Mawar Seruni

Mawar Seruni
Berdebat


__ADS_3

Siang ini, Tian tengah di sibukkan oleh beberapa berkas-berkas yang harus dia tanda tangani di ruang kerjanya. Ari yang menjadi asistennya hanya bisa geleng-geleng kepala saat Tian tidak sabar untuk segera pulang ke rumah.


Bukan Ari tidak tau alasan Tian yang setiap hari terlihat terburu-buru itu, Rupanya ada seseorang yang setiap hari selalu di rindukan oleh seorang Bastian Gunawan.


Semenjak kematian mendiang Rani, istri Tian, Baru kali ini Tian menemukan keceriaannya kembali. Sosok si mungil, Mawar lah yang menjadi pemicunya.


Dengan langkah lebar dan nampak tergesa, Tian menyusuri jalan keluar menuju basemen, beberapa pegawainya nampak heran dengan tindakan Tian yang tidak seperti biasanya itu.


Mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang, Tian bersenandung riang. Kemarin, ia berhasil menggoda Mawar saat di rumah bibi Wina. Itu pun karena Mawar sendiri yang memancingnya.


Ah, tapi bagaimana kalau nanti kamu kembali lagi dengan suamimu?


Astaga, kamu istri orang Mawar, apa yang kamu katakan semalam benar, istri orang kok jadi menantang ya? Sial, otakku mulai bermasalah, sepertinya.


Ocehnya dalam hati.


Tanpa terasa, ia sudah sampai di persimpangan jalan menuju rumahnya. Saat mobilnya melintas di depan warung Mawar, sore ini sudah nampak sepi, Mawar juga terlihat tengah bersiap untuk menutup warungnya.


Dengan langkah ringan, Tian memarkirkan mobilnya tak jauh dari sana, berniat untuk mengajak Mawar pulang bersama karna rumah Tian dan bibi Win, hanya berjarak beberapa rumah saja.


Langkahnya memelan dengan sengaja ketika matanya dan rungunya menangkap perdebatan kecil Mawar dengan Raka yang baru terlihat.


"Jangan deket-deket aku, mas. Aku jijik sama kamu. Bahkan meski kamu mandi dari air tujuh lautan sekalipun, nggak akan bisa menghapus jejak kak Amel di tubuh kamu. Aku nggak akan memaksakan perasanku lagi, sekarang. Aku nggak mau mengganggu kamu. Pulang dan jangan khawatir, aku akan pulang setelah anak kita lahir. Aku nggak akan pisahkan kamu dari anak ini. Kamu bapaknya dan kamu berhak atasnya. Tapi untuk kembali? Maaf, Hatiku nggak sekuat malaikat." Ucap Mawar.


Langkah Mawar nampak gesit menghindari Raka yang mengekor di belakangnya. Dua pembantu yang Mawar pekerjakan, sudah menunggu di sisi kiri pintu.


Tian sengaja bersembunyi di sebelah tanaman pucuk merah. Dua pembantu Mawar tadi mulai terkikik geli melihat kelakuan Bastian yang mengendap-endap layaknya seorang penguntit.


"Seruni. Saya mohon maafkan saya. Kamu keras hati seperti ini, apa karna pria itu?" Tanya Raka dengan ekspresi wajah yang lelah.


"Pria yang mana?" Tanya Mawar.


"Bastian." Jawab Raka.


Gerakan tangan Mawar yang hendak meraih pintu warung, terhenti ketika mendengar nama Tian di sebut. Mata tajamnya beralih menatap Raka dengan serius.


"Ya. Kamu benar. Dan aku berencana menikah sama bang Tian setelah kita resmi cerai. Aku wanita baik-baik yang akan menikah dulu, baru rela di lempar ke ranjang. Bukan kamu dan kak Amel yang suka main kumpul kebo, padahal nggak ada pernikahan diantara kalian." Jawab Mawar sinis. Nadanya sarkas dan penuh dengan rasa jijik.


"Tolong jangan bahas itu."


Wajah Raka memelas.


"Kenapa? Kamu keberatan, mas Raka?" Tanya Mawar.


"Runi, tolong." Pinta Raka seraya mengatupkan kedua tangan di dada.


"Intinya aku nggak mau balikan sama kamu.


Aku nggak mau terluka untuk kedua kalinya." Ujar Mawar pelan.

__ADS_1


"Tapi aku janji dan aku bersumpah nggak akan mengulanginya lagi." Ungkap Raka serius.


Mawar berkacak pinggang di depan Raka. Perutnya yang buncit, membuat Mawar tampak lucu ketika berkacak pinggang begini. Tian yang mengintip di balik tanaman, terkikik geli dengan ekspresi Mawar bila sudah marah.


"Helleh omong kosong, Kamu penipu. Pasti kamu ngomong gitu juga, kan, sama kak Amel? Aku jamin kak Amel juga bakalan kamu tipu. Buktinya kamu masih ngerayu aku lagi, padahal udah berhasil menyeret kak Amel ke ranjang. Katanya saling mencintai. Aku aja istri sah kamu yang kamu sumpah di depan Tuhan dan di depan orang tua, kamu khianati.Nah, gimana kak Amel yang cuma kamu sumpah di atas ranjang?"


Timpal Mawar yang menjatuhkan mental Raka berkali-kali.


Raka bungkam. Matanya berkaca-kaca.


Hatinya Memang terpaut pada Amel sejak dulu, tapi kini demi anak, ia kekeh untuk menekan egonya dan ingin memperbaiki semuanya. Bukan ego, melainkan cintanya yang sudah berubah haluan terpaut pada istrinya itu.


Mawar semakin emosi. Apalagi bayangan tentang malam naas dimana ia memergoki Raka saling bergelut nyaman dengan Amel di atas ranjang, membuat Mawar meradang setengah mati.


"Ya." Raka mengangguk ironis.


"Kamu benar. Saya salah. Dan mungkin memang saya pantas untuk tidak mendapatkan maaf dari kamu." Ujar Raka mengakui. Lelaki itu mengangguk berkali-kali, sambil mengusap kasar air mata sialannya yang jatuh tak tahu diri.


Mawar rasanya luluh seketika.


"Saya akan kembali ke Jakarta hari ini juga." Jemari Raka membuka ransel yang di bawanya.


"Jangan menolak, kamu masih istri saya. Ini nafkah saya untuk kamu selama kamu pergi dari saya. Semoga ini berkah dan berguna.


Mohon di terima. Saya pamit. Assalamualaikum."


Mawar rasanya ingin goyah dan luluh. Matanya berkaca-kaca saat menatap punggung Raka yang menjauh darinya. Selama pernikahan, Mawar bahkan tidak pernah melihat Raka se-kacau ini. Sesekali, Raka menengok ke belakang dan tersenyum, meski air matanya tumpah. Ia hanya ingin di hentikan langkahnya oleh Mawar, sayangnya, Mawar hanya diam membeku di tempatnya.


Gumam Mawar lirih dengan menundukkan wajahnya. Pembantu yang menunggunya dari tadi tidak menghampiri. Kode dari Tian untuk segera pergi pada keduanya, membuat kedua pembantu Mawar pergi dan menatap Mawar penuh iba.


"Udah, jangan nangis. Kalau kamu berubah pikiran, ingin ketemu bapak kamu misalnya,


saya bersedia nganter kamu."


Tian muncul secara tiba-tiba. Suasana sore hari yang nampak lengang, tidak banyak yang berlalu lalang di sana.


Mawar mendongak, menatap senyum hangat Tian. Kemudian pandangannya beralih pada kedua bahunya yang di pegang Tian.


Refleks, Tian melepas tangannya yang bertengger kurang ajar di bahu Mawar.


"Ma--maaf." Ujar Tian.


"Saya lelah bang, saya ingin pulang." Pamit Mawar sambil mengusap sudut matanya yang berair.


"Ayo saya antar. Kebetulan saya juga mau pulang." Ajak Tian kemudian.


"Saya ingin pulang sendiri." Jawab Mawar.


"Tapi saya maksa." Tian tak berhenti mengekori Mawar.

__ADS_1


"Saya mau sendiri." Jawab Mawar, masih kokoh pada pendiriannya.


"Saya nggak Nerima penolakan." Tian tetap memaksa.


"Abang!" Nada suara Mawar meninggi.


"Iya, dek." Jawab Tian, dengan mengulas senyum menyebalkan bagi Mawar.


Mawar hanya bisa mendengus sebal.


Tian ....


Selalu tidak mau mengalah dan menang sendiri. Perdebatan apapun yang dilakukannya, bila menyangkut dengan Tian, maka Mawar dengan percaya diri mengatakan pada dunia, ia pasti kalah.


"Abang kenapa sih gangguin saya?" Tanya Mawar.


"Karna saya peduli sama kamu, Mawar. Saya ingin melindungi kamu dari orang-orang yang menyakitimu. Saya nggak bisa lihat kamu nangis lagi kayak tadi. Karna kamu .... " Ucap Tian.


"Apa?"


Mata Mawar melotot menatap Tian yang memandang Mawar dengan sorot kejahilan.


"Karna kamu berhasil mengambil hati saya." Jawab Tian.


"Idih.... orang ngegombal kok bercanda Mulu." Ejek Mawar.


"Jadi kamu mau saya serius?" Tanya Tian dengan mode serius.


"Pikir aja, sendiri!!"


Mawar berlalu sembari membawa tasnya. Ia tidak peduli pada Tian yang berlari-lari kecil mengejarnya.


Saat langkah Mawar semakin dekat dengan mobil Tian dan hendak terus berjalan, secepat kilat Tian menarik paksa pergelangan tangan Mawar.


"Saya mohon, bang. Jangan terlalu mendekati saya. Saya masih istri orang. Jangan membuat orang-orang menilai saya sebagai wanita gampangan."


Mawar berucap lirih. Langkahnya menjauh ketika jemari Tian melepasnya dengan hati-hati. Tian membeku saat menerima penolakan Mawar.


Selama ini, kebanyakan para wanita akan selalu mengejarnya. Tapi Mawar?


Mawar adalah wanita berbeda dengan wanita kebanyakan. Harga dirinya tinggi dan dia wanita yang santun.


Ada yang tercubit saat itu. Tian harus tau diri, tapi juga Tian tidak bisa mencegah hatinya yang bergejolak hebat.


Nggak salah lagi. saya memang mencintaimu, Mawar.


Ujar Tian dalam hati. Matanya menatap sendu Mawar Yangs udah berlalu dari sana.


'Saya akan menunggu kamu hingga kamu benar-benar menguatkan pendirian untuk berpisah sama suamimu. Kamu berhasil menggetarkan hati saya.'

__ADS_1


~~


__ADS_2