
"Kita bisa bicarakan nanti." Mawar menjawab pelan. "Kalau ada jodoh, tuhan pasti akan mempertemukan kembali."
Kalimat Mawar beberapa hari lalu, terngiang-ngiang di telinga seorang Tian. Lelaki itu bahkan sulit tidur belakangan ini. Sejak pertemuan terakhirnya dengan Mawar Seruni, lelaki itu jadi lebih banyak diam.
Rima sendiri merasakan perubahan putranya selama beberapa hari terakhir. Bahkan Rima juga berpikir, bahwa penyebab diamnya Tian, adalah Mawar. Rima berpikir, dulu setiap kali Tian putus hubungan dengan seorang wanita, ia tak pernah menjadi pendiam seperti ini.
"Tian, kamu kenapa? Kok bengong?" Rima menyapa putranya. Anaknya itu berdiri anggun dan menghampiri Raka yang tengah duduk termangu di dalam kamar.
"Nggak apa-apa, ma." Raka menjawab pelan.
"Bohong. Kalau kamu nggak apa-apa, nggak mungkin kamu bengong dan mukanya kusut gitu. Ada apa sih? Mawar lagi?" Tanya Rima yang tepat sasaran.
"Itu mama tahu tanpa Tian menjawab." Tian meraih ponselnya dan menghidupkan ponsel itu. Sejujurnya, Tian enggan jujur. Hanya saja, ia tak mungkin menyembunyikan perasaannya yang kacau balau.
"Udah mama bilang, jauhi Mawar dan jangan terlibat hubungan apapun dengan anak dari lelaki itu." Rima menatap tajam putranya.
"Yang bersalah itu ayahnya, yang berdosa juga ayahnya, jadi kenapa anaknya harus di bawa-bawa? Lagipula Mawar kan nggak tahu apa-apa, ma. Jangan membenci Mawar. Dia wanita baik-baik." Tian mencoba untuk membujuk ibunya.
"Sekuat apa pun kamu berusaha untuk memperjuangkan dia, tetap saja mama nggak mau merubah pendirian mama. Sampai kapan pun. Besok mama ada acara arisan sama teman-teman mama, kamu harus ikut. Dengar, anak-anak dari teman-teman mama pada gadis. Nggak mungkin ada yang bisa menolak kamu. Kamu bisa pilih salah satu dari mereka untuk kamu jadikan pendamping hidup kamu, pengganti mamanya Anggi." Rima menatap Tian, masih menatap tajam.
"Mama jangan mulai lagi deh, ma. Mereka memang cantik-cantik, strata sosialnya mungkin setara dengan kita. Tapi masalah akhlak, unggah-ungguh, sopan santun, tata Krama, belum tentu mereka sama seperti Mawar." Tian menatap malas ibunya.
Di tempatnya, Rima mendadak meradang karena baru kali ini, putranya berani membantah keinginannya. Sejak kecil, Tian si putra bungsunya sangat penurut dan paling menyayanginya. Tapi karena Mawar, wanita santun dan sempat menggoda hati Rima, Tian seolah berani menunjukkan taringnya.
"Yang berakhlak bukan cuma Mawar, Tian. Kamu harusnya bisa ...." Rima menghentikan kalimatnya, ketika Tian menyela dengan cepat.
__ADS_1
"Udahlah, ma. Tian udah ngantuk. Udah malam juga. Lebih baik mama kembali ke kamar." Tian malas dan memilih merebahkan tubuhnya. Lelaki itu lantas menarik selimut dan menutup sebagian tubuhnya.
Tian kesal bukan main pada mama. Bukan karena hanya masalah Mawar saja, melainkan juga karena mama jika sudah berkehendak, Tian tak boleh bebas dan harus mengikuti apa yang mamanya inginkan.
Selama ini, bahkan Tian selalu nurut dan tak pernah membantah. Memaksa untuk bisa menggandeng Mawar sebagai pendamping hidupnya, itu karena perasaan Tian yang sudah terpatri pada calon janda satu anak itu.
Mengingat gelar calon janda yang tersemat pada Mawar, membuat Tian tersenyum kecil. Seraya memejamkan mata, Tian mencoba mengingat wajah wanita itu. Meneduhkan. Itulah kalimat yang pantas Tian sematkan pada Mawar.
Sedang Rima?
Wanita itu keluar kamar Tian, dan berlalu begitu saja setelah menutup pintu. Rima menuju ke dalam kamarnya untuk melampiaskan sakit hatinya.
Rima menangis dalam kesunyian malam. Sepanjang sejarah, baru kali ini Tian membantah keinginannya. Katakanlah Rima egois. Rima tak akan menyangkal. Hanya saja, keegoisan wanita itu juga bukan tanpa alasan. Ia sudah bertekad di masa ia kehilangan suaminya, bahwa ia tak ingin memiliki keterkaitan dengan keluarga Herman Abdullah dan keturunannya.
**
"Kenapa melamun?" Suara bibi Wina cukup mengejutkan Mawar.
"Mikirin apa? Kangen orang tua?"
"Nggak kok, Bi. Mawar cuman belum bisa tidur aja. Bibi sendiri kok belum tidur?" Tanya Mawar balik.
"Udah tidur tadi. Tapi tiba-tiba bangun karena haus. Eh lihat dari ventilasi kalau lampu kamar kamu masih nyala. Maaf, bukanya nggak permisi." Jawab Wina.
"Nggak apa-apa, Bi. Duduk sini, Bi." Mawar menepuk tepi ranjang tepat di sebelahnya.
__ADS_1
"Mawar mau cerita sesuatu ke Bibi. Boleh?"
"Kamu ini kenapa tanya? Ya boleh, dong. Mau cerita apa?" Tanya Bibi Wina.
"Beberapa hari yang lalu saat Mawar baru mau berangkat kemari, Bang Tian nekat menemui Mawar, Bi. Bibi tahu apa yang terjadi? Dia bilang ingin melamar Mawar dan Mawar menolak." Mawar mengungkapkan.
Wina tersenyum. Sejujurnya, Andri sudah menceritakan semuanya tentang Mawar dan Tian melalui panggilan telepon. Tak hanya itu, Tian juga menceritakan tentang perseteruan Rima dan Herman di masa muda mereka.
"Terus? Kamu menerima?" Tanya Bibi Wina.
Mawar menggelengkan kepalanya. Wanita itu menatap Bi Wina dengan perasaan yang tak karuan.
"Mawar menolak karena Mawar belum resmi bercerai dengan suami Mawar. Selain itu, ada masa lalu antara Bu Rima dan Bapak Mawar. Bu Rima membenci Mawar karena kesalahan bapak, Bi." Mawar merasa tak nyaman.
"Bibi dengar semuanya dari Andri." Ungkap Bibi Wina, seraya menatap Mawar dengan senyuman. "Pertanyaannya sekarang, apa kamu mencintai Tian?"
Mawar diam cukup lama. Wanita itu tak bisa menjawab, karena ia masih merasa belum bisa menerima siapa pun dalam hidupnya, pasca di khianati oleh suami dan kakaknya.
"Cinta, Mawar juga seneng sih kalau mas Tian ada disini, di dekat Mawar. Hanya saja, Mawar menolak mas Tian, dengan dalih Bu Rima yang nggak bakalan setuju dengan hubungan kami berdua. Selain itu, Anggi juga anak yang baik dan menggemaskan. Memiliki mereka, tentu itu adalah sebuah kebahagiaan. Hanya saja, rasanya Mawar tak ingin menambah kebencian Bu Rima nantinya." Ungkap Mawar panjang lebar.
"Jika nanti seandainya setahun atau dua tahun ke depan, kamu sudah berpisah dengan Raka, bagaimana? Sekarang, jawab pertanyaan bibi, Seandainya Tian membantah jeng Rima demi kamu, bagaimana? Apa kamu nggak ingin berjuang bareng?" Tanya Bi Wina.
Pada akhirnya, Mawar bungkam dan tak bisa menjawab.
**
__ADS_1