
Mawar tengah menatap Azkia yang kini tengah terlelap dalam gendongannya. Ada perih saat ucapan Raka yang mengungkap bahwa Raka tak mencintainya, kembali terngiang dalam otaknya, seperti semacam dengung lebah yang mengitari rungunya secara bergantian. Ramai dan membuat Mawar tak nyaman.
Miris.
Itulah kata yang pantas di sematkan padanya saat ini. Di pertahankan oleh suami, namun bukan atas dasar cinta, melainkan karena sebatas tanggung jawab akan hadirnya Azkia.
Kini, genap empat puluh lima hari setelah kelahiran Azkia. Mawar tetap tidak Sudi kembali ke rumah yang dulu di tempati dirinya bersama Raka. Tekadnya untuk berpisah dari Raka sudah bulat dan tidak mau di ganggu gugat. Inilah final dan akhir dari kisah rumah tangganya. Harus berakhir di tangan sang kakak kandung.
"Runi, kamu mikirin apa?"
Ratna dan Herman datang. Menghampiri Mawar yang tengah menimang putrinya, Azkia. Tak segera menjawab, iris mata Mawar justru menatap lekat sosok Herman yang belakangan, nampak semakin kurus.
Entah apa yang melatar belakanginya, Mawar tak tahu pasti.
"Nggak ada. Hanya memikirkan sesuatu. Sekalian, aku mau bicara sama bapak dan ibu." Ucap Mawar datar.
Meski belakangan sikap Ratna dan Herman berubah lebih baik padanya, namun Mawar masih merasa bahwa mereka masih saja mati-matian membela sikap Amel yang sudah mengoyak rumah tangganya. Buktinya, Amel masih baik-baik saja tanpa merasa tertekan oleh orang tua Mawar.
"Kamu mau ngomong apa, nak?"
Tanya Herman. Matanya menyorot kehangatan yang selama ini, nyaris tak pernah Mawar lihat.
"Mawar udah mengajukan perceraian di pengadilan agama. Dan putri sulung bapak dan ibu, bisa bebas memiliki apa yang ingin dia miliki. Mawar sudah memikirkan ini dengan matang." Ungkap Ratna.
Mata Ratna dan Herman seketika melotot ke arah Mawar. Sayangnya, kalau dulu Mawar sedikit gentar, kini justru Mawar seolah menatap balik mereka dengan berani. Sama sekali tak ada rasa takut yang terpancar dari sorot matanya.
"Apa maksud kamu? Diantara kamu dengan Raka, ada Azkia yang butuh kasih sayang kalian berdua. Juga ... dia butuh .... " Herman tak melanjutkan kalimatnya ketika Mawar menyela.
"Uang dari Raka? Cukup, pak. Cukup!! Aku bisa menghidupi dan mencurahkan sepenuhnya kasih sayang aku terhadap anakku. Nggak akan aku memisahkan Azkia dari bapaknya. Raka bisa mengunjungi Azkia sesempatnya, seingat Raka juga."
Jawab Mawar dengan nada lebih tinggi. Ia tak peduli meski kini lawan bicaranya adalah Herman, bapaknya sendiri.
Toh selama ini Herman tak pernah menghargainya, justru Amel lah yang menjadi prioritas kedua orang tuanya. Ia lelah diperlakukan seperti ini. Perbedaan perlakuan dari orang tuanya, membuatnya muak untuk tetap bertahan di rumah ini.
Tak jarang, Amel bahkan selalu di bela nya dalam setiap perdebatan bersama Mawar. Lama-lama Mawar muak juga.
"Seruni ... kak Amel mohon."
__ADS_1
Amel tiba-tiba datang dengan raut wajah sendu. Sebenarnya, ia tak ingin melakukan ini terhadap adik kandungnya. Namun mengingat ia dan Raka saling mencintai, apakah salah bila Amel memperjuangkannya? Amel benar-benar bodoh.
Tidak.
Amel tidak salah, bukan?
"Pergilah Mel. Aku males kalau harus debat lagi sama kamu. Toh ujung-ujungnya aku yang bakalan disalahkan sama bapak dan ibu. Aku lelah. Jadi jangan memancingku untuk marah."
Mawar berlalu begitu saja. Meninggalkan tiga orang dalam ketidakberdayaan.
Amel lantas duduk di antara kedua orang tuanya, duduk pada tempat yang tadi di tempati oleh Mawar.
"Pak, buk .... Amel ... apa Amel pergi jauh aja ya, Bu? Kalau Amel di sini terus, Amel akan terus selalu membuat mas Raka semakin jauh dari Seruni dan anaknya. Mungkin, kalau Amel pergi, hubungan mas Raka dan Seruni akan kembali baik-baik aja." Ucap Amel pelan..
Sekali lagi, dirinya merasa tak berdaya dengan situasi rumit keluarganya kali ini. Ia harus berdiri di sisi jurang, memilih antara Sekar dengan cintanya pada Raka.
"Kamu mau kemana memangnya, Mel? Kamu tega ninggalin bapak dan ibu yang hanya hidup berdua dengan ibu mu? Seruni mungkin tidak betah dan memilih pergi lagi nanti. Anak itu, tidak berubah. Selalu kabur saat ia merasa tertekan di tempat tinggalnya."
Kali ini Herman bersuara dengan mata berkaca-kaca.
Durhaka? Tentu saja tidak.
Herman mengakui itu. Sikap keberanian Mawar dalam membantahnya, semua sudah didasari oleh perbedaan sikapnya dalam memperlakukan Mawar dengan Amel. Dan itu berlangsung sejak kedua anaknya masih kecil.
Semua ini salahnya dari awal.
"Mungkin kerja di luar negeri, pak. Amel nggak bisa terus-terusan gini, sebelum semuanya terlambat. Ada Azkia yang harus Amel pikirkan nasibnya." Tukas Amel.
"Sudah-sudah, besok ibu akan bicara dengan adikmu. Jangan banyak pikiran."
Ratna bangkit dan berlalu begitu saja. Meninggalkan Herman dan Amel yang kini duduk berdua di selimuti keheningan malam.
~~
~~
Mawar kini tengah mengemasi barang-barang nya dengan Azkia ke dalam koper besar miliknya. Malam ini, tangisnya tak terbendung lagi. Kedepannya, ia harus lebih kuat. Ada Azkia yang menjadi semangatnya saat ini.
__ADS_1
Usai menghubungi Mia untuknya menumpang beberapa waktu ke depan, Mawar sudah membulatkan tekadnya untuk sendiri. Kemalangan yang selama ini menimpa hidupnya, ia lelah bila harus tetap berkutat di dalamnya.
Bahkan setelah kepergiannya baru saja di antara kedua orang tua dan kakaknya, tak ada satu pun dari mereka yang berinisiatif untuk mengejar. Bayangkan sakitnya seperti apa. Mawar semakin meradang.
Ponselnya berdering, nama Tian tertera di sana. Tanpa pikir panjang, Mawar segera mengangkat panggilan Tian.
"Assalamualaikum, bang. Ada apa?" Tanya Mawar.
"Wa'alaikum salam. Nggak ada. Hanya mau tanya, kamu baik-baik aja, kan?"
Tanya Tian dengan nada khawatir.
"Aku baik, bang. Kenapa?" Tanya Mawar lagi.
"Nggak ada, cuma khawatir aja. Nggak tau kenapa, perasaanku nggak enak secara tiba-tiba." Tian menjawab pelan.
Mawar terkekeh pelan untuk menutupi kesedihan yang kini dirasakan dirinya.
Se-peka itu kah Tian terhadapnya?
"Perasaan Abang aja, kali." Ujar Mawar.
"Ya, mungkin aja sih. Mungkin juga .... " Tian tak melanjutkan kalimatnya.
"Mungkin apa?" Tanya Mawar.
"Mungkin karena saya terlalu merindukan kamu." Jawab Tian percaya diri.
Mawar kembali lunglai usai mendengar ungkapan Tian untuk yang ke sekian kalinya.
"Saya masih istri orang, bang. Kalau Abang lupa itu. Lagi pula, andai saya sendiri saat ini, tentu jalan kita bersama itu sangat sulit. Saya bukan calon menantu idaman Bu Rima."
Dan Sebastian semakin tertohok akan ungkapan Mawar kali ini.
~~
~~
__ADS_1