Mawar Seruni

Mawar Seruni
Rahasia luka lampau


__ADS_3

Seorang wanita menangis sesegukan seorang diri di kamar rumah putranya. Rumah yang dulunya di tempati Bastian, kini menjadi tempat singgah Rima kala dirinya berada di Jakarta.


Dalam dekapannya, Rima mengeratkan pelukan pada bingkai foto berisi foto dirinya dan almarhum Gunawan, suaminya. Luka itu masih sangat basah ketika mengingat kematian Gunawan akibat keegoisan Herman di masa lalu.


Sesak.


Rima harus kehilangan suaminya.


Dua saudara Tian masih beruntung karena masih merasakan hangatnya pelukan seorang ayah.


Sedang Tian? Tian bahkan terlahir sembilan hari setelah pemakaman Gunawan.


"Mas ... aku bertemu lagi dengan si biadab itu. Dia yang sudah membuatmu pergi lebih cepat. Andai, andai saat itu Herman nggak menabrakmu dengan motornya, kamu nggak akan pergi secepat itu. Sengaja ataupun nggak sengaja, dia tetaplah manusia yang menyebabkan kamu tiada."


Tangis Rima demikian pilu menyayat hati.


Detak jantungnya menghentak hebat diantara nafas yang memburu penuh nafsu amarah.


Ketika Rima hanyut dan tenggelam dalam duka, pintu terbuka begitu saja.


Bastian muncul dengan wajah panik bercampur khawatir.


"Ma ... mama baik-baik aja? Kenapa Tian telpon tapi mama nggak angkat?" Tian panik setengah mati ketika Rima sama sekali tak menjawab panggilan nya.


"Tian .... "


Rima lantas menghamburkan diri ke pelukan putra bungsunya itu. Ia lantas meraung keras dalam dekapan Tian. Saat ini, ia butuh bahu kokoh untuk menopang tubuh lemah dan hati rapuhnya.


"Ma, apa yang terjadi? Kenapa mama aneh gini, sih? Mawar .... Mawar baik-baik saja kan, ma?" Tanya Tian.


Mendengar nama putri dari Herman di sebut, Rima menghentikan tangisnya yang pecah. Pandangannya nyalang menatap putranya. Tampak sangat jelas, Rima tidak suka pada Mawar.


"Jangan pernah tanyakan lagi anak dari biadab itu, Tian!! Berhenti menghubungi dia lagi. Dan jangan pernah mengenal Mawar lagi." Ujar Rima dengan mata yang masih berkilat penuh amarah.


Tian yang mendengar nya, hanya bisa mengerutkan keningnya bingung. Ada apa dengan Rima kali ini? Bukankah ibunya itu sangat menyukai Mawar? Lantas mengapa ia mendadak benci dengan Mawar? Tian bertanya dalam hati.


"Kenapa, ma? Apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya Tian untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Sekar anak dari Herman, Tian. Dia anak dari lelaki yang udah membunuh papa kamu." Jawab Rima dengan lantang. Emosinya memuncak saat mengingat bagaimana tragisnya kemari suaminya.

__ADS_1


Jantung Tian mendadak berdegub lebih kencang. Fakta ini, telak memukulnya dengan sangat kencang. Tian tak tahu harus bagaimana lagi.


~~


Seorang pria tengah menatap pintu ruang dimana istrinya itu tengah ditaangani. Raka kacau dengan situasi ini. Tak ada seorang pun yang mengajaknya bicara.


Bukan karena semua membenci Raka, melainkan ikut prihatin atas keadaan pria itu.


"Mas, duduk dulu."


Amel memandang penuh cemas pada Raka yang tegang setengah mati.


Herman dan Ratna menyaksikan interaksi mereka. Hubungan mereka cukup rumit. Sepasang suami istri itu bingung hendak memihak pada siapa. Amel dan Mawar sama-sama putri mereka.


"Seruni .... "


Belum sempat Raka melanjutkan kalimatnya, seorang dokter keluar dari ruangan Mawar.


"Keluarga ibu Mawar Seruni .... " Ujar dokter.


"Saya suaminya dok .... " Jawab Raka kemudian.


"Bayinya baik-baik saja dan berjenis perempuan. Sedang kami tempatkan di ruang inkubator karena bayinya lahir prematur, pak. Tapi, kondisi ibu Mawar sedang dalam kondisi kritis. Mohon doanya agar beliau segera melewati masa kritisnya." Ungkap dokter seraya melepas masker dan sarung tangannya.


"Baiklah pak, saya permisi dulu. Nanti suster akan menunjukkan di mana putri anda di rawat." Pamit dokter.


"Baik dokter, terima kasih sekali lagi."


Sang dokter berlalu kemudian dari sana. Meninggalkan Raka yang masih nampak kacau karena Mawar masih dalam kondisi kritis.


"Alhamdulillah, cucu ibu sudah lahir, Raka." Ucap Ibu Raka.


Raka mengangguk dan meneteskan air mata haru. Tak jauh darinya, Amel merasakan tersayat hatinya ketika mendapati Raka sebahagia ini mendapati kelahiran anaknya dengan Mawar.


Seketika jiwa congkaknya kembali ke permukaan seperti semula. Meski awalnya ia bertekad untuk berubah dan ingin memperbaiki semuanya.


Sebersit rencana untuk menyingkirkan Mawar dan anaknya, kini terngiang dalam otaknya. Bermacam bisikan-bisikan untuk melakukan kecurangan kembali, kini mulai berdengung bagai lebah yang mengitari kepalanya.


"Saya menjadi ayah sekarang, Bu. Saya memiliki anak" Ucap Raka dengan Isak penuh haru.

__ADS_1


Begitu juga dengan Ratna dan Herman yang saling merangkul. Mereka bahagia karena sebentar lagi, rumah mereka akan di ramaikan dengan suara tangis dan tawa bayi. Meski ada rasa tak nyaman di hati Herman semenjak kedatangan Rima.


Sekelebat bayangan keteledoran di masa lalu Herman, kini muncul. Ada sesal akibat kesalahan tak sengaja yang ia lakukan di masa lalu. Ingatan Herman kembali muncul ke permukaan.


~~


Malam mulai merangkak ketika Gunawan membawa sekantung kresek angsle untuk ke dua anak dan istrinya yang tengah mengandung. Sebelum berangkat kerja tadi pagi, Rima merengek untuk di bawakan oleh-oleh.


Sifat manjanya tidak pernah lepas dari wajah cantiknya yang menawan. Tetapi meski begitu, kadar cinta yang dimiliki Gunawan, semakin bertambah setiap waktu.


Gerimis membuat jalanan licin kala itu. Gunawan tidak sabar untuk segera sampai di rumah. Hingga motor yang ia kendarai di serempet oleh mobil pick up yang Herman kendarai, hingga Gunawan terpental beberapa meter dari tempat kejadian.


Malam itu, hati Rima resah hingga ia keluar dari rumah dengan membawa payung. Matanya melihat kejadian memilukan suaminya karna memang kejadian naas itu terjadi tak jauh dari rumahnya.


Histeris.


Rima histeris seketika. Namun karena Herman terburu, ia tidak membantu karna dirumahnya, Ratna istrinya itu tengah berjuang untuk kelahiran Amel, maka Herman tidak segera membantu Gunawan yang sedang sekarat.


"Tolong. Tolong suami saya"


Rima mengiba.


"Saya Herman Abdullah, Bu. Ibu siapa?"


"Saya Rima, Tolong suami saya".


Rima mengiba dan memelas akan belas kasih Herman. Namun Herman gamang, ia lebih berat akan keadaan istrinya yang berjuang melahirkan anak pertama nya di rumah.


" Maaf, Bu. Ini ada sedikit untuk suami ibu. Saya harus segera pulang karna istri saya akan melahirkan." Herman berniat pergi, ketika Rima mencegahnya.


"Bantu saya. Bawa suami saya ke rumah sakit sekarang." Pintavrima serata menangis. Gerimis membuat air matanya menyatu dengan air dari langit.


Tanpa menghiraukan Rima yang meraung histeris, Herman berlalu menstater pick up nya. Hingga datang dua orang yang sedang meronda, Rima dan Gunawan segera di tolong.


Naas, nyawa Gunawan tak tertolong akibat terlambat datang ke rumah sakit.


Mulai saat itu, hati Rima membeku. Ia mencari tau keberadaan Herman dan hingga kini, Rima berjanji atas nama makam mendiang suaminya, ia tak akan memaafkan Herman.


Bahkan hingga kini, bau anyir darah Gunawan, masih melekat kuat dalam ingatan Rima.

__ADS_1


~~


~~


__ADS_2