
Langkah Mawar kali ini serasa berat. Setelah tiba di depan rumah yang dulu di tempatnya bersama Raka, mata Mawar tiba-tiba berpusat pada sebuah high hills yang mirip dengan milik Amel, kakaknya.
Antara ragu dan kecewa, Mawar melangkah masuk. Mengabaikan keraguan yang tiba-tiba dengan kurang ajar bertengger sombong dalam hatinya. Membuang jauh ego dan harga dirinya demi keutuhan rumah tangga, juga demi anaknya.
~~
"Apa yang kamu rasakan, mas?"
Suara Amel demikian lembut dengan nada mendayu-dayu manja.
Wiraka.
Pria itu tengah terbaring lemah karena beban pikiran yang belakangan ini menjerat kewarasannya hingga tidak terkendali.
Malam-malam setelah penolakan Mawar lebih dari seminggu yang lalu, membuat Raka kembali betah menghabiskan waktunya di klub malam, meneguk minuman beralkohol tinggi, hingga tidak tidur meski waktu nyaris pagi. Rama yang mengurus bisnis mereka berdua, bahkan tidak habis pikir.
Sekacau ini kah, Raka?
Hingga hari ini lah puncaknya.
Raka jatuh sakit, gastritis yang dulu pernah diderita Raka, kini kembali kambuh.
"Masih sama." Jawab Raka pelan.
Di sisi ranjang, ibu Raka duduk dengan memperhatikan putra semata wayangnya dengan cemas. Sebagai seorang ibu, tentu ada luka tersendiri saat melihat putranya hancur hingga seperti ini.
"Ayo kita pulang ke rumah ayahmu saja, Raka. Biar ibu yang merawatmu. Kasihan Amel, dia harus bolak-balik mengurusi dirimu." Kali ini suara ibu Raka menimpali.
"Raka nggak minta Amel untuk datang, Bu."
Suara Raka lirih dan masih nampak lemah. Namun, secepat kilat Amel segera menyela perkataan Raka.
"Aku datang karna aku peduli sama kamu, mas. Aku cinta kamu, dan kamu cinta aku. Apa salahnya kalau aku datang dan ikut merawat kamu?" Tanya Amel tak tahu malu.
Di balik pintu kamar yang tak sepenuhnya tertutup itu, Mawar Seruni berdiri mematung mendengarkan obrolan tiga orang di dalam kamarnya dulu.
Mawar seperti bimbang. Antara masuk, atau berdiam diri dulu untuk membaca situasi.
"Jelas salah, Mel. Antara kita, nggak ada hubungan apa-apa lagi. Saya nggak bisa meneruskan hubungan kita." Sahut Raka, masih menjaga suaranya yang pelan.
"Setelah semua yang aku lakukan sama kamu? Setelah semua yang aku berikan padamu? Kamu tega, mas. Kamu tega!!"
Amel terisak. Dia menangis dan tubuhnya merosot ke lantai. Kepalanya menunduk dan ia merasa putus asa.
__ADS_1
"Mel .... "
Raka berusaha bangkit dari tidurnya, ibunya yang duduk tak jauh dari Raka, segera membantu putranya.
"Saya harap kamu ngerti. Ada perasaan Seruni yang harus saya jaga. Ada anak di rahim Seruni yang harus saya pertahankan. Saya nggak bisa mengabaikannya begitu saja meski saya ada rasa sama kamu. Dia adik kamu. Dia juga ibu dari anak saya. Tolong lah mengerti. Biarkan cinta kita musnah seiring berjalannya waktu." Tegas Raka.
Mawar syok.
Tubuh nya bergetar hebat. Apa kata Raka tadi? Raka tak bisa mengabaikannya meski Raka masih menyimpan rasa pada Amel?
Maka, segala emosi yang sudah menggunung di dalam hati dan otaknya, Mawar segera mendorong pintu kamar Raka dengan kasar, hingga menghasilkan bunyi debum keras.
"Jadi, jadi untuk apa kamu jauh-jauh datang dari Jakarta ke Surabaya menemuiku? Cuma untuk anak kamu? Cuma karna aku ini mengandung anak kamu?
Kamu mempertahankan pernikahan ini bukan berdasarkan cinta? Begitu kah? Dan sampai saat ini, kalian masih saling mencintai? Kamu masih ada rasa sama Amel, mas? Hah. Lelucon macam apa ini, mas? Lucu. Ini sangat lucu!!"
Mawar masuk dengan emosi yang membuncah. Matanya telah mengalirkan air mata yang begitu deras.
Apa kata Raka tadi? Mereka saling mencintai?
Bukankah itu artinya, Raka tidak mencintai Mawar? Secara akal saja, tidak mungkin seorang pria mencintai dua wanita sekaligus, bukan?
"Runi...."
Sedang Amel, wajahnya sudah semakin pucat pasi. Ia seperti tidak memiliki tenaga saat ini. Kedatangan adiknya yang tiba-tiba ini, membuatnya terpojok dan sulit untuk mengatakan sesuatu.
"Lo saudara gue bukan, sih?"
Telunjuk Mawar menunjuk Amel dengan gaya congkaknya dulu, sikap yang tidak pernah keluar dari dirinya selama menjadi istri Raka Subagio. Sikap kasar dan barbar yang ia miliki selagi masih gadis dulu, kini kambuh dan kembali muncul.
"Selama ini, gue udah banyak ngalah sama Lo. Dari perlakuan beda bapak ibu yang lebih sayang sama Lo. Kemudian apapun yang Lo mau, Lo dapetin. Dan sekarang, Lo mau merebut suami gue dengan dalih cinta? Lo manusia yang punya hati nggak sih?"
Mawar meradang. Hatinya telanjur sakit saat ini.
Amel bangkit dengan di bantu ibu Raka yang berusaha membantunya.
Melihat interaksi ini, Mawar semakin murka. Ia kira ia menang karena mengandung anak Raka. Nyatanya, Mawar kalah dan hatinya memanas melihat kedekatan Amel dan Raka.
Lihat, Mawar Seruni. kamu kalah sekarang.
Bahkan suami dan ibu mertua kamu saja nggak peduli kamu, dan lebih menunjukkan empati pada kakakmu.
Apa yang perlu kamu pertahankan sekarang?
__ADS_1
Bisik batin Sekar penuh ejekan.
"Runi... dengerin kakak dulu, dek." Amel berusaha membujuk. Ia bahkan belum sempat meminta maaf pada Mawar, pasca tragedi serong di hotel bersama Raka.
"Cukup!!" Nada suara Mawar meninggi.
"Apa? Apa kalian semua memikirkan perasaanku? Aku baru pulang dari Surabaya, bahkan kalian sudah seperti ini. Nggak ada lagi yang peduli aku. Nggak ada lagi yang sayang sama aku. Tekad aku sekarang semakin kuat, mas. Aku mau pisah sama kamu. Kamu lebih mencintai Amel dari pada aku, Istri kamu. Nggak usah sok-sokan ngajakin rujuk dengan dalih anak. Aku pikir kamu serius mencintai aku." Mawar Mundur dua langkah. Tubuhnya nyaris limbung akibat terlalu emosi.
"Runi, tunggu dulu. Dengarkan penjelasan saya." Raka mencoba bernegosiasi.
"Nak, dengerin suamimu dulu. Kamu masih emosi. Jangan bertindak gegabah dan jangan memutuskan sesuatu dalam keadaan emosi, nak. Nanti kamu menyesal."
Ibu Raka menghampiri Mawar yang sudah di kuasai amarah.
"Jangan sentuh saya, Bu. Selama ini, saya sudah sabar menghadapi njenengan, juga bapak mertua. Tapi lihat sekarang! Panjenengan lebih membantu Amel yang jelas-jelas punya niat merusak rumah tangga anak ibu. Sebenci itukah njenengan terhadap saya? Apa salah saya pada Ibu dan Ayah? Dulu, selama pernikahan saya dan mas Raka, dengan jelas ibu dan ayah mas Raka memperlihatkan ketidaksukaan kalian terhadap saya. Saya sudah cukup sabar selama setahun pernikahan kami, Bu. Biar bagaimana pun, saya hanya manusia biasa. Kesabaran saya ada batasnya." Mawar berkata lirih. Tangisnya berderai.
Raka bangkit dan menghampiri istrinya meski dengan langkah gontai. Jujur saja, kepalanya masih sangat pening.
"Saya minta maaf atas semuanya. Saya minta maaf, Seruni." Raka menangis di hadapan Mawar.
Bukannya kasihan, Mawar justru merasa jijik melihat suaminya kali ini.
"Jangan sentuh saya, mas. Kamu kotor karna pernah tidur sama wanita lacur ini."
Jari telunjuk Mawar menunjuk Amel tepat di kening Amel. Raka yang dari tadi sudah mencoba merendah dan sabar, lama-lama tersulut juga emosinya.
"Jaga ucapan kamu, Seruni. Saya nggak pernah mendidik kamu menjadi wanita liar seperti ini selama kamu menjadi istri saya." Ucap Raka menahan emosi. Matanya mulai memerah pertanda ia tengah digulung amarah.
"Dan keliaran saya juga karna ulah kalian yang menjijikkan di masa lalu. Lihat!! Bahkan kamu sekarang lebih membela Amel dari pada saya. Dari sini sudah terlihat, kamu lebih mencintai dia dari pada aku, mas. Brengsek kamu. Bajing .... "
Plak ....
Satu tamparan dari telapak tangan Raka, mendarat tepat di pipi kiri Mawar. Raka kehilangan kendali dirinya. Ia sudah mencoba sabar dan menjelaskan pada Mawar, tapi Mawar mencoba memojokkan dirinya dan Amel. Bahkan dengan terang-terangan mencaci maki Amel, wanita yang dulu dicintai Raka.
Baik ibu Raka, Amel dan Raka sendiri terkejut dengan kelakuan Raka yang lepas kendali kali ini.
Maka tanpa kata, Mawar Berlari meninggalkan rumah Raka dengan perasaan hancur berkeping.
Baiklah....
Kali ini Mawar sudah yakin dengan keputusannya. Berpisah adalah keputusan final.
~~
__ADS_1