Mawar Seruni

Mawar Seruni
Setia menunggu Janda


__ADS_3

"Omong kosong. Hati aku sekarang udah mati rasa, mas. Kepercayaan yang aku pupuk subur ke kamu, sekarang udah hancur tanpa sisa. Kamu bilang sekarang kamu nyesel? Kalau terjadi belakangan emang penyesalan namanya, mas. Kalau di depan namanya pendaftaran. Jangan pernah berharap kesempatan kedua dan semacamnya, mas. Dan jangan coba-coba ngerayu aku. Aku nggak akan mempan sama rayuan receh kamu itu, dasar buaya!!"


Dan Raka hanya bisa terhenyak saat kalimat tajam menyakitkan dari istrinya itu, tandas dan menghujam tepat ke dalam inti hatinya. Mawar Seruni yang dulu adalah Mawar yang penurut pada Raka, namun Mawar yang sekarang, adalah Mawar yang tandas membantah saat Raka memberinya titah.


Mawar sendiri takjub akan keberanian yang ia miliki untuk membantah suami, dimana istri seharusnya tidak boleh menentang apa yang dikatakan suami. Tapi hati Mawar terlanjur sakit hati saat mendapati fakta, bahwa suaminya telah bermain serong dengan kakak kandungnya.


Di saat bersamaan, suara bibi Wina sedang tertawa-tawa kecil bersama seorang pria.


Entahlah.


Yang Seruni tangkap dari rungunya, seperti suara Tian.


Ah....


Gimana kalau aku balas aja kamu mas, hari ini.


Kamu pikir aku nggak bisa buat kamu jengkel setengah mati??


Aku harap kamu nggak kuat lihat adegan setelah ini.


Batin Mawar.


Mawar beranjak pergi dari sana. Langkah kakinya terayun ke depan dengan tangan kanannya memegangi perutnya yang terasa menendang-nendang kecil. Ia sama sekali tidak peduli akan teriakan suaminya yang memanggil-manggil namanya.


"Mawar." Panggil Raka, yang tak mendapat respons dari Raka.


Bibi Wina menyambut Mawar dengan ekspresi tidak nyaman. Andai Raka tidak ada di rumahnya, Wina justru bahagia bila Tian datang mengunjungi kediamannya.


"Bang Tian, apa kabar? Anggi mana?"


Mawar datang seraya tersenyum tipis. Matanya bersirobok dengan netra Tian yang sebening lautan. Sungguh sangat menarik hati, begitu kata Mawar


Tian meremang. Jantungnya berdegub kencang saat dengan berani, Mawar menatap matanya secara langsung. Darahnya berdesir hebat. Selama ini, saat Tian dan Mawar bertemu, jarang sekali Mawar menatap Tian dengan berani.


"Anggi sedang bepergian dengan mama ke Bali pagi tadi. Katanya mau liburan di rumah Tanteku beberapa hari di sana. Karna aku sendirian di rumah, jadi main ke sini." Jawab Tian dengan lembut.


Raka datang. Raut wajahnya datar-datar saja. Lantas Raka mendekat ke arah Mawar dan Mawar hanya diam saja tanpa peduli. Lihat saja, apa yang akan Raka lihat setelah ini.


"Oh aku tau. Kamu pasti kangen aku kan, bang Tian? Hayo ngaku." Tanya Mawar, sambil sesekali mengerjapkan matanya beberapa kali, sebagai kode ia sedang bersandiwara.

__ADS_1


Bibi Wina tersenyum geli saat Tian melotot dengan wajahnya yang bersemu merah karna malu bercampur kaget. Andai saat ini ada Rima, mungkin Wina akan mengajak Rima untuk tertawa berjamaah saat itu juga.


"Seruni." Panggil Raka.


Mawar mengabaikan panggilan suaminya.


Ini adalah momen-momen yang pas untuk membuat Raka cemburu. Biarlah, Mawar akan meminta maaf pada Tian nanti setelah Raka pergi.


Tian mengusap-usap tengkuknya untuk menetralkan perasannya yang bingung harus merespon bagaimana. Sejujurnya Tian merasakan euforia saat itu. Tapi ia berusaha untuk tenang, dan menjaga diri agar tak histeris karena terlalu gembira.


"Apa sih, mas?" Tanya Mawar sinis.


"Kamu masih istri saya." Ujar Raka mengingatkan.


"Kenapa memangnya? Dulu gadis dan janda pada lomba-lomba buat ngetrend, tapi sekarang bukannya bini orang lebih menantang? Sama kayak kak Amel dulu yang menganggap suami adiknya sendiri, lebih menantang untuk diembat." Kata Mawar dengan berani.


Suara Mawar santai, nada bicaranya ringan seperti tengah mengangkat topik perubahan cuaca. Tak terbebani sedikit pun.


Hati Raka mencelos sakit mendengarnya.


Mungkinkah Mawar akan membalasnya dengan berselingkuh? Tidak, bagi Raka hati istrinya terlalu murni dan tidak akan berani melakukan hal serendah itu.


"Runi, kamu .... " Kalimat Raka terhenti.


"Iya. Aku bukan istri Sholehah tapi bodoh seperti dulu. Setelah kita bercerai, ada bang Tian yang nunggu jandaku buat di jadiin istri. Kamu pikir, kamu aja yang bisa kegantengan? Aku kalau mau juga, bisa dapetin laki-laki buaya satu truk kayak kamu dalam sehari. Mending sekarang, kamu balik ke Jakarta. Aku tunggu surat cerai dari pengadilan setelah anakku lahir." Tandas Mawar.


Mata Mawar berkaca-kaca meski wajahnya menunjukkan raut datar. Ada pedih dan sejujurnya, ia masih memiliki cinta di hatinya pada Raka. Tapi kesalahan fatal Raka di masa lalu, membuat Mawar tidak bisa memberikan toleransinya.


"Sampai kapan pun, saya nggak akan pernah menceraikan kamu, Seruni." Ungkap Raka.


Raka berucap lirih, kemudian berlalu pergi tanpa menunggu tanggapan Mawar.


Pandangan mata Mawar beralih pada Tian yang juga menatapnya.


Penampilan Tian yang begitu santai saat ini, membuat Mawar mengulas senyum tipis.


"Ma--Maaf, bang. Saya ... tadi ... emmm sengaja ngomong gitu, biar mas Raka pergi dari sini." Mawar mengatakan dengan gugup.


"Emang kamu tadi bilang apa?"

__ADS_1


Tanya Tian yang memang sengaja menggoda Mawar.


"Ya, yang tadi." Jawab Mawar kemudian.


"Emm... yang mana sih? Jadi bingung. Tadi kan kamu ngomong banyak?" Tanya Tian memancing.


Ingin rasanya Mawar berteriak pada Tian, karna sengaja Tian mengaduk-aduk emosinya, tapi Mawar urungkan karna tidak ingin malu sendiri nantinya.


"Oh aku baru inget. Iya deh nggak apa-apa. Saya mau kok nunggu janda kamu. Toh saya bukan suami orang, juga. Jadi sah-sah aja, kan?" Ujar Tian, membuat pipi Mawar sudah semerah tomat.


Senyum Tian mengembang dengan sempurna. Wajah Mawar mendadak berubah memerah karna malu.


"Abang."


Mawar bergerak-gerak dengan gelisah.


"Iya, dek, aku sabar, kok." Tambah Tian lagi.


Bibi Wina tertawa terbahak seketika.


Menurutnya, dua insan ini terasa aneh tapi menghibur. Duda dan calon janda yang dengan berani mengakui bahwa Tian menunggu jandanya.


Bibir Mawar mengerucut seketika. Ia merasa malu, tapi jengkel sekaligus.


"Lain kali bang Tian nggak usah main ke sini. Udah sana pulang?" Usir Mawar karena kesal.


Hampir saja Mawar berbalik pergi andai Tian tidak menghentikannya.


"Saya lapar. Tolong buatkan saya nasi goreng dan tiga butir telur goreng."


Mata Mawar melotot dengan sempurna.


"Apa-apa an ini, bang? Kalau lapar Abang sana, ke warung aja. Enak aja main minta sama tetangga. Emangnya di rumah bibi Wina ini panti sosial?" Jawab Mawar


"Loh, aku udah setia nunggu janda kamu, loh.


Dan menunggu juga butuh asupan makanan, biar bisa kuat menghadapi banyak penolakan. Kamu sendiri kan yang bilang, kalau saya yang menunggu kamu?"


Sekar melongo sekali lagi.

__ADS_1


~~


__ADS_2