Mawar Seruni

Mawar Seruni
Penolakan Istri


__ADS_3

Baiklah, kali ini Mawar memutuskan untuk mengalah. Ia hanya perlu berdamai dengan keadaan. Ia hanya perlu menerima kenyataan. Ia hanya perlu mengikhlaskan meski berat. Ia hanya perlu menenangkan pikiran.


Setelah dirasa Mawar sudah jauh dari rumahnya, Mawar berhenti di sebuah emperan toko yang tak jauh dari rumah Raka. Di lihatnya Raka tidak juga menyusulnya. Mawar semakin sakit. Sakit sekali.


Betapa malam-malam Mawar menghabiskan waktunya, dengan mengharapkan suaminya agar jatuh kembali ke dalam pelukannya.


Tapi sia-sia. Raka justru mencintai Amel dan Amel juga demikian. Tidak ada yang bisa di harapkan dari Raka kali ini.


Dengan nafas ngos-ngosan karna amarah bercampur lelah, Mawar mendudukkan diri di emperan toko. Beberapa orang mengamati Mawar dengan tatapan menyelidik. Sungguh, penampilan Mawar sungguh kacau saat ini.


Dengan gemetar, Mawar merogoh tasnya untuk mengambil telepon pintarnya. Ia harus menghubungi seseorang kali ini.


"Halo."


Suara Rima nampak lembut menyapa gendang telinga Mawar, setelah panggilan Mawar terhubung pada Rima.


"Iya, Tan ...Tante .... " Jawab Mawar dengan suara terbata.


"Mawar, kamu kenapa, sayang? Apa semuanya baik-baik saja?" Tanya Rima cemas.


"Saya ... saya nggak kuat, Tante. Saya mau ... Kembali saja ke surabaya." Jawab Mawar.


"Apa keluargamu dan suamimu menyakitimu lagi?" Tanya Rima kembali, untuk memastikan.


Hanya isak tangis yang terdengar di telinga Rima. Suara Isak tangis Mawar sungguh menyayat hati. Entah apa yang terjadi, tapi jelas Rima menyimpulkan, bahwa Mawar tidak sedang baik-baik saja.


"Oke, sekarang panggilannya Tante tutup dulu, ya. Kasih tau Tante di mana kamu sekarang, biar Tante jemput, ya. Kirim pesan saja." Ungkap Rima kemudian.


"Ii ... Iya, Tante .... " Sahut Mawar kemudian.


Panggilan terputus. Menyisakan Mawar yang menangis tanpa peduli ada banyak orang yang menatapnya iba.


~~


"Gi ... Gimana ini, mas?"


Amel terlihat sangat panik saat ini. Raka memilih diam dan hanya melirik sekilas pada Amel. Kemudian pria itu merogoh Hoodie nya dari dalam lemari, lantas mengenakannya dengan gerakan gesit.


Wajah Raka sudah sangat pucat, tapi pria itu memaksa untuk bisa mengejar Mawar.


Ia sama sekali tidak mengkhawatirkan kondisi kesehatannya. Baginya, ia harus menemui Mawar dan meminta maaf. Apapun dan bagaimana pun caranya.


"Mas, aku ... aku ikut." Ucap Amel.


Raka lantas menoleh dan menatap tajam Amel. Tatapannya berbeda dari sebelumnya.

__ADS_1


Kini, Raka nampak terlihat dingin dan berjarak.


"Semua ini karena kamu, Amel. Dan kamu akan semakin menghancurkan rumah tangga ku? Berhenti mengganggu rumah tanggaku dan Seruni. Sekarang saya minta, kamu pulanglah dan jangan datang lagi kemari." Jawab Raka tegas.


Kemudian Raka berlalu pergi dan meninggalkan Amel yang merasakan kehancuran dalam hatinya. Mungkinkah antara dirinya dan Raka, kini benar-benar berakhir?


Aku nggak kuat, tuhan.


Batin Amel berteriak.


~~


Mawar hanya diam seribu bahasa ketika dalam perjalanan. Rima yang duduk di sampingnya, sesekali mengelus puncak kepalanya. Ada rasa iba yang tiba-tiba hadir menyelinap di hari Rima.


Rima tak habis pikir, mengapa Mawar hingga sefrustasi ini? Andai Rima jadi Mawar, mungkin ia tak akan sanggup dan memilih pergi setelah tau apa yang dilakukan suami Mawar.


Beruntung Wina dan keponakannya yang bernama Andri menceritakan, asal muasal Mawar lari ke Surabaya. Berbeda dengan Mawar yang terkesan diam dan tak menjawab saat Rima bertanya. Mungkin, Mawar tak ingin membongkar aib suaminya.


Benar-benar wanita yang hebat.


"Terima kasih, Tante."


Rima mengangguk saat Mawar tiba-tiba mengucapkan terima kasih padanya.


"Iya. Kalau kamu butuh apapun, kamu boleh hubungi Tante." Jawab Rima kemudian.


Mawar berusaha menyemangati diri nya sendiri.


"Tante percaya, kamu wanita kuat."


Dan tentu saja Tian benar-benar mantap mengejar-ngejar kamu.


Kalimat terakhir Rima itu, tentu saja hanya Rima bisikkan dalam hatinya.


"Terima kasih, Tante."


Rima hanya mengangguk mengiyakan.


Sesampainya di rumah, Mawar memasuki rumah orang tuanya dengan langkah yang terasa berat. Meski enggan, tapi Mawar menguatkan hatinya kali ini. Ia tak boleh kalah. Ia harus bertahan sebentar lagi hingga semua orang menyaksikan bahwa ia wanita kuat.


"Runi ... kamu sudah pulang? Ayo ke belakang dulu. Kita makan malam." Suara ibu halus mengajak Sekar untuk makan malam.


Ekor mata Mawar terpaku pada sosok Amel yang menghadapnya dan memandangnya penuh sesal. Tetapi agaknya, Mawar sama sekali tak terusik dan bersikap layaknya tidak terjadi apapun. Di saat yang bersamaan, Raka muncul dari pintu kamar yang Mawar tempati. Wajahnya lebih pucat dari sebelumnya.


Bukannya kasihan ataupun iba, Mawar justru benci saat pandangannya tertuju pada Raka.

__ADS_1


"Aku sudah makan malam dengan Mia dan Andri, Bu. Mawar hanya ingin istirahat." Jawab Mawar. Jemari tangan kiri Mawar mengelus pelan perutnya.


Langkah Mawar terlihat biasa saja menuju kamarnya. Melewati Raka yang menatap Mawar penuh sesal dan bingung.


"Loh, sebentar, sebentar. Kenapa? Kenapa pipi kamu memar?" Tanya ibu yang menatap penuh selidik ke arah Mawar.


Mawar menghentikan langkahnya, kemudian berbalik menatap Raka dan Amel.


"Tanyakan pada mereka." Jawabnya.


Dan setelahnya, Mawar masuk ke dalam kamar tanpa mengunci pintu. Ia sudah bertekad akan meneguhkan hatinya kali ini. Tidak akan ia berikan satupun kesempatan untuk ke dua orang munafik itu.


Membersihkan diri, Mawar kemudian keluar kamar mandi dan mendapati Raka sudah duduk di sisi ranjang. Sayangnya, Mawar tak ambil pusing dan ia tak akan marah meledak-ledak kali ini. Ia cukup pandai menyembunyikan emosinya.


Setelah mengeringkan rambut, Sekar merebahkan dirinya di ranjang. Ia ingin istirahat kali ini. Dua hari di Jakarta, beserta aktifitas yang menguras tenaga beserta otaknya, membuat Mawar lelah luar biasa.


"Seruni ... sa ... saya ... min ... Ta maaf." Ungkap Raka terbata.


Hening. Mawar membiarkan dirinya merebah di ranjang, dengan Raka yang duduk di sisi kanan ranjang. Ia tak akan mengusir Raka, karna Raka masih sah berstatus sebagai suaminya. Mawar bertekad untuk meneguhkan hatinya kali ini.


Diam dan tak menjawab, Mawar memejamkan matanya. Kemudian pipi kiri Mawar terasa seperti tengah di raba seseorang.


Membuka mata, Mawar menatap tajam suaminya, dan menghempas kasar tangan Wiraka.


"Jangan sentuh saya." Ujar Seruni dingin.


Meski lirih, namun kalimat Mawar mampu membuat hati Raka, berkedut sakit dengan penolakan yang Mawar berikan terhadapnya.


"Saya ... saya memang brengsek, saya memang bajingan. Saya menyadari itu."


Dengan mengangguk dan meneteskan air mata penyesalan, Raka berhenti menyentuh Mawar. Mawar lantas membalikkan badan membelakangi Raka.


"Lakukan apapun sesuka hati kamu. Kamu hanya tinggal menunggu waktu untuk mengesahkan hubunganmu dengan wanita yang kamu cintai. Dan biarkan saya bahagia dengan cara saya sendiri." Sahut Mawar mantap.


"Seruni. Beri saya hukuman. Tapi tolong jangan meminta perpisahan. Jangan jadikan anak kita sebagai korban." Lirih Raka.


Mawar lantas membalikkan badan lagi menghadap Raka.


"Karna kamu yang memulai masalah ini, mas. Bukan saya. Dan sekarang kamu berkata seolah-olah, saya yang memicu kehancuran rumah tangga kita. Tolong pergi dari kamar ini kalau kamu mau semua tetap baik-baik saja." Ungkap Mawar.


Raka terhenyak. Ia tak diinginkan lagi oleh istrinya.


"Apa maksud kamu, kamu mengusir saya?"


Mawar tidak menjawab. Ia membiarkan Raka begitu saja. Mendapat penolakan dari Mawar, tentu ego seorang Raka tergores dengan sangat mengerikan.

__ADS_1


Maka, tanpa pikir panjang, Raka segera ....


~~


__ADS_2