
Raka lagi-lagi dibuat terkejut oleh sikap Amel yang berbeda dari biasanya. Tidak seperti Amel yang terbiasa merayu dan menggoda Raka, melempar sebuah tatapan menggoda dan memancing gairah. Sulit dipercaya.
Lelaki mantan adik ipar Amel itu menatap Amel sangat tajam, memastikan bahwa Amel bertingkah seperti ini, semata hanyalah karena sebuah kepalsuan. Jika boleh jujur, Raka tentunya sangat senang sekali bila Amel berubah lebih baik. Lama Raka tidak berjumpa dengan Amel, kini melihat Amel berubah, membuat Raka tak percaya.
"Kamu mengusir saya?" Tanya Raka kemudian.
"Ya, tentu aku ngusir kamu. Kamu mau aku menggoda kamu lagi? Merendahkan harga diri dan memaksa kamu tidur bareng, dan berakhir kamu semakin menatapku buruk? Begitu?" Amel tak kalah sengit. Wanita itu menatap tajam Raka dengan menantang.
"Memang kamu begitu, kan? Jangan lupa, Amel. Andai kamu nggak mengirimi saya foto vulgar saat itu, meniduri kamu tentu nggak akan terjadi." Raka berkata datar. Lelaki itu bersedekap, menatap tajam Amel datar.
Amel tersenyum getir di tempatnya. Ia sadar, dirinyalah yang menjadi provokator Raka hingga Raka benar-benar terhanyut dalam nafsu saat itu.
"Ya. Perempuan memang selalu salah. Lelaki berselingkuh, selingkuhannya yang disalahkan. Aku sadar diri, aku memang salah. Salah besar. Tetapi jangan lupa, mas Raka. Perselingkuhan nggak akan terjadi, kalau kamu menjaga pernikahan dan mewarnainya dengan kesetiaan. Aku nggak peduli kalau aku dicap sebagai pelacur atau merebut suami adik aku sendiri. Selebar apapun mulut aku ngomong, nyatanya itu nggak akan pernah bisa buat kamu percaya sama aku." Amel menjawab dengan tegas.
Putri sulung Herman itu mati-matian menahan air matanya yang hendak tumpah ruah. Amel tidak mau berakhir terlihat rapuh di mata Raka, rapuh dan tak sekuat Seruni, adiknya.
"Dari pada kamu mendebat aku dan datang cuman mau bikin gara-gara. Lebih baik kamu pergi dari sini. Aku nggak mau ketemu kamu lagi. Anggap aja aku udah mati. Toh setulus apapun aku dan setia seperti apapun aku untuk menunggu kamu, menyerahkan cintaku ke kamu, nyatanya kamu selalu menganggap aku rendah. Mungkin, wanita yang memiliki kesalahan di masa lalu, memang tidak pantas untuk mendapat cinta dari lelaki manapun." Tambah Amel lagi.
Di tempatnya, Raka menatap tajam Amel. Mata wanita itu sudah berkaca-kaca. Hanya saja Amel menahan diri agar tidak menangis. Raka tahu itu. Benarkah Amel sudah berubah? Rasanya itu sulit dipercaya.
"Daripada kamu datang cuman membuat suasana hatiku hancur, lebih baik kamu keluar dari rumah ini." Ujar Amel. Tak lupa, wanita itu menunjuk ke arah pintu, dengan isyarat dagunya.
"Kalau aku nggak mau?" Tanya Raka yang sengaja memancing Amel. Mencari tahu, sekuat apa Amel menghadapinya.
__ADS_1
"Aku bisa teriak biar tetangga pada datang, dan aku bisa bilang kalau kamu berniat merkosa aku." Tandas Amel. Nada suaranya sudah mulai naik, dengan wajahnya yang mulai memerah.
Air mata yang sejak tadi di tahannya, kini telah tumpah membasahi pipinya. Cukup sudah. Amel tidak bisa sabar lagi.
"Jangan ngaco kamu, Amel. Saya bisa melakukan sesuatu yang jahat ke kamu, kalau kamu nekat melakukan hal itu." Ujar Raka kemudian, sebelum berlalu pergi.
Namun langkah Raka terhenti, tepat di depan pintu, dan berbalik kembali menatap Amel.
"Saya sudah kehilangan Runi dan tanpa sengaja dijauhkan oleh Runi dengan anak saya. Jika karena kamu membuat hidup saya sekacau ini, saya juga bisa membuat kamu lebih menderita, Amel. Jadi saran saya, jangan pernah bermacam-macam kamu sama saya." Tegas Raka, sebelum lelaki itu berlalu pergi sana.
Amel meluruhkan tubuhnya, Berbaring di sofa dengan perasaan tak karuan.
"Andai kamu disini, Runi. Andai kamu tahu kalau mas Raka berubah dan lebih dingin ke aku, kamu pasti tertawa puas seketika, Runi. Aku menyesal udah merusak keluarga kecil kalian. Kutuk aku, hukum aku." Pekik Amel dengan suara tertahan.
**
Di tempat yang berbeda, Mawar tengah berbincang dengan kedua orang tuanya di kamar hotel tempat Herman dan Ratna menginap. Setelah mendapatkan kabar bahwa Tian mengajaknya bertemu dengan membawa serta kedua orang tua Mawar, Mawar tak menunda waktu lagi.
Ada sebuah harapan yang besar yang Mawar miliki, termasuk tentang maaf yang semoga saja bisa Herman dapatkan. Mawar hanya tidak mau, jika nanti orang tuanya terus terjebak dalam penyesalan.
"Kira-kira, nak Tian mau ngomong apa ya, Run? Ibu kok ya kepikiran. Perasaan ibu kayak gimana gitu, nggak bisa tenang." Ungkap Ratna kemudian.
"Positif thinking saja, Bu. Semoga aja bang Tian benar-benar bawa kabar baik buat kita. Dia orang yang baik kok." Mawar menjawab untuk menenangkan, meski sejujurnya ia sendirian sudah sangat deg-degan tak karuan.
__ADS_1
"Bapak perhatikan, Nak Tian itu kayak suka banget sama kamu. Bapak bisa merasakan, ada perasaan terpendam yang coba dia redam. Tatapan matanya itu loh, yang terlihat jelas." Ujar Herman kemudian.
Mawar tampak bungkam, berpikir bahwa memang itu sangatlah benar. Hanya saja, Mawar tidak ingin memperkeruh situasi.
"Dia memang pernah mengatakan perasaannya ke Mawar, pak. Dan udah terjadi sejak menjelang kelahiran Kia. Cuman ya, Runi nggak mau memperkeruh suasana. Jadi Runi memilih untuk menolaknya." Jawab Mawar kemudian.
"Kalau kamu sendiri, gimana? Kamu merasa suka dan nyaman sama dia?" Kali ini Ratna yang bersuara. Mereka bertiga hanya tak sadar, bahwa Tian kini sudah berada dibalik dinding, dan pintu terbuka sedikit.
"Mawar juga sebenarnya, ya suka sama dia. Tapi kembali lagi, Runi sadar diri, darimana Runi berasal. Lagian juga Bu Rima menentang keras hubungan Runi sama bang Tian. Nggak ada alasan yang pantas untuk Runi menerima dia. Lagian juga, mungkin nggak terlibat hubungan dengan lelaki Manapun, itu jauh lebih baik." Mawar menjawab dengan sesekali, suara tawa terdengar. Kia juga sesekali mengoceh tak jelas, berada tak jauh dari Ratna dengan Ratna yang menjaganya.
"Ya udah. Seiring berjalannya waktu, rasa suka itu pasti akan memudar dengan sendirinya. Jangan khawatir. Tuhan nggak tidur. Semoga saja Tian dapat jodoh yang lebih baik dari kamu, dan kamu bisa menemukan lelaki yang tepat dan bisa membimbing kamu ke surganya Allah." Ujar Herman menenangkan.
"Ya. Kalau aku dan Bang Tian nggak berjodoh, semoga diberikan yang terbaik untuk kami berdua." Mawar tersenyum.
"Maafkan Bapak, ya? Bapak terlalu egois sejak dulu, memaksakan kehendak Bapak." Herman menatap sendu putrinya.
"Iya, pak. Semua udah berlalu juga." Ujar Mawar kemudian. Mawar yaki,n ada rencana besar yang tuhan siapkan untuk dirinya. Mawar yakin itu. Hanya tinggal menunggu waktu, kebahagiaan pasti akan datang pada dirinya.
Di luar, Tian tersenyum mendengar pengakuan Runi yang menyatakan bahwa ia juga memiliki perasaan yang sama dengan Bastian. Lelaki itu kemudian memutuskan untuk mengetuk pintu, dan menemui Herman untuk menyelesaikan masalah antar orang tuanya dan juga Herman.
Disinilah, sebuah harapan dan keyakinan muncul bersamaan. Tak ada yang mustahil, jika jodoh dan takdir sudah ditentukan.
**
__ADS_1