Mawar Seruni

Mawar Seruni
Melepas rindu


__ADS_3

Di sudut jalan, seorang laki-laki paruh baya dan istrinya tengah menyeberang jalan, namun lama ia tak memiliki celah untuk bisa menyeberang. Ramainya kendaraan yang lalu lalang, membuatnya kesulitan untuk menyeberang.


Herman dan Ratna datang ke Surabaya, setelah setahun lamanya keduanya tak menjumpai putri mereka, Mawar Seruni. Tak hanya itu, rupanya sepasang suami istri itu juga memiliki maksud lain selain untuk mengunjungi Mawar.


Ini tentang dosa masa lalu dan kebodohan Herman. Tragedi tewasnya Gunawan, berhasil membuat Herman kembali mengalami mimpi buruk belakangan ini. Maka, satu-satunya cara adalah dengan menemui Rima, sang istri mendiang Gunawan, untuk meminta maaf.


Andai nanti pintu hati Rima tetap tidak terbuka untuk memaafkan Herman, Herman tak masalah. Yang terpenting adalah, Herman sudah berusaha untuk meminta maaf dan juga mengakui kesalahannya.


"Pak, andai nanti Rima nggak memaafkan bapak, bagaimana?" Ratan bertanya berulang kali. Tak hanya itu, rupanya Ratna juga takut bila nanti ia terkena imbas dan menerima makian Rima.


"Yang penting udah usaha datang, Buk. Dimaafkan atau enggak, ya urusan belakang. Andai nanti Bu Rima menuntut bapak sebagai bentuk tanggung jawab, ya bapak masuk penjara. Yang penting kita bisa hidup bebas tanpa beban. Rumah kita isinya juga sudah porak poranda, Ratna. Anak-anak saling membenci dan ini semua salah bapak, yang nggak bisa ngatur anak. Ya sudah, jangan tanya itu lagi. Yang penting kita sudah dapat alamat Rima, dan kita temui Runi dan cucu kita." Herman tersenyum.


Semenjak kepergian Mawar dalam setahun ini, Herman tentu sudah banyak berubah. Tak hanya itu, bahkan kini ia juga lebih tegas pada Amel. Kepergian Mawar dan kenekatan putri bungsunya itu, cukup menjadi tamparan keras untuk Herman dan Ratna.


"Apa itu ya, warungnya?" Tanya Herman yang melihat warung Mawar, dengan kertas yang ia bawa secara bergantian.


"Kayaknya iya deh, pak. Itu Seruni." Tunjuk Ratna, pada mawar yang tengah menggendong Kia. "Sepertinya Kia sedang rewel. Ayo pak." Ratna menarik Herman pelan. Wanita itu memiliki semangat yang tinggi untuk bertemu dengan Mawar. Maklum, Ia sudah rindu setengah mati pada cucu pertamanya itu.


"Runi." Herman dan Ratna memanggil Runi bergantian. Tak hanya itu, keduanya juga melambai, menunggu kendaraan agak sepi untuk menyeberang.


"Bapak? Ibu?" Mawar menerbitkan senyum, yang selama ini membuat kedua orang tuanya rindu itu.


Entah bagaimana mulanya, kini yang Mawar lihat, bapak dan ibunya itu tengah di seberangkan oleh seorang pria berjas abu-abu. Tentu saja kening Mawar berkerut.

__ADS_1


'Bang Tian? Astaga, kenapa bang Tian muncul lagi, setelah sekian lama dia menghilang? Huh, mimpi apa aku semalam, ya?'


Mawar bergumam dalam hati. Tak hanya itu, Mawar juga telah dibuat melongo, dengan sikap Tian yang mencium telapak tangan bapak dan ibu Mawar dengan penuh takzim. Ada apa ini?


"Bang Tian, darimana?" tanya Mawar berbasa-basi. Canggung menyelimuti keduanya. Maklum, sudah nyaris setahun lamanya ia tak bertemu dengan Tian. Selain itu juga, pasca penolakan Mawar saat itu, Tian sama sekali tak pernah menghubungi Mawar. Tentunya itu atas permintaan Mawar sendiri.


"Maaf, merepotkan. Terima kasih ya, nak, sudah membantu bapak dan ibu." Ratna menatap dengan lembut. Hingga saat ini, baik Ratna maupun Herman, tidak tahu tentang Tian, yang rupanya adalah anaknya Rima.


"Iya, Bu, Pak. Saya pamit dulu kalau begitu." Mawar mencoba untuk biasa saja, saat Tian pamit, termasuk padanya juga. Wanita itu sungguh segan pada Tian yang memang sudah menjauhinya dalam waktu setahun belakangan ini.


"Bang Tian, tunggu." Mawar setengah berteriak, ketika kini langkah tian sudah agak menjauh . Lelaki itu lantas menolah, dan berbalik menatap Mawar, "Makasih banyak." Tambah Mawar lagi.


"Sama-sama." Jawab Tian, sebelum ia berlalu pergi dari sana dan masuk ke dalam mobilnya. Hanya ada senyum, dan tak ada obrolan yang berarti diantara keduanya. Tian benar-benar menuruti keinginan Mawar untuk menjauhinya, juga menuruti kehendak mamanya untuk menghentikan kedekatan dengan Mawar.


"Bapak, ibu, ayo ke rumah bibi Wina. Dia orang yang baik yang mau menampung aku selama ini. Ayo." Ajak Mawar pada kedua orang tuanya. Tak lupa, Mawar juga menutup pintu rolling door warungnya.


Rumah Wina memang tak terlalu besar. Tapi suasana rumah dan tatanan perabotan, cukup nyaman dan enak dipandang mata. Tak ayal, itu cukup membuat Ratna tersenyum penuh kagum.


"Kamu tinggal berdua disini, Runi?" Tanya Herman yang sudah mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu.


"Rencananya bapak Sama ibu mau menyewa kamar hotel saja, paling beberapa malam. Sekalian ... bapak mau mencari rumah Rima Gunawan, untuk meminta maaf." Herman mengutarakan maksudnya, saat mawar datang membawakan minuman hangat untuk orang tuanya.


"Runi memang tinggal berdua aja sama Bik Wina, pak. Bertiga sama Kia juga sih sebenarnya." Ungkap Mawar. "Ayo Pak, Bu, Minum dulu." Ujar mawar sambil memandangi putrinya yang kini telah terlelap dalam gendongan Ratna.

__ADS_1


"Biar Runi tidurkan, Bu." pinta mawar yang sudah menghampiri Ratna, namun Ratna menepis uluran tangan Mawar, menolak permintaan putrinya.


"Hush, kamu ini kenapa? Setahun Ibu kangen sama Kia, jadi biarkan dia tidur dalam gendongan Ibu. Ibu kangen sama Kia." Ratna berkata, seraya menciumi wajah cucunya, dengan bertubi-tubi.


"Ya sudah kalau begitu. Oh ya, ngomong-ngomong, rumah Bu Rima dekat dari sini. Nanti biar Mawar antarkan." Ungkap Mawar.


"Terima kasih, nak. Bapak hanya berharap, Ibu dan Bapak bisa mendapat maaf darinya." Ungkap Herman.


"Bapak nggak tahu, ya? Yang membantu bapak dan ibu menyeberang jalan tadi, adalah putra bungsu Bu Rima." Mawar mengungkapkan.


"Apa? Kenapa kamu baru bilang?" Tanya Ratna.


"Bapak dan ibu nggak tanya. Lagian kenapa bapak dan ibu bisa lupa? Kan bapak sama Ibu pernah ketemu bang Tian secara langsung setahun yang lalu?" Tanya Mawar.


"Ya, maklum saja. Namanya juga orang tua, sering lupa. Ketemunya juga sudah setahun yang lalu, kan? Jadi rawan lupa." Ujar Herman.


"Oh ya, kalau rumahnya Bu Rima dekat sini, antar bapak nanti malam ke rumahnya. Tapi nanti, setelah bapak dan ibu dapat kamar hotel."


"Tenang saja, Mawar pasti akan bantu bapak dan ibu." Jawab Mawar.


Ketiganya lantas berbincang sebentar, membahas tentang Kia yang masih terlelap dalam gendongan eyang utinya, sebelum kemudian mereka memutuskan untuk mencari penginapan yang pas untuk mereka.


**

__ADS_1


Part berikutnya, pertengkaran Rima dan keluarga Mawar, ya. Ada percekcokan dari kedua belah pihak, dan terkuaknya sebuah fakta.


Jangan lupa tetap dukung. Terima kasih.


__ADS_2