Mawar Seruni

Mawar Seruni
Dahsyat kekuatan Cinta


__ADS_3

Di sebuah kafe milik salah satu sahabat Tian, Tian mengajak Mawar, serta kedua orang tuanya untuk bertemu. Mereka bertiga tengah duduk bersama, menikmati makan malam sebelum Tian membicarakan perihal tentang ibunya.


Makan malam kali ini diwarnai dengan obrolan ringan. Sesekali Tian melempar candaan, pada Herman dan Ratna yang sangat menyenangkan. Mereka layaknya keluarga, seperti orang tua dan anak.


Lain Herman lain pula dengan Mawar. Wanita itu lebih banyak diam, akibat ia teringin sekali meredam sebuah gejolak dalam hatinya. Entah mengapa, berdekatan dengan Bastian Gunawan, cukup membuat Mawar deg-degan tak karuan.


Mawar men-sugesti dirinya sendiri, untuk tidak boleh mencintai lelaki seperti Tian. Selain karena dulu Bapak yang menabrak Gunawan hingga meninggal, juga karena Mawar sadar, dirinya berasal dari keluarga sederhana dengan banyak kekurangan. Tak hanya itu, mawar juga berpikir lebih baik dirinya tak terlibat hubungan apapun dengan lelaki untuk saat ini.


Mawar hanya terfokus untuk membesarkan Kia dan membahagiakan putrinya itu. Tak lupa, Mawar juga ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Hanya itu tujuan utamanya saat ini.


Kini, Mawar hanya bisa menyaksikan Tian, sambil sesekali mencoba untuk membuang-buang jauh perasaannya terhadap Tian. Mawar hanya tidak ingin, dirinya dicap smemmandaatkan keadaan oleh Rima. Mawar tak bisa lupa, bagaimana cara Rima yang menatapnya penuh kebencian, sekalipun Mawar mencoba untuk merendah di depan Rima.


"Saya sudah membicarakan perihal permintaan maaf Bapak ke Mama saya. Mama masih berfikir, dan juga ... ya mungkin perlu sedikit waktu lagi untuk menyembuhkan lukanya. Saya juga meminta maaf sebanyak-banyaknya ya, Pak Herman. Mama memang begitu orangnya, tapi saya yakin, maaf itu pasti ada untuk Bapak, Pada dasarnya, mama adalah orang baik," Tian berkata pelan.


Sesekali, Mata Tian tertuju pada Mawar yang saat ini tengah menyuapi Kia yang tengah dipangku oleh Ratna. Kedua wanita itu hanya menyimak, saat Tian mulai bicara dengan Herman.


"Saya ngerti. Kehilangan pasangan hidup dengan cara begitu, siapa sih, yang nggak sakit hati? Saya juga sudah lama sekali mencari tempat tinggal mama kamu. Andai istri saya tidak akan melahirkan anak pertama saya waktu itu, saya nggak mungkin melarikan diri begitu saja," jawab Herman sambil tersenyum. Terlihat sekali, wajahnya penuh sesal.


"Saya juga sudah bujuk mama kok, pak Herman. Ini perkara waktu saja," imbuh Tian lagi.


"Nak Tian, kadang saya juga mikir, ini gimana enaknya biar saya bisa dimaafkan sama Bu Rima. Pernah terlintas begini, saya rela kalaupun harus Bu Rima menempuh jalur hukum dan saya masuk penjara, asalkan maaf itu ada untuk saya. Bukannya apa, menanggung beban dosa seumur hidup itu, mau ngerjain aktivitas apapun itu, selalu nggak tenang," ungkap Herman kemudian.


"Bapak benar, saya salut sama bapak, bapak orang baik, yang cuman terjebak sebuah musibah yang dialami papa saya. Terima kasih dengan hati Bapak yang begitu luas. Tapi menurut saya, kejadian itu sudah puluhan tahun berlalu, tidak perlu lah bila sampai harus menempuh jalur hukum."


'Karena saya menyukai putri bapak. Gimana kalau nikahkan saya saja dengan Mawar? Astaga, otakku semakin gila karena Mawar.'

__ADS_1


Imbuh Tian dalam hati.


"Terima kasih, nak Tian. Tapi ya, semua keputusan ada di tangan Bu Rima," Herman menyahutinya.


Kebisuan hinggap kemudian. Mereka bungkam dan kembali melanjutkan makan. Mawar sendiri tak banyak bicara, hanya menjawab dan menimpali seperlunya ketika diajak bicara oleh orang tuanya dan juga Tian.


"Mawar, kamu nggak mau nambah? Dari tadi kamu makanannya dimakan berdua sama Kia aja loh," Tian melempar tanya, berusaha mencairkan suasana canggung yang tercipta, antara dirinya dan Mawar.


"Nggak usah, Bang. Ini aja udah cukup, kok," jawab Mawar kemudian.


"Yakin? Memangnya kenapa kok kamu nggak mau nambah?" tanya Tian lagi.


"Mahal," Jawab Mawar, dengan disertai senyum.


Maklum, Mawar Seruni yang sudah merasakan betapa sulitnya bekerja keras untuk menafkahi dirinya sendiri, merasa tak baik bila harus boros. Beruntung, Kia selama ini selalu rutin mendapatkan jatah bulanan dari Wiraka. Bahkan tak jarang, Raka selalu mengirim lebih dari kesepakatan awal. Bahkan pernah, jumlahnya hingga mencapai dua kali lipat.


"Enggak deh, Bang. Ini aja udah cukup kok," jawab mawar kemudian.


Percakapan singkat Tian dan Mawar, tidak luput dari tatapan kedua orang tua Mawar. Sorot mata Tian yang menunjukkan ketulusan, membuat Herman dan juga Ratna saling pandang. Mereka seperti tengah berkomunikasi tanpa kata.


"Kia sayang, mau nambah, nak? Mau ini?" Tanya Tian yang mencoba mendekati Kia. Beruntung, Kia anak yang mudah akrab dengan siapa pun.


Tian memberikan sesendok puding, makanan penutup untuk makan malam kali ini. Dan herannya, Kia membuka mulutnya tanpa menolak sedikitpun. Interaksi yang tampak seperti ayah dan anak.


"Akrab ya, kayak bapak sama anak," Ujar Ratna tiba-tiba. Wanita itu berkata demikian, secara tak sadar.

__ADS_1


"Ibu!" Mawar menatap tajam Ibunya yang gelagapan .


"Maaf," Ratna menutup mulutnya, meminta maaf pada Mawar yang merasa tidak nyaman.


"Nggak apa-apa, Bu Ratna. Lagipula juga nggak setiap hari saya sama Kia berinteraksi. Anak saya namanya Anggi, dia juga dekat sama Mawar kalau ketemu," Tian menjawab disertai dengan senyum.


Jangan tanya bagaimana dengan Mawar sekarang. Wanita itu merasa jantungnya menghentak kurang ajar.


"Oh ya, Mawar, kalau misalnya nanti pesanan dari kantor tambah lagi, gimana? Kamu sanggup?" tanya Tian kemudian.


"H-2 paling tidak ngomong dulu, Bang. Karena aku sendiri ya, takutnya malah nggak cukup kalau tambah lagi," jawab mawar.


"Iya, pasti. Tapi kalau sisa menu masakan kamu masih banyak, bilang saja, nanti aku beli juga." Ujar Tian kemudian.


"Baiklah, Bang, kalau gitu." jawab Mawar kemudian.


Suasana kembali hening. ada banyak hal yang kini tengah dipikirkan oleh Tian. Selain untuk memajukan usaha Mawar, Tian ingin sekali bila ia membantu segala kesulitan wanita yang disukainya itu. Tian yakin, suatu saat mamanya pasti akan mengizinkan dirinya untuk bisa meraih hati Mawar.


Mereka hanya tidak menyadari, Dari kejauhan, Rima menatap mereka dengan perasaan tak nyaman. Wanita itu kembali meneguhkan hatinya, untuk bisa berdamai dengan kenyataan, berdamai dengan takdir, dan berdamai dengan anaknya.


'Karena keegoisanku, aku bahkan nggak peduli sama perasaan anakku. Lihat, bahkan Tian rela berkorban sebesar itu demi aku.'


Batin Rima kemudian.


Tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Sejatinya, tuhan maha membolak balikkan hati seseorang. Semua akan terjadi atas kuasanya, termasuk hati Rima yang keras, kini mulai melunak karena adanya cinta Tian untuk Mawar.

__ADS_1


Sedahsyat itulah kekuatan cinta.


**


__ADS_2