
Suasana kediaman Rima Gunawan tampak sepi malam ini. Beberapa sekuriti berjaga di depan, dengan masing-masing tengah menikmati kopi untuk bekal berjaga. Seperti biasa, ada papan catur yang biasa mereka gunakan untuk mengusir kejenuhan.
Dari kejauhan, terlihat Mawar dan juga kedua orang tuanya yang tengah mendekat. Tentu saja dua orang sekuriti rumah Rima, mengenal sosok Mawar, meski mereka tidak mengenal kedua orang tua Mawar.
"Bu Rima ada, pak?" Tanya Mawar kemudian. "Ini Bapak dan Ibu saya mau bertemu." Mawar menambhakan. Dirinya bisa melihat, bingungnya dua sekuriti yang tengah berjaga itu.
"Ada, mbak. Baru saja datang dari arisan. Mari masuk dulu, Biar saya panggilkan beliau." Sekuriti menjawab dengan ramah.
Mawar dan kedua orang tuanya pun masuk, dengan hati yang berdenyut tak karuan. Beruntungnya mereka bisa mengendalikan diri dengan baik. Tatapan Mawar mengedar di sekeliling. Baru kali ia datang mengunjungi rumah Tian yang mewah. Rumah yang paling menonjol diantara rumah-rumah lainnya.
Rumah yang begitu mewah, sangat menjulang tinggi dan megah. Herman sempat berpikir, mungkin ia akan diusir begitu saja sebentar lagi. Tak hanya itu, mungkin juga setelah ini ia akan dimaki, dan dipermalukan di depan para tetangga elit Rima.
"Silahkan duduk dulu, Mbak Mawar. Bu Rima sudah mau kesini." Kata salah satu sekuriti yang mengantar.
"Terima kasih, pak." Jawab Mawar.
Hingga kemudian situasi terasa mencekam, saat Rima datang, dengan tatapan matanya yang tajam siap menghunus siapapun saat itu. Mama Bastian itu berjalan cepat, menghampiri seseorang yang menjadi penyebab dirinya harus kehilangan suaminya. Siapa yang tak pedih? Hati Rima seperti diremas seketika.
"Kamu? Ngapain kamu menampakkan wajah kamu didepan saya lagi? Pergi. Pergi sejauh mungkin seperti berpuluh tahun lalu kamu meninggalkan suami saya sekarat." Rima berteriak lantang. Darahnya seolah mendidih seketika.
__ADS_1
"Bu Rima. Saya datang baik-baik kemari semata ingin bicara baik-baik, meminta maaf atas kejadian yang tragis di masa lalu. Tolong, mari kita bicara." Herman berdiri, mencoba untuk bernegosiasi dengan keadaan.
Kali ini, Herman benar-benar bertaruh. Lelaki itu sadar akan risiko dan konsekuensinya. Ayah Mawar itu siap andai Rima memintanya untuk dipenjara. Asalkan, ia bisa mendapatkan maaf dari Rima, dan terbebas dari belenggu rasa bersalah.
"Jangan harap. Kalau maaf kamu bisa mengembalikan suami saya hidup, kamu akan mendapatkannya." Rima menjawab lantang.
Di lantai atas, Bastian yang tengah sibuk mengoreksi berkas-berkas pekerjaannya, merasa terganggu dan dibuat bertanya-tanya, ada apa? Maka, lelaki itu lantas bangkit dan segera turun ke bawah.
Benar saja, Rima tengah murka dan berhadapan dengan keluarga Mawar. Sontak saja Bastian segera turun, dan tak ingin semua tetangga mendengar teriakan mamanya, yang bisa menembus hingga tujuh kabupaten. Menyeramkan.
"Bu, saya minta maaf. Mari bicara baik-baik." Herman kembali bersuara. Ratna dan Mawar mencoba untuk mengendalikan diri untuk tak ikut bicara. Beruntung, Kia bersama Wina dan anak itu anteng.
"Pergi saja dari sini. Membiarkan kamu bebas, dan juga tidak memenjarakan kamu, adalah sebuah keajaiban. Jadi jangan mencoba untuk bernegosiasi. Andai saya nggak memiliki nurani, tak memandang dua anak kamu yang masih kecil-kecil saat itu, maka saat itu juga, akan saya buat kamu menemani suamiku dibawah tanah." Rima mengeluarkan air mata, dengan matanya yang tetap berkilat penuh amarah.
"Kenapa ribut-ribut?"
"Panggil sekuriti tadi, Tian. Mama nggak mau melihat mereka ada disini. Usir mereka!" Rima menunjuk Herman, masih dengan mata yang berkilat penuh amarah.
"Ma, mereka datang jauh-jauh kemari. Sebagai tamu, mama bilang Tian harus menghormati, terlebih dengan yang lebih tua, bukan begitu, ma?" Tian mencoba untuk mendinginkan suasana. Ia hanya tidak mau saja, bila nanti mamanya semakin kehilangan kendali dirinya.
__ADS_1
"Jangan pernah mencari pembenaran atas perbuatan kejinya di masa lalu, Tian. Kamu bahkan nggak pernah bisa melihat papamu meraihmu ke dalam gendongannya." Rima ganti menatap tajam Tian.
"Mama tenangin diri dulu, oke? Tian yang akan bicara pada Mawar dan keluarganya." Ujar Tian kemudian. "Nggak sopan kalau kita mengusir tamu yang sudah datang dari jauh, ma. Terlebih mereka datang untuk meminta maaf." Tian menambahkan.
"Mama nggak akan pernah memaafkan ya mereka, Tian." Rima bangkit dan berlalu pergi begitu saja, meninggalkan Tian yang segan pada Mawar dan keluarganya.
"Silahkan duduk, pak, Bu." Tian mempersilakan Herman duduk, juga tak lupa ia menatap Mawar sebentar.
"Jadi, kamu anak pak Gunawan. Maaf, bapak nggak tahu sewaktu kamu tadi membantu saya dan istri saya menyeberang jalan." Ujar Herman. Lelaki itu tersenyum canggung, dan juga segan pada Bastian.
"Iya, pak. Maafkan sikap mama saya. Mama memang sulit menerima orang baru semenjak meninggalnya papa. Kakak-kakak saya sudah memberi tahu, dulu mama nggak begini." Kata Bastian kemudian.
"Saya maklum, nak. Saya yang salah. Itulah sebabnya saya datang kemari. Bahkan saya mencari banyak informasi alamat tempat tinggal mama kamu, demi meminta maaf. Tetapi ya nanti kalau memang ibu kamu masih belum memaafkan, saya bersedia menerima hukumannya. Termasuk di penjara sekalipun. Maaf juga, waktu itu makanya saya nggak menolong mama kamu, karena istri saya mau lahiran anak pertama saya, kakaknya Seruni." Herman menjelaskan.
Tak ada nada kemarahan, ataupun tersinggung di dalamnya. Herman sudah banyak berubah dan tulus untu meminta maaf. Sejak ia bertemu dengan Rima di rumah sakit sewaktu Mawar melahirkan, Herman terus dirundung rasa bersalah.
Tak berhenti sampai disitu, bahkan setahun terakhir, Herman sering mimpi buruk. Itulah sebabnya Ia memutuskan untuk mencari tahu keberadaan Rima dan anak-anaknya beberapa bulan terakhir.
"Mama saya nggak sekejam itu, pak. Saya akan bicarakan dengan mama. Jangan khawatir, saya akan membantu orang yang sudah berusaha mendapatkan maaf. Saya pastikan, mama nggak mungkin menuntut bapak." Jawab Tian kemudian.
__ADS_1
"Terima kasih, nak. Terima kasih banyak." Herman bersyukur dalam hati. Semoga saja dalam beberapa hari ke depan, Rima bersedia membuka diri dan bersedia bicara dengannya.
**