
Ini adalah bulan ke lima Raka tanpa Seruni. Kondisi fisiknya bukan hanya kacau, tetapi juga mengalami penurunan pada bobot tubuhnya dengan cukup signifikan.
Profesi yang di jalaninya sebagai dosen, adalah cita-cita nya sejak kecil. Meski Raka memiliki usaha distro, tapi sejujurnya pria itu sangat menyukai profesinya sebagai dosen.
Tapi kini, semua seolah sirna akibat tindak amoral yang di lakukan nya lima bulan lalu dengan Amel, kakak iparnya. Raka memilih mengubur profesi sebagai dosen, karena merasa ia tak pantas menjadi panutan mahasiswa dan mahasiswi.
Raka termenung lama di meja makan. Ini adalah rumah yang menjadi saksi perjalanan rumah tangga nya bersama Seruni selama setahun. Raka berubah sendu ketika ingatannya kembali menayangkan tangis dan tawa seruni yang menggema di seluruh sudut ruangan hatinya.
Luka akibat kebodohannya di masa lalu, tidak bisa ia obati. Kini, Raka hanya berteman dengan penyesalan yang tak kunjung reda.
"Bagaimana kabar kamu, Runi? Bagaimana kandunganmu? Apa kabar bayi kita?" Gumam Raka yang kacau.
Tangis itu kembali pecah dengan Raka menelungkupkan wajahnya di meja makan.
Terluka?
Tentu ia terluka dengan semua yang terjadi. Segala sakit yang ia dan Runi rasakan, dia sendiri lah penyebabnya.
Pintu di ketuk dari luar. Karna lama tidak ada jawaban, sang tamu memaksa masuk dan mendapati Raka di meja makan.
Tangis wanita itu pecah kembali. Melihat kehancuran Raka, ada andil dirinya atas penderitaan lelaki itu.
Bukannya ingin memanfaatkan harta Raka, tetapi Amel memang benar-benar mencintai Raka dengan tulus. Hanya saja, caranya yang salah. Ia menghalalkan segala cara untuk merebut suami adik kandungnya sendiri.
"Mas Raka .... "
Suara lirih Amel, mampu menyadarkan Raka dari tangisnya. Raka mendongak dan menatap Amel yang berdiri di dekatnya dengan membawa satu rantang berisi makanan.
"Makan, dulu. Nangis juga butuh tenaga, kan?" Amel terkekeh ringan untuk mencairkan suasana. Wanita itu mengusap pipinya yang basah.
"Pulanglah, Amel. Saya nggak lapar. Tolong, jangan mengganggu saya." Pinta Raka tegas. Suaranya berubah dingin.
"Tapi aku tau tubuh kamu butuh asupan gizi untuk mencari keberadaan istrimu dan anakmu." Jawab Amel.
Amel segera meletakkan rantangnya di meja makan, mengambil beberapa piring dan memindahkan seluruh makanan yang ada di rantang.
Raka hanya diam mematung. Sejatinya, apa yang di katakan Amel memanglah sebuah kebenaran.
"Aku akan pulang, mas. Jangan khawatir. Aku cuma nganter ini aja kok. Jangan lupa di makan, dan habiskan." Kata Amel kemudian.
Amel kembali mengemasi rantangnya untuk segera ia bawa pulang. Lama-lama berada di rumah Raka, tentu membuat Amel takut kehilangan akan kendali dirinya.
Saat akan melangkah keluar, Suara Raka berhasil membuat langkah Amel terhenti.
__ADS_1
"Kenapa kamu masih peduli sama saya, toh saya sudah membuang kamu? Nggak mau menikahi kamu. Saya hanya bajingan, Amel, kalau kamu lupa itu. Jadi, lupakan saya dan cari laki-laki lain yang pantas dan mampu melindungi kamu." Ungkap Raka kemudian.
Amel membalikkan badan. Ia maju tiga langkah dan berdiri tepat di samping Raka.
"Karna aku mencintai kamu. Sejak dulu.
Meskipun pada akhirnya kamu berubah lebih mencintai Runi, cintaku sama kamu baik-baik aja, masih dalam kapasitas yang sama.bKejar kebahagiaan kamu, mas. Aku akan dukung apapun yang menjadi keinginan dan keputusan kamu. Karna kebahagiaan kamu, adalah prioritas untuk aku."
Kata Amel kemudian berbalik pergi. Air matanya yang mati-matian ia tahan, pada akhirnya jatuh dan mengiringi langkah Amel meninggalkan kediaman Raka.
Sesak.
Sesak di dada kembali Amel rasakan.
Lima bulan tanpa seruni, rupanya membuat dunia Raka terasa bolak balik.
Mungkin kah ini karma?
Karna duluan Amel membiarkan adiknya terluka.
~~
Warung makan Wangi Mawar
Senyum wanita itu merekah saat semua orang bahu membahu membantu dirinya dari awal persiapan.
Ini adalah bulan ke lima Mawar berada di Surabaya. Ia dengan sengaja membuka warung makan sebagai sumber mata pencahariannya, yang tentu saja ada sosok yang memiliki andil besar dalam jasa mendirikan warung makan tersebut.
Andri dan Mia.....
Dua sahabatnya itu juga kini tengah menjalin hubungan dekat, lebih dari sekedar pertemanan. Bahkan, saat ini mereka berdua ikut terlibat dalam mendesign warung makan yang Mawar dirikan.
Sebuah mobil Toyota F berwarna putih keluaran terbaru datang mendekat ke arah warung milik Mawar. Mawar memandang dengan senyum. Namun senyum yang tidak pernah menanggalkan sarat akan luka, meski ia sudah berusaha menutupinya dengan baik.
"Mawar .... Bagaimana?"
Tian datang dengan wajah yang berseri-seri. Semenjak Anggi dekat dengan Mawar, Anggi tidak pernah lagi menyatakan kerinduannya terhadap almarhumah ibundanya pada Tian.
Kehadiran Mawar dalam hidup mereka, benar-benar memiliki pengaruh yang cukup baik, rupanya.
"Sudah baik, bang. Bang Tian tumben pulangnya jam segini? Bukannya biasanya sore, kadang juga malem, ya?" Tanya Mawar.
Tian terkekeh ringan ketika mendapat pertanyaan dari Mawar. Dalam hati ia merasa geli sendiri. Mawar tidak tau saja, bahwa sebenarnya kantor di Surabaya yang menjadi tempat kerja nya adalah usaha milik Tian sendiri.
__ADS_1
Tapi biarlah, lebih baik Mawar dalam ketidak tahuan tentang harta nya.
"Saya sudah ijin sama pihak HRD." Jawab Tian ringan.
Wina yang tak jauh dari Mawar, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya merasa geli sendiri. Tatapan matanya menyorot aneh terhadap Tian.
"Katanya pagi tadi, Abang lagi ada meeting penting? Apa bos nya bang Tian nggak marah, ya?" Tanya Mawar lagi yang terlihat berubah lebih cerewet.
Bibir Tian berkedut pelan sebagai petunjuk tersirat, bahwa ia tengah menahan tawa. Semua mata tertuju pada Sekar.
"Kalau marah ya di hadapi, bukan malah lari.
Tapi kalau memang saya di pecat nanti, saya akan mencari pekerjaan lain." Jawab Tian yang tak habis akal.
"Tapi, bang?" Mawar urung melanjutkan kalimatnya.
"Ssst....." Jemari Tian kemudian merogoh kantong jasnya, kemudian menyerahkan amplop putih memanjang pada Mawar.
"Ap ... apa ini, bang?" Mawar bertanya bingung. Pasalnya, ia sama sekali tidak mampu menerka maksud Tian.
"Ini untuk belanja awal. Anggap saja saya memberi kamu pinjaman. Kan kamu nggak mau kalau saya bantu secara cuma-cuma." Kata Tian kemudian.
"Eng ... enggak usah, bang. Ak--aku udah di bantu Andri sama Mia." Tolak Mawar halus.
"Nggak apa-apa. Lagian saya nggak begitu butuh uang ini, kok." Sahut Tian kemudian.
Tian masih kekeh memberikan amplop itu.
Cukup tebal, begitulah isi pikiran Mawar ketika jemarinya menyentuh amplop itu dengan merabanya penuh perhitungan.
"Bukan begitu, bang. Abang terlalu baik sama aku. Gimana aku ngebalesnya? Enggak gitu, deh. Ini aku kembalikan aja. Aku sungkan sama Abang." Kata Mawar
Tangan kanan Mawar kembali menyerahkan amplop yang tadi di berikan. Sedang tangan kiri nya membelai perutnya nya yang terlihat nampak buncit. Wajahnya menampakkan ketidak nyamanan.
"Kenapa? Kenapa kamu merasa sungkan menerima bantuan saya, sedang kamu sudah terlalu baik sama saya dengan bersedia menemani Anggi? Kenapa, Mawar? Ada apa sama kamu?" Tanya Tian kemudian.
Mawar memberanikan diri menatap netra tajam milik Tian.
"Karna .... Karna aku masih berstatus istri orang lain, bang." Jawab Mawar kemudian.
Dan Tian tidak tahan lagi untuk berhenti penasaran pada Mawar. Mawar cukup menarik perhatian Tian selama lima bulan ini.
~~
__ADS_1