Mawar Seruni

Mawar Seruni
Patah hati berkali-kali


__ADS_3

"Karna.... Karna aku masih berstatus istri orang lain, bang."


Dan Tian tidak tahan lagi untuk mengunci netra mata Mawar yang sudah mulai berkaca-kaca. Luka, pedih, duka, dan nestapa yang selama ini menemani malam-malam Mawar, nampak jelas tersirat pada netra mata nya yang indah.


Mawar Seruni adalah wanita yang rapuh. Sayangnya, Tian begitu tertarik pada wanita itu. Entah bagaimana caranya, Tian seolah lupa diri dibuatnya.


"Saya tau. Dan saya sadar. Kamu wanita baik-baik, yang tidak akan mungkin melewati batasan kamu sebagai istri dari pria yang sudah melukai kamu. Tapi, andai takdir saat ini berpihak pada kamu, apa kamu masih nggak mau menerima rejeki dari saya. Selama ini kamu sudah cukup menderita, lalu apa salahnya kalau saya hanya ingin meringankan beban kamu sedikit?" Tanya Tian kemudian.


Mawar terhenyak. Sosok di hadapannya ini amat sangat keras kepala. Membuang tatapan ke arah dua sahabatnya dan juga bibi Wina, Sekar seperti mendapat dukungan dari mereka. Dengan ragu, Mawar menerimanya.


"Ya udah bang, ini ... saya terima. Terima kasih atas kebaikan Abang selama ini." Ujar Mawar dengan tulus.


Senyum Tian merekah sempurna, dan senyum Tian seketika memudar saat matanya menangkap sosok wanita paruh baya yang menatapnya lembut. Wanita itu melangkah anggun menuju tempat yang akan Mawar gunakan sebagai warung makan.


Long dress yang di kenakannya demikain mewah dengan sentuhan sedikit brukat bermutiara di ujung lengannya. Rambutnya di sanggul tinggi dengan make up tipis.


Senyumnya menawan dengan gurat-gurat tipis yang tidak terlihat jelas. Tentu saja hal itu karna perawatan yang di lakoninya adalah perawatan kulit yang mahal.


"Tian." Panggil wanita itu.


"Mama?" Gumam Tian lirih.


Mawar meneguk salivanya dengan susah payah. Bagaimana tidak? Banyak rumor beredar mengenai keluarga Tian yang memang berdarah biru.


Gunawan.


Adalah keluarga yang terkenal bermartabat tinggi, dan memiliki kelas sosial tinggi.


Selama lima bulan berada di Surabaya, tidak pernah sekalipun Mawar bertemu dengan keluarga Tian. Apa lagi mamanya.


Dan ini, adalah kali pertama Mawar bertemu dengan ibunda Tian, wanita yang Tian sebut mama.


"Anggi sedang menangis dan minta di antar pada wanita yang di panggilnya Tante Mawar. Mama harus gimana ini? Siapa Mawar?" Tanya wanita itu.


Kalimat itu meluncur lembut dari bibir tipis Rima. Namun tatapannya tidak juga beralih dari Mawar. Wanita itu nampak menatap lekat Sekar yang salah tingkah.


"Oh, iya ma. Kenalkan, ini Mawar." Kemudian tatapan Tian beralih pada Mawar.


"Dan Mawar, ini mamaku, namanya Rima."


"Saya Mawar Tante."


Mawar berusaha sebisa mungkin untuk bersikap natural. Andai pun nanti Rima tidak suka Mawar berhubungan dengan Tian, Mawar tidak akan masalah. Mawar cukup tau diri, ia bukanlah wanita yang sederajat dengan keluarga sekelas keluarga Gunawan.


Mawar mengangguk dan menyapa dengan santun. Jemarinya terulur untuk menyalimi Rima dengan takzim.


Sejenak, Rima terpaku. Selama ini, tidak pernah sekalipun anak-anak Rima mencium punggung tangannya. Hanya Tian yang melakukannya hingga saat ini. Sedang saudara Tian yang lain, sudah meninggalkan adat itu.


Tangan kiri Rima refleks terulur mengusap kepala Mawar dengan sayang.

__ADS_1


"Kamu ... cantik." Ucapnya pertama kali pada Mawar, dan itu, tulus dari hatinya.


Mawar mendongak menatap Rima intens.


"Te-terima kasih, Tante."


Pipi Mawar merona.


"Ini ... ?" Pandangan mata Rima menjelajah seisi ruangan. Kakinya maju dua langkah. Mengabaikan tiga orang yang menatapnya aneh.


"Jeng Wina yang mau buka?"


Wina terkesiap.


"Oh enggak jeng, ini keponakanku dari Jakarta, Mawar yang punya usaha." Jawab Wina kemudian.


"Yasudah, saya pamit pulang dulu. Cucu sudah nunggu di rumah." Ujarnya dengan tersenyum lembut.


Wina tersenyum ramah. Wajahnya menampakkan kelembutan dan penuh kharisma. Sesaat, mata Wina kembali menatap lekat Mawar.


Kembali menelisik, sorot lugu terpancar dari netra mata Mawar.


'Bagus, setidaknya wanita ini lebih santun dari mendiang istri Tian'


~~


Jauh di di seberang sana, seorang pria paruh baya nampak terbaring lemah di atas ranjangnya. Selang infus dan beberapa peralatan medis lainnya, tertancap sempurna pada beberapa bagian tubuhnya.


Herman Abdullah.


Pria itu nampak lemah dengan kondisinya yang sekarang.


Bagaimana tidak?


Pola hidup sehat yang Herman terapkan dulu, kini tidak lagi di lakoninya semenjak Mawar Seruni pergi.


Rasa sesal kian menderanya ketika ia mendengar kabar tentang kehamilan Seruni.


Cucu, Herman sangat mengidam-idamkan kehadiran cucu dalam keluarganya. Sayangnya, kesempatan memiliki cucu itu, sirna bersama perginya Seruni lima bulan yang lalu.


"Be--belum ada ka ... bar dari ... Raka, Bu?


Dimana se ... Runi?"


Ucapnya tergagap. Nafasnya sedikit terputus-putus saat menyebut nama Seruni, akibat sesak yang entah apa sebabnya.


"Belum, pak. Berdoa saja. Semoga Seruni cepat pulang." Jawab Ratna lirih sembari jemarinya mengusap pelan kening suaminya.


"Bapak makan dulu, ya. Biar Amel suapin?"

__ADS_1


Amel tiba-tiba muncul dengan membawa nampan berisi bubur dan air putih hangat.


"Bap....ak nggak lapar. Bapak mau Seruni."


Ungkapnya lirih. Amel hanya menundukkan wajahnya dan duduk di tepi ranjang ayahnya. Air matanya menetes ketika penyesalan kembali menyergapnya.


"Tapi, bapak harus makan, dulu. Kalau nggak makan, nanti pas Seruni pulang, malah jadi sedih Runi nya."


Ungkap Amel menenangkan.


"Tapi ... bapak ... ma...."


Belum sempat melanjutkan kalimatnya, suara ketukan pintu terdengar dari luar.


"Biar Amel yang buka pintu, Bu".


Amel bangkit. Ibunya hanya mengangguk saja.


"Mas...Raka?" Gumam Amel.


Raka mengangguk.


"Saya mau ketemu dan bicara sesuatu sama bapak. Semoga bapak berkenan." Ungkap Raka kemudian.


Dengan hati berdesir akibat rasa rindu namun juga kecewa, Amel membuka pintu dengan lebar, mempersilahkan Raka masuk tanpa kata.


Langkah Raka seketika terhenti saat ponselnya bergetar dalam saku celana.


Dengan segera, Raka membuka ponselnya.


Sebuah notifikasi pesan masuk, lengkap dengan dengan sebuah foto dan video.


Mata Raka membola seketika saat netranya menangkap foto istrinya tengah berjalan seorang diri dengan memegang sebuah keranjang belanjaan yang terlihat berat.


Tangan kiri Seruni memegangi perutnya yang tampak membuncit.


"Runi .... " Guma Raka lirih, sangat lirih menyerupai bisikan angin.


Mata Raka berkaca-kaca. Ia tidak menyangka, Rama, sahabatnya itu menemukan keberadaan Seruni.


Raka terpaku di tempatnya.


Di lihatnya kembali pesan tertulis dari Rama.


Surabaya.


Pantas saja selama ini Raka menyusuri jalanan ibukota, tak sekalipun ada petunjuk keberadaan Seruni.


"Maaf, Amel. Saya nggak jadi berkunjung untuk menemui bapak. Saya harus pergi ke Surabaya untuk bertemu Seruni." Ungkapnya seraya berbalik pergi, meninggalkan Amel yang patah hatinya berkali-kali.

__ADS_1


Dulu, Raka bahkan sangat menginginkan dirinya, tapi sekarang ... Raka bahkan tak Sudi melihatnya.


~~


__ADS_2