Mawar Seruni

Mawar Seruni
Menahan diri


__ADS_3

Hari-hari berlalu, dengan Amelia Kenanga yang kini merasa bosan berada di dalam rumah seorang diri. Kegiatannya hanyalah memasak sebisanya, memesan makanan, membersihkan rumah semampunya, dan juga meratapi kesendirian yang selama ini setia padanya.


Wanita itu tengah duduk di ruang tamu, menatap foto pernikahan Mawar, adiknya bersama Raka. Raut bahagia terpancar jelas dari wajah Mawar, namun tidak dengan wajah Raka yang seperti kaku dan berekspresi datar. Amel sendiri tidak ambil pusing saat itu, karena ia terlalu larut dalam kebahagiaan bersama Arya, sebagai pengantin baru.


Sejenak Amel membayangkan, andai dirinya mengantikan Mawar sebagai mempelai wanita. Andai saat itu dirinya tidak tergila-gila pada Arya yang posesif dan pencemburu akut, mungkin dia sendirilah yang akan bahagia bersama Raka.


Sayangnya, semuanya telah terlambat. Amel tidak bisa memutar waktu kembali.


Kembali, Amel kembali meneteskan air mata, meratapi nasib sialnya. Nyatanya, Mawar juga terkena imbas dari keegoisan dirinya itu. Kehilangan suami, dan Kia kehilangan kasih sayang utuh dari Wiraka. Yang ada dalam diri Amel, hanyalah penyesalan yang tak berarti.


Perlahan, tangan Amel terulur, mengusap foto pernikahan Raka dan Mawar yang masih terpajang di sana. Ada banyak kata yang ingin Amel sampaikan, ia ingin meminta maaf, dan mengatakan bahwa Amel menyesali semuanya. Tetapi Amel bahkan tidak memilikinya keberanian hingga kini.


"Nggak ada niatan untuk minta maaf ke Runi?" Suara Raka tiba-tiba muncul, diambang pintu dengan membawa sebuah rantang berisi makanan. Tak hanya itu, Raka juga tengah membawa sebuah buku yang entah itu buku apa.


Refleks saja, Amel mengusap air matanya dengan kasar. Ia ketahuan menangis dan tampak rapuh di depan mata Raka. Bukankah ini sangat memalukan?


"Ngapain kamu kesini, mas? Bukannya kamu tahu kalau Bapak sama Ibu belum pulang?" Amel menatap malas ke arah Raka, sebelum ia membuang pandangannya ke arah jendela rumah.


Di tempatnya, Raka keheranan, tidak


berniat membalas kalimat Amel sama sekali. Biasanya, Amel tidak akan seperti ini padanya. Meski getaran yang dulu pernah Raka miliki untuk Amel telah menghilang entah kemana, namun nyatanya Raka tak ingin membuat hubungan mereka memburuk. Ya, setidaknya tidak memutus silaturahmi, bukan?

__ADS_1


"Saya bawakan ini untuk kamu, dari Ibuku." Raka masuk tanpa menunggu dipersilahkan. Lelaki itu lantas meletakkan rantang di meja ruang tamu, menatap Amel yang tampak dingin padanya.


"Kamu kenapa berubah, Mel? Harusnya, meski kita nggak menjadi pasangan, tapi kita tetap saling bersikap baik satu sama lain."


Raka menatap Amel dalam-dalam. Ada sorot terluka yang Raka temukan disana. Dan Raka duduk di sofa ruang tamu tanpa Amel mempersilahkan.


'Gimana aku nggak berubah, mas? Kamu yang udah menghancurkan kepercayaan diri aku. Setelah aku meletakkan harapan setinggi-tingginya ke kamu, kamu malah menghempaskannya. Setelah aku memberikan cinta aku ke kamu, kamu buang aku gitu aja.'


Bisik Amel dalam hati. Sungguh, rasanya benar-benar menyakitkan.


"Semenjak terakhir kali kamu menolak aku, mengabaikan perhatian aku, dan menganggap aku nggak ada, saat itu juga aku merasa nggak ada harganya lagi. Aku juga merasa nggak percaya diri mau ngapa-ngapain. Jadi, aku lebih suka begini dan jangan mengusik aku. Jujur aja, mas. Aku nggak tahan dan mental aku benar-benar jatuh saat itu. Jadi aku memutuskan untuk menyendiri aja. Bukannya itu lebih baik untuk kamu dan semua orang? Aku bisanya cuman bikin malu Bapak dan Ibu," jawab Amel. Hatinya kembali sakit bila mengingat Seruni, dan juga orang tuanya.


"Dengan cara mengurung diri dan nggak mau bersosialisasi? Amel, perjalanan kamu masih panjang, apa kamu nggak ingin mencari lelaki lain untuk menikah?" Raka bertanya datar. Sebenarnya, Raka enggan mengurusi hidup Amel. Namun biar bagaimana pun juga, Raka berhasil dibuat penasaran oleh perubahan drastis Amel itu.


"Menikah? Itu nggak mungkin terjadi. Nggak ada lagi yang bisa percaya sama aku," jawab Amel lagi. "Dan bahkan aku lebih nyaman kayak gini," lirihnya.


Kebisuan kembali melanda keduanya.


Amel dulu pernah berpikir, ketika Raka membuangnya, ia bisa mendapatkan lelaki yang lebih dari Raka. Tetapi nyatanya, itu tak bisa Amel lakukan. Jiwa congkaknya yang dahulu itu, entah kemana saat ini. Hilang tanpa pamit. Amel mendadak lemah seketika.


Harusnya Amel lebih kuat dan tegas, tidak patah semangat meski Raka mencampakkannya setelah tahu Seruni tengah hamil kala itu. Tetapi nyatanya Amel seperti ikan tanpa air saat Raka tak bersamanya. Nyaris mati, namun tak kunjung mati seketika.

__ADS_1


"Saya sebenarnya juga merasa bersalah sama kamu, Amel. Tetapi maaf, saya benar-benar nggak bisa menerima kamu lagi. Saya nggak bisa melanjutkan hubungan kita dulu," Raka menunduk. Suaranya yang semula dingin, kini mendadak lirih.


"Saya yakin, kamu pasti bisa mendapat lelaki yang lebih baik dari saya. Saya selalu mendoakan yang tebaik untuk kamu."


"Tapi kenapa, mas? Kenapa kamu membuang aku, sedang dulu kamu sangat terobsesi untuk mengejar aku? Apa kurangnya aku? Aku memang nggak sebaik Mawar, tapi setidaknya aku ingin kamu merubah aku jadi lebih baik. Di mana letak salahnya, kalau aku ingin kamu yang jadi imam aku?" Amel menatap sendu ke arah Raka.


Perasaan di dalam hatinya kembali bergejolak bila tengah berdua bersama Raka begini. Sekuat hati dan sekuat tenaga Amel mencoba untuk menahan diri, tapi nyatanya Amel tidak bisa mengendalikan.


Tanpa Raka menduga, Amel bangkit dan berjalan cepat ke arahnya, memeluk erat Raka. "Aku nggak kuat nahan perasaan ini lagi, mas. Aku nggak kuat," Kata Amel sambil menangis. Raka buru-buru menghempaskan tangan Amel, tetapi Amel semakin erat mendekap lelaki yang sudah lama Amel rindukan itu.


"Biarkan begini saja, mas. Tolong, sebentar aja," Pinta Amel. Amel seolah enggan kehilangan Raka saat ini.


"Lepaskan Amel, ini salah. Tolong, jangan membuat tetangga salah paham," Lirih Raka. Kepala lelaki itu mendadak pening karena tingkah Amel.


"Kenapa kamu ninggalin aku setelah kita melakukannya sejauh itu? Kenapa, mas? Kenapa?" Amel terisak sambil memeluk Raka. Bahkan kemeja biru tua yang Raka kenakan, sudah basah di bagian bahu kirinya.


Tak ingin hanyut hingga kemudian Raka goyah pendiriannya, lelaki itu lantas menghempaskan tubuh Amel hingga terjengkang ke belakang. Amel terjatuh ke lantai, dengan darah yang mengalir dari pelipisnya kanannya. Kepala Amel terantuk kaki kursi.


"Aaaarrrgggghhh .... " Amel tetap kacau, dengan air mata yang berderai.


Kali ini, bukan air mata buaya, melainkan air mata wujud luka yang benar-benar Amel rasakan dalam hatinya. Amel benar-benar terluka, sama seperti Mawar Seruni yang dulu dikhianti oleh semua keluarganya.

__ADS_1


"Amel ... ya tuhan, apa yang aku lakukan?" Raka menyesali perbuatan refleksnya baru saja.


**


__ADS_2