
Tidak ada sesuatu yang menggembirakan bagi Bastian, selain menyaksikan Mawar makan dengan lahap di tempatnya. Bastian bahkan rela menukar apapun yang ia miliki, dengan momen kebersamaan bersama Mawar Seruni.
Bahkan, ketika Mawar dengan kokohnya menolak dirinya yang terus gencar mendekati Mawar, itu tetap tidak akan menyurutkan niat Bastian untuk memiliki dan mendapatkan Mawar untuk dijadikan istri.
"Kamu seneng?" tanya Bastian kemudian. Ia menatap Mawar yang masih syok makan, dan hanya meliriknya sekilas saja.
"Seneng gimana? Aku nggak susah, kok," jawab Mawar dengan santai. Wanita itu terus saja mengunyah makanannya dengan semangat yang tinggi. Entah bagaimana caranya, Mawar memiliki pesona tersendiri, tanpa gaya dibuat-buat dan murni apa adanya.
"Andai tiap hari kayak gini, aku bakal seneng banget, Mawar. Ngomong-ngomong, orang tua kita udah akur dan sudah saling memaafkan. Apa kamu masih nggak mau menerima aku?" Tian bertanya kembali, dengan kode serius.
Rasanya terasa pahit, seluruh makanan yang telanjur Mawar kunyah.
"Kalau dari awal aku tahu Bang Tian bakal bahas ini lagi, aku nggak bakalan deh, mau diajak keluar malam begini. Bang Tian tahu, enggak, aku merasa nggak pantas buat Abang. Bang Tian tahu sendiri, aku orang sederhana, yang mau makan dan beli susu Kia aja, harus kerja keras. Kalau dibandingkan dengan Bang Tian, apalah dayaku ini? Mawar nggak akan mampu. Jadi, lebih baik Bang Tian nyari yang setara dan sekelas sama bang Tian aja," ucap mawar, merah berusaha biasa saja dan tetap melanjutkan makan.
"Maka dari itu, Mawar. Aku pengen kamu menjadi istriku. Segala kebutuhan kamu dan Kia, aku yang nanggung. Aku butuh istri yang bisa ngatur keuangan, yang sayang dan perhatian banget sama anakku, aku dan anaknya sendiri. Dan semua itu ada di diri kamu," Tian mencomot sate yang tersaji di depannya.
"Bang, jangan rusak suasana hati aku, deh. Ya memang iya Bang Tian suka, sayang dan cinta ke aku. Tetapi itu belum tentu dimiliki oleh mamanya Bang Tian, kan? Jadi ya udah deh, aku ini hanya sekedar tahu diri, dan harus sadar, nggak mungkin aku jadi Cinderella, sementara aku punya banyak kekurangan sana-sini," jawab Mawar dramatis.
__ADS_1
"Kalau Anggi suka sama aku, mau main ke rumah, ya oke lah, aku bakalan terima dan temenin dia selagi aku nggak sibuk. Tapi untuk jadi istri Bang Tian, aku jauh dari kata layak. Mana aku janda pula. Abang bisa kok, nyari yang masih gadis," tambah Mawar lagi.
"Yang gadis statusnya banyak, gadis rasa janda. Ya mending kamu lah, janda rasa gadis. Oke punya, kan?" Tian makin gencar mendekati Mawar.
Mawar mendadak tersedak, dan Tian segara menyodorkan minuman.
"Pelan-pelan, Mawar. Kenapa bisa keselek gitu, sih?" tanya Tian kemudian.
Wajah Mawar melemah karena malu. Entah mengapa, ia merasa tersanjung atas pujian Tian. Hanya dengan pujian, itu berhasil membuat Mawar terbang tinggi perasaannya.
"Kamu yang bikin," jawab Mawar dengan mendelik ke arah Tian, untuk menutupi perasaannya. Sayang, Tian begitu peka menilai keadaan.
"Terserah kamu aja, Bang. Aku pasrah," ungkap Mawar, sambil memutar bola matanya jengah.
**
Di tempat lain, Amel masih setia menunggu adiknya pulang. Wanita itu juga masih setia menatap Azkia yang tengah tertidur pulas di sampingnya.
__ADS_1
Inilah keponakannya, buah cinta Raka dan Seruni. Anak malang yang dipaksa keadaan, untuk jauh dari sang ayah. Kejamnya Amel, Amel sadar itu. Bahkan wajah mungil Azkia versi Wiraka bayi, terlihat begitu kentara bahwa Kia adalah putri Raka.
"Kamu kok nggak tidur, Amel? Tidur lah, besok pagi juga masih harus masak jualannya adik kamu. Jangan nunggu Mawar, dia pasti pulang," Bibi Wina muncul, saya mendapati Amel masih membuka mata, sambil tersenyum-senyum menatap Kia.
"Aku nggak lagi menunggu Mawar, Bi. Biarin aja lah kalau mamanya. Anak ini loh, lucu banget. Lihat deh, Bi, bahkan saat tidur, bibir bawanya justru di hisap kayak dot," jawab Amel sambil tersenyum.
Wanita itu lantas bangkit dari rebahannya, ketika Wina duduk di sofa sebelah pintu kamar Mawar.
"Kia memang begitu. Setiap kali ada Tian, anteng dia. apalagi kalau mamanya lagi dikencani Tian, dia paling anteng anaknya," ujar Bibi Wina.
"Mereka udah Pacaran ya, Bi?" tanya Amel iseng. Ia sangat penasaran, bagaimana kisah keduanya dimulai.
"Enggak, kok. Cuman ya gitu, Tian itu yang ngejar-ngejar Mawar sejak dulu," jawab Wina sambil tersenyum.
"Bi, menurut Bibi, enaknya gimana? Maksud Amel, tentang Seruni dan Tian. Bibi setuju, nggak, kalau misalnya Tian dan Mawar, Amel jodohkan?" tanya Amel kemudian.
"Bibi nggak tahu, ya. Tapi bagus juga, sih. Mawar itu makanya nggak menerima Tian sampai sekarang, itu karena Tian adalah lelaki dari kalangan berada. Beda sama Mawar yang dari keluar sederhana. Bibi kadang gemas sama itu anak, pengen jodohkan dia sama Tian, tapi nggak bisa dan nggak ada partner sampah sekarang," jawab Wina sambil terkekeh.
__ADS_1
"Jangan khawatir, Bi. Mulai sekarang, Amel yang akan jadi partner Bibi untuk menjodohkan Mawar dan Tian," ungkap Amel dengan percaya diri. Entah mengapa, Amel begitu suka jika Mawar dan Tian bersatu.
**