakan sensasi nyeri yang tak tertahankan lagi.


"Ternyata masalah kalian lebih rumit dari yang saya perkirakan." Wina berujar dengan tenang.


"Bapak Seruni sakit keras, bibi. Saya berniat membawanya pulang karna ayahnya merindukan dia. Semenjak dia pergi, ayahnya terpukul dan saya berandil besar dalam kepergiannya. Jadi saya bertekad untuk membawanya pulang. Hanya saja, Mawar Seruni sepertinya sulit untuk diajak pulang." Ungkap Raka, seraya menghapus air matanya.


"Andri dan Mia juga berkata seperti itu. Tapi entah, semoga Seruni bersedia pulang." Ujar Wina, tak tahu lagi harus bagaimana.


Raka mengangguk.


"Apapun keputusannya nanti, saya akan menghargainya, bi. Tapi besar harapan saya untuk bisa kembali bersamanya. Meski kesannya, saya seperti pria yang tidak tahu diri dan tak tahu malu." Ucapnya.


"Lalu, apa ... kamu dan Kakak Mawar ... kenapa kalian tidak menikah saja? Bukankah Mawar mengatakan jika kamu secara terang-terangan, memilihnya di bandingkan Mawar? Bukankah kepergian Mawar membuka jalan untuk kalian bisa bersatu?


Dengar kan bibi Wina, nak Raka.


Mawar tidak akan mau hidup dengan pria yang tidak mencintainya. Kamu ... Perasaan kamu terhadap Mawar, mungkin hanya perasaan semu karna rasa bersalahmu terhadap istrimu dan kandungannya." Ucap Wina, mencoba untuk membuka pola pikir Raka.


Raka terhenyak mendengar penuturan wanita ramping di hadapannya ini. Ia tak bisa berkata apapun lagi, sekarang.


Ah ....


Andai masalahnya tak serumit ini.


"Tapi saya sudah memutuskan hubungan dengan Amel, bibi. Saya hanya ingin Mawar kembali." Jawab Raka kemudian.


"Setelah tahu bahwa Mawar saat ini tengah mengandung?" Tanya Wina, kembali memojokkan dengan cara halus.


Raka diam tidak mampu menjawab. Apa yang bibi Wina katakan, seperti kebenaran baginya. Tapi sungguh, ia sungguh tidak ingin kembali pada Amel yang ia cintai sejak bertahun-tahun lalu.


"Baiklah, kamu butuh waktu untuk berpikir." Ucap Wina kemudian.


"Kalau begitu, saya pamit mau mencari hotel terdekat, bi. Maaf sudah membuat kegaduhan di rumah bibi." Ucap Raka sopan.

__ADS_1


"Ya. Kamu benar. Hari juga sudah mulai malam." Kata Wina.


~~


"Apa yang kamu pikirkan, Tian? Mawar itu masih istri orang, dan kamu nggak boleh mengharapkannya."


Rima tengah menghampiri putranya yang fokus memangku laptop di halaman belakang. Wajah Tian meski menampakkan lelah, namun tidak sedikitpun mengurangi gurat ketampanan duda beranak satu itu.


"Mawar wanita yang baik, ma. Apa yang salah?" Tanya Tian, membuat Rima menepuk dadanya karena tak percaya.


"Tapi dia masih berstatus istri orang, Tian! Andai dia janda, mama nggak akan keberatan." Tukas Rima kemudian.


"Sebentar lagi, ma. Setelah dia melahirkan, statusnya akan berubah jadi janda. Semua hanya menunggu waktu saja." Kata Tian, masih bertahan dengan keras kepalanya.


Rima menggeleng kan kepalanya tidak berdaya. Hatinya seolah menyerah dengan kekeras kepalaan sang putra yang menurun dari mendiang ayahnya.


"Kamu menyukainya, karna kasihan atau karna apa?"


Tian menghentikan aktifitasnya. Menatap mamanya sejenak kemudian menutup laptopnya. Ia kehilangan selera saat mendapatkan pertanyaan sensitif dari sang mama.


"Bukan karna kasihan, ma. Tapi ada emosi lain yang aku punya saat aku dekat dengannya. Dia wanita yang baik, apa mama nggak bisa lihat itu? Anggi saja tahu kalau Mawar itu wanita yang baik." Kata Tian menatap lekat mamanya.


"Ya. Mama tau." Sahut Rima kemudian.


"Dia bukan hanya baik seperti mendiang mamanya Anggi, ma. Tapi Tian rasa, dia bisa mengobati luka hati Anggi dan hati Tian. Dia cukup berharga untuk di sia-sia kan. Dan di sini .... "


Tian menunjuk dadanya sendiri.


"Merasa nyaman saat dekat dengan dia."


Rima tertawa lepas melihat mode serius dari wajah putranya. Ia tidak menyangka hanya butuh waktu tujuh bulan setelah kepergian mendiang menantunya, Tian bisa membuka hatinya kembali.


Benar-benar luar biasa, begitu pikirnya.


"Puber ke berapa kamu?" Tanya Rima dengan nada mencibir.


"Astaga .... Tian serius, ma." Hari ini Tian dibuat kesal oleh mama.


"Ya ya ya ya mama percaya." Sahut Rima di dalam sisa tawanya.


"Jadi, mama bersedia bantu Tian untuk meraih hati Sekar?" Tanya Tian kemudian.


"Asal kamu bahagia, nak. Mama akan dukung kamu sepenuhnya."


~~

__ADS_1


__ADS_2